My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Akal Oma



Happy reading ๐Ÿ˜


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Agra.. akhirnya, kau datang juga. Tadi Oma takut, tidak bisa melihatmu lagi..!" seru Oma dan mengulurkan tangannya ke arah Agra.


"Mama, jangan bicara begitu," ujar Abraham yang tidak suka, sang Mama membicarakan mengenai kematian.


Agra menyambut uluran tangan Omanya, dan duduk di sisi ranjang.


"Oma sakit apa?" tanya Agra dengan suara yang lembut.


"Dasar Oma jago akting, karena menginginkan mas Agra menikah lagi . Oma yang tidak sakit apapun juga, pura-pura sakit, teruslah Oma bersandiwara. Bagaimana jika mas Agra tahu, Oma pura-pura. Pasti semakin menarik ." batin Fandi.


"Tadi, saat menjemput Lisa. Oma merasa sangat pusing. Setelah itu, dada Oma terasa sakit tadi, Oma takut tadi tidak bisa melihat kau lagi Agra. Tidak bisa melihat cucu Oma yang akan lahir darimu lagi Agra," ujar Oma Gracia.


"Oma tidak akan pergi kemana-mana, kita tetap akan bersama. Sampai 100 tahun lagi." Agra berusaha bergurau, tapi wajahnya terlihat dia tidak seperti bergurau.


"Mas Agra bergurau, tapi wajahnya datar." gumam Fandi.


"Jeanny." Oma memanggil Jeanny yang masih berdiri didepan pintu keluar dari ruang IGD.


"Iya Oma." Jeanny menjawab panggilan Oma, tapi tetap berdiri didepan pintu. Dia tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Papa Lisa, yaitu mendorong tubuhnya dari depannya. Saat Agra ingin mendekati ranjang Oma Gracia.


Alma dan Abraham melihat apa yang dilakukan oleh Agra merasa bersalah pada Jeanny.


"Tunggu sebentar lagi, nanti kita pulang bersama-sama saja, Oma terlihat sudah sehat itu. Obat Oma yang sebenarnya sudah datang." Alma mendekati Jeanny dan memegang tangannya.


"Jeanny pulang sendiri saja Tante, rumah Jeanny juga tidak jauh dari rumah sakit ini," kata Jeanny.


"Jeanny kemari?" titah Gracia tidak ingin dibantah.


"Ayolah," ujar Alma.


Akhirnya, Jeanny tidak bisa menolak permintaan Gracia. kakinya melangkah dengan pelan mendekati ranjang Gracia, di mana Agra duduk di sisi ranjang.


"Agra, kenalkan. ini Jeanny, dia guru Lisa. Jeanny yang membantu Oma tadi," ujar Gracia mengenalkan Jeanny pada Agra.


"Apa Oma menjemput Lisa tadi sendirian saja? apa Mama tidak ikut?" Agra memandang Mamanya yang berdiri di samping Jeanny.


Pandangan matanya tidak ada sedetikpun singgah kepada Jeanny, seolah-olah Jeanny tidak ada di samping Mamanya.


Abraham yang duduk diujung ranjang pasien, mengamati Agra. Dia tahu, Agra tidak suka dengan kehadiran Jeanny.


"Mama tadi ikut Agra, tapi. Begitu melihat Oma pusing dan nyaris pingsan tadi. Mama tidak tahu apa yang harus dilakukan, Mama bingung. Untung ada Jeanny yang membantu."


"Oma, sekarang Oma tidak boleh pergi menjemput Lisa. Oma harus di rumah saja, biar Bi Anah yang menjemput Lisa," kata Agra.


"Oma masih kuat Agra, tadi Oma hanya pusing sedikit saja. Oma tidak lumpuh, apa hanya gara-gara pusing sekali saja. Oma harus berada di rumah seumur hidup Oma...! bisa-bisa Oma akan menjadi gila."


"Oma, apa sekarang masih pusing?" tanya Fandi.


"Tidak! obat Oma sudah datang, sekarang. Oma mau pulang," kata Oma.


"Tidak boleh, Oma harus dirawat satu hari di sini." titah Agra.


"Oma tidak sakit..! kenapa kalian tidak percayaย  dengan apa yang Oma katakan? Oma sehat-sehat saja..!" seru Oma yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Agra.


"Mama harus dirawat satu hari di rumah sakit,ย  Fandi. Tolong cek up kesehatan mama, mungkin saja ada penyakit di dalam tubuh mama yang tidak kita ketahui. Sehingga Mama tiba-tiba pusing dan dada sakit" titah Abraham kepada Fandi.


"Apa Oma sakit jantung?" tanya Agra.


"Hih..oma sehat-sehat saja, baiklah jika kalian menyuruh Oma melakukan cek up kesehatan. Lakukan saja." akhirnya, Oma Gracia pasrah dengan keinginan putra dan cucunya.


"Lakukan Fandi." titah Abraham.


"Baik Om, biar saya urus semua prosedurnya," kata Fandi.


"Senjata makan tuan, ingin mendekatkan Agra dengan Jeanny. Kena masalah sendiri." dalam benak Gracia.


"Jean, kau ingin pulang. Biar Agra yang menghantar," ucap Oma Gracia.


"Pulang dengan laki-laki Eskimo ini, bisa-bisa aku beku dalam mobil." suara hati Jeanny yang masih kesal dengan apa yang dilakukan oleh Agra tadi, mendorongnya.S**eolah-olah dia virus yang harus dijauhi**.


"Agra tidak bisa menghantarkannya Oma, Agra sibuk. Tadi saja Agra memundurkan jadwal bertemu dengan klien, ini. Agra harus kembali, Jerry sudah mengirim pesan. Bahwa klien sudah menunggu Agra," ujar Agra dan berdiri dari tempat dia duduk tadi, sisi ranjang pasien.


"Oma, Jeanny pulang ya. Semoga hasil cek up kesehatan Oma tidak ada masalah." Jeanny langsung ingin keluar dari dalam IGD.


Tapi, ucapan Oma menghentikan langkahnya untuk pergi.


"Oma tidak mau cek up, jika Agra tidak mau menghantarkan Jeanny," ujar Oma Gracia.


"Oma..!" seru Agra kaget, mendengar ucapan Oma.


"Agra, turuti permintaan Oma. Apa salahnya menghantarkan Jeanny." Alma, Mamanya juga berusaha membujuk Agra.


"Oma, jika mas Agra tidak bisa. Fandi mau menghantarkan Jeanny, ya kan Jeanny. Kau mau kan jika aku yang menghantar?" tanya Fandi.


"A.." Jeanny tidak melanjutkan ucapannya, karena ucapan Oma memotong apa yang ingin dikatakannya.


"Tidak!" Oma mendelik menatap Fandi yang cengengesan.


"Aku yang inginkan Jeanny menjadi istri Agra, enak saja dokter playboy mau main serobot." suara hati Oma Gracia.


"Oma, please," ujar Fandi.


"No..no..! kau, urus masalah cek up kesehatan yang kalian inginkan tadi. Agra, antar Jeanny..!" titah Oma tidak bisa terbantahkan.


"Oma, dia sudah besar. Untuk apa aku harus mengantarnya." Agra tetap kekeuh menolak permintaan Oma.


"Baiklah, jika kau tidak ingin menuruti keinginan Oma. Oma mau ikut Opa saja, di sini tidak ada yang menyayangi Oma." Oma Gracia mulai akting meluapkan kesedihannya, dia menarik selimut untuk menutupi sekujur tubuhnya.


Jika sudah begitu, Agra tidak mungkin menolak permintaan Omanya.


Sepertinya, Oma tahu kelemahan seorang Agra. Yaitu, tidak ingin melihat Omanya sedih.


Sang Oma mengeluarkan jurus suara dan raut wajah yang sedih, apapun yang diinginkannya. Akan terwujud.


"Agra cucu Oma yang terbaik, mau ya," ujar Oma Gracia dengan menunjukkan raut wajah sedih.


"Oma, biar Jeanny pulang sendiri. Seperti yang dikatakan Pak Agra tadi, saya sudah besar dan bisa untuk pulang sendiri. Kaki saya masih kuat, otak saya masih berfungsi dengan baik." tolak Jeanny.


"Agra!" Oma mengarahkan pandangan matanya kepada Agra.


"Baiklah Oma, Agra akan menghantarkannya." Agra menyerah, akhirnya dia mengikuti permintaan sang Oma.


"Begitulah, Agra cucu Oma yang paling best." puji Oma.


"Fandi apa tidak cucu Oma juga ?" tanya Fandi.


"Tidak! kau cucu jahat," semprot Oma dengan galak.


Fandi tertawa, karena dia tahu. Oma Gracia hanya berpura-pura galak kepadanya.


"Oma, Agra balik kantor. Ingat, Oma harus melakukan cek up kesehatan. Agra sudah menuruti kemauan Oma," kata Agra.


"Fandi, jangan turuti Oma jika Oma tidak mau melakukan cek up kesehatan." pesan Agra kepada Fandi.


"Baik mas," sahut Fandi.


Setelah berpamitan, Agra dan Jeanny keluar dari dalam ruang IGD.


Agra berjalan didepan, sedangkan Jeanny sedikit jauh jaraknya dengan Agra.


"Kenapa dia jalan seperti siput." suara hati Agra.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


...Bersambung...