
Happy reading 😍
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Agra larut dalam lamunan masa lalunya dalam beberapa detik, sampai teguran temannya membuat lamunannya terbang dibawa angin menjauh darinya.
"Hei Bro! melamun, apa ingat apa? apa kurang cepat bobol anak perawan lagi?" ledek Michael.
"Sabar Bro, ada waktunya si rudal balistik jarak jauh mu itu akan siap tempur." Albert ikut meledek Agra.
Agra hanya memberikan tatapan mata yang tajam kepada kedua temannya tersebut.
"Bert, Agra sudah mau kedua kali membobol gawang perawan. Lah.. kita, satu saja belum ada yang mau di bobol," ucap Michael pada Albert.
"Kau yang belum, aku..." Albert menjeda perkataannya, dan memainkan matanya turun naik.
"Bushet...apa kau..?" ujar Michael.
"Aku juga belum." Albert melanjutkan ucapannya yang jeda tadi.
"Kunyuk..! dasar pengacara..!" umpat Michael memakai Albert yang tertawa lebar.
"Gra, kapan rencana pernikahanmu? jangan mendadak, dan kau jangan minta kado yang mahal. Aku sudah beri kado paket honeymoon dulu pada pernikahan pertamamu, sekarang. Aku beri kado ranjang Anti badai ya," ucap Michael.
Agra mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke wajah Michael, karena Agra membaca pesan masuk dari sang Oma. Gracia.
"Ranjang Anti badai? ranjang apa itu?" tanya Albert.
"Itu ranjang khusus untuk duda yang mau melepas masa kesendiriannya, biar malam pengantin tidak terganggu dengan ranjang roboh." Tutur Michael.
"Dasar ilmuwan sableng." tawa Albert pecah kembali, mendengar perkataan Michael.
"Semakin malam, otak kalian tidak ada yang benar. Aku balik." usai berkata, Agra pergi meninggalkan keduanya.
"Hei.. Agra, belum bayar ini." panggil Michael.
Tapi Agra dengan santai meninggalkan cafe, tidak perduli dengan panggilan Michael.
"Hei Agra, katanya mau traktir. Kita juga yang di suruh bayar." ngedumel Michael.
"Sudah, kau bayar Mich. Hanya ratusan ribu, kau tidak bakalan jatuh miskin seketika hari ini. Aku balik ya, besok jadwalku padat di pengadilan." Albert meninggalkan Michael.
"Dasar teman tidak ada akhlak, aku pulang dengan siapa? tadi minta tolong begitu cepatnya. Sekarang, aku ditinggalkan sendirian." Michael menggerutu panjang lebar sambil mengeluarkan dompetnya membayar tagihan makanan yang dipesannya bersama dengan kedua temannya.
🍂🍂🍂🍂
Jeanny masih tidur dengan pulas, efek obat tidur yang diminumnya. Membuat Jeanny tidur sudah hampir 6 jam tanpa bergerak sedikitpun, Jeanny tidur seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Pa, Jamie. Kalian tidur di kamar saja, biar Mama di sini yang menemani Jeanny," kata Amira, Mama Jeanny.
"Tidak Ma, Jamie mau di sini. Papa saja tidur," ujar Jamie pada Papanya.
"Kita bertiga di sini, Jamie. Ambil matras untuk kita tidur di sini." Titah Papanya pada Jamie.
"Oke Pa." Jamie gegas keluar dari kamar adiknya, untuk mengambil matras sebagai alas untuk tidur di kamar Jeanny.
Amira, tidur di ranjang bersama dengan Jeanny. Papa dan Abangnya tidur di lantai, beralaskan matras.
Dini hari, mata Jeanny terbuka.
Jeanny menggeliat, dan merasakan seluruh tubuhnya terasa lemas.
"Kenapa aku lemas sekali, mataku berat untuk terbuka." Gumamnya.
Amira yang mendengar ada suara orang bicara di sampingnya terbangun dan menoleh kearah Jeanny.
"Jean." Mamanya bangun dan duduk.
"Mama! Kenapa di sini?" Tanya Jeanny saat melihat Mamanya tidur di sisinya.
"Hei! Kenapa aku di sini? Bukannya aku tadi kabur, dan naik mobil Andi?" Jeanny bangkit dan duduk.
Kedua bola matanya mengitari tempat di mana saat ini dia berada.
"Iya, di dalam kamar," sahut Mamanya.
"Mama di sini, tidur dengan Jeanny." Jeanny bingung, kenapa dia berada didalam kamarnya. Sedangkan tadi dia sudah pergi dari rumah dan ingin mengambil mobilnya yang berada di bengkel.
Tiba-tiba, mata Jeanny melihat Papa dan Abangnya tidur di lantai.
"Abang, Papa. Tidur di sini." Jeanny bertambah bingung.
"Kenapa Mama, Papa dan Abang tidur di sini? Ada apa?" Tanya Jeanny.
Bugh..
Bukan jawaban atas pertanyaan Jeanny yang didapatkan jeanny, tapi pukulan di tangannya dari sang Mama yang didapatkan Jeanny.
"Aduh..!" Pekik Jeanny.
Pekikan Jeanny, membuat dua pria yang tidur di lantai terbangun.
"Ada apa?" Jamie sontak berdiri dan beranjak mendekati Jeanny.
"Apa ada yang sakit?" Papa Jeanny duduk di sisi ranjang dan menatap wajah putrinya tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa semua di kamar Jeanny? Dan Mama, kenapa Jeanny dipukul ? Sakit ini."
"Anak nakal, membuat Mama, Abang dan Papa panik," kata Papa Jeanny.
"Semua tahu Jeanny kabur ya? Terus kenapa Jeanny berada di sini? Dalam kamar Jeanny?" Tanya Jeanny.
"Jean, jika ada masalah. Jangan kabur, untung ada Agra yang melihat Jean kabur. Jika tidak tadi, tidak dapat dibayangkan apa yang terjadi," ucap Papa Jeanny.
"Apa yang terjadi? kenapa Jean berada di kamar sini, tadi Jean pergi dengan Andi menuju bengkel untuk mengambil mobil Jeanny yang berada di bengkel." tutur Jeanny.
"Pria itu Andi." geram Jamie.
"Bang, ada apa? badan Jeanny juga lemas dan Jeanny merasa ngantuk terus." Jeanny menguap berkali-kali. karena efek dari obat tidur masih ada.
Papa dan Jamie saling bergantian bercerita, sesekali Mamanya ikut menimpali.
"Maaf, Jean telah membuat Papa Mama dan Abang khawatir," ucap Jeanny sembari menangis.
"Untung Agra melihat, saat mau datang ke rumah. Jika tidak tadi.." Papa tidak melanjutkan ucapannya.
"Jean harus berterima kasih pada Agra, berkat pertolongannya. Jean terhindar dari marabahaya," kata Mamanya.
Jeanny menundukkan kepalanya, dia tidak mengira. Karena keputusannya untuk pergi meninggalkan rumah, hampir membuat dirinya celaka.
"Maaf, Jeanny mengaku salah. Jeanny tidak akan melakukannya lagi," ucap Jeanny.
"Sampai kau berani melakukannya lagi Dek, Abang akan ikat kakimu pakai rantai kapal. Biar tidak bisa kemana-mana lagi." ancam Jamie.
"Siapa pria itu Jean? apa Jean sudah lama kenal?" tanya Andre, Papanya.
"Jeanny baru kenal dua hari yang lalu Pa, waktu itu mobil Jeanny rusak. Dan dia yang menolong Jean, dan memanggil montir mobil." Tutur Jeanny.
"Dek, baru kenal dua hari. Adik mau saja ikut dengannya malam-malam." dari nada suara Jamie kesal dengan apa yang Jeanny lakukan.
"Karena Jean tidak mengira dia akan setega itu pada Jeanny, rumahnya dekat dengan perumahan kita ini. Mana Jeanny tahu dia punya niat jahat," kata Jeanny.
"Besok kita laporkan ke polisi, pengacara teman Agra yang akan mendampingi kita dalam memberikan laporan. Besok katakan dengan jelas, apa yang Jeanny ingat ya," kata Papa Jeanny.
"Mengenai Agra, Papa rasa dia cocok menjadi pendamping dan pelindung Jean. Terima ya, dia pemuda yang bertanggungjawab. Jamie, kau juga. Terima Agra sebagai adik ipar. Jangan menentang keputusan Papa." Tutur Papa.
"Jean, dengarkan apa kata Papa. Jangan kabur lagi ya, Mama bisa kena serangan jantung."
"Maaf Ma." Jeanny melabuhkan tubuhnya kedalam dekapan hangat tangan Mamanya.
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
...Bersambung...