My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Anak itu tahu, Mamanya seperti apa. Sehingga, dia tidak ingin dilahirkan." gumamam Mama Yudha didalam benaknya.


"Pak, bagaimana ini?" tanya Darti pada Darmawan, Papa Yulia.


"Bagaimana apanya Ma?" Darmawan balik bertanya pada sang, istri. Karena pertanyaan sang istri yang tidak jelas.


"Yulia, jika kehilangan anaknya. Yulia pasti akan sedih, apalagi. Kita baru ingin mengajukan penangguhan penahanan, karena Yulia sedang hamil. Kini, penangguhan penahanan tidak mungkin kita ajukan." tutur Darti.


"Mungkin Allah marah Ma, karena kehadiran anak itu akan diperalat untuk kepentingan kebebasan Yulia. Dan Allah mengambilnya," kata sang suami.


"Hih.. Papa, pikirannya aneh saja."


"Kalau menurut pikiran Papa ya Ma, anak itu lebih baik tidak lahir. Papanya tidak jelas, Yudha tidak mengakui. Bagaimana jika anak itu lahir, dan hasil tes DNA tidak cocok dengan Yudha. Anak itu tidak akan punya orang tua yang lengkap, dan Yulia. Papa tidak percaya, dia akan mampu merawat anaknya, kita sekarang masih ada. Bagaimana jika nanti kita tiada, umur ajal tidak ada yang tahu." tutur Papa Yulia panjang lebar.


Darti, Mama Yulia hanya mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang suami.


Setengah jam kemudian, dokter dan seorang perawat keluar.


Papa dan Mama Yulia bergegas mendekati dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Mama Yulia.


"Suami Bu Yulia?" tanya suster.


"Yudha..!" panggil Papa Yulia.


Yudha dan kedua orangtuanya datang mendekati dokter.


"Maaf Pak, bayi dalam kandungan istri anda tidak bisa dipertahankan. Bayi itu tidak berkembang," kata dokter.


"Bu Yulia sudah selesai di operasi, menunggu sadar. Setelah tidak ada apa-apa, akan di bawa ke ruangan," sambung dokter kembali.


Yudha menganggukkan kepalanya, kedua tangannya berada didalam kantong jaket yang dikenakannya. Ekspresi wajahnya, tidak diketahui. Apa yang ada didalam pikirannya saat ini, bahagia atau sedih.


Begitu dokter dan perawat masuk kedalam kedalam kembali.


"Kau sudah bahagia, sekarang. Kau bisa melepaskan Yulia, sudah tidak ada anak lagi. Kau bebas..!" Mama Yulia berkata dengan sinis pada Yudha.


"Lo..lo..! jeng Darti ini terus menyalahkan anak saya terus, anak jeng Darti juga salah. Sudah tahu, anak saya tidak cinta saya anak sampeyan. Tapi, anak sampeyan malah menjebak putra saya. Itu karma untuk anak sampeyan Jeng..!" balas Susan.


"Cukup! apa Tante kira saya orang yang jahat, sehingga bahagia melihat Yulia keguguran. Walaupun, saya tidak yakin anak itu sebagai darah daging saya. Tapi, saya sedih Tante..! saya bukan monster, anak itu tidak salah. Yang salah orang yang memperalat anak itu untuk memenuhi ambisinya..!" Yudha kesal, karena terus di salahkan oleh kedua orang tuanya Yulia.


"Cukup Tante dan Om selalu menyalahkan saya, pernikahan kami tidak bisa dilanjutkan lagi." Yudha lalu pergi, setelah mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya.


"Pak Darmawan, mari kita introspeksi diri sebagai orang tua. Kenapa, pernikahan anak kita seperti ini. Jangan ada saling menyalahkan lagi," kata Papa Yudha, Hendra.


"Kami permisi dulu, setelah Yulia sadar dan masuk keruangan. Kami akan datang lagi," kata Papa Yudha.


"Baiklah Pak Hendra," sahut Darmawan, papa Yulia.


"Ayo, Ma," kata Hendra pada sang istri.


"Permisi," ucap Susan pada Mama Yulia, Mama Yulia hanya menganggukkan kepalanya.


*


*


Jeanny turun dari taxi, dia langsung berlari menuju rumahnya. Senyum lebar menghiasi bibirnya, dia sudah sangat rindu dengan rumah dan kamarnya. Padahal, dia belum sebulan meninggalkan rumahnya.


Jeanny mengeluarkan kunci pagar yang ada padanya, setiap anggota keluarga membawa kunci masing-masing. Agar jika pulang, tidak perlu merepotkan keluarga untuk membukakan pintu.


"Papa! Mama..!" lengkingan suara Jeanny mengagetkan Mamanya yang sedang sibuk dengan rutinitas sehari-hari, yaitu memasak.


Mamanya langsung meninggalkan markasnya sehari-hari, menuju ruang depan.


"Jeanny, masuk rumah itu ucapkan salam dulu. Jangan teriak-teriak, apa di rumah Agra juga begini?"


"Hehehe.. assalamualaikum Mama..." tawa Jeanny dan memeluk Mamanya.


"Waalaikumusalam,kenapa datang?" tanya Mamanya sambil membalas pelukan Jeanny.


"Ih.. Mama, anaknya pulang. Tanya kabar gitu, ini nanya. Kenapa pulang? apa Mama tidak sayang Jeanny lagi, Mama hanya merasa punya anak satu saja. Bang Jamie. Ya..?"


"Apa kabar anak Mama yang baru jadi istri? apa sudah menghancurkan dapur rumah suami?" ledek Mamanya, yang tahu. Jeanny tidak pandai memasak.


"Mama! Jeanny bukan tidak bisa masak ya! bisa masak, tapi tidak mahir."


"Ma, masak apa? Jeanny rindu dengan masakan Mama," kata Jeanny.


"Sop ayam dan perkedel jagung." beritahu Mamanya.


"Asik! Jeanny jadi lapar," kata Jeanny sambil mengikuti Mamanya kembali ke markasnya, yaitu. Dapur.


"Agra tidak ikut?" tanya Mamanya.


"Tidak Ma, sibuk. Cari uang."


"Ini kan hari Minggu."


"Ma, pengusaha itu. Tidak ada hari libur, setiap hari di dalam pikiran mereka itu cari uang..uang..uang.!" ucap Jeanny.


"Sudah ada istri, hari Minggu khusus untuk keluarga," ucap Mamanya.


"Ma, enak perkedelnya. Nanti, Jeanny pulang. Kasih Jeanny bawa pulang ya Ma," kata Jeanny, yang sudah melahap dua perkedel jagung kedalam mulutnya.


"Iya." sahut Mamanya.


"Papa dan Abang mana Ma?"


"Papa, pergi rapat di rumah Pak RT. Jamie, Pergi keluar negeri."


"Padahal, Jeanny kangen dengan Abang dan Papa."


"Baru pisah seminggu, sudah kangen." ledek Mamanya.


"Mama tidak kangen Jeanny ya? padahal, Jeanny kangen dengan masakan Mama."


"Sedikit," ucap mamanya sambil tertawa.


"Mama jahat, Jeanny mau ke kamar dulu. Kangen dengan bantal buluk Jeanny."


"Bawa saja bantal buluknya," ujar Mamanya.


"Apa boleh?"


"Kalau tidak malu dengan suami, bantal sudah bisa dibuang. Masih di pakai," kata Mamanya.


"Harum Ma..!" seru Jeanny.


*


*


Agra menunggu kedatangan Albert, sudah hampir dua jam dia berada apartemen Albert. Tetapi, yang punya apartemen belum pulang.


Pintu apartemen terbuka, Albert pulang dan Michael ikut bersama dengannya.


"Kenapa lama sekali, kau menyuruh aku untuk datang cepat," ucap Agra.


"Maaf, tiba-tiba ada klien yang mengajak bertemu."


Albert melemparkan tasnya dan menghempaskan bokongnya di sofa.


"Kelihatannya, kau lelah sekali, Bert?" tanya Michael dan melempar minuman dingin kepada Albert. Dengan sigap, Albert menangkap minuman tersebut . Dan kemudian meneguk habis isinya.


"Sepertinya, kau tidak minum satu harian ini," kata Agra.


"Pekerjaanku tidak seperti kalian, tinggal tandatangan. Uang mengalir masuk ke rekening," kata Albert.


"Ada apa kau menyuruhku ke sini? yang tidak bisa dikatakan melalui telepon?" tanya Agra.


"Saat memindahkan Mikaela, anak buah Maharani mengikuti." Albert menceritakan, ada perawat yang dibayar oleh Maharani untuk menjadi mata-mata.


"Apa tempat rumah tempat Mikaela aman?" tanya Agra.


"Untuk sekarang ini masih aman, kau tahu. Mikaela berusaha untuk bernegosiasi denganku," kat Albert.


"Apa yang diinginkannya?" tanya Michael.


Albert mengerucut bibirnya, menunjuk Agra.


...***...


To be continued