
...Happy reading...
...***...
Maharani duduk dengan tidak tenang, dia menunggu kedatangan anak buahnya. Yang berada di rumah sakit.
Tok..tok..
Maharani bangkit dari duduknya, dan mengintai dari sela-sela tirai. Untuk melihat, siapa yang berada didepan penginapan. Tempat dia bersembunyi beberapa hari ini.
Saat melihat anak buahnya kepercayaannya yang ada didepan pintu, Maharani gegas membuka pintu.
"Bagaimana?" Tanya Maharani, begitu anak buah kepercayaannya yang bernama jabrik masuk kedalam kamar penginapan.
"Beres Boss, nanti malam. Rencana sudah bisa dilakukan." Lapor jabrik pada Maharani.
"Aku tidak ingin ada kegagalan lagi, lenyap kan dia. Mikaela sudah tidak kita butuhkan lagi, keberadaannya di dunia ini membuat semak saja." Tutur Maharani.
"Jabrik, apa kau datang ke sini tadi. Tidak ada yang membututi ?" Maharani khawatir, tempat persembunyiannya terendus Gracia.
"Tidak Nyonya, mereka tidak mengetahui keberadaan saya di sisi nyonya. Tapi, rumah mereka awasi terus."
"Hahaha..! Kau kira aku bodoh Gracia, terus kau pantau rumahku itu. Aku tidak ada di sana." Maharani menertawakan kebodohan Gracia.
"Kau bawa gadis itu, lenyapkan." titah Maharani pada Jabrik, orang kepercayaannya.
"Baik nyonya." orang kepercayaan Maharani kemudian pergi, untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh sang majikan.
"Sebentar lagi, semua musuh-musuhku akan pergi ketempat yang jauh. Mikaela, kau kira aku mau memberikan harta kakekmu. Aku akan menguasai harta itu sendiri..!" Maharani tertawa sendiri dalam kamar penginapan tempat dia bersembunyi selama seminggu ini.
***
"Aaahh..! apa yang kau lakukan..!" Jeanny terbangun berada dalam pelukan Agra.
"Kenapa kau bangun, langsung berteriak? apa kepalamu masih pusing?" Agra membuka matanya, dan melihat Jeanny yang duduk melotot menatapnya.
"Kenapa kita tidur bersama? di mana ini? ada suara ombak? apa kita berada di atas kapal ? tidak mungkin, kalau di atas kapal pasti bergoyang. Di mana ini?"
"Apa pusing kepalamu, sudah membuat kau amnesia? apa kau lupa, kita sudah menikah. Dan tidak ada perjanjian kita tidur terpisah," kata Agra.
"Surat perjanjian yang kita tandatangani dulu, di situ tertulis. Kita tidak akan tidur bersama..!" Jeanny melipat kedua tangannya didepan dadanya, mendelik tajam menatap Agra yang kembali memejamkan matanya.
"Perjanjian itu tidak jelas, tidak ada surat perjanjian. Tidurlah." titah Agra.
"Bang, bangun! kita di mana ini? Jeanny menggoncang lengan Agra.
"Kita di resort di tepi pantai, Albert menyuruhku untuk membawamu liburan. Dia mengatakan kau tertekan dengan pertanyaan polisi semalam."
"Bajuku, siapa yang menggantikan bajuku?" Jeanny baru menyadari, dia hanya memakai hotpants dan t-shirt.
"Baju siapa ini? Bang! siapa yang menggantikan bajuku?"
"Siapa lagi, sudah tentu suamimu ini. Apa aku suruh juru parkir resort yang menggantikan bajumu?" Agra membuka matanya sedikit, dan kembali menutup matanya.
"Sudah dua kali dia melihat tubuhku, sedangkan aku belum pernah melihat tubuhnya." batin Jeanny.😝
"Ahh..! kenapa aku sampai tidak tahu, kita berada di sini?" Jeanny bingung.
"Pusing di kepala semalam, membuatmu tidak sadar. Dokter sudah memeriksa, tekanan tensi tinggi. Kau harus banyak istirahat, besok kita kembali. Aku sudah mengabari keluarga, kita liburan. Ayo, tidur lagi." Agra menarik tubuh Jeanny, sehingga tubuh Jeanny jatuh menimpa atas dada kekar Agra. Wajah Jeanny mendarat di dada Agra.
Saking kesalnya, Jeanny mengigit dada Agra yang tidak memakai baju.
"Aa.w..! kenapa kau menggigitku?" Agra mengusap dadanya yang berbekas cetakan gigi Jeanny.
"Ini juga sakit!" Jeanny menunjuk hidungnya.
"Ini dada apa tembok? bagaimana jika hidung ini patah?" Jeanny menarik-narik hidung bangirnya.
"Nanti kita ganti hidung gajah, jika hidungmu patah," ucap Agra.
"Abang mau apa?" mata Jeanny melebar, tangannya mendorong badan kekar Agra dari atas tubuhnya.
"Aku akan meminta hakku sebagai suami, kau. Harus melayani suamimu ini." mata Agra menatap wajah Jeanny dengan intens.
"Meminta hak! maksudnya?" wajah Jeanny terlihat panik, otaknya mulai traveling ke hal-hal yang berbau percintaan yang dahsyat.
"Kau harus melayaniku di atas ranjang, dan di atas meja makan. Aku ingin, mulai hari ini. Kita menjalani pernikahan yang sebenarnya."
"Di atas ranjang, maksudnya itu..itu.." Jeanny gugup mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Jantungnya saja sudah saling berkejar-kejaran detaknya. Sebentar lagi, Jeanny mungkin akan benar-benar tidak sadarkan diri. Walaupun, dia sudah punya pacar. Tapi, soal hal-hal yang lebih intim. Masih hal baru dialaminya. Dulu dengan Yudha, hanya ciuman bibir sekilas yang dilakukan Yudha. Karena Yudha mengatakan, dia takut khilaf.
"Iya, maksudku itu. Yang ada dalam otakmu saat ini, bagaimana? apa bisa kita lakukan saat ini?" tanya Agra, terlihat senyum kecil disudut bibirnya. Yang tidak diketahui oleh Jeanny, karena Jeanny yang gugup. Hingga, tidak memperhatikan lagi wajah Agra yang tepat di atas wajahnya.
"Hah..!" pekik Jeanny.
"Kenapa kau suka sekali berteriak?"
"Kalau aku gugup, aku suka berteriak. Tolong, aku belum siap. Oh..ya..aku sedang datang bulan..iya aku sedang datang bulan. Kita tidak boleh melakukannya."
"Hahaha..! jangan bohong, semalam. Aku yang mengganti bajumu, tidak ada datang bulan dan datang matahari.."
"Baru hari ini, aku tidak bohong," ucap Jeanny gugup.
"Oh..ya! baiklah, ayo kita buktikan." tangan Agra berusaha untuk menyelinap ke balik hotpants yang dikenakan oleh Jeanny.
"Tidak...!" Jeanny mendorong tubuh Agra, sehingga Agra terbanting kesamping. Karena tidak siaga.
Setelah terlepas dari Kungkungan tubuh Agra, Jeanny berlari turun dari ranjang menuju toilet.
"Week..! nikmati itu...!" didepan pintu kamar mandi, Jeanny berhenti. Dan menjulurkan lidahnya mengejek Agra.
"Jeanny! kau harus bertanggung jawab..!" Agra bangkit dan ingin mengejar Jeanny.
Dengan cepat, Jeanny menutup pintu kamar mandi.
Braak..
"Jeanny, buka..!" Agra mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
"Nggak!" balas Jeanny dari dalam kamar mandi.
"Jeanny, aku perlu ke toilet. Sudah berada di ujung ini.."
"Pergi saja buang di balik pohon..!" balas Jeanny.
"Hah..! kau kira aku hewan..!"
Jeanny menghidupkan shower, dan bernyanyi dengan suara yang keras.
"Ah..! awas kau Jeanny." Agra melangkah menuju luar kamar.
"Terpaksa kamar mandi umum." ngedumel Agra.
"Tuan, ini bajunya." seorang pelayan memanggil Agra.
"Nanti saya ambil, di mana kamar mandi umum?" tanya Agra.
"Kamar mandi umum? apa kamar mandi didalam kamar rusak Tuan?"
"Tidak! istriku menguasainya, dia berendam. Dan tidak memperbolehkan siapapun masuk," kata Agra.
"Toilet di kolam renang Tuan, arah sana Tuan."
"Terima kasih." Agra melangkah kearah yang ditunjuk oleh pria tersebut.
...****...
To be continued