My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Tidak sayang



Happy reading 😍


🌹🌹


"Miss Jeanny tidak sayang Lisa lagi!" seru Lisa, dan kembali menangis.


"Miss Jeanny tidak sayang Lisa?" tanya Bi Anah.


"Iya, Miss Jeanny tidak mau dekat Lisa," ujar Lisa dengan suara yang sedih.


"Mungkin Miss Jeanny sibuk dengan pekerjaannya, Miss Jeanny guru Lisa kan?"


"Miss Jeanny bukan guru Lisa..!" seru Lisa sambil menangis dan air mata kembali mengalir keluar dari kedua bola matanya.


"Sudah dua hari Lisa tidak bertemu dengan Miss Jeanny. Miss Jeanny tidak sayang Lisa lagi..!"


"Sayang, jangan nangis. Besok kita bertemu dengan Miss Jeanny," kata Bi Anah.


"Tidak! Lisa tidak mau ketemu Miss Jeanny, Lisa benci Miss Jeanny," ucap Lisa dengan suara melengking.


"Iya, sudah. Kita tidak usah bertemu dengan Miss Jeanny, sekarang ganti bajunya. Biar kita makan, Oma dan Obut hari ini pulang." beritahu Bi Anah.


🌹


Begitu Oma Alma dan Obut Gracia sampai di rumah, Bi Anah langsung menceritakan apa yang terjadi pada Lisa.


"Ma, apa kita besok menemui Jeanny?" tanya Alma pada Mama mertuanya.


"Apa perlu? mungkin saja Jeanny sibuk di sekolah, sehingga Lisa cemburu karena Jeanny dekat dengan murid-murid yang lain," ucap Oma.


"Ma, apa Mama sudah tidak ingin menjodohkan Agra dengan Jeanny lagi?" tanya Alma.


"Tetap, kenapa?" Gracia, Mama mertuanya balik bertanya pada Alma.


"Kelihatannya Mama tidak menggebu-gebu seperti awal dulu, Alma kira Mama sudah menyerah," kata Alma.


"Mama pikir, kita jangan terlalu bersemangat menjodohkan Agra. Dia akan marah, dan menjauhi kita. Kita harus melakukannya dengan hati-hati jangan terlalu kelihatan, kita harus main cantik," ucap Gracia, Mama mertuanya.


Terlihat senyum tipis di sudut bibirnya, entah ada rencana apa lagi yang ada didalam pikirannya.


"O..o." mulut Alma membola, mendengar ucapan Mama mertuanya.


"Alma kira Mama sudah tidak ingin Agra menikah lagi."


"Sampai kapanpun, Mama tetap ingin Agra menikah lagi. Kita harus menambah keturunan Barend." mata Gracia berkaca-kaca, saat menyebut Barend, karena dia teringat dengan mendiang suaminya yang sudah meninggalkannya hampir 20 tahun yang lalu.


"Jika aku tidak ceroboh dan terlalu cemburu, Abraham akan punya saudara." suara hati Gracia.


🌹Flashback🌹


Seorang pria turun dari dalam mobilnya, tanpa menutup mobilnya terlebih dahulu. Stevano, suami Gracia lari memasuki hotel.


"Tuan..!" panggil seorang pria yang duduk sedari tadi di lobby hotel.


"Dev, apa Cia sudah kembali ke hotel?" tanya Stevano dengan raut wajah yang sangat cemas, butiran keringat membasahi tubuhnya.


"Belum Tuan, saya menunggu di sini seperti yang Tuan perintahkan. Nyonya, belum kembali juga," ucap Devlin, asisten Stevano Barend.


"Coba lacak ponselnya." titah Stevano pada asistennya.


Sang asisten sibuk melacak keberadaan istri majikannya, Stevano Barend sibuk mengumpat dan memakai wanita yang bekerja di perusahaan PT Star di Indonesia yang telah membuat sang istri salah paham.


Stevano Barend dan Gracia berada di Indonesia, karena Papa Stevano yang tinggal di Indonesia meninggal. Dengan terpaksa, Stevano dan Gracia pulang dari Belanda. Karena perusahaan tidak ada yang memegang, Stevano yang bekerja di negara asal keluarga Barend terpaksa resign dan fokus mengurus perusahaan keluarga Barend. Walaupun yang sebenarnya, Stevano Barend tidak minat dengan dunia bisnis. Dia suka dengan penelitian, sehingga di Belanda dia bekerja di bagian penelitian.


"Bagaimana? apa sudah terlacak?" tanya Stevano Barend pada asistennya.


"Tuan, Nyonya berada di rumah sakit," ucap Devlin pada Stevano Barend.


Devlin mengatakan rumah sakit, tempat ponsel Gracia terdeteksi.


Keduanya berlari keluar dari dalam hotel, dan masuk kedalam mobil Stevano Barend yang parkir tidak jauh dari depan hotel.


"Cia! apa yang terjadi padamu!? wajah Stevano panik, dia duduk dengan tegang di kursi belakang. Begitu juga dengan Devlin, dia juga panik.


"Dev, cepat..!" titah Stevano tidak sabar, karena ia ingin cepat tiba di rumah sakit. Untuk mengetahui keadaan istrinya, yang hamil tiga bulan.


"Iya Tuan, jalanan kota ini sangat padat," ujar Devlin.


Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, mobil yang dikemudikan oleh Devlin memasuki rumah yang sakit.


Mobil belum berhenti sempurna, Stevano sudah membuka pintu dan loncat dari dalam mobil yang baru mau parkir.


"Tuan..!" seru Devlin ingin, mengingatkan Tuannya agar hati-hati. Tapi, Stevano Barend sudah lari masuk kedalam rumah sakit.


Stevano berlari menuju resepsionis, dan bertanya mengenai istrinya Gracia. Setelah mendapatkan informasi mengenai sang istri, Stevano langsung menuju ruangan di lantai 7.


Stevano mendorong pintu dengan kuat, dia lupa dengan pasien yang berada dalam kamar tersebut yang kemungkinan akan kaget mendengar suara pintu terbuka dengan sedikit kasar.


Tapi .


Pasien tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Stevano.


"Honey...!" langkah panjang Stevano seakan-akan dia terbang menuju ranjang, di mana sang istri terbaring tak bergerak dan ditangannya terpasang infus yang berwarna merah. Hanya terlihat napas yang teratur terlihat dari bagian dadanya yang turun naik.


Stevano membungkukkan kepalanya, dan memberikan kecupan di bibir sang istri.


"Honey, bangun." Stevano mengelus pipi Gracia, untuk membuatnya bangun.


Apa yang dilakukan Stevano, tetap tidak membuat sang istri membuka matanya.


"Honey." sudut bola mata Stevano sudah berembun, dia takut. Sang istri tidak ingin membuka matanya lagi.


"Honey, bukalah matanya. Honey hanya salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu. Dia pernah aku tolong, dua Minggu yang lalu. Dia hampir jatuh dihadapan ku, tidak mungkin aku membiarkannya jatuh dan aku menolong dan mengangkatnya masuk kedalam ruangan ku. Aku tidak mengira, pertolonganku di salah artikan nya." Stevano bicara sendiri, walaupun Gracia belum bangun. Tapi Stevano berharap, Gracia mendengar apa yang dikatakannya.


Pintu terbuka, masuk seorang dokter dan dua orang perawat.


"Dok, apa yang terjadi pada istri saya?" tanya Stevano Barend.


"Anda suaminya?" tanya dokter Aulia, terlihat dari tag nama di jas dokternya.


"Iya Dok, ini istri saya," jawab Stevano.


"Begini Pak, istri anda tadi datang dalam keadaan pendarahan," ucap dokter Aulia.


"Pendarahan! bagaimana dengan kondisi baby-nya?" tanya Stevano.


"Maaf Tuan, istri Anda tadi mengalami pendarahan yang cukup parah. Terpaksa kami mengambil tindakan, tanpa persetujuan anda. Karena apa yang terjadi pada istri Anda tapi teramat fatal, jika tidak segera diambil tindakan sesegera mungkin." cerita dokter Aulia.


Mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, Stevano merasa. Bahwa baby mereka sudah pergi, sang istri keguguran.


"Maaf Pak, istri anda keguguran," ucap dokter.


Stevano menangis, dia tidak peduli. Selama ini dia tidak pernah mencucurkan air mata, kehilangan calon baby-nya. Membuat Stevano pria yang pendiam, mencucurkan air matanya.


🌹 Flashback end 🌹


Lamunan Gracia terputus, saat mendengar suara pengasuh Lisa memanggilnya dan Alma.


"Nyah Obut! Nyonya Alma..!" pekik Bi Anah sembari berlari menuju Gracia dengan Alma duduk.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...