
...Happy reading...
...***...
Tiba diluar ruang kerja Agra Barend, Yudha menarik napasnya. Perasaan Yudha lega, saat melihat kelakuan Agra terhadap Jeanny. Terlihat jelas, Agra sangat menyayangi Jeanny. Dan Jeanny, Yudha tahu. Hati Jeanny sekarang sudah ada sosok Agra Barend, dan dia hanyalah masa lalu.
"Jeanny berada ditangan orang yang tepat, Tuan Agra sepertinya mencintai Jeanny. Selalu bahagia Jean, aku akan mencari kebahagiaanku diluar sana." Yudha berjalan tegak menuju lift, tidak ada dia menoleh kebelakang. Hatinya sudah mantap untuk maju, tidak ingin melihat kebelakang.
Biarlah masa lalu untuk menjadi pelajaran, agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan.
Didalam ruang kerja Agra, Jeanny melepaskan pelukan Agra. Dia sedikit melebarkan matanya, menatap Agra.
"What?" Agra bertanya, karena pandangan mata Jeanny menatapnya dengan intens.
"Abang kenapa melakukan ini semua? mempertemukan aku dan mas Yudha?" Jeanny mengikuti Agra yang berjalan menuju kamar mandi, dan Jeanny mengikutinya sampai kedalam.
Agra berdiri didepan closed, membuka resleting celananya dan mengeluarkan air yang sudah sedari tadi berada diujung tombak.
"Abang! kenapa diam saja..!" seru Jeanny yang berdiri dibelakang Agra.
"Tunggu Abang selesai dulu, hem," sahut Agra.
Agra membalikkan badannya menghadap Jeanny, dan terlihat tombak Agra yang masih berada diluar.
"Abang! kenapa masih diluar itu..!" Jeanny langsung berbalik badan, wajahnya langsung merona. Walaupun sudah pernah melihat dan merasakannya. Jeanny masih ada perasaan malu, tidak seperti Agra. Yang urat malunya sudah putus.
"Tolong ambilkan tisu." ujar Agra.
"Ambil sendiri." tolak Jeanny.
"Kalau Abang berjalan mengambil tisu, nanti INI Abang terlihat. Jean marah." goda Agra.
"Masukkan saja, untuk apa digantung begitu."
"Basah Jean, nanti celana Abang basah." tutur Agra.
"Ih.. kenapa bisa basah, apa tidak dikeluarkan semua?" Jeanny mengambilkan Agra tisu, lalu menyodorkannya kepada Agra tanpa membalikkan badannya.
"Sekalian bantu Jean, bantu mengelapkan." Agra semakin bertingkah menyebalkan, menurut Jeanny.
"Huh..!" dengus Jeanny dan meninggalkan Agra yang tertawa.
"Tingkah semakin tidak masuk akal saja." gerutu Jeanny.
Agra keluar dari dalam kamar mandi, sudah terlihat rapi.
"Bang, aku pulang ya. Untuk apa di sini, diam begini." Jeanny bertopang dagu duduk di sofa.
"Tunggu sebentar lagi, kita pulang sama-sama," kata Agra.
"Sebentar lagi, apa Abang tidak sampai pulang kantor berada di sini? enak sekali menjadi Boss, datang pulang sesukanya."
"Ada pertemuan dengan klien diluar, setelah itu kita pulang. Sabar, lihat suami bekerja. Akan mendapatkan pahala." Agra duduk kembali di kursi kerjanya dan mulai melihat laptopnya.
"Apa boleh Jean jalan-jalan keluar?" Jeanny berdiri dan kemudian melangkah mendekati Agra.
Agra mengangkat kepalanya, dan menatap wajah Jeanny yang terlihat bosan berada dalam ruang kerjanya.
"Pergilah, jangan keluar dari perusahaan." titah Agra.
"Oke Boss." Jeanny memberi hormat kepada Agra.
Jeanny meraih tasnya, dan kemudian keluar dari dalam ruang kerja Agra.
Begitu Jeanny pergi, Agra mengambil ponselnya.
"Jerry, awasi Jeanny. Dia ingin keliling perusahaan, aku tidak ingin ada karyawan yang mengganggunya." titah Agra melalui sambungan telepon pada Jerry.
"Wanita yang memberi coffee tadi, aku sangat tidak menyukai tingkahnya." gumam Agra.
*
*
Mikaela berdiri di balik pintu, matanya mengawasi Jabrik yang mengetuk pintu rumahnya.
"Kenapa dia tahu aku bersembunyi di sini? sial..! Maharani sudah tahu keberadaan ku." Dalam hati Mikaela.
Tok..tok..
"Nona, saya tahu. Anda berada didalam, saya datang ingin mengatakan sesuatu," ucap Jabrik.
Tok..tok..
"Nona, buka pintunya. Saya datang dengan maksud memberikan apa yang anda cari, dan Nyonya Maharani sudah meninggal," kata Jabrik.
"Meninggal!? tidak mungkin, dia pasti berbohong. Maharani tidak mungkin meninggal, nyawa Maharani banyak. Aku berulang kali ingin melenyapkannya saja tidak berhasil, apa dia sakit?"
Kriit..
Mikaela membuka pintu, didalam genggaman tangannya tergenggam pisau kecil. Sebagai alat pembela diri, karena dia belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh anak buah Maharani.
"Nona, saya tidak bawa apa-apa. Hanya ini." Jabrik menunjukkan map yang di pegangnya.
Mikaela masih tetap waspada, dia melangkah keluar dari dalam rumah dengan pandangan mata yang awas. Melihat disekitar rumah, takut. Rekan-rekan Jabrik mengintainya.
"Saya datang sendiri." Jabrik tahu, Mikaela curiga. Dia datang tidak sendirian.
Setelah merasa aman, Mikaela menurunkan tangannya yang menggenggam pisau.
"Kenapa kau datang? apa yang katakan benar? wanita itu sudah lenyap?" tanya Mikaela.
"Benar Nona, Nyonya Maharani sudah meninggal." Jabrik mengiyakan, bahwa Maharani sudah meninggal dan tidak akan menganggu orang lagi.
"Dan saya ingin memberikan ini pada anda." Jabrik memberikan map yang dibawanya kepada Mikaela.
Mikaela menerima map yang diberikan oleh Jabrik.
"Apa ini?"
"Surat-surat properti milik keluarga Nona yang dikuasai oleh nyonya Maharani."
Senyum mengembang dibibir Mikaela, apa yang di carinya. Kini, sudah kembali padanya.
"Kenapa kau berikan padaku? kenapa tidak kau kuasai? darahmu itu ada darah Maharani, jahatnya Maharani pasti menurun darimu."
"Aku hanyalah anak yang terbuang, permisi." Jabrik memutar tumitnya dan meninggalkan Mikaela yang sedang gembira, karena apa yang di carinya telah di milikinya.
"Akhirnya, aku memiliki peninggalan keluarga Basri. Kakek, Nenek. Mama, aku berhasil." Mikaela memeluk map yang diberikan oleh Jabrik dalam dekapannya.
*
*
Jeanny keluar dari dalam lift, dia bingung. Harus kemana terlebih dahulu.
"Kemana dulu?" gumam Jeanny.
"Kantin, aku sangat lapar. Pagi tadi, aku hanya sarapan roti. Sedangkan perutku ini, jika tidak diisi dengan makanan khas Indonesia tidak akan cukup. Tapi, di mana letak kantin?"
"Aku tanyakan pada Mbak itu saja." Jeanny melihat seorang office girl yang sedang mengelap dinding.
"Mbak." sapa Jeanny.
"Iya nyonya," sahut office girl tersebut dengan gugup, karena tahu. Siapa wanita yang menyapanya tersebut.
"Kantin mana ya Mbak?" tanya Jeanny pada office girl tersebut.
"Mari nyonya saya antarkan, lokasinya di basement nyonya. Jauh dari sini, Nyonya pergi sendiri. Saya takut, Nyonya tidak akan menemukannya."
"Apakah tidak merepotkan Mbak?" tanya Jeanny, karena takut merepotkan office girl tersebut yang sedang bekerja.
"Saya sudah selesai di sini nyonya, saya juga akan menuju kantin." office girl tersebut membawa semua peralatannya untuk bekerja.
"Mari nyonya." Office girl mempersilakan Jeanny untuk jalan didepan, sedangkan dia berada dibelakang Jeanny.
"Mbak, kita jalan bersama saja. Saya kan tidak tahu jalan menuju kantin," kata Jeanny.
"Apa boleh nyonya?" tanya office girl yang takut, Jeanny tidak mau berjalan bersisian dengannya. Yang hanya seorang office girl.
"Kenapa mbak bertanya begitu? apa ada larangan di sini, orang untuk jalan bersisian?" tanya Jeanny.
"Tidak ada nyonya, tapi. Saya hanya seorang pekerja kasar, saya takut. Nyonya malu berjalan dengan saya."
"Mbak, kita sama-sama manusia. Tidak ada yang perbedaannya, Mbak bekerja sebagai office girl. Apa ada yang salah? kalau semua bekerja ingin di tempat yang dingin dalam kantor, siapa yang nanti membersihkan ruangan. Sekarang, mbak bekerja menjadi office girl. Mungkin saja, besok-besok. Mbak akan menjadi pengusaha." tutur Jeanny.
"Amin," ucap office girl tersebut senang.
"Cukup membahas sekat-sekat antara manusia, mbak. Di mana kantinnya. Saya lapar Mbak." Jeanny memegang perutnya.
*
*
Di tempat berbeda, tetapi waktu yang sama. Seorang pria baru keluar dari dalam bandara.
"Akhirnya, aku tiba..!" pria tersebut merentangkan satu tangannya, sedangkan satu tangannya memegang kruk untuk menopang dia berjalan.
Mobil berhenti didepannya, seorang pria keluar dari dalam kursi kemudi. Dan membukanya pintu untuk pria tersebut masuk kedalam mobil.
To be continued...