
Kasih like ya kakak-kakak reader 🙏
...Happy reading...
...***...
Agra mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, wajahnya merah.
"Malika, kau mengkhianatiku. Aku sudah memaafkan mu, saat aku tahu. Kau tidak suci lagi, pada malam pernikahan kita." Agra bicara sendiri dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Aku begitu mencintaimu, sampai aku tidak perduli. Kau sudah melakukannya dengan pria lain, tapi. Aku tidak menyangka, kau masih berhubungan dengan laki-laki itu."
"Kau sungguh-sungguh, tidak berubah." geram Agra.
Agra mengetahui, pria yang bersama dengan Malika dalam ponsel Oma Gracia, adalah kekasih Malika. Menurut pengakuan Malika, saat mengetahui bahwa Malika tidak suci lagi. Karena 'CINTA' Agra memaafkan Malika.
Karena sudah kadung menikah dengan Malika, dan meninggalkan keluarga besarnya. Agra, tetap mempertahankan pernikahan. Karena kesibukan Agra dengan pekerjaan memajukan bisnis keluarga yang sempat hampir bangkrut, waktunya dengan Malika berkurang. Membuat, Malika kembali bersama dengan kekasihnya.
Agra menghubungi Albert, dan berjanji bertemu dengannya di rumah sakit. Dia tidak sabar lagi untuk menunggu besok.
Mobil Agra sampai di rumah sakit, dan tidak lama disusul mobil Albert dan Michael.
"Agra, apa apa? kenapa kau menyuruh kami ke rumah sakit?" tanya Albert.
Albert dan Michael mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Agra yang berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit.
"Aku ingin menemui gadis itu, sepertinya. Dia ada hubungan dengan teror yang selama ini aku terima," kata Agra.
"Malam begini? apa tidak bisa besok?" tanya Michael.
"Aku tidak bisa menunggu sampai matahari terbit," ucap Agra.
"Agra, kau harus bisa menahan emosi. Gadis itu sedang sakit," kata Albert.
"Apa dia sakit sungguhan? aku curiga dengan sakitnya itu," kata Agra.
"Dokter sudah mengatakan mengenai penyakitnya, dia pernah melakukan operasi pengangkatan tumor di kepala.." cerita Albert, mengenai penyakit yang diderita Mikaela.
"Apa dokter mengatakan yang sebenarnya? mungkin saja dokter bekerja sama dengannya, untuk mengelabui kita." Agra semakin sulit untuk percaya dengan orang, setelah mendapatkan pengkhianatan dari Malika.
"Dokternya, orang yang aku kenal. Dokter itu juga mengenalimu," kata Michael.
"Jhon Samiri, kau pasti mengenalnya. Dia yang menangani gadis itu." timpal Albert.
Ketiganya tiba didepan kamar tempat Mikaela di rawat.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Agra, saat melihat. Dua anak buah Albert berdiri didepan kamar Mikaela. Seperti sedang menguping.
"Ehem..!" deheman Albert, membuat kedua anak buah Albert menoleh kearah asal suara.
Keduanya langsung menutup pintu kamar, dan mendekati Albert.
"Apa yang kalian lakukan? apa kalian sedang mengintai wanita itu?" wajah Albert terlihat marah, kepada anak buahnya.
"Tidak Boss, kami sedang menguping. Wanita itu tadi menerima telepon. Ini Boss, kami merekamnya." Marco memberikan ponselnya kepada Albert.
Albert memutar rekaman pembicaraan Mikaela dengan seseorang, yang tidak diketahui dengan dia bicara. Wanita atau pria. Diakhir rekaman, terdengar. Mikaela menyebutkan nama Maharani dengan lantang.
"Maharani..!" ucap Agra.
"Kau mengenal orang yang disebutnya itu?" tanya Albert.
"Aku tidak mengenalnya, nanti akan aku ceritakan. Sekarang, kita temui wanita itu. Aku tidak ingin berlama-lama dipermainkan nya," kata Agra.
Agra melangkah menuju kamar inap Mikaela, di ikuti oleh Michael dan Albert, Agra membuka pintu dengan kasar dan lebar.
Mikaela tersentak kaget, tapi. Begitu melihat siapa yang membuka pintu dengan kadar.
"Mas Agra..!" seru Mikaela dengan gembira.
"Mas, kenapa baru datang sekarang? aku menunggumu mas, aku sangat kesepian di sini," ucap Mikaela dengan suara yang sangat lembut.
Agra berjalan dengan langkah lambat, matanya menatap wajah Mikaela dengan intens. Kedua tangannya yang mengepal, berada didalam saku celananya.
"Bert, awasi Agra. Aku takut dia akan melenyapkan gadis itu, lihatlah. Rahang Agra sudah ketat begitu." bisik Michael pada Albert.
"Aku juga takut, lihat. Gadis itu masih juga berpura-pura sebagai Malika," ucap Albert dengan pelan.
"Mas Agra, kenapa di situ? apa Mas Agra tidak merindukan Malika lagi? apa Mas sudah tidak mencintai Malika..!" seru Mikaela dengan menunjukkan raut wajah yang sedih.
Tiba-tiba..
Agra mendekati ranjang Mikaela, dan tangannya yang tadi berada didalam saku celananya keluar dan terentang ke depan.
Dan..
"Diam..!" seru Agra, sembari mencengkram wajah Mikaela. Dengan wajah merah, otot leher terlihat.
Agra sudah berusaha untuk meredam emosinya, tetapi. Saat Mikaela menyebutkan nama Malika, emosi yang sempat ditahannya. Meledak.
Wajah Mikaela, terlihat dari pandangan mata Agra sebagai Malika yang menertawakannya.
"Hahh..!! sakit Mas..!" seru Mikaela yang kaget, karena mendapatkan perlakuan kasar yang tiba-tiba dari Agra. Tangannya berusaha mendorong tubuh Agra yang berdiri menjulang didekat ranjang.
Michael dan Albert tersentak, dan melangkah cepat mendekati Agra. Keduanya berusaha untuk menolong Mikaela.
"Agra! lepaskan..!" Michael berusaha menarik tangan Agra yang mencengkram wajah Mikaela.
Albert Menarik tubuh Agra, untuk menjauhi ranjang Mikaela.
Akhirnya, Albert berhasil membawa Agra menjauh dari Mikaela.
"Agra! apa kau sudah kehilangan akal. Dia bisa mati..!" seru Albert.
"Kau tidak apa-apa Nona?" Michael melihat wajah Mikaela, dan terlihat cetakan jari-jari tangan Agra di wajah Mikaela.
"Kenapa mas Agra? kenapa dia ingin membunuhku?" Mikaela mengelus wajahnya yang sakit, karena perbuatan tangan Agra.
"Malika harus mati..! dia harus mati..! pengkhianat, tidak ada tempat di dunia ini..!" ucap Agra dengan suara yang berat, dan penuh emosi.
"Dia bukan Malika, Agra! ingat..!" seru Albert yang masih memegang Agra, karena takut Agra mengulangi perbuatannya kembali.
Degh..
Mikaela sontak kaget, mendengar perkataan Albert.
"Mereka tahu, bahwa aku bukan Malika. Karena itu, Agra ingin melenyapkan ku." suara hati Mikaela.
Mikaela berusaha untuk menunjukkan raut wajah biasa-biasa saja, karena. Dia ingin tetap mengakui, bahwa dirinya Malika.
"Apa kalian curiga aku bukan Malika? aku Malika Mas Agra," ujar Mikaela.
Agra ingin mendekati ranjang Mikaela, tetapi. Albert memegang lengannya.
"Nona Mikaela, itu kan namamu? sudahi penyamaran mu," ujar Michael.
"Aku..aku Malika, bukan Mikaela. Siapa Mikaela?" Mikaela tetap kekeuh mengakui, bahwa dia Malika.
"Kau..!" jari telunjuk Agra terarah pada Mikaela, yang kini duduk di ranjang.
"Nona, jangan pancing Agra untuk melakukan kekerasan padamu! kami tahu. Kau itu Mikaela, warga negara Belanda. Dan baru beberapa Minggu ini, menginjakkan kaki di Indonesia." tutur Albert.
"Tidak! aku Malika, bukan Mikaela. Kalian salah!" seru Mikaela.
"Nona, ada tiga bukti yang menunjukkan. Bahwa Nona itu bukan Malika, jangan berbohong lagi. Katakan, kenapa kau mengakui sebagai Malika?" tanya Michael.
"Bukti? apa buktinya, aku bukan Malika? kalian jangan mengada-ada." Mikaela marah.
Agra dengan suara yang datar, mengatakan bukti-bukti yang ada pada Malika. Dan tidak ada pada Mikaela.
...****...
To be continued