
Jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...***...
"Bert, ini apa?" Michael menemukan satu kartu indentitas atas nama Mikaela, dari dalam saku tas.
"Apa?" tanya Albert.
"Kartu identitas atas nama Mikaela." Michael membaca nama Mikaela pada kartu identitas yang dipegangnya.
Albert mengambil kartu identitas yang dipegang oleh Michael, dan membaca nama yang tertera dalam kartu tersebut.
"Dia bukan warganegara Indonesia, dia warga negara Belanda. Siapa dia sebenarnya? Malika atau Mikaela?" Albert melihat Michael.
"Aku juga tidak tahu Bert, apa kita tanyakan saja pada Kedubes negara Belanda?" usul Michael.
"Tidak boleh, mereka akan bertanya. Kenapa gadis itu berada di rumah sakit, dan kita akan mendapatkan masalah." Albert menolak usul Michael, untuk bertanya Kedubes negara Belanda.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? gadis itu Malika atau Mikaela?" tanya Michael.
"Jalan satu-satunya, kita beritahukan pada Agra. Biar dia yang mengenalinya, bagaimana juga. Pasti ada chemistry antara mereka, Agra pasti tahu ciri-ciri istrinya." usul Albert.
"Katakan pada Agra? apa bagus? Agra baru saja menikah, itu bisa membahayakan pernikahannya." Michael tidak suka dengan usulan Albert, untuk mengatakan pada Agra.
"Jika Agra kembali terpengaruh dengan Malika. Aku akan menunjukkan bukti-bukti masa lalu Malika pada Agra, biarlah Agra membenciku." Albert mengambil keputusan untuk mengatakan aib Malika, yang tersimpan rapi di file-nya.
"Agra akan membenci kita," kata Michael.
"Daripada kita melihatnya, menjauh dari keluarganya untuk kedua kalinya. Biar dia membenci kita, yang pasti. Kita sudah mengatakan apa yang kita ketahui mengenai istrinya itu." timpal Albert.
Michael diam, dia memikirkan. Apa untung ruginya mengatakan pada Agra mengenai istrinya dahulu.
"Tidak ada ruginya, jika mengatakannya pada Agra. Di musuhi Agra, tapi. Agra bisa terlepas dari bayang-bayang masa lalu, dan semoga gadis ini Mikaela. Bukan Malika." dalam benak Michael.
"Sudah, katakan saja. Jika Agra marah, kita hadapi bersama," kata Michael akhirnya.
...***...
Agra keluar dari dalam kamar mandi, hanya memakai bathrobe. setelah menyelesaikan ritual membersihkan badan. Yang hampir memakai waktu satu jam, membuat Jeanny yang ingin memakai kamar mandi kesal. Dan terpaksa memakai kamar mandi di luar kamar.
"Mandi seperti wanita saja, apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi?" Jeanny duduk bersila di atas ranjang, sembari bertopang dagu menatap ke arah kamar mandi yang terbuka. Dan Agra berdiri di sana.
Agra yang masih berdiri dibibir pintu kamar mandi, seraya mengelap rambutnya yang basah. Tubuhnya hanya memakai bathrobe, tidak menyadari ada sepasang mata yang mirip mata elang ingin memangsa buruannya, menatapnya dengan tajam.
"Tidak ada yang berubah ditubuhnya, walaupun dia sudah mandi selama satu jam." gerutu Jeanny kesal.
Agra melangkah menuju lemari, tanpa melihat kiri kanan.
"Hei..!" seru Jeanny, karena dicuekin oleh Agra.
Agra terus melangkah, tidak menanggapi panggilan Jeanny. Membuat Jeanny semakin kesal, kejadian bajunya terbuka. D tambah dengan lamanya Agra mandi, membuat kekesalannya semakin tinggi. Dan siap meledak.
"Hei.. Tuan..!" seru Jeanny.
Agra menoleh kearah Jeanny.
"Memanggilku?" tanya Agra.
"Iya lah....!!" jawab Jeanny dengan jutek.
"Oo..," ucap Agra hanya mengucapkan kata 'O', dan mulutnya membulat.
Jeanny turun dari ranjang, dan mendekati Agra. Dan berdiri dibelakang Agra yang sedang mengambil baju, untuk dikenakannya.
"Hei..! kenapa mandi lama sekali?" tanya Jeanny seraya berkacak pinggang.
Agra tak menanggapi perkataan Jeanny, dia membuka bathrobe yang dikenakannya didepan mata jeanny.
"Aaa..! kenapa kau buka baju depanku..!" Jeanny menutup matanya, dan memutar badannya. Walaupun dia sempat melihat tubuh polos Agra dari belakang.
"Kenapa? tidak ada larangan untuk ganti baju di sini? tidak ada tertulis, dilarang ganti baju didalam kamar," kata Agra.
"Menyebalkan." gerutu Jeanny.
"Mandi, sebentar lagi kita pulang." titah Agra.
"Aku sudah mandi, kau itu lama sekali mandinya. Seperti wanita saja." dumel Jeanny.
Agra memegang bahu Jeanny, dan memutar badannya menghadap kearahnya.
"Hei..! aku tidak mau melihat tubuh nude..!" seru Jeanny dengan menutup kedua matanya dengan jemari tangannya.
"Aku tidak nude lagi, buka matamu..!" titah Agra.
"Serius, buka matamu. Kalau tidak, aku akan mencium mu..!" ancam Agra .
Mata Jeanny terbuka lebar, karena ancaman Agra.
Agra tertawa, melihat Jeanny langsung membuka matanya. Karena takut dengan ancamannya.
"Menyebalkan..!" Jeanny mendelik menatap Agra yang menertawakannya.
"Tunggu, aku mau memberikan sesuatu." Jeanny berlari mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan memberikan selembar kertas yang ditulis tangan.
"Apa ini?" tanya Agra.
"Baca saja, dan tandatangani." titah Jeanny seraya memberi pena pada Agra.
Agra membaca kertas yang diberikan oleh Jeanny, keningnya mengkerut. Saat membaca kertas yang diberikan oleh Jeanny.
...Surat perjanjian....
...*Suami tidak boleh memeluk istri....
...*Suami tidak boleh tidur satu ranjang dengan istri....
...*Suami tidak boleh mencium istri....
"Hanya ini?" tanya Agra santai, yang tidak keberatan dengan apa yang ditulis oleh Jeanny.
"Iya," sahut Jeanny.
"Baiklah, aku akan tanda tangan. Tapi, aku akan menambah dua point lagi. Baru aku akan tandatangani," kata Agra.
"Silakan, sepuluh point juga boleh," kata Jeanny senang, karena Agra menyetujui apa yang ditulisnya.
"Tidak perlu, cukup dua point aku tambahkan," kata Agra.
...*Jeanny harus memanggil Agra Abang....
...*Jeanny, tidak boleh merubah perjanjian yang sudah ditulisnya dan membuat perjanjian yang lain lagi....
"Ini, baca." Agra menyerahkan kertas dan pena pada Jeanny.
"Oke, no problem. Tidak keberatan, hanya memanggil Abang," ucap Jeanny.
"Tanda tangan." titah Agra.
Jeanny melabuhkan tanda tangannya di kertas perjanjian, dan kemudian memberikannya pada Agra untuk ditandatangani.
"Selesai..!" Jeanny senang, setelah Agra selesai menandatangani perjanjian tersebut.
"Sekarang, kita cari makan," ujar Agra sembari merangkul pundak Jeanny.
"Hei..! ingat perjanjian..!" Jeanny menepis tangan Agra yang memeluk pundaknya.
"Kenapa? aku hanya memelukmu, aku belum mencium bibirmu," kata Agra.
"Abang lupa! isi perjanjian? dasar orang tua..!" dengus Jeanny kesal.
"Tidak lupa, tidak boleh memeluk istri kan?" ucap Agra.
"Iya, ISTRI! lalu, kenapa meluk ?" tanya Jeanny.
"Berikan surat perjanjian itu, baca dengan benar." titah Agra pada Jeanny.
"Tidak boleh meluk istri, cium istri dan tidur satu ranjang. Tidak ada yang salah dengan isi perjanjian," kata Jeanny, setelah membaca ulang isi perjanjian.
"Di sini dikatakan tidak boleh meluk istri, istri siapa? aku hanya memeluk istriku," ucap Agra sembari tersenyum.
Jeanny membaca lagi surat perjanjian, dan menyadari kebodohannya dalam menulis surat perjanjian tersebut. Dia tidak menuliskan namanya sebagai pihak pertama sebagai istri dan Agra pihak kedua sebagai suami. Dia hanya menyebutkan kata istri.
"Sudah tahu kesalahan dalam membuat surat perjanjiannya Nyonya?" tanya Agra sembari tertawa mengejek Jeanny.
"Aaarhg...! aku akan buat perjanjian ulang," ujar Jeanny.
"Tidak boleh, baca...!" Agra menyuruh Jeanny membaca point tambahan yang dibuat oleh Agra.
"Aaarhg...!" pekik Jeanny sembari menghentakkan kakinya.
Agra hanya tertawa, melihat Jeanny kesal.
...****...
To be continued