
...Happy reading...
...***...
"Nah.. spaghetti nya datang," ujar Benny.
"Enak ini," ucap Lisa.
"Om, mau?" tawar Lisa pada Benny.
"Terima kasih, Lisa makan. Biar Lisa cepat besar," kata Benny.
"Tante mau?" Lisa bertanya pada Erica.
"Terima kasih cantik, Tante kurang suka dengan spaghetti."
"Papa pasti mau." Lisa mengambil spaghetti pakai garpu dan memberikannya kepada Agra.
Agra membuka mulutnya, dan memakan spaghetti yang diberikan oleh Lisa.
"Terima kasih sayang," ujar Agra.
"Mama mau?" Lisa menawarkan kepada Jeanny.
"Untuk Lisa saja, Mama eneg lihat taburan keju." Jeanny menaik-turunkan bahu, melihat hamparan keju di atas spaghetti yang kini sedang di nikmati Lisa.
Selagi, makan. Lisa tidak berhenti berceloteh, menanyakan apapun yang terlintas didalam pikirannya di keluarkannya. Walaupun Agra sudah menyuruh Lisa untuk tidak berbicara saat sedang makan, tetapi. Lisa hanya berhenti sebentar, lalu kemudian lanjut kembali berbicara. Sehingga, Agra tidak melarang Lisa untuk berbicara di saat makan.
"Om, kata Mama. Om itu teman Mama Malika ya? Mamanya Lisa?" tanya Lisa.
"Iya, Om sahabat Mama Malika."
"Tidak sayang, Om Papa Lisa." yang hanya bisa diungkapkannya dalam hatinya.
"Lisa tidak ingat dengan Mama Malika," ucap Lisa.
"Karena Lisa masih kecil, saat Mama Malika meninggal," jawab Benny.
"Semoga sifat Malika tidak menurun kepadamu gadis kecilku." gumam Benny dalam hati.
"Lisa, cepat makannya. Kita harus kembali, Oma sudah menunggu kita." titah Agra.
"Secepat itu, aku masih ingin bersama dengan Lisa." Benny merasa belum puas bersama dengan Lisa.
"Maaf Tuan, kami mau mengunjungi orang tua saya," kata Jeanny dengan perasaan tidak enak pada Benny.
"Ben, nanti kita buat janji untuk bertemu dengan Lisa lagi." Erica memegang lengan Benny.
'Baiklah, Tuan Barend. Terima kasih, karena sudah mengizinkan aku untuk mengenalnya," ucap Benny pada Agra.
Agra hanya menganggukkan kepalanya, tanpa berkata.
"Tuan Benny, untuk saat ini. Hanya ini yang bisa kami lakukan, mungkin nanti saat Lisa sudah dewasa. Sudah bisa berpikir dengan matang, sedikit demi sedikit bisa kita mengatakan kebenarannya. Iya, kan. Bang?" Jeanny menatap wajah Agra.
"Jika Lisa membenciku, apa aku sanggup? kalau aku hanya dikenalnya hanya sebagai Om, sahabat dari Mamanya. Kami masih bisa bertemu. Tidak! aku tidak bisa melihat Lisa membenci dan menjauhiku." gejolak dalam batinnya Benny.
"Ben." Erica menepuk pundak Benny yang melamun, sambil menatap Lisa.
"Ya." Benny menatap Erica.
"Bagaimana menurutmu, dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Barend?" tanya Erica.
"Tuan, jangan. Jangan katakan apapun juga, aku tidak ingin dia terluka. Dan aku juga tidak ingin dia membenciku," ucap Benny.
Apa yang dikatakan Benny membuat Erica, Agra dan juga Jeanny sontak terkejut. Yang awalnya, Benny begitu Keukeh ingin mengambil Lisa. Kini, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil Lisa dari tangan Agra Barend.
"Kenapa Ben? bukannya itu yang kau inginkan, mendapatkan pengakuan?" tanya Erica.
"Tidak lagi, untuk apa mendapatkan pengakuan. Tapi, aku tidak bisa bersamanya seperti saat ini. Dia pasti membenciku." tutur Benny.
"Tuan, Nyonya. Izinkan aku menemui seperti saat ini, hanya sebagai Om saja. Aku tidak ingin egois, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari gadis kecilku. Aku akan kehilangannya untuk selamanya, tidak. Aku tidak akan sanggup, jika dia membenciku." tutur Benny.
Agra dan Jeanny menarik napas lega, karena Benny mau berbesar hati tidak mendapatkan pengakuan dari Lisa. Putri kandungannya.
Tiba-tiba..
"Sayang, sini." Agra mengangkat Lisa, dan mendudukkannya ke atas pangkuannya.
"Ada apa Papa?" Lisa mendongak menatap wajah Papanya.
"Lisa, panggil Om Benny jangan panggil Om lagi ya," kata Agra kepada Lisa.
Semua tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.
"Bang..!?" seru Jeanny.
"Tuan.." mata Benny melebar, dia sangat kaget mendengar ucapan Agra.
"Terus panggil apa?" tanya Lisa dengan menatap wajah Papanya, Agra Barend.
"Daddy, panggil Daddy," ujar Agra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Agra, Benny seketika menangis. Dia tidak perduli, saat ada orang yang melihatnya menangis.
Erica juga mengalirkan air mata bahagia, karena. Apa yang dilakukan oleh Agra membuat Benny bahagia.
Benny menundukkan kepalanya, badannya bergetar. Karena rasa haru merasuki jiwanya.
"Oh.. Tuhan, Tuan Agra Barend orang yang sungguh baik. Walaupun aku mengganggu Malika, tapi. Dia mengizinkan Lisa memanggilku Daddy.
"Tuan Barend sangat baik, dia tidak dendam kepada Benny. Kau sungguh sungguh-sungguh beruntung, Ben." gumam Erica dalam hati .
To be continued...