My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Apa yang tidak didapatkan tadi, kini. Didapatkan oleh Agra, dia kembali menyatukan tubuh didalam bathtub. Jeanny hanya pasrah, saat tangan Agra mengangkatnya dan langsung masuk kedalam aset Agra yang sudah mengacung tegak.


Agra yang bermain, sedangkan Jeanny hanya diam. Saat bokongnya dinaikkan dan diturunkan oleh Agra.


Setelah puas, Agra membawa Jeanny berdiri dibawah shower. Tangannya melilit tubuh Jeanny, karena tubuh Jeanny lemas untuk menopang badan.


Dengan telaten Agra menyabuni tubuh Jeanny, hingga bersih. Baru kemudian, Agra melilitkan handuk ke badan Jeanny dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi.


"Baring saja, pulihkan tenaga." titah Agra, saat Jeanny ingin bangkit dari ranjang.


"Abang membuat tubuhku remuk redam." omel Jeanny dengan suara yang pelan, matanya menatap Agra dengan lekat.


"Ingat, tidak ada bantahan." Agra mendudukkan bokongnya di samping Jeanny.


"Rambut basah ini." Jeanny memegang rambutnya yang basah.


"Oh.." Agra bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju meja rias. Tangannya membuka laci dan mengeluarkan hair dryer.


"Ayo, keringkan. Baru istirahat."


"Biar aku keringkan sendiri." Jeanny meraih hair dryer dari tangan Agra.


"Biar Abang, duduk saja." titah Agra.


Agra mengeringkan rambut Jeanny, dan setelah rambut Jeanny kering. Agra juga mengeringkan rambutnya.


"Istirahatlah." titah Agra, lalu dia keluar dari dalam kamar. Dan tidak lama sudah kembali dengan membawa gelas ditangannya.


Agar duduk dan mengangkat Jeanny untuk duduk.


"Bangun Jean, minum ini. Biar tenaganya cepat pulih." Agra menyodorkan gelas, yang masih mengepul. Terlihat dari asap yang keluar.


Jeanny menoleh menatap Agra, terlihat tatapan mata Jeanny curiga kepada Agra.


"Ada apa? apa takut minuman ini Abang kasih racun?"


"Bukan kasih racun, takut saja. Abang kasih minuman ini obat kuat," ujar Jeanny.


"Hahaha..!" tawa Agra bergema didalam kamar.


"Betulkan? minuman ini Abang kasih obat kuat, setelah aku minum. Langsung aku yang akan agresif, huh..!" Jeanny mendengus, kesal pada Agra.


Tangan Agra mengetuk kening Jeanny dengan lembut.


"Otak ni jangan memikirkan yang tidak-tidak saja, tidak perlu dikasih obat kuat saja. Sudah pasrah, untuk apa Abang kasih obat kuat. Sudah minum, setelah itu istirahat. Jangan pikirkan yang aneh-aneh." Agra mendekatkan gelas ke bibir Jeanny, Jeanny menyeruput hampir setengah.


"Sudah." Jeanny mendorong gelas dari depan bibirnya. kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


"Istirahatlah, Abang ada kerjaan sebentar."


"Bang, kita tidak pulang?" tanya Jeanny.


Agra menghentikan langkahnya, didepan bibir pintu.


"Kita tinggal di sini sementara ini, sampai benar-benar aman."


"Oh..Lisa bagaimana?"


"Oma dan Mama membawa Lisa liburan."


"Liburan! tapi, dua hari lagi sudah masuk sekolah."


"Terlambat masuk seminggu tidak apa-apa, sudah. Istirahat." Agra menutup pintu kamar.


"Terlambat seminggu tidak apa-apa, aku yang terkurung seminggu di sini. Ada Lisa, ada alasan untuk keluar dari apartemen." Jeanny mengomel sendirian.


Agra mengambil ponselnya, dan puluhan panggilan dan pesan dari Albert dan Michael.


"Kenapa mereka menganggu saja."


Agra membuka pesan dari Albert, keningnya berkerut.


"Meninggal? semudah itu? mencurigakan."


Agra menghubungi Albert.


Agra


(Apa kabar itu benar?)


Albert


(Kemana saja kau? aku menghubungi ponselmu, tapi tidak dapat dihubungi? meninggalnya Maharani. Belum dapat dipastikan, aku baru mengecek. Ada kabar, akan aku kabarkan padamu)


Agra


(Mungkin itu rencananya, aku tidak yakin dia meninggal. Gambar itu, mungkin saja editan)


Albert


(Semoga saja itu benar-benar terjadi)


Agra


(Ada kabar, hubungi aku)


Albert


(Kau di mana? kenapa ponselmu sulit di hubungi?)


Agra


Albert


(Bagus Bro, berdamai dengan masa lalu. Istrimu ini tidak seperti yang lalu)


Albert langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Dia langsung memutuskan teleponnya? setelah dia mengingatkan kesalahan masa laluku."


"Aa.ah!" Agra menyandarkan kepalanya kesadaran sofa dan memejamkan matanya.


*


*


Samson/Axel tiba di rumah masa kecilnya, didepan rumahnya. Seorang wanita yang sudah terlihat sepuh, berdiri menunggu majikannya yang sudah dianggapnya sebagai cucunya turun dari dalam mobil.


"Nek Amirah, Axel pulang." Axel langsung memeluk wanita yang di panggilnya nenek Amirah tersebut.


"Ingat juga kau pulang?"


'Nek, jangan marah. Axel, sudah ingin pulang. Tapi, jika sudah masuk. Tidak akan bisa keluar dalam keadaan hidup." tutur Axel.


"Kan sudah Nenek katakan, untuk apa kau mau membalaskan dendam ayahmu. Ayahmu juga tidak ingin kau melakukannya, dengan mengotori tanganmu. Sekarang, kenapa kau bisa keluar? apa wanita itu sudah bertobat?"


"Dia sudah berada dalam kurungan Nek, dia tidak akan bisa menganggu orang lagi."


"Dia ditangkap polisi? siapa yang mengadukannya?"


"Ya, Nek. Wanita itu ditangkap polisi." Axel mengiyakan apa yang dikatakan oleh neneknya.


"Baguslah, sekarang. Dendammu sudah terbalaskan, kau harus mulai memikirkan masa depanmu. Cari gadis, dan menikah. Peternakan ini membutuhkan sentuhan tangan wanita, umurmu sudah tidak muda lagi."


"Nek, Axel tidak ingin menikah. Wanita itu sangat mengerikan."


"Wanita mengerikan, apa Nenek juga sangat mengerikan?"


"Nenek wanita yang beda, Nenek wanita terbaik." tutur Axel, sembari merangkul neneknya.


"Nenek terbaik, tapi Nenek ditinggalkan sendirian."


"Axel, tinggalkan Nenek. karena Axel tahu, Nenek itu tangguh."


"Mandi sana, cukur itu rambut dan kumis. Mirip gembel begitu."


"Tapi, Axel tetap ganteng kan Nek. Sepertinya, Axel akan membiarkan rambut ini panjang."


"Oke, panjangkan rambut. Besok, pakai daster saja." tutur Neneknya Amirah


Axel tertawa.


"Sudah lama kau tidak tertawa? Nenek kira kau sudah lupa cara tertawa."


"Sekarang, kita mulai tertawa Nek." keduanya masuk kedalam rumah.


*


*


"Bang, untuk apa aku ikut kantor?" Jeanny yang ingin pergi ke rumah mamanya tidak diizinkan oleh Agra. Agra memaksa Jeanny untuk ikut dengannya ke perusahaan.


"Kenapa cerewet sekali, ikut saja. Jangan membantah."


"Bang, lebih bagus aku ketempat Mama belajar masak. Ini ikut kantor, untuk apa? apa Abang mau aku kerja bersama Abang di kantor?" Jeanny melirik Agra.


"Abang ingin Jeanny berhenti bekerja, di rumah saja." Agra mengutarakan keinginannya, agar Jeanny tidak bekerja menjadi guru TK lagi.


"Di rumah saja, untuk apa? apa aku harus duduk ongkang-ongkang kaki, seperti nyonya besar?"


Jeanny langsung membayangkan dirinya, menunggu Agra dengan memakai daster dan tubuhnya yang tambun. bibir menor, menunggu Agra pulang dari kantor. Wajahnya penuh dengan keringat, karena sibuk di dapur memasak.


"Tidak!" Jeanny menepuk-nepuk pipinya, agar bayangan di kepalanya hilang.


"Aku tidak mau seperti yang ada dalam bayangan." gumamnya.


"Ada apa?" tanya Agra, mendengar Jeanny mengedumel.


"Aku tidak mau duduk di rumah, menunggu Abang pulang kantor. Badan penuh dengan bau masakan, aku tidak ahli masak Bang..!" seru Jeanny.


"Siapa yang menyuruh masak? di rumah banyak pelayan, Abang menikah bukan untuk mencari tukang masak."


"Terus, untuk apa aku tidak kerja?"


"Mengurus anak dan suami," jawab Agra.


"Lisa sudah bisa mengurus diri sendiri, Abang sudah cukup tua untuk diurus."


"Anak bukan hanya Lisa saja," kata Agra.


"Hah..! Abang punya anak selain Lisa? Abang punya istri selain aku diluar sana..!? Jeanny sontak kaget mendengar ucapan Agra.


"Hei.. dengarkan dulu, anak kita..!" tegaskan Agra.


"Awas ya, jika Abang punya Wil diluar sana. Siap-siap, aku akan umumkan keseluruhan dunia. Aku tidak mau kehilangan kedua kali..!" ancam Jeanny.


"Hih.. sadisnya..!" ujar Agra.


Mobil Agra sampai didepan perusahaan, Agra turun dan memberikan kunci mobilnya kepada satpam. Untuk diparkirkan.


"Ayo" Agra membuka pintu mobil untuk Jeanny turun.


To be continued