
...Happy reading...
...☀️☀️☀️...
Agra menatap tamunya dengan tatapan mata tajam, terlihat kemarahan dalam raut wajahnya.
Jeanny melirik Agra, dan tahu. Agra marah. Jeanny meraih tangan Agra yang mengepal, dan menggenggamnya.
"Bang, tenang. Jangan terpancing," ucap Jeanny, yang belum tahu. Ada masalah apa antara Agra dan tamunya tersebut.
"Tuan, jaga attitude anda..!" seru Jerry, yang berada disampingnya.
"Diam kau! bilang pada Boss mu, aku ingin mengambil milikku yang ada padanya..!" ulang Benny.
"Tuan, saya tidak tahu ada masalah apa anda dengan suami saya. Bagaimana, jika kita bincangkan dengan kepala dingin. Jangan datang-datang langsung marah-marah."
"Oh..anda Nyonya Barend yang baru, saya harap anda mau memberikan putri saya pada saya," kata Benny.
Jerry tiba-tiba keluar, setelah mendapatkan laporan dari lobby. Dengan langkah setengah berlari, Jerry turun ke lobby.
"Putri, Bang. Apa maksudnya?" Jeanny sontak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh tamunya tersebut.
"Putri apa maksudmu? aku tidak pernah mengambil putrimu." Agra berkata dengan suara yang datar.
"Lisa, Lisa itu putriku. Tuan Agra Barend, anda itu sudah dipermainkan oleh Malika. Lisa itu bukan anak anda, Lisa itu anak saya. Kembalikan putri saya..!"
"Lisa, anak Tuan? Tidak mungkin, anda jangan mengada-ada..!" seru Jeanny.
"Saya tidak berbohong nyonya, Lisa itu bukan putri suami anda dengan Malika. Tapi, anak saya. Malika telah menyembunyikan anak saya, dia membuat anak saya menjadi anak suami anda. Jika anda tidak percaya, saya akan melakukan tes DNA," kata Benny.
"Bang, bagaimana? apa Abang akan melakukan tes DNA juga? Lisa anak kita kan Bang, Lisa bukan anak anda Tuan," kata Jeanny.
"Lisa anakku, dia lahir dari perkawinan yang sah. Antara aku dan Malika, walaupun kau ayah biologisnya. Kau tidak bisa menuntut," kata Agra.
"Kau tahu, Lisa bukan anakmu?" Benny kaget, saat mengetahui bahwa Agra tahu. Bahwa Lisa bukanlah darah dagingnya.
"Iya, aku tahu. Tapi, aku menerimanya. Aku tahu, Malika mendua. Walaupun, kami sudah menikah. Kalian masih bertemu di belakangku," ucap Agra dengan suara yang dingin.
"Sungguh sungguh-sungguh tidak punya hati wanita itu, bisa-bisanya dia mempermainkan dua orang pria. Dia yang terlalu pintar, apa kedua pria ini yang mencintainya membabi-buta. Sehingga, tidak perduli. Keduanya telah kena tipu." gumam Jeanny dalam benaknya.
Ketika, Agra dan Benny saling berdebat. Pintu terbuka, dengan masuknya Jerry dan Erica.
"Benny." Erica mendekati Benny.
"Erica, untuk apa kau datang. Apa kau ingin mencegahku untuk mengambil anakku?" tanya Benny pada Erica.
"Maaf, aku ikut campur. Ben, kau jangan begini. Anak itu masih kecil, dia akan kaget. Jika kau tiba-tiba datang, dan mengatakan bahwa kau ayahnya." nasihat Erica.
"Aku tidak perduli, dia anakku. Dia harus ikut bersama denganku..! tidak ada yang bisa melarang ku mengambil darah dagingku, dan kau Tuan Agra Barend. Sudah cukup kau mengurus putriku..!" Benny berkata cukup keras, dan jarinya menunjuk pada Agra.
"Kau tidak perduli, aku perduli...! Aku Papanya, aku yang ada saat dia lahir. Aku yang ada saat dia pertama kali berkata. aku yang ada saat dia belajar berjalan, Malika saja tidak ada. Itu karena, kalian bermain di belakangku. Sehingga, perkembangan Lisa dari dia merangkak dan berjalan. Aku, aku..aku yang ada..!" sergang Agra dengan emosional.
Semua yang ada dalam ruangan, terdiam. Jerry, keluar. Dan dia berdiri didepan pintu, untuk berjaga-jaga. Agar jangan ada yang mendengar apa yang terjadi didalam ruang kerja Agra.
"Bang, kita bicarakan baik-baik. Ayo Nona, Tuan. kita duduk." Jeanny mempersilakan kedua tamunya itu untuk duduk, agar bisa berbincang dengan kepala dingin.
Semuanya menuruti ucapan Jeanny, Agra menghempaskan tubuhnya. Membuka jasnya dan dasi. Kemudian melemparkannya kesembarang tempat. Jeanny yang melihat kekesalan Agra, mengambil minuman dan memberikannya pada Agra dan kedua tamunya.
Agra meneguk air yang diberikan oleh Jeanny, Jeanny duduk sembari menggenggam tangan Agra.
Benny dan Erica duduk agak berjauhan, karena. Benny marah kepada Erica, yang ikut campur dengan urusan pribadinya.
Setelah hening beberapa saat, Benny kembali mengutarakan keinginannya. Untuk mengambil Lisa, dari Agra. Karena, menganggap. Hanya dia yang layak untuk mengasuh Lisa, karena dia ayah kandung Lisa. Bukan Agra.
"Benny, kau jangan mau ambil saja. Apa yang kau lakukan ini bisa menganggu psikis anak itu, apa kau ingin anakmu menjadi trauma. Karena direnggut secara paksa dari orang yang dianggapnya sebagai orang tua kandungnya..!" Erica benar-benar kesal, dengan apa yang diinginkan oleh Benny.
"Kau kira bisa seenaknya kau mengambil putriku, Lisa. Anakku. Dia ada dari hasil perkawinan yang sah, antara aku dan Malika. Walaupun kau mengaku kau ayah kandungnya, tetapi. Di semua surat-surat, aku. Agra Barend yang menjadi ayah kandungnya..!" seru Agra dengan nada suara yang emosional.
"Aku akan menuntut mu..!" ancam Benny.
"Tuntutlah, aku akan menuntut mu balik. Karena telah berzinah dengan istriku, apa kau kira aku tidak tahu. Selama dalam pernikahanku dengan Malika, kalian masih sering bertemu..! jangan.. jangan, pada waktu kecelakaan terjadi. Kalian bersama, karena aku tidak bisa hadir," ucap Agra dengan menatap Benny dengan lekat.
Benny terdiam, wajahnya berubah. Membuat Agra tahu, bahwa apa yang dikatakannya tadi. Benar.
"Betulkan, kalian bersama? dapat aku lihat dari raut wajahmu itu, jangan.. jangan anak dalam kandungan Malika anakmu juga?" tuduh Agra.
"Anak? Malika hamil saat kecelakaan?" Benny kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Agra.
"Iya, dia hamil. Tapi dia tidak mengatakannya padaku, aku hanya menemukan alat tespack didalam tasnya. Apa itu juga anakmu? ahh..aku betul-betul pria yang patut dikasihani..di kecewakan, mungkin itu karma untukku. Karena telah meninggalkan keluarga, untuk menikah dengan Malika." tutur Agra dengan suara yang sedih.
"Kalau kau tahu, kau sudah dikhianati oleh Malika. Kenapa tidak kau tinggalkan, kenapa kau bertahan? kembali Malika dan putrinya padaku?" tanya Benny.
"Aku bertahan, karena Lisa. Saat pertama aku menggendongnya, dia memegang jariku. Lisa memegang jariku, detik itu juga. Aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan meninggalkan Lisa. Aku tidak mengatakan pada Malika, aku mengetahui bahwa Lisa bukanlah anak kandungku. Apa kau kira aku bodo, tidak tahu tentang kehamilan. Walaupun, Malika mengatakan. Lisa lahir prematur. Tapi, aku tahu. Lisa lahir normal. Dan tanpa sepengetahuannya, aku melakukan tes DNA. Dan terbukti, aku bukan ayah biologis Lisa." tutur Agra panjang lebar.
Pada saat Malika melahirkan, Lisa. Agra tidak mendampinginya, karena Agra sedang pergi keluar negara Belanda. Dihari itu, Malika melahirkan. Yang menurut Malika, dia melahirkan prematur.
Tapi, Agra heran. Karena, kondisi bayi yang normal dengan berat yang melebihi bayi pada umumnya. Tanpa sepengetahuan Malika, Agra menghubungi dokter yang membantu Malika melahirkan. Selama pasca hamil, karena kesibukannya. Agra sangat jarang mendampingi Malika periksa kehamilan, sehingga dia tidak tahu dengan kondisi kandungan sang istri.
Apa yang dikatakan oleh dokter, membuat Agra kaget. Dan Agra langsung melakukan tes DNA, dan tes DNA membuktikan. Lisa tidak anaknya.
Terpuruk..
Ya, Agra terpuruk. Apa yang dikatakan oleh keluarganya tentang Malika, benar. Tapi, Agra malu untuk mengakui. Bahwa dia salah, keluarganya benar.
Dia menutup rapat-rapat mengenai Lisa, dia belajar untuk memaafkan Malika..
Agra, pria yang sudah dibutakan oleh cinta...🤔
To be continued