My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Hari Abang dan adik.



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹...


"Setiap mata Jean terpejam, bayangannya selalu muncul. Jean tidak bisa tidur, Jean lelah. Sakit di sini..!" Jeanny memukul dadanya bertubi-tubi, sehingga Amira. Mamanya memegang kedua tangannya, agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


"Jean, sadar! dia bukan jodohmu, jika dia jodohmu. Tuhan tidak akan memisahkan kalian dengan cara penghianatan yang dilakukannya..!" seru Amira, Mama Jeanny sembari memegang kedua bahu Jeanny. Untuk menyadarkan Jeanny, agar jangan menyakiti dirinya sendiri lagi.


"Kenapa Tuhan mendekatkan Jeanny dengannya? jika kami ditakdirkan tidak berjodoh? kenapa Ma? kenapa?" tanya Jeanny sembari menangis, wajahnya sudah basah dengan air mata.


"Tuhan mendekatkan kalian, untuk menguji. Apakah Jeanny kuat, dengan apa yang terjadi ini. Jika Jeanny bisa melewati ujian dari Tuhan ini, Tuhan akan mengirimkan seseorang yang betul-betul mencintaimu," kata Amira, Mamanya.


"Cukup menangisi orang yang tidak pantas untuk di cintai, jangan biarkan air mata ini keluar untuk laki-laki itu lagi," ujar Mamanya, dan kemudian Mamanya menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Jeanny dengan jemari tangannya.


"Sekarang, berusahalah. Untuk menghapus namanya, ingat apa yang dilakukannya. Nama laki-laki itu tidak layak bersemayam didalam hati dan pikiranmu, Jean..!" seru Mamanya seraya menunjuk arah dada Jeanny.


"Apa bisa Jean melupakannya Ma?"


"Bisa, pasti bisa," ujar Mamanya.


"Sudah, jangan nangis lagi. Jangan sampai Papa dan Abang Jamie melihat Jean menangis, nanti mereka berdua kembali marah kepada laki-laki itu. Makan ya, biar Mama ambil buburnya," ujar Mamanya.


"Jean tidak lapar Ma." tolak Jeanny untuk makan.


"Walaupun tidak lapar, paksakan. Kasihan peliharaan Jean di sini." ledek Mama.


Jean tersenyum.


"Nah gitu, senyum. Jangan tunjukan luka di hati," kata Amira.


...🌹🌹...


Abraham dan Agra berada didalam ruang kerja Abraham, setelah selesai makan malam. Agra mengatakan kepada Papanya ingin membahas masalah pekerjaan.


"Ada apa?" tanya Abraham pada putranya, Agra. Karena Abraham melihat, selama makan malam tadi. Agra terlihat berbeda, seperti ada yang disembunyikannya.


Agra menceritakan, kejadian yang terjadi di kantor. Dan apa yang dikatakan Albert juga disampaikan Agra pada Papanya.


"Pak Malik tidak mungkin, karena. Dua hari yang lalu, Pak Malik sudah dipanggil sang kuasa. Penyakit yang dideritanya sudah stadium akhir."


"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Agra.


"Sangat di sayangkan, diakhir hidupnya. Dia melakukan kesalahan yang sangat fatal, dia meninggalkan nama buruk untuk dikenang oleh orang yang mengenal Pak Malik Ibrahim." sambung Agra.


"Kemewahan, yang membuatnya melakukan perbuatan jahat." timpal Abraham Barend.


Agra menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Papanya, ingin hidup mewah yang sering orang melakukan perbuatan yang melanggar hukum.


"Sekarang, yang patut kita waspadai Zulham Zamrun," kata Papa Agra, Abraham.


"Di mana kira-kira dia bersembunyi Pa?" tanya Agra.


"Menurut informasi, dia masih berada di luar negeri. Dengan hasil uang korupsi yang dilakukannya, dia bisa bertahan hidup dengan uang itu selama tiga sampai lima tahun," kata Abraham.


"Di mana kira-kira dia berada sekarang Pa? apakah dia masih berada benua Asia atau sudah berada di benua Eropa?"


"Belum diketahui pastinya, di mana dia sekarang. kalau dia sudah keluar dari benua Asia, pasti dia buat paspor ataupun visa. Tapi menurut orang-orang kepercayaan kita, nama Zulham Zamrun tidak terdeteksi membuat paspor atau visa."


"Jangan sampai ancaman yang yang kita terima diketahui oleh Mama dan Oma, mereka pasti akan khawatir. Dan juga, perketat keamanan untuk mama dan Oma dan juga Lisa." titah Abraham Barend.


"Baik Pa," sahut Agra.


Kini, ruang kerja Abraham bareng hening, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


🌹


Jeanny baring di sofa diruang keluarga, setelah seharian berada didalam kamarnya. Matanya menatap layar TV, tapi tidak ada yang tahu. Pikirannya tidak pada apa yang dilihatnya.


"Sudah sembuh?" Jamie menghampiri Jeanny, dan duduk di ujung kaki Jeanny yang bertekuk.


"Sudah Bang, tidak panas lagi." Jeanny melekatkan telapak tangannya di dahinya.


"Jangan sakit lagi ya! rencana mau weekend, jadi batal gara-gara sakit," kata Jamie.


"Sudah sehat ini, sudah bisa membantah perkataan abang," kata Jamie.


"Hehehe.. Jeanny tidak sakit parah Bang, hanya flu ringan. Itu juga karena kena hujan kemarin."


"Kena hujan atau pikiran? pasti otaknya ini hanya ada pria yang bernama Yudha itu, makanya sakit. Besok kita keluar, Abang akan kenalkan Jeanny dengan teman-teman Abang yang keren-keren dan macho," kata Jamie.


"Hih..malas! teman abang kan pilot semua, pasti pacarnya banyak. Setiap penerbangan, ganti pacar," kata Jeanny.


"Abang akan kenalkan Jeanny dengan teman abang yang setia, yang tidak suka lirik kanan kiri. Dan yang pasti masih single."


"Malas dengan pilot, Jeanny takut cepat jadi janda," kata Jeanny.


"Kalau takut jadi janda, bukan hanya dengan pilot cepat jadi janda. Menikah dengan pengangguran saja bisa cepat jadi janda, itu semua sudah rahasia Allah," kata Jamie.


Jeanny bangkit dari berbaring, dan berdiri.


"Mau kemana?" tanya Jamie.


"Kamar, bosan lihat TV," sahut Jeanny.


"Jalan yok, biar jangan bosan," kata Jamie.


"Apa dibolehin Mama?" tanya Jeanny.


"Jangan jauh-jauh, dekat rumah saja jalan-jalannya. Sebelum Mama dan Papa pulang, Kita sudah berada di rumah," kata Jamie.


"Abang ngajak Jeanny bohong?"


"Bukan bohong, tapi tidak mengatakan," ujar Jamie.


"Sama saja Abang..!" seru Jeanny.


"Bagaimana? mau keluar cuci mata? hari ini hari Abang dan adik," kata Jamie.


"Bolehlah, bosan berada di rumah terus," kata Jeanny.


"Ganti baju sana, cuci mukanya. Masih bau asem lagi, malu Abang bawa gadis wajah bantal begitu," ujar Jamie.


"Abang! Jeanny sudah mandi ya, hanya tidak ganti baju saja. Cium nih, sudah harum sabun mandi badan Jeanny..!" seru Jeanny kesal, karena bau asam dikatakan oleh Jamie.


Dengan setengah berlari, Jeanny menuju kamarnya. Tidak kemudian, Jeanny kembali sudah dengan berpakaian lengkap dengan topi bertengger di pucuk kepalanya.


"Kenapa pakai topi ?" tanya Jamie saat melihat Jeanny mengenakan topi pada pucuk kepalanya.


"Takut panas Bang, kita jalan kaki kan Bang?"


"Naik mobil, kenapa jalan kaki?" tanya Jamie.


"Kata Abang jalan-jalan sekitar rumah, Jeanny kira jalan kaki."


"Bagaimana jika kita pergi ke taman kupu-kupu, Abang sudah lama tidak ke sana," kata Jamie.


"Ayo Bang."


Keduanya keluar dari dalam rumah, dan naik kedalam mobil Jamie. Kemudian mobil yang dikemudikan oleh Jamie melaju dengan perlahan-lahan menuju taman kupu-kupu, yang membutuhkan jarak tempuh hanya 15 menit dari rumah mereka.


Tiba di taman kupu-kupu, suasana sudah ramai dengan para pengunjung. Karena hari libur, banyak yang membawa keluarga mereka untuk mengunjungi taman kupu-kupu.


"Ramai ya Bang, Jean kira tidak ada yang suka wisata melihat kupu-kupu," kata Jeanny.


"Bagus wisata melihat kupu-kupu, tidak membutuhkan pengeluaran yang banyak. Tiket masuk hanya lima ribuan," kata Jamie.


"Huh... Abang, pelit..! bawa Jeanny jalan-jalan tempat murah." Jeanny memanyunkan bibirnya.


"Bukan pelit, tapi adik Abang ini belum pulih total. Nanti, jika sudah sembuh. Abang akan bawa adik Abang tersayang ini keliling dunia, bagaimana? mau kan?" Jamie memain-mainkan matanya, tangannya merangkul pundak Jeanny. Sehingga orang yang melihat, mereka bukan Abang adik. Tapi seperti sepasang kekasih.


...🌹🌹🌹...


...Bersambung...