
Tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...***...
Albert menghela napasnya, dia lega. Karena apa yang ditakutinya tidak terjadi.
Dalam ruangan, Mikaela kaget. Karena pintu tertutup tiba-tiba.
"Kenapa tertutup, aku tidak menutupnya?" Mikaela membuka kenop pintu untuk membukanya, tapi. Pintu tersebut seperti terkunci.
"Terkunci? siapa yang melakukannya? Nenek tua itu! pasti Nenek tua yang sudah bau tanah itu yang melakukannya?" Mikaela sangat marah, kakinya menendang pintu tersebut dengan keras.
"Sialann.n..!" pekik Mikaela.
"Awas kau Maharani, aku akan melenyapkan mu...!" teriak Mikaela sekeras mungkin.
"Tolong... tolong! siapa di luar!" teriak Mikaela minta tolong, dia menempelkan telinganya Kedinding pintu. Tapi, Mikaela tidak ada mendengar suara orang di luar ruangan.
"Apa teriakan ku tidak terdengar dari luar? di mana ini? sepertinya bukan ruang istirahat para pekerja hotel.
Teriakan Mikaela tidak terdengar, karena ruangan tempat Mikaela berada kedap suara.
Tiba-tiba
Asap keluar dari lobang ventilasi, membuat Mikaela terbatuk-batuk.
"Tolong..tolong kebakaran..!" teriak Mikaela sembari memukul-mukul pintu, pintu tidak terbuka juga.
Karena terhirup asap, Mikaela pingsan. Tubuhnya jatuh didepan pintu.
Dalam ballroom hotel.
"Lex, pestanya sangat meriah," ujar Yudha.
"Pesta Boss, sudah pasti meriah," jawab Alex.
"Itu teman-teman kita, ayo kita ke sana," ucap Yudha, saat melihat teman-teman sekantornya.
Langkah Yudha terhenti, saat melihat kearah pelaminan. Sosok orangtuanya Jeanny yang membuatnya berhenti.
"Om Andre, itu Om Andre! kenapa dia duduk di sana? siapa yang menikah dengan Tuan Agra Barend? apa saudara Om Andre? mungkin, keponakan Om Andre yang menikah dengan Tuan Agra." gumam Yudha.
"Yudha, ayo. Kenapa kau berhenti, apa kau tidak ingin makan. Makanan pasti sedap sedap ini, pesta Sultan," ucap Alex.
"Iya..iya.. duluan," jawab Yudha.
"Jika Om Andre menjadi wali pengantin wanitanya, Jeanny pasti ada di sini. Saudaranya menikah, tidak mungkin dia tidak di sini." gumam Yudha.
"Yudha, jangan ngelamun saja." Alex menarik lengan baju Yudha, membuat lamunan Yudha menguap.
Yudha melangkah ketempat meja prasmanan, matanya terus celingukan mencari keberadaan gadis yang masih sangat di dicintainya.
"Yudha, cepat ambil makanannya. Jangan bengong saja, entar habis ini makanan." gurau Alex.
"Pesta sebesar dan semegah ini tidak mungkin kehabisan makanan," ucap Yudha.
"Hehehe." tawa Alex.
"Banyak sekali makananmu Lex?" Yudha heran melihat piring makanan Alex penuh.
"Makanan yang belum pernah aku cicipi Yudha, aku ambil saja." Alex tertawa melihat kearah piringnya.
Yudha menggelengkan kepalanya, melihat tingkah rekannya tersebut. Sedangkan Yudha, hanya mengambil buah-buahan dan puding.
Yudha dan Alex mengambil posisi duduk sedikit menjauh dari pelaminan.
"Pak Yudha, kenapa bapak mengambil makanan sedikit sekali? itu juga hanya buah-buahan..?" tanya anak buahnya di bagian marketing.
"Saya tidak makan banyak, ini sudah cukup," jawab Yudha.
"Lusi, Yulia dan Zoya benar-benar tidak datang ya?" tanya Nia dengan berbisik.
"Zoya mendapatkan tugas keluar kota, sedangkan Yulia. Aku dengar-dengar selentingan, dia masuk rumah sakit. Pendarahan, dan harus bed rest," jawab Lusi dengan suara yang pelan.
"Apa dia hamil?" tanya Nita.
"Aku tidak tahu juga, sudah ah..tidak usah bahas dia. Lihatlah, banyaknya cowok tajir dan cakep berseliweran. Untuk apa kita membahas orang yang tidak penting," ucap Lusi.
"Banyak, tapi. Apa kau tidak lihat, semua sudah bawa gandengan. Pasti gandengan mereka itu putri-putri sultan dan pejabat," ucap Nita.
"Benar, sepertinya. Plastik semua di sekujur tubuh para wanita itu." timpal Nia dengan tertawa.
"Serius? aku tidak percaya, mungkin kecantikan mereka karena selalu ke salon," ujar Nia kembali.
Di sudut Ballroom, sepasang mata mencari-cari sosok Mikaela. Maharani mencari keberadaan Mikaela disudut ballroom, itu juga dia diawasi oleh sekuriti. Karena Maharani tidak bisa menunjukkan kartu undangan.
"Nyonya, apa ada yang anda cari?" tanya petugas keamanan yang mengikutinya.
"Tidak terlihat, mungkin saja dia berada didalam sana Pak. Izinkan saya masuk."
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa izinkan. Orang yang anda cari, tidak mungkin dapat masuk kedalam. Karena untuk masuk kedalam harus menunjukkan kartu undangan," kata sekuriti kepada Maharani.
"Kemana anak itu? dia ingin bermain-main denganku , awas dia. Aku tidak akan memberikan apa yang di carinya." Batin Maharani.
"Silakan keluar nyonya," ujar sekuriti, mempersilakan Maharani untuk keluar dari ballroom.
"Baiklah." akhirnya, Maharani keluar. Dia juga tidak ingin bertemu dengan Gracia Barend.
...****...
Mikaela berada dalam satu ruangan, dalam keadaan pingsan. Dari luar, Albert dan Michael berdiri menatap kearah kaca. Di balik kaca tersebut, Mikaela terbaring.
"Apa dia Malika? atau bukan?" Michael menoleh pada Albert yang berada di sampingnya.
"Aku juga belum pasti, wajah mereka sangat mirip," jawab Albert.
"Apa mungkin kembarannya?" tanya Michael lagi.
"Agra pernah katakan, malika tidak mempunyai saudara. Dia hanya memiliki ibu saja," jawab Albert.
"Untung kau sudah siaga dengan menempatkan orang-orang mu disekitar hotel, jika tidak tadi. Sudah dapat dipastikan, Agra pasti mengejar perempuan itu Dan meninggalkan pesta pernikahannya, tidak dapat aku bayangkan. Apa yang akan terjadi." tutur Michael.
"Betapa besar pengaruh Malika pada Agra, sehingga dia begitu mencintainya. Sampai-sampai keluarganya juga dulu ditentangnya dan ditinggalkannya" kata Albert.
"Saat dia bersama dengan Malika dulu, dia seperti bukan Agra yang kita kenal. Sejak bersama dengan Malika, dia sosok yang temperamental. Tidak bisa di ajak bicara mengenai Malika." tutur Michael.
"Aku ingat dulu, tangis Tante Alma dan Oma Gracia tidak meluluhkan hatinya. Dia kekeuh untuk meninggalkan Indonesia, karena permintaan Malika. Semoga perempuan itu di hapuskan dosa-dosanya di sana." Michael menimpali perkataan Albert.
"Di mana?" tanya Albert.
"Di alam Barzakh," jawab Michael.
"Kau ada-ada saja,," ujar Albert.
"Kenapa dia belum bangun juga, apa asap itu tadi aman?" tanya Michael.
"Aman, asap itu tidak berbahaya," jawab Albert.
"Kita kembali ke pesta, nanti Agra heran. Kita hilang dari pestanya," kata Albert.
Dalam Ballroom
Rombongan pegawai kantor perusahaan PT Star mulai menuju pelaminan, untuk memberikan selamat pada Boss mereka.
"Yudha, kenapa matamu liar? apa ada yang kau cari?" tanya Alex, yang melihat sedari tadi. Mata Agra seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Tidak ada, aku hanya mengagumi keindahan dekorasi ballroom ini," jawab Yudha.
"Bang Jamie." gumam Yudha, saat melihat Jamie duduk di kursi ujung pelaminan bersama dengan saudara-saudara Jeanny. Yudha mengenalnya, waktu dia melamar Jeanny.
"Itu budhe Adila, tapi Jeanny mana? apa dia tidak datang?" batin Yudha.
Yudha menyalami Abraham Barend dan Alma.
"Selamat Tuan, Nyonya," ucap Yudha.
"Terima kasih." balas Abraham Barend.
Yudha Bergerak untuk menyalami Agra Barend, Boss Nya.
Dan...
...****...
To be continued