My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Kenapa menegangkan begini." gumam Jeanny.


Gumamam Jeanny didengar oleh sang bodyguard.


"Jangan khawatir Nyonya, saya akan mempertaruhkan nyawa saya untuk melindungi Nyonya dan putri Nyonya," kata sang bodyguard.


"Janganlah Pak, masa gara-gara melindungi saya. Bapak akan kehilangan nyawa," kata Jeanny.


"Nyonya, panggil saya Togar. Melihat nyonya, saya teringat dengan tetangga saya." bodyguard yang bernama Togar, mengajak Jeanny untuk berbincang-bincang. Karena melihat wajah Jeanny yang takut. Saat mengetahui, mobil diikuti.


"Apa saya mirip dengan tetangga bapak?" tanya Jeanny.


"Togar, Nyonya. Jangan panggil, bapak," ujar sang bodyguard.


"Saya panggil Mas Togar saja ya," kata Jeanny.


"Boleh," sahut Togar.


"Tetangga yang Mas katakan tadi, siapa?" tanya Jeanny.


"Tetangga depan rumah, wanita yang tangguh Nyonya. Anaknya, Rania. Seumuran dengan putri nyonya, saya sudah menganggap Rania putri saya sendiri." tutur Togar.


"Apa Mas tidak punya anak sendiri?" tanya Jeanny.


Bodyguard yang bernama Togar tidak menjawab pertanyaan Jeanny, karena mobil sudah tiba didepan gedung perusahaan PT Star.


"Kita sudah sampai nyonya."


"Oh, terima kasih," ucap Jeanny.


"Ayo sayang, kita temui Papa." Jeanny membangunkan Lisa yang hampir tertidur, saking lamanya didalam perjalanan.


bodyguard turun, dan membuka pintu untuk Jeanny dan Lisa keluar.


"Terima kasih," ucap Jeanny pada Togar.


"Saya akan tunggu di sini nyonya."


"Iya," sahut Jeanny.


Jeanny dan Lisa masuk kedalam gedung perusahaan dan langsung menuju bagian resepsionis.


"Permisi Mbak, saya ingin menemui Pak Agra Barend," kata Jeanny.


Wanita yang di sapa Jeanny diam, belum menanggapi perkataan Jeanny. Karena asik dengan komputer didepannya.


"Nona..!" Jeanny mengetuk meja resepsionis, untuk menarik perhatian wanita yang menunduk tersebut.


Wanita yang sedang fokus dengan komputer didepannya, mendongak. Dan menatap Jeanny, yang telah mengganggunya.


Begitu tersadar, siapa yang ada didepannya. Wanita itu spontan berdiri.


"Apa yang bisa saya bantu nyonya?"


"Saya ingin menemui suami saya, Agra Barend. Apa ada di tempat?" tanya Jeanny.


"Ada nyonya."


"Lantai berapa?" tanya Jeanny.


"Nyonya Barend, saya akan mengantarkan anda," ucap wanita tersebut dengan gugup.


"Tidak perlu Mbak, cukup mbak sebutkan di mana ruangannya. Dan Mbak bisa kembali fokus dengan apa yang mbak lihat didalam komputer itu," kata Jeanny.


"Maaf nyonya, jangan laporkan saya Nyonya. Saya baru kali ini menonton film, saat bekerja." wanita tersebut menunduk.


"Santai saja Mbak, mulut saya tidak ember. Lantai berapa ruangan suami saya?" tanya Jeanny.


"Naik lift itu nyonya, dan akan langsung menuju ruangan Tuan Agra Barend."


"Terima kasih, ayo sayang." Jeanny pergi meninggalkan resepsionis.


Begitu Jeanny jauh, wanita tersebut. Langsung menarik napasnya.


"Semoga, nyonya Barend tidak melapor pada suaminya."


"Ada apa, Santi? apa yang kau lihat, sampai tidak bergerak begitu kepalamu?" tanya Zoya, yang baru masuk kantor, setelah melakukan tugas luar.


"Zoya, kau sudah pulang? mana oleh-oleh?" Santi menadahkan tangan, minta buah tangan dari Zoya.


"Hih! buah tangan yang kau minta, ada gosip apa di kantor. Selama aku tugas luar?" tanya Zoya sembari merapikan rambutnya.


"Gosip? hei..kau tidak menghadiri pesta pernikahan Boss kan? rugi kau Zoya, banyak makanan yang belum pernah kau makan. Dan, lagi. Banyak cowok mapan yang hadir."


"Nasibmu." ledek Santi.


"Bagaimana istri Tuan Agra Barend, apa gadis dari kalangan sosialita? Apakah sangat cantik?" tanya Zoya.


"Istrinya guru TK." beritahu Santi.


"Apa!? Tuan Barend menikahi guru?"


"Kenapa? apa ada yang salah?' tanya Santi.


"Ya jelas salah! seorang CEO, yang tajir. Menikahi guru? oh my God..! apa tidak ada wanita yang bisa di nikahinya selain guru! itu juga guru TK..!" seru Zoya yang tidak percaya, pria yang diincarnya menikah dengan seorang guru taman kanak-kanak.


"Zoya, sadar. Kau itu apa? hanya SPG, lebih mulia guru TK." ledek Santi.


"Sudah sana, aku mau kerja." Santi kembali duduk, mengerjakan pekerjaan. Dan sesekali, matanya melirik komputer yang masih menayangkan film yang dilihatnya tadi.


Jeanny tiba dilantai yang ditujunya, begitu dia keluar dari dalam lift. Agra dan Jerry keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Papa..!" Lisa melepaskan genggaman tangan Jeanny dan berlari mendekati Agra dan memeluk Agra.


"Lisa, kenapa kekantor Papa tidak bilang ?" Agra jongkok, agar tingginya sejajar dengan tubuh putri kecilnya. Lisa.


"Surprise! karena Mama dan Lisa rindu dengan Papa, kami datang kekantor. Apa Papa marah?" tanya Lisa.


Jeanny kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Lisa.


"Hah! mana ada Mama bilang begitu." wajah Jeanny bersemu merah.


"Aku tidak ada mengatakan rindu, percayalah Agra. Lisa mengada-ada."


"Rindu juga tidak ada yang marah, kenapa kau malu. Wajar kalau kau rindu denganku, kita kan pengantin baru," ucap Agra.


"Tapi aku betul-betul tidak rindu padamu," kata Jeanny.


"Sayang, ternyata. Mama tidak rindu dengan Papa." adu Agra pada putrinya dengan mimik wajah yang sedih.


Jerry yang melihat apa yang dilakukan Agra, heran. Karena tidak pernah melihat tingkah kekanakan seorang Agra Barend.


"Ternyata, istri baru. Membuat Tuan Agra Barend berubah,." batin Jerry.


"Mama! kenapa tidak rindu dengan Papa? Mama harus rindu, nanti Lisa nangis ini." Lisa menunjukkan raut wajah sedih


"Papa dan putrinya, sama-sama bakat acting." batin Jeanny.


"Mama, rindukan dengan Papa?"


"Baiklah, Mama rindu..rindu sekali dengan Papa. Saking rindunya, Mama sampai ingin mun.." Jeanny tidak melanjutkan ucapannya, matanya mendelik melihat Agra senyum senang, karena berhasil membuatnya jengkel.


Lisa tertawa senang, apa yang dilakukannya ini adalah ajaran dari Obut dan Omanya. Untuk mendekatkan Mama Jeanny dengan Papanya.


"Papa mau kemana?" tanya Lisa.


"Sebenarnya, Papa ada urusan tadi. Tapi, karena ini kunjungan perdana kali Nona Lisa Barend dan Nyonya Jeanny Barend mengunjungi Papa. Papa akan membatalkan rencana Papa tadi. Jerry, kau saja yang ke rumah sakit. Katakan pada Albert, nanti aku akan kekantornya."


"Baik Tuan." lalu, Jerry pergi.


"Ternyata, sekretarisnya benar-benar seorang dokter." dalam benak Jeanny.


Karena Agra menyuruh Jerry yang ke rumah sakit, Jeanny percaya. Jerry seorang dokter, merangkap sekretaris.


'Sekarang, kita kemana Nona dan Nyonya?" tanya Agra pada Lisa dan Jeanny.


Lisa mengangkat kedua bahunya, menandakan dia tahu ingin pergi kemana.


"Nyonya?" Agra melihat pada Jeanny.


Jeanny tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Agra.


"Hei, kenapa melamun?" tanya Agra, saat pertanyaannya tidak ditanggapi Jeanny.


"Aku salut dengan Pak Jerry, dia sanggup bekerja menjadi dokter dan sekaligus menjadi sekretaris," kata Jeanny.


Deg..


"Kenapa aku lupa, Jerry dulu menyamar jadi dokter." batin Agra.


"Pak Jerry hebat," Ujar Jeanny.


"Apa hebatnya, semua orang juga bisa." kesal Agra, karena Jeanny memuji Jerry.


...****...


To be continued