My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Agra menjeda perkataannya, matanya menatap Jeanny yang memandangnya. Lalu kemudian, pandangan matanya menatap wajah Yudha yang terlihat tegang.


"Abang mau apa?" tanya Jeanny yang khawatir, ada rasa khawatir dalam dirinya. Karena, dia takut. Agra salah paham dan mengira dia ada rasa pada Yudha lagi .


"Abang tahu, sayang ada hubungan dengan Pak Yudha."


"Bang..!" Jeanny sontak terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh Agra.


Deg..


Yudha juga cukup terkejut.


"Tuan..! tuan salah paham, saya tidak ada hubungan lagi dengan istri anda. Ya, dulu. Kami sepasang kekasih, tapi. Saya telah mengkhianati hatinya. Dan sekarang, Saya tidak ada hubungan dengan istri anda. Tuan, percayalah. Saya tidak akan menganggu istri orang." tutur Yudha.


"Bang, Yudha hanyalah masa lalu. Aku sudah tidak mau mengingat masa lalu Bang," ujar Jeanny dengan menoleh menatap mata Agra, saat dia berkata mengenai hubungannya dengan Yudha. Yang hanya masa lalu yang tidak harus dikenang.


Apa yang dikatakan oleh Jeanny, mencubit hati Yudha. Walaupun, mulutnya berkata sudah merelakan Jeanny. Tapi, hati dan pikirannya berkata sebaliknya.


..."Kenapa hatiku sakit mendengar ucapanmu Jean." dalam benak Yudha, ucapan yang hanya didengar Yudha sendiri....


"Abang tahu, dia masa lalu. Tapi, masa lalu juga dapat menghancurkan masa depan. Jika kita tidak bisa menjaga hati kita ." tutur Agra.


"Kita bertiga di sini, yang saling berkaitan. Abang ingin, kita melepaskan masa lalu. Abang tidak ingin ada pengkhianatan didalam kita menuju masa depan rumah tangga kita." Agra memegang dagu Jeanny, dan menatap wajah Jeanny dengan intens.


"Tuan, jangan khawatir. Saya tidak akan menggangu pernikahan Jeanny, saya tidak akan membuat dia mengalami kesakitan untuk kedua kalinya. Saya akan resign dari perusahaan," ucap Yudha.


Agra dan Jeanny sontak tersentak, mendengar Yudha yang mengatakan akan resign dari pekerjaannya.


"Pak Yudha, saya tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Anda tidak perlu berhenti." tutur Agra.


"Niat saya untuk mengundurkan diri sudah saya ajukan ke pihak HRD Tuan, bukan karena Tuan memanggil saya," kata Yudha.


Jeanny tidak berkata, hanya dalam benaknya yang berseliweran. Apa yang membuat Yudha ingin mengundurkan diri.


"Apa Mas Yudha tidak nyaman, karena aku menikah dengan Boss tempat dia kerja? tidak mungkin, dia pasti ingin menghindari Yulia." dalam benak Jeanny.


Sesaat tadi, dia kaget mendengar keputusan Yudha untuk berhenti. Tetapi, setelah memikirkan apa yang dikatakan oleh Yudha. Jeanny tahu, keputusan Yudha untuk mengundurkan diri. Bukan hanya karena dia menjadi anak buah Agra, tapi karena ingin menghindari Yulia.


"Kenapa? pekerjaan anda sangat bagus. Apa anda sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dari jabatan anda di perusahaan ini, Pak Yudha?"


"Tidak Tuan, saya resign bukan karena ingin pindah kerja. Tapi, karena saya ingin melanjutkan kuliah saya Tuan. Melanjutkan kuliah lagi, sebenarnya keinginan saya dulu," kata Yudha.


Jeanny menjadi teringat, saat Yudha mengatakan ingin melanjutkan kuliah S2. Karena, dulu. Mereka sempat berbincang-bincang mengenai niat Yudha melanjutkan S2, setelah dia menikahi Jeanny dan membawa Jeanny bersamanya.


"Ternyata, kau ingin melanjutkan mimpi kita dulu mas Yudha." batin Jeanny.


"Apa hanya itu yang membuat Pak Yudha ingin resign dari perusahaan? bukan karena Pak Yudha masih menaruh harapan untuk memiliki istri saya?" tanya Agra to the point, tepat sasaran.


Jantung Yudha sontak berdetak kencang, apa yang dikatakan oleh Agra tepat sasaran.


"Bang..!" Jeanny juga tersentak dengan pernyataan yang dikatakan Agra pada Yudha.


"Hah! apa yang ada dalam pikiran saya benar, anda resign karena belum bisa melepaskan kekasih anda. Yang sekarang sudah menjadi istri saya."


"Tuan, saya akui. Cinta didalam hati saya, untuk Jeanny yang sekarang sudah menjadi istri anda. Belum bisa saya hapus, masih ada di sini dan sini." Yudha menunjuk arah dada dan kepalanya.


Agra diam, sedangkan Jeanny menundukkan kepalanya.


"Saya menghargai kejujuran Pak Yudha, maaf. Jika ada perkataan yang membuat Pak Yudha tidak nyaman, karena. Saya tidak ingin ada mulut-mulut sumbang di luar sana, yang akan menceritakan hubungan Pak Yudha dengan istri saya," kata Agra.


Agra memanggil Yudha, setelah mengetahui. Yudha, mantan kekasih Jeanny. Bekerja di perusahaan yang dipimpinnya.


"Saya mengerti dengan kecemasan anda Tuan," kata Yudha.


"Pak Yudha, mengenai soal pengunduran diri anda. Saya harap, anda memikirkannya lagi," kata Agra.


"Terima kasih atas perhatian anda Tuan, tapi. Keputusan saya ini sudah saya bincangkan dengan keluarga, dan mereka juga mendukung keputusan yang saya ambil."


"Baiklah, jika anda tidak mau mempertimbangkannya kembali." akhirnya, Agra menerima keputusan Yudha untuk mengundurkan diri.


Yudha berdiri dari duduknya.


"Saya permisi Tuan." Yudha menundukkan kepalanya sedikit.


Agra menurunkan Jeanny dari atas pangkuannya, lalu merangkul pinggang Jeanny dan melangkah mendekati Yudha.


"Saya harap, kita bisa berteman." Agra mengulurkan tangannya, lalu Yudha menyambut uluran tangan Agra.


"Iya Tuan," sahut Yudha.


Setelah melepaskan tangan Agra, Yudha mengulurkan tangannya kepada Jeanny.


Jeanny ragu untuk menyambut uluran tangan Yudha, dia mendongak. Melihat Agra, apa Agra mengizinkan dia menerima uluran tangan Yudha.


Agra menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, kita teman," ucap Yudha, saat berjabatan tangan dengan Jeanny.


"Teman," sahut Jeanny.


"Hei.. cukup..!" Agra menarik tangan Jeanny yang masih berada dalam genggaman tangan Yudha.


"Kalian boleh menganggap teman, tapi hanya sekedar teman. Bukan 'TEMAN' yang mesra..!" seru Agra.


"Baiklah Tuan Agra, ternyata. Anda sangat posesif," ucap Yudha sambil tersenyum.


"Aku harus menjaga apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan aku kasih celah orang untuk mendekatinya." bisik Agra ditelinga Jeanny.


Cup..


Agra mencium sudut bibir Jeanny, membuat Jeanny membulatkan matanya. Dia sudah kehabisan akal dengan tingkah Agra yang benar-benar sangat mesum menurut Jeanny.


"Abang..!" wajah Jeanny memerah, saking kesalnya. Jeanny mencubit perut Agra dengan gemas.


"Aduh..!" Agra meraih tangan Jeanny yang mencubit perutnya.


Yudha hanya dapat menggelengkan kepalanya, dia tidak mengira. Agra sosok yang keras, tidak pernah tersenyum membalas sapaan para karyawannya. Ternyata, jika berhadapan langsung. Sikapnya sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkannya.


"Saya permisi Tuan." Yudha dengan cepat meninggalkan ruang kerja Agra.


Tiba diluar ruang kerja Agra, Yudha menarik napasnya.


"Jeanny berada ditangan orang yang tepat, Tuan Agra sepertinya mencintai Jeanny. Selalu bahagia Jean, aku akan mencari kebahagiaanku diluar sana." Yudha berjalan tegak menuju lift, tidak ada dia menoleh kebelakang. Hatinya sudah mantap untuk maju, tidak ingin melihat kebelakang.


Biarlah masa lalu untuk menjadi pelajaran, agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan.


To be continued