My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏


...***...


Agra berdiri dan mendekati Oma Gracia, dan berlutut didepan Omanya. Agra meraih tangan Omanya dan menggenggamnya.


"Oma, maafkan Agra. Karena telah menyakiti hati Oma, dia bukan Malika Oma. Malika sudah tiada, maafkan Malika, Oma," ucap Agra dengan menatap wajah sang Oma dengan tatapan mata yang sedih.


"Maafkan, Agra. Oma, apa yang Agra lakukan dulu sudah menyakiti Oma, Mama dan Papanya. Maafkan Agra." Agra menarik tangan sang Oma dan menciumnya.


Air mata Jeanny menggantung disudut kedua bola matanya, melihat Agra menitikkan air mata meminta maaf. Jeanny sedih.


"Kasihan Agra, cinta yang tidak direstui. Sulit untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi. Aku, cintaku dan Yudha direstui. Kenapa kami tidak mendapatkan kebahagiaan." Jeanny mengingat kisahnya dengan Yudha.


"Apa kau yakin, wanita yang ada di rumah sakit itu. Sudah pasti bukan Malika, Agra?" tanya Papanya.


Agra bangkit dari berlutut didepan Oma Gracia, dan meletakkan bokongnya di samping Jeanny.


"Agra sangat yakin Pa, dia bukan Malika," ucap Agra dengan tegas, bahwa perempuan yang terbaring di rumah sakit bukan Malika. Tapi, orang yang mirip dan ingin mengambil keuntungan dari kemiripannya dengan Malika.


Agra menceritakan, tanda-tanda yang Malika miliki, dan tidak di miliki oleh Mikaela.


Oma menarik napasnya.


"Oma juga ingin mengatakan sesuatu, mungkin saja. Apa ingin Oma ceritakan, akan membuat kau marah pada Oma. Dan mungkin teror yang kau terima Agra, berkaitan dengan apa yang akan Oma ceritakan," kata Oma.


"Apa yang Mama rahasiakan pada kami?" tanya Abraham.


"Ini menyangkut masa lalu Oma dan Opa," kata Oma Gracia.


Oma Gracia menceritakan semua mengenai Maharani, yang menyukai suaminya. Stevano Barend, dan ucapan Maharani yang membuat Gracia kehilangan anak pertamanya.


Dan hubungan Maharani dengan Malika, juga Gracia ceritakan. Kenapa, dia tidak menyukai Malika. Karena, dia tahu. Malika mendekati Agra, karena permintaan Maharani.


Mendengar cerita Omanya, Agra cukup kaget. Dia tidak mengira, Malika bisa memperdayainya.


"Oma, melihat dan mendengar pertengkaran mereka tanpa sengaja. Pada, awalnya. Oma tidak membenci Malika, tetapi begitu mengetahui Malika ada hubungan dengan Maharani. Oma sangat membenci orang yang dekat dengan penyihir itu." tutur Oma dengan penuh emosi.


"Ma, jangan emosi." Alma, sang menantu mengusap punggung sang mertua.


"Oma setiap mengingat orang itu, sangat emosional. Oma ingat dengan kelakuannya, menggoda pria yang sudah punya istri," ucap Oma Gracia dengan suara yang terdengar sangat kesal.


"Jean, kau harus menjaga suamimu itu. Jangan sampai dia tergoda dengan wajah yang sama..!" saat mengucapkannya, pandangan mata Gracia menatap wajah Agra dengan tajam. Tatapan mata Gracia mengisyaratkan, dia tidak akan tinggal diam. Seperti pada saat Agra menjalin hubungan dengan Malika.


"Agra, bukan itu saja yang Oma ketahui mengenai Malika," kata Gracia pada sang cucu, Agra.


Agra yang sedang duduk, dengan menundukkan kepalanya. Mengangkat kepalanya, dan melihat sang Oma.


"Ma, apakah harus dikatakan sekarang ini. Wanita itu sudah tiada, biarkan saja masa lalunya terkubur dengan jasadnya," kata Abraham.


"Harus! karena, mata putramu itu masih dibutakan oleh cinta manis Malika. Dia itu belum bisa meninggalkan masa lalunya dengan wanita itu..!" seru Oma Gracia pada putranya, Abraham.


"Mama tidak yakin dengan pikiran dan hatinya, mulut berkata tidak! begitu wanita yang mirip dengan Malika tebar pesona didepannya. Pikirannya pada istrinya, langsung hilang..!" sambung Gracia.


"Katakan Oma, Agra ingin mengetahuinya," ujar Agra dengan suara yang lirih, dia sudah siap mendengar. Masa lalu sang istri.


"Mana ponsel Mama?" Gracia mencari keberadaan ponselnya.


"Mama tidak ada memegang ponsel sedari tadi, Alma lihat," jawab Alma.


"Mungkin didalam tas, Jean. Tolong, ambilkan tas Oma. Tadi, Oma suruh Bi Anah letakkan didalam kamar tamu dekat dapur." titah Oma, pada Jeanny.


Jeanny gegas mengambil tas Oma Gracia didalam kamar tamu.


"Apa yang ingin ditunjukkan oleh Oma, apa..?" Agra tidak melanjutkan apa yang dipikirkan dalam benaknya.


"Ini Oma." Jeanny memberikan tas Oma yang diambilnya kepada Oma Gracia.


Oma Gracia mengambil ponselnya, dan membuka file yang ada didalam ponselnya.


Agra mengambil ponsel yang disodorkan Oma Gracia padanya, ponsel itu berada dalam tangannya. Tapi, Agra takut untuk melihat. Apa yang ada didalam ponsel mengenai Malika.


Semua menunggu Agra melihat ponsel yang diberikan Oma Gracia.


"Agra, kenapa tidak kau lihat? kenapa? apa kau sudah tahu, dengan apa yang akan Oma tunjukkan kepadamu?" tanya Abraham Barend, Papa Agra.


"Karena dibutakan oleh cinta, dia menutup kebenaran yang sesungguhnya. Mengenai istrinya, betulkan Agra?" tanya Oma Gracia.


"Ada apa sebenarnya? kenapa Agra berat untuk melihat apa yang ada dalam ponsel Oma?" batin Jeanny.


"Lihatlah, Agra." titah Alma.


Agra sedikit demi sedikit mengarahkan ponsel ke arah pandangan matanya.


Degh..


Agra melihat Malika sedang berpelukkan dengan seorang pria, Agra menggesernya gambar yang pertama. Gambar yang kedua, dengan pria yang sama. Dan berpakaian yang sama, sedang berciuman. Dan, Malika berada di atas pangkuan pria tersebut.


Agra tidak meneruskan melihat gambar tersebut, karena dia yakin. Gambar seterusnya, pasti lebih membuat hatinya hancur. Agra melemparkan ponsel Oma Gracia, ke atas sofa.


"Hei..itu ponsel Oma..!" seru Oma, saat melihat ponselnya dilemparkan Agra.


Setelah melemparkan ponsel Oma, Agra pergi.


"Agra..!" panggil Alma.


"Biarkan Alma., jangan mengejarnya" Abraham menghentikan Alma, untuk mengejar Agra.


"Biarkan dia sendiri, dia pasti terguncang. Saat melihat gambar istri kesayangannya itu," ucap Oma Gracia.


...***...


Yudha masih bergulung dibalik selimut, sepulang dari pantai. Yudha terus berada didalam kamarnya.


"Pa, Yudha kenapa? Mama perhatikan, wajahnya muram. Apa dia ribut lagi dengan Yulia?"


"Mungkin Ma, mereka kan satu kantor."


"Kapan kehidupan Yudha kembali seperti dulu? Mama kasihan melihatnya seperti itu, untuk melupakan Jeanny, dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dulu, dia sangat jarang tugas keluar kota. Sekarang, sebentar-sebentar. Sudah keluar kota."


Percakapan keduanya berhenti, saat orang yang sedang menjadi bahan pembicaraan mereka masuk kedalam dapur.


Yudha membuka lemari pendingin, dan mengambil minuman dingin.


"Yudha, jangan sering-sering minum dingin. Mama perhatikan, Yudha makan sedikit sekali. Jangan nanti sakit," Kata mamanya.


"Yudha tidak akan sakit Ma, hanya minum dingin," kata Yudha seraya melangkah keluar dari dapur.


"Yudha!" panggil Papanya.


Yudha menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikkan badannya.


"Ada yang ingin Papa katakan padamu," ucap Papanya.


"Ada apa Pa?" Yudha tetap membelakangi kedua orangtuanya.


"Duduk dulu, sudah lama kita tidak ngobrol," ucap Papa Yudha.


"Maaf, Pa. Banyak tugas kantor." Yudha melanjutkan langkahnya kembali.


"Ada apa dengan putra kita Pa? kenapa dia begitu? sepertinya, semangat hidupnya sudah tidak ada. Sejak pernikahannya dengan Jeanny batal." tutur Mama Yudha.


"Besok pagi, kita ajak bicara Ma. Ayo, sekarang kita tidur."


...***...


To be continued