
Happy reading 😍
...🍁🍁🍁...
Agra memegang kedua bahu Jeanny, dan membuat Jeanny menghadap kearahnya.
"Hei..kau mau apa?" Jeanny menepiskan tangan Agra di bahunya.
"Diam..!" seru Agra sambil memberikan tatapan mata yang tajam menatap wajah Jeanny.
"Untuk apa aku diam! kau ingin memperkosaku ya..!" balas Jeanny.
Pletak..
Jemari tangan Agra menyentil kening Jeanny, karena ucapan Jeanny yang menuduhnya ingin memperkosanya.
"Aduh..! Kenapa kau kasar sekali..!" seru Jeanny sembari mengelus-elus keningnya yang sakit.
"Kasar kau bilang? yang kasar itu aku atau kau itu? Kau itu seorang pendidik, tetapi memanggil orang yang lebih tua saja tidak sopan," Ujar Agra.
"Bagaimana kau mendidik murid-murid mu, jika kau itu tidak mengerti sopan santun ." ejek Agra.
"Hei..! aku dengan murid-murid ku sopan ya, hanya dengan kau saja aku begini. Kau itu orang yang ngeselin, tahu...!" balas Jeanny.
"Kau harus memanggil ku dengan panggilan yang sopan, jangan hei...hei..!" seru Agra.
"Suka..suka mulutku! apa hak mu melarang ku..!" Jeanny tetap membantah.
"Baiklah, kau tidak ingin menurut ya! aku akan beri pelajaran yang berharga pada bibirmu, agar bibirmu itu bisa sopan." Agra menarik tubuh Jeanny semakin mendekatinya.
"Hei! jangan lakukan hal yang tidak-tidak ya! aku akan membuat kau menyesal..!" seru Jeanny, saat melihat wajah Agra semakin mendekati wajahnya .
Agra tidak merasa gentar dengan ancaman Jeanny. Wajahnya semakin dekat, hanya tertinggal dua jengkal lagi. Mata Agra fokus menatap bibir Jeanny yang terbuka.
Tiba-tiba..
Bugh..
Kepala Jeanny menyundul kening Agra, sehingga..
"Aduh..! kau..!" Agra memegang keningnya yang kena sundulan kepala Jeanny.
"Rasain..!" cibir Jeanny.
"Kau itu laki-laki atau anak gadis? kelakuanmu jauh itu dari kata feminim, awas kau ajarin putriku menjadi seperti dirimu." geram Agra.
"Beginilah aku, apa kau masih mau menikahiku? bagaimana, Jika kita batalkan saja? beritahukan pada Papa, bahwa kau membatalkan niat untuk menikahiku," ujar Jeanny yang berharap, Agra mengabulkan apa yang dikatakannya baru saja.
"Bagaimana ya?" kening Agra mengernyit, matanya memandang Jeanny yang menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Batalkan ya, kita tidak cocok! aku itu baru 20 tahun. Sedangkan kau itu sudah terlalu tua untuk gadis muda sepertiku," kata Jeanny.
"Tidak...!!" tegaskan Agra, menolak keinginan Jeanny.
"Hah..! kau itu menyebalkan..!" Jeanny mendorong tubuh Agra, dan melipat kedua tangannya didepan dadanya. Pandangan matanya menoleh kearah luar jendela kaca mobil.
"Aku tidak akan membatalkan pernikahan, kau akan hidup denganku seumur hidup. Walaupun tidak ada rasa cinta diantara kita." usai berkata, Agra menghidupkan kembali mesin mobilnya dan mobil melaju kembali.
...****...
Yulia tersadar, matanya mengitari dimana saat ini berada. Dia lupa dirinya berada dalam rumah sakit.
"Anakku..! Anakku..!" Pekik Yulia, saat mengingat bahwa dia saat ini berada dalam ruang serba putih. Yaitu rumah sakit.
"Anakku...! selamatkan anakku..!" histeris Yulia seraya memegangi perutnya.
Suster berlari mendekati ranjang Yulia.
"Nyonya, tenanglah. Saat ini anda berada dalam rumah sakit, banyak pasien berada dalam IGD ini. Mereka akan terganggu dengan teriakkan anda, Nyonya," ujar suster.
"Aku tahu! di mana aku ini berada," ujar Yulia dengan kesal melihat pada suster yang menegurnya agar jangan ribut.
"Kalian mengambil anakku! kalian mengeluarkan anakku! aku akan menuntut rumah sakit ini, karena telah mengeluarkan anakku tanpa seizin aku..!" Yulia marah pada suster, matanya bulat sempurna menatap wajah suster yang ketakutan berdiri di ujung ranjang Yulia.
"Nyonya, anda tenang dulu. Anak anda.." ucap suster terhenti, karena Yulia menyela ucapan suster.
"Nyonya.."
"Suster." suster yang lebih berumur mendekatinya ranjang Yulia. dan memberi tanda agar suster tersebut meninggalkannya.
"Istighfar Nyonya, tenang dulu," ucap suster yang terlihat dari raut wajahnya seorang suster yang sudah senior.
"Anakku..!" Yulia meraba perutnya.
"Anak anak aman didalam kandungan anda Nyonya, anda harus tenang dan jangan emosi. Dokter masih bisa menyelamatkan kandungan anda, tetapi anda harus tenang dan jaga emosi anda." tutur kata suster yang lemah lembut membuat Yulia tenang, apalagi mendengar bahwa anaknya dalam keadaan sehat-sehat saja.
"Bayi saya masih ada dalam kandungan saya suster?" tanya Yulia, karena dia belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh suster tersebut.
"Syukurlah, bayiku masih ada. Jika tidak ada lagi, pasti Yudha akan menceraikan ku." suara hati Yulia senang, karena bayinya masih aman dalam kandungannya.
...****...
"Nona, silakan." pegawai butik mempersilakan Jeanny untuk masuk kedalam ruang ganti khusus untuk wanita dan Agra duduk memainkan ponselnya menunggu Jeanny.
Jeanny memilih satu pakaian pengantin yang berwarna putih susu, dan mencobanya.
"Bagaimana mbak?" tanya Jeanny pada pegawai butik yang menemaninya di ruang ganti.
"Bagus Nona, sesuai dengan kulit tubuh Nona Jeanny." puji pelayan butik.
"Tapi mbak, apa ini tidak terlalu pendek. Lihatlah, belahan dadanya sangat terlihat," ujar Jeanny dengan menunjukkan area sekitar dadanya.
"Kalau Nona nyaman, tidak apa-apa. Bagaimana jika Nona tanyakan saja pada calon suami Nona, biar calon suami Nona yang menilainya." pelayan butik menyarankan Jeanny untuk bertanya pada Agra.
"Aku keluar!" Jeanny kaget mendengar usulan pelayan butik, agar dia minta pendapat Agra.
"Iya Nona, pengantin wanita jika milih baju selalu meminta saran calon suami."
"Apa begitu?" tidak yakin Jeanny untuk keluar, menunjukkan baju pengantin yang dipilihnya.
"Ayo Nona, tunjukkan pada kekasih Nona." titah pelayan butik pada Jeanny.
"Kekasih? ih..kekasih apanya? kekasih yang sebenarnya telah menikahi wanita lain. Ini pernikahan terpaksa, jika mulutnya tidak bicara sembarangan. Aku tidak mungkin berada di butik ini." dalam benak Jeanny.
"Silakan Nona." pintu terbuka dan pelayan butik mempersilakan Jeanny untuk keluar. Tangan Jeanny selalu menutupi belahan dadanya.
Dengan langkah ragu-ragu, Jeanny melangkah dan berhenti didepan Agra yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Wow..sangat cantik! Agra, lihatlah. Calon istrimu sangat memukau ," ucap Tante Silvia, pemilik butik yang masih kerabat Agra.
Agra mengangkat kepalanya dan memandang Jeanny.
Agra bangkit dan beranjak mendekati Jeanny, dan menarik tangan Jeanny yang terus menutupi belahan dadanya yang terlalu turun menurut Jeanny.
"Kau mau apa?" tanya Jeanny dengan suara yang hampir setengah berbisik.
"Untuk apa kau tutupi?" tanya Agra seraya menatap area dada Jeanny.
"Jaga matamu..!" ucap Jeanny.
"Ada obral susu, untuk apa aku menjaga mataku," ujar Agra seraya mencolek belahan dada Jeanny.
"Kau..!" telunjuk Jeanny terarah pada wajah Agra.
"Bugh..!"
Kaki Jeanny melayang mengenai tulang kering kaki Agra, setelah itu. Jeanny kembali masuk kedalam bilik ganti.
Aaarhg..!" pekik Agra seraya memegangi tulang keringnya yang menjadi korban ujung sepatu Jeanny.
"Ada apa?" tanya Tante Silvia, saat melihat Agra kesakitan seraya mengusap kakinya.
"Ada kucing liar Tante," jawab Agra, sembari berjalan pincang ketempat dia semula duduk.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung...