My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Abang...!" Jeanny meronta-ronta, tangannya memukul-mukul punggung Agra.


Pok..


Tangan Agra menepuk bokong Jeanny.


"Diam..!" titah Agra.


"Argh....!" pekik Jeanny, dia tidak perduli banyak mata yang memandangnya. Begitu juga dengan Agra, langkah lebar keluar dari dalam cafe.


Kepala Jeanny yang berada dibawah berayun-ayun, setiap Agra melangkah. Sehingga, kepalanya pusing.


Sampai didekat mobilnya, Agra sedikit membentak bodyguard yang tadi berada di rumah. Yang di beri tugas untuk menjaga keamanan Jeanny, tapi. Mereka kecolongan, karena Jeanny berhasil keluar dari rumah.


"Buka..!" titah Agra pada bodyguard yang berdiri di samping pintu mobilnya.


Dengan cepat, tangan bodyguard ingin membuka pintu mobil bagian belakang.


"Depan..!"


Kaki bodyguard melangkah lebar menuju pintu mobil bagian depan, dan membukanya.


Agra menurunkan Jeanny dan mendorong Jeanny masuk, Jeanny hanya menurun. Ingin berontak, tapi raut wajah sangar Agra membuat Jeanny surut untuk melawan.


Setelah Jeanny duduk, Agra langsung memasak seat belt dan kemudian menutup pintu mobil. Lalu Agra memutar kebagian kemudi.


"Kalian pergi, tambah pengamanan kepada putriku Lisa. Dia saat ini berada di rumah Mall." Agra menyebutkan Mall tempat Lisa dan Maura berada, setelah mendapatkan pesan dari orang yang mengikuti Lisa.


Agra masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, terjadi keheningan didalam perjalanan menuju rumah.


Jeanny juga hanya diam, berkali-kali mulutnya ingin bersuara. Tetapi, suaranya berhenti saat melihat sorot mata Agra yang tajam ke depan.


"*Kelihatannya, dia marah sekali. Tetapi, kenapa dia harus marah. Aku tidak kemana-mana, hanya berkumpul dengan teman-temanku saja." dalam benak Jeanny.


"Mau kemana ini? sepertinya, ini bukan menuju rumah? apa ingin liburan lagi? ah..apa ingin pergi ke resort lagi? dia ingin memberiku pada Mbak Lira?" pertanyaan dalam benak Jeanny yang berseliweran, saat melihat mobil Agra tidak menuju jalan pulang*.


Jeanny akhirnya membuka suaranya.


"Kita mau kemana? ini bukan jalan menuju rumah?" tanya Jeanny.


Agra tidak menjawab, bibirnya mengatup sempurna. Hingga terlihat, garis rahangnya mengeras.


"Sepertinya, tidak arah menuju resort. Aku aman, tidak akan ketemu dengan Mbak Lira." Jeanny mengusap dadanya, menghela napasnya. Lega, karena Agra tidak membawanya menuju resort.


Mobil masuk menuju parkir basement, dan berhenti.


"Mana ini? apa kita mau belanja?" tanya Jeanny seraya membuka seat belt .


Lagi-lagi Agra tak bergeming, dia membuka pintu mobil dan keluar. Lalu kemudian memutar, membuka pintu bagian Jeanny.


Agra menarik tangan Jeanny dan membawanya menuju pintu lift, masuk kedalam. Agra menempel kartu yang dikeluarkannya dari dompetnya, dan lift meluncur.


Jeanny tidak bersuara, matanya terus menatap tombol nomor lift. Dan lift berhenti ditempat paling atas dari gedung.


Pintu lift terbuka, Agra meraih tangan Jeanny dan menariknya keluar dari dalam lift.


Langkah Jeanny sedikit melambat, saat keluar dari dalam lift. Dia tidak melihat Mall tempat belanja, dia melihat lorong panjang. Dan kiri dan kanan hanya ada dua pintu.


"Bang, kita mau kemana?" Jeanny menghentikan langkahnya.


"Ayo." Agra menarik tangan Jeanny, untuk melanjutkan langkahnya.


"Tidak mau, katakan dulu. Kita mau kemana?" Jeanny tetap kekeuh, tidak ingin melangkah.


Melihat Jeanny bertahan, tetap diam. Agra mengangkat Jeanny seperti saat dia membawa Jeanny keluar dari dalam cafe.


"Ahh! Abang..!" kembali lagi, Jeanny meronta. Tapi, Agra. Sekali lagi, tidak menggubrisnya semua protes Jeanny.


Agra membawa Jeanny masuk menuju satu pintu, Agra membukanya. Lalu masuk, dan melempar tubuh Jeanny ke atas ranjang.


Jeanny mendarat di atas ranjang, yang benar-benar empuk. Sehingga tubuhnya mendarat, dan kembali terlontar keatas. Karena, kasur ranjang dari air.


Jeanny berusaha berdiri, tapi. karena kasurnya yang bergoyang-goyang, membuat tubuhnya tidak stabil.


"Tempat tidur apa ini..!" kesal Jeanny.


Jeanny mengangkat kepalanya, dan matanya terbuka sempurna. Saat dia berusaha untuk berdiri dan turun dari atas ranjang.


Ternyata...


Agra sedang meloloskan tubuhnya dari belitan benang yang sudah menjadi baju, kini. Agra berdiri dengan dada melipat di dada, hanya mengenakan benang yang menutup area sensitifnya saja.


"A.a.abang, kenapa tidak pakai baju..?" raut wajah Jeanny merona merah, karena melihat tubuh Agra hampir polos tanpa diketahuinya. Karena, dia masih berkutat dengan ranjang yang membuatnya bergoyang seperti berada di atas kapal.


Agra tidak menjawab pertanyaan Jeanny, dia merangkak naik ke atas ranjang. Membuat ranjang bergoyang-goyang.


"A.a.abang, jangan mendekat. Awas..!" tangan Jeanny mengepal, ingin meninju Agra.


"Cukup bermain-main, kita sempurnakan pernikahan kita." Agra menarik kaki Jeanny, dan Jeanny berakhir dibawah Kungkungan tubuh polos nan kekar tubuh Agra.


"Sem..sempurna? maksudnya?" panik Jeanny, saat melihat mata Agra yang bergairah saat melihat Jeanny.


"Menyempurnakan pernikahan kita, dengan melakukan malam pertama," ucap Agra.


"Hah...!! tidak! kita tidak saling cinta, bagaimana bisa melakukan itu?" Jeanny panik, saat Agra mengatakan ingin melakukan malam pertama dengannya sebagai sepasang suami istri.


"Cinta! siapa bilang tidak ada cinta tidak bisa melakukannya? pria bisa melakukannya, wanita juga. Cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu."


Agra tidak memberikan Jeanny waktu berkata untuk menolak apa yang diinginkannya, Agra menangkup pipi Jeanny dan langsung melu-mat bibir yang mengerucut.


Jeanny berusaha untuk mendorong tubuh Agra, tetapi tubuhnya yang tidak terlalu besar. Membuat tenaganya tidak kuat mendorong tubuh Agra yang keturunan bule.


Akhirnya, Jeanny pasrah dengan apa yang dilakukan Agra. Kalau sekedar ciuman ringan. Jeanny sudah pernah merasakannya pada saat dia berpacaran dengan Yudha, kini. Apa yang sedang dilakukan oleh Agra, baru dirasakan oleh Jeanny. Sehingga, Jeanny tidak bisa berpikir apa-apa lagi.


"A..Agra.." suara Jeanny menyebut nama Agra, di sela-sela ciuman Agra yang mendominasi area bibirnya terdengar begitu menggairahkan seorang Agra Barend. Apalagi, Agra sudah begitu lama tidak menyentuh dan merasai tubuh seorang wanita. Sejak, sang istri Malika meninggal. Baru hari ini Agra mencium dan menyentuh tubuh wanita.


Tangan Agra begitu lihai meraba tubuh Jeanny yang masih menggunakan pakaian lengkap, mendapatkan belaian jemari tangan Agra ditubuhnya. Jeanny mulai lemas, napasnya tersengal-sengal.


Agra melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Jeanny, saat merasa Jeanny sulit untuk bernapas.


Jemari Agra membelai bibir Jeanny yang bengkak akibat bibirnya.


"Buka matamu, lihat wajahku.' titah Agra pada Jeanny, karena Jeanny menutup matanya.


Jeanny tetap menutup matanya, napasnya masih belum normal. Jantungnya berdetak seperti sedang berdendang.


"Jeanny.." Agra mendekat bibirnya ke telinga Jeanny, membuat Jeanny membuka matanya. Karena embusan napas Agra menerpa telinganya.


Agra mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jeanny dengan lekat.


"Mulai hari ini, Jeanny Anastasya milik Agra seutuhnya. Tidak boleh membantah apa yang dikatakan oleh Agra Barend, ingat. Membantah titah suami, neraka ancamannya. Apa ingin menjadi penghuni neraka?" tanya Agra seraya membelai pipi dan berakhir di bibir Jeanny.


Mata Jeanny menatap Agra tanpa berkedip, tidak ada lagi Jeanny yang suka melawan perintah Agra.


"Bagaimana? apa masih ingin membantah cakap suami?"


Cup..


Agra mendaratkan ciuman di sudut bibir Jeanny yang masih termangu.


Jeanny diam, tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Agra. Sepertinya, jiwa Jeanny masih belum berada ditubuhnya. Masih berada di awang-awang.😝


...****...


To be continued