
...Happy reading...
"Duduk Oma," ujar Benny.
"Terima kasih," ucap Oma Gracia seraya mendudukkan diri di kursi yang diberikan oleh Benny.
"Oma mau mengucapkan selamat pada pernikahan kalian, Oma hanya ingin bilang. Jangan sampai ke telinga Oma, kalian ribut. Jika ada masalah, selesaikan malam itu juga. Jangan bawa masalah sampai hari berganti." nasihat Oma Gracia.
"Baik Oma, terima kasih Oma. Karena mau menampung saya," kata Benny.
"Sudah, jangan diingat lagi masalah yang ada. Jaga Erica, jangan lakukan kebodohan yang sama lagi."
"Terima kasih Oma." timpal Erica.
"Oma, dengar. Kalian akan kembali ke Belanda ?"
"Iya Oma, kalau tidak ada halangan. Minggu ini kami akan kembali, Erica juga tidak bisa cuti lama." jelaskan Benny.
"Oma juga rindu sana, walaupun Oma bukan keturunan Belanda. Tapi, Opa keturunan Belanda. Dan, masih banyak keturunan saudara-saudara Opa yang masih hidup dan Oma kenal." tutur Oma Gracia.
"Obut, Lisa liburan akan pergi ketempat Daddy dan mommy," ucap Lisa.
"Oh, ya. Lisa berani pergi sendiri?" tanya Gracia.
Lisa menggelengkan kepalanya, lalu matanya menatap Benny dan Erica.
"Mommy dan Daddy jemput Lisa, iya kan?" tanya Lisa.
"Oke, princess. Mommy akan jemput Lisa," kata Erica.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan tangisan.
"Ada apa itu?" Oma mencari asal suara teriakan dan sumber suara orang menangis.
"Dari sana Oma, biar Benny lihat." Benny bangkit dari tempat duduknya, dan bergegas melangkah dengan langkah lebar menuju asal suara menangis.
"Abang..! Abang kenapa?" Jeanny bersimpuh disamping tubuh Agra yang pingsan.
"Kenapa Agra pingsan?" tanya Benny, begitu mengetahui Agra yang pingsan.
"Tidak tahu, tadi. Agra merasa pusing, lalu jatuh begitu saja." tutur Alma yang panik, sama dengan Jeanny.
"Pak Jerry mana?" tanya Jeanny dengan suara yang keras.
"Jerry..!" panggil Alma.
Jerry yang baru masuk keruangan tempat resepsi pernikahan Benny, sontak kaget. Begitu melihat Agra, Boss-nya terbaring di lantai.
"Pak Jerry, tolong periksa." titah Jeanny.
"Saya." Jerry menunjuk kearah dirinya.
"Iya, Pak Jerry kan dokter.!" seru Jeanny kesal, karena Jerry bengong dengan perintah Jeanny.
"Jerry Dokter?" Alma juga bingung dengan apa yang dikatakan oleh Jeanny, mengenai Jerry sebagai dokter.
"Kenapa masih diam di sini, cepat angkat Agra..!" seru Oma yang datang, setelah melihat kerumunan orang.
"Baik Oma, Pak Jerry. Ayo kita angkat." titah Benny pada Jerry.
Benny dan Jerry mengangkat Agra, didalam mobil. Jeanny menangisi Agra yang masih pingsan.
"Abang! Abang kenapa? kenapa pingsan terus," ucap Jeanny dibarengi dengan suara tangisan.
Jerry yang menjadi sopir, dan Benny duduk di sampingnya. Di belakang, tubuh Agra yang besar terbaring berbantalkan paha Jeanny.
"Jean, apa Agra sudah sering pingsan begini?" tanya Benny dari bangku depan.
"Baru dua kali, seminggu yang lalu. Agra juga tiba-tiba pingsan." tutur Jeanny.
"Apa kata dokter?" tanya Benny.
"Hanya kelelahan, Abang ini sudah dua Minggu selalu datang ke tempat penitipan anak. Ada saja alasannya datang, dia bosan berada didalam ruangan ber-AC. Abang datang minta kerja di tempat penitipan anak, Jean beri Abang kerja di luar. Bang... bangun..!" Jeanny mengusap air matanya yang menggenangi sudut dua bola matanya.
"Mungkin dia kelelahan saja, Pak Jer. Kebut..!" titah Benny.
"Abang, jangan pergi dulu. Jeanny tidak mau jadi janda..!" seru Jeanny.
"Siapa yang mau menjadikan Jean janda kembang." gumam Agra dengan mata terpejam.
"Abang sadar..!" seru Jeanny, mendengar suara Agra yang lemah.
"Bro, apa yang kau rasakan?" tanya Benny sambil mengangkat tubuhnya, untuk melihat Agra yang terbaring di jok belakang.
"Pitam, aku ingin muntah tadi. Tapi, begitu ingin menuju toilet. Tiba-tiba, pandanganku gelap. Kepalaku pusing." Agra memegang keningnya.
"Kepala, kenapa dengan kepalaku ini? apa ada tumor didalam kepalaku?" tanya Agra, matanya masih terpejam.
"Huss! Abang ini..!" kesal Jeanny, mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.
"Bro, jangan pikirkan yang tidak-tidak. Mungkin, kau hanya kelelahan saja," kata Benny.
Jerry diam, membawa mobilnya dengan fokus. Tidak lama kemudian, mobil memasuki pelataran parkir depan rumah sakit. Fandi dan brankar sudah menunggu, karena Mama Agra sudah menghubungi Fandi.
Agra keluar dengan di bantu oleh Fandi dan satu orang perawat pria.
"Kenapa Mas, pakai acara pingsan?" tanya Fandi.
"Pusing, aku.." belum Agra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja. Jeanny ambruk.
Dan..
Jatuh ke atas aspal rumah sakit, tanpa ada yang sigap menangkap tubuhnya yang tiba-tiba jatuh. Karena semua sibuk melihat kearah Agra yang mau mulai baring di atas brankar.
"Nyonya Jeanny..!" pekik Jerry, tapi terlambat. Gerakannya kalah cepat dengan jatuhnya Jeanny ke atas aspal rumah sakit.
Mendengar teriakkan Jerry, Agra yang berada di atas brankar tersentak dan lalu bangkit dari brankar dan melihat Jeanny sudah diam di atas aspal.
"Jeanny..!" Benny langsung loncat dan ingin mengangkatnya.
Tapi..
"Biar aku saja..!" terdengar suara Agra keras, memperingati Benny untuk tidak mengangkat Jeanny.
Agra turun dari brankar, dengan langkah lebar dia mendekati Jeanny.
"Mas, apa Mas sanggup? mas masih lemah?" tanya Fandi.
"Bisa," sahut Agra.
Agra mengangkat Jeanny, dengan cepat Agra meletakkan Jeanny keatas brankar yang tadi ditempatinya.
"Mas tidur di mana?" tanya Fandi.
"Kami sama di satu brankar" Agra duduk di atas brankar, sedangkan Jeanny baring di brankar.
"Dorong! kalian menunggu apa?" ucap Agra dengan suara yang keras.
"Dorong." titah Fandi pada perawat.
"Sayang bangun, Kenapa pingsan juga?" Agra menepuk pipi Jeanny dengan lembut.
Lima belas menit kemudian, keduanya sudah berada didalam satu kamar inap. Dengan dua ranjang saling berdampingan, dan kedua tangannya dipasangi infus.
Agra memiringkan tubuhnya, agar bisa melihat Jeanny yang berada di atas ranjangnya.
Pintu kamar terbuka, dengan kedatangan Oma beserta rombongannya.
"Mama..!" Lisa langsung berlari menuju ranjang Jeanny.
"Sayang, jangan ribut. Mama sedang tidak sehat," ujar Agra.
"Kenapa kalian sakit bersamaan, tadi Agra. Kenapa sekarang Jeanny juga ikut sakit?" tanya Oma.
"Kalian berdua memang berjodoh," ujar Papa Agra.
Semua tertawa mendengar ucapan Abraham Barend.
"Apa Jeanny belum sadar dari tadi?" tanya Mama Agra.
"Sudah Ma, ini tidur," jawab Agra.
"Apa keluhannya? apa karena melihat Agra pingsan, Jeanny ikut pingsan juga?" tanya Oma Gracia.
"Jeanny mengatakan, pusing Ma." beritahu Agra.
"Pekerjaan di penitipan anak cukup menguras energinya, Agra. Suruh Jean untuk tidak full berada di sana," kata Mama Agra, Alma.
"Ma, itu pekerjaan yang di sukai Jeanny. Walaupun dia tidak mendapatkan gaji, tapi dia gembira berada di sana."
"Pa, kapan Mama bangun?" tanya Lisa.
"Sebentar lagi sayang, Lisa duduk dengan Oma dulu ya," kata Agra.
Lisa pergi dari dekat ranjang Jeanny dan duduk di samping Obut Gracia.
Pintu kamar terbuka, dengan kedatangan Fandi dan satu orang dokter lain. Dan satu orang suster bersamanya.
Satu bab menuju ending