My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Mata Benny berembun, saat melihat Lisa. Dengan perlahan-lahan, Benny melangkah. Karena dia takut mendapatkan penolakan dari gadis kecilnya.


Dengan langkah kecil, Benny mendekati Lisa. Setelah berada didepan Lisa, Benny berlutut. Agar tubuhnya dan Lisa sejajar.


"Hai.." Benny mengulurkan tangannya.


Lisa memandang Benny dengan lekat, kemudian mendongak menatap wajah Jeanny.


Jeanny menganggukkan kepalanya, agar Lisa menyambut uluran tangan Benny.


"Hai juga." balas Lisa dan menggenggam tangan Benny.


Benny, menggenggam tangan Lisa dengan kedua tangannya. Tanpa dapat di cegah lagi, air matanya luruh membasahi pipinya.


Lisa heran, melihat Benny menangis. Jemari tangannya, menyentuh pipi Benny.


"Om, nangis? apa Om tidak dikasih Mama Om candy?" tanya Lisa sembari menatap wajah Benny dengan mata kecilnya.


"Hah..!" Benny sontak mengelap air matanya, karena perkataan Lisa yang mengatakan dia menangis.


"Itu, mata Om ada airnya. Kalau mata ada airnya, itu karena Om menangis. Apa Om mau candy? tunggu ya, Lisa akan beri Om candy," ucap Lisa, dan kemudian membuka tas kecil yang di bawanya.


Jeanny dan Erica tersenyum, mendengar ucapan Lisa yang mengira Benny menangis karena tidak di beri candy.


Agra, memalingkan wajahnya. Dia juga terlihat sedih, melihat Benny. Karena perbuatan Malika sudah membuat kehidupan keduanya kacau balau.


Jika, dulu dia tahu Malika sudah punya kekasih. Dia tidak akan mau menikah dengan Malika, walaupun ada rasa cinta terhadap Malika pada saat itu.


Lisa mencari-cari candy lolypop dari tas selempang kecil yang disandangnya, setelah mendapatkan candy tersebut. Lisa menyodorkan candy itu kepada Benny.


"Ini Om, Lisa banyak punya candy. Tapi, Om janji jangan beritahu Papa. Papa nanti marah, melihat Lisa banyak candy dalam tas. Kata Papa, nanti gigi Lisa rusak," kata Lisa dengan berbisik kepada Benny.


Agra yang mendengarnya, tersenyum. Begitu juga dengan Jeanny dan Erica.


"Ini untuk Om?" Benny menerima candy pemberian Lisa.


"Iya, untuk Om. Lisa masih banyak, di rumah juga ada. Jangan bilang siapa-siapa ya. Ini janji kita, kalau Om beritahu orang lain. Lisa tidak akan mau kasih Om candy lagi," kata Lisa.


"Terima kasih, boleh Om meluk Lisa?" tanya Benny, karena dia sangat ingin merasakan pelukan hangat dari gadis kecilnya.


"Boleh.," Lisa langsung memeluk Benny dan mencium kedua pipi Benny.


"Oh Tuhan, aku ingin detik jam berhenti berputar. Agar pelukan dan pertemuan ini tidak berakhir." gumam Benny dalam hati.


Semua larut dalam kesedihan, melihat ayah dan anak saling berpelukan. Apalagi saat melihat Lisa mencium pipi Benny.


"Cukup, ayo kita duduk," ucap Erica.


"Hai, Lisa. Kenalkan, Tante Erica." Erica mengulurkan tangannya, Lisa menyambut tangan Erica dan mencium tangan Erica.


"Manisnya," ujar Erica dengan gemas, tangannya menangkup wajah Lisa. Sehingga, bibir Lisa mengerucut. Membuat Erica semakin gemas melihatnya, dan kemudian mencium kedua pipi Lisa.


"Hei..apa yang kau lakukan pada put....!" Benny menarik tangan Erica dari wajah Lisa, dan tanpa sadar ingin mengatakan putrinya, untung. Dia sadar, dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Ayo kita duduk, Lisa. Sini sayang." Jeanny membawa Lisa duduk didekatnya dan Agra, dan didepan Lisa. Benny dan Erica duduk.


"Lisa ingin makan apa?" tanya Benny pada putrinya.


"Lisa ingin makan spaghetti, kejunya yang banyak," kata Lisa.


"Lisa suka spaghetti?" tanya Benny.


"Iya, Lisa suka dengan spaghetti keju. Papa juga sangat suka, iya kan. Pa?" Lisa menoleh kearah Agra yang duduk disebelah Jeanny.


Agra menganggukkan kepalanya.


"Kesukaan mereka juga sama, matanya. Kenapa mirip dengan mata Agra Barend, dan dia juga telah mengakui. Bahwa Lisa bukan putrinya. Jika dia belum melakukan tes DNA tadi, aku tidak yakin Lisa putriku. Tes DNA yang dilakukannya, terbukti hasilnya. Lisa bukan putrinya. Mungkin, karena kebersamaan mereka selama ini. Membuat mereka menjadi mirip." dalam benak Benny.


"Apa Om juga suka dengan spaghetti keju bolognese?" tanya Lisa.


"Spaghetti Om suka, tapi. Tidak terlalu," jawab Benny.


"Om suka apa?" tanya Lisa.


"Om suka apa saja," sahut Benny.


Jeanny dan Agra membiarkan Lisa dan Benny mendominasi percakapan, sesekali mereka ikut menimpali. Jika Lisa bertanya, mengenai hal yang tidak diketahuinya.


"Lisa sudah sekolah?" tanya Erica.


"Sudah, masih TK. Mama Jeanny guru Lisa, tapi. Sekarang sudah menjadi Mama Lisa, iya kan. Ma?" Lisa mendongak menatap wajah Jeanny.


"Iya, putri Mama Jeanny yang cerewet," ujar Jeanny sembari menarik hidung bangir Lisa dengan lembut.


"Mama, bolehkah Lisa makan eskrim?" tanya Lisa, saat melihat gambar eskrim di daftar menu yang dipegangnya.


"Boleh, tapi. Tunggu selesai makan ya," kata Jeanny.


"Oke Mama, Mama Lisa yang terbaik." puji Lisa, karena diizinkan untuk makan eskrim.


"Hem..ada maunya, muji Mama," ucap Jeanny, sambil mengikat rambut Lisa yang menutupi wajahnya . Karena, tadi rambut Lisa tergerai.


"Tante, apa Tante tidak mau eskrim?" tanya Lisa kepada Erica.


"Tante tidak bisa makan yang dingin-dingin, karena tenggorokan Tante sangat sensitif dengan yang dingin-dingin," jawab Erica.


"Kalau Om, suka?" Lisa bertanya pada Benny yang terus menatap Lisa.


"Suka, Om sangat suka eskrim," jawab Benny.


"Kalau Om suka, nanti Lisa akan bagi eskrim Lisa pada Om" ujar Lisa.


"Terima kasih, Lisa memang yang terbaik," kata Benny.


Senyum menghiasi bibir Lisa, karena pujian Benny.


To be continued...