
Jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak kakak reader..
...***...
Jeanny sudah selesai dirias oleh juru rias.
"Mas, apa tidak terlalu putih wajah saya Mas?" Tanya Jeanny, saat melihat wajahnya setelah selesai dirias dalam cermin.
"Hih..! Jangan panggil Mas, panggil Ajeng. Cantik begini jangan dipanggil Mas, panggil Ajeng ya. Kita itu masih seumuran lho..." protes penata rias, saat Jeanny memanggilnya Mas.
"Maaf Mas..e.e..salah, Ajeng." Jeanny mengacungkan dua jarinya kearah Ajeng.
"Tidak putih Non Jean, cantik!" Seru Ajeng dengan gaya gemulai.
"Mirip setan wajahku, putih sekali." Protes Jeanny.
Pintu kamar terbuka, Bella masuk dengan membawa makanan.
"Bella, apa wajahku tidak mirip setan?" Jeanny membalikkan badannya menghadap Bella.
"Eem.." Bella mengelus dagunya seraya berpikir menatap wajah Jeanny.
"Mirip, mirip gadis menunggu dihalalkan." Gurau Bella. Langsung tertawa lebar.
"Betul..betul..!" Ajeng, sang penata rias tertawa sampai terbahak-bahak.
"Aku serius..!" Kesal Jeanny, melihat Ajeng dan Bella tertawa.
Valerie keluar dari dalam kamar mandi, juga ditanyai oleh Jeanny.
"Val, apa make-up nya tidak terlalu putih? aku merasa seperti setan badut," ujar Jeanny.
"Hahaha! apa ada setan badut? kau ini Jean ada-ada saja, bagus Jean. Percayalah, wajahmu sangat cantik." puji Valerie.
"Benar Non Jean, cantik! Non Jean akan menjadi pengantin tercantik." puji Ajeng.
"Dan sekarang, pakai baju pengantinnya. Biar rambutnya ditata." titah Ajeng.
"Perlu dibantu Jean?" tanya Bella.
"Tidak perlu, gaun pengantin yang aku pakai tidak ribet," sahut Jeanny seraya masuk kedalam bilik didalam kamarnya.
Satu jam kemudian, pihak dari pengantin laki-laki sudah memasuki ballroom hotel tempat diadakan akad. Sedangkan Jeanny, bersama dengan kedua temannya dan Mamanya. Menunggu didalam satu ruangan. Saat akad dilakukan, kedua ditempat diruang terpisah. Selesai akad dilakukan, baru Jeanny dipertemukan dengan Agra.
"Semoga, Agra lupa dengan namaku." harapan dalam benak Jeanny.
Jeanny tersenyum sendiri, membayangkan apa yang ada dalam benaknya sendiri.
"Hei..calon Nyonya, kenapa kau senyum-senyum sendiri? pasti kau memikirkan nanti malam kan? ayo ngaku?" Bella melihat Jeanny tersenyum sendiri.
"Pikiranmu itu, tidak jauh-jauh dari hal mesum," kata Jeanny.
"Terus, apa yang kau pikirkan?" tanya Bella.
Jeanny mengatakan apa yang terlintas dalam pikirannya.
"Dasar, sudah hari saja. Masih mengharapkan yang tidak mungkin terjadi," ujar Valerie yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Jean, tadi aku bertemu dengan Bang Jamie. Aku koq jadi ingin menjadi kakak ipar mu," kata Bella.
"Hih..ogah aku punya kakak ipar sepertimu, otaknya geser." Jeanny memanyunkan bibirnya.
"Kalau aku bagaimana Jean?" tanya Valerie.
"Otak kalian 11-12, makan hati nanti Bang Jamie. Jika punya istri seperti kalian mesumnya.'
Ketiganya saling berbincang, hingga tidak mendengar apa yang terjadi di dalam ballroom.
Saat Agra mengucapkan akad, telinga Jeanny dan kedua temannya tidak mendengar. Karena ketiganya sibuk tertawa.
Sang Mama menghampiri Jeanny yang duduk didepannya.
"Jean, akhirnya. Anak Mama sudah menjadi seorang istri," ujar sang Mama seraya memegang kedua tangan putrinya, yang hari ini sudah melepas masa sendirinya.
"Aku nggak dengar Jean," ucap Bella.
"Aku juga Jean." timpal Valerie.
"Sudah Mama ingatkan tadi, jangan ribut. Kalian, seperti tidak ada hari lain untuk tertawa dan bergosip." gerutu Mamanya Jean, Amira.
"Maaf Tante," ucap Bella yang merasa bersalah, karena dia yang pertama membahas Jamie.
"Jadi, Agra bisa mengucapkan akadnya Ma?" tanya Jeanny.
"Ya bisa, lantang lagi. Sudah kedua kali, masa harus gugup." timpal Tante Jeanny, Adilla. Adik dari Mama Jeanny, yang berdiri dibelakang sembari tertawa.
"Jadi, Jeanny sudah jadi istri Agra sekarang?"
Jeanny bertanya kembali, membuat Mamanya gemas melihat Jeanny.
"Iya, nanti malam sudah bisa buatkan Mama cucu..!" seru Mamanya.
"Mama..!" wajah Jeanny langsung merah, mendengar ucapan sang Mama yang mengungkit masalah cucu.
Semua orang yang berada dalam ruangan tertawa, saat mendengar apa yang yang dikatakan oleh Amira. Mama Jeanny.
"Ayo, kita sudah disuruh keluar," ujar Adila, Tante Jeanny.
Mama dan Tante Adilla menggandeng Jeanny untuk menuju tempat nikah, yaitu ruang ballroom. kedua temannya berada dibelakangnya.
Sampai diruang ballroom, banyak pasang mata memandang Jeanny yang masuk ke dalam ballroom dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Ya Allah, tolong. Jangan sampai aku pingsan di sini." dalam benak Jeanny, karena merasa tubuhnya lemas.
"Jean, jangan nunduk begitu. Apa ada yang mau dilihat dibawah." tegur Adila, kepada keponakannya tersebut.
"Jeanny gugup Tan..." balas Jeanny dengan berbisik.
"Jangan gugup, angkat kepalanya. Dulu masih kecil sering malu-maluin, sekarang sudah besar kenapa jadi pemalu. Lihat itu suamimu, cakep Jean. Kalau Tante tadi belum ada pamanmu, sudah Tante gaet duluan," ucap Tante Adila pada Jeanny yang nervous.
"Angkat kepalanya Jean." kini sang Mama yang mentitahkan Jeanny untuk mengangkat kepalanya.
Dengan terpaksa, Jeanny mengangkat kepalanya. Dan pandangan matanya langsung tertaut dengan mata Agra yang berdiri menunggu kedatangannya.
Agra menatap wajah Jeanny dengan lekat, membuat Jeanny semakin nervous. Karena mata Agra seperti ingin menerkamnya.
"Kenapa dia menatapku seperti itu, aku tahu. Aku cantik, tapi tidak perlu seperti itu dia menatapku." dalam benak Jeanny yang memuji diri sendiri.
Akhirnya, Jeanny tiba didepan Agra. Agra mengulurkan tangannya, Mama Jeanny menyerahkan tangan Jeanny kepada Agra.
Agra membawa Jeanny untuk duduk, dan kemudian dilakukan penandatanganan buku nikah. Penyerahan mahar. Kemudian acara tukar cincin.
Agra memasukkan cincin Kejari manis Jeanny, lalu Jeanny mencium tangan Agra, dan Agra mencium kening Jeanny.
Lalu kemudian, Jeanny memasukkan cincin ke jari Agra. Jeanny kaget, karena mengira Agra tidak ingin memakai cincin nikah.
"Ternyata, dia sudah ada cincin nikah. Apa mungkin cincin nikahnya dengan istri pertamanya? kalau dia begitu mencintainya, kenapa dia mau menikahi aku? Apa dia tidak bisa menghargai aku sebagai istrinya sekarang. Walaupun tidak ada cinta, seharusnya dia menghargai perasaan orang yang bersamanya sekarang." batin Jeanny yang merasa kecewa.
Agra melihat perubahan dari raut wajah Jeanny, saat memasukkan cincin ke jari tangannya.
"Kenapa wajahnya terlihat sedih, apa begitu menyedihkan pernikahan ini baginya?" pertanyaan dalam benak Agra, saat melihat wajah Jeanny yang sedih.
Setelah acara pernikahan, kini acara resepsi. Agra menggandeng Jeanny menuju pelaminan, dan diikuti oleh kedua orang tua mempelai.
"Senyum lah! kenapa wajahmu ditekuk begitu? apa kau mau nanti wajahmu yang ada di dokumentasi pernikahan terlihat jelek, lihat. Banyak camera yang mengambil gambar kita," kata Agra.
Degh..
"Gambar." gumam Jeanny.
Jeanny melihat banyak tamu yang mengambil gambar mereka dengan camera ponsel. Jeanny langsung mengembangkan senyum di bibirnya.
"Ah..! kenapa aku lupa." ngedumel Jeanny dalam hati.
To be continued....