My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Hilang



Happy reading 😍


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Setelah menuntaskan hawa napsunya, Andi melepaskan penyatuan tubuhnya dengan tubuh Yulia. Tanpa menoleh ke arah Yulia, dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Yulia.. Yulia, walaupun kau sedang hamil. Tapi, tubuhmu itu masih sangat menggiurkan. benar-benar membuat aku mabuk, sehingga tidak bisa berhenti,"Β  ucap Andi di dalam kamar mandi, seraya menatap dirinya di kaca toilet kamar mandi.


"Aku harus cepat pergi meninggalkan kota ini, aku tidak ingin tertangkap."


Andi secepatnya membersihkan diri, dan keluar hanya mengenakan handuk kecil menutupi area bokongnya.


Keluar dari dalam kamar mandi, sekilas dia melirik Yulia yang masih berada dibalik selimut.


Andi mengambil bajunya didalam lemari, dan memasukkan sebagian kedalam tas kecil yang diambilnya dari atas lemari.


"Kenapa dia belum bangun juga?" Andi beranjak mendekati ranjang, di mana Yulia masih tidur.


"Hei . Yulia bangun..!" Andi menggoyang tubuh Yulia dengan kakinya.


"Dasar perempuan..!" Kesal Andi.


Andi menarik selimut yang membungkus tubuh Yulia.


Begitu selimut terbuka, mata Andi bulat sempurna. Saat melihat bagian tubuh Yulia bersimbah darah.


"Oh...shitt..! Apa yang terjadi..!" Seru Andi panik.


Andi naik ke atas ranjang, dan memeriksa Yulia.


"Masih hidup!" Seru Andi, saat merasa ada hembusan napas yang keluar dari hidung Yulia menerpa jemarinya yang didekatnya ke hidung Yulia.


"Apa yang harus aku lakukan? ah.. apa karena dia dalam keadaan hamil? dan terjadi pendarahan?" Andi bingung, apa yang harus dilakukannya.


"Aku bawa ke rumah sakit saja, daripada dia mati di sini. Sial..! kau menyusahkan saja Yulia." gerutu Andi.


Andi mengambil baju untuk Yulia pakai, yaitu t-shirt dan celana olahraga miliknya.


"Untung pendarahannya tidak banyak, apa dia keguguran? celaka aku, jika sampai dia keguguran. Tapi, ini semua bukan salah aku saja. Permainan dia lebih ganas daripada aku, tubuh ngilu akibat permainannya." Tutur Andi.


Andi mengangkat Yulia untuk masuk kedalam mobilnya, dengan melaju kencang. Andi membawa mobilnya.


"Yulia, kau jangan mati didalam mobilku..!" seru Andi dari bangku kemudi, sesekali dia melihat kearah jok belakang mobilnya. Di mana Yulia terbaring tak bergerak dikarenakan pingsan.


Sampai di rumah sakit kecil yang ada didekat rumahnya, Andi langsung mengendong Yulia menuju ruang IGD.


"Suster, dia pendarahan. Dan dia sedang hamil." tutur Andi pada suster yang bertugas di bagian IGD.


"Silakan tunggu di luar dulu Pak," ucap suster pada Andi.


Setelah berada di luar IGD, Andi langsung keluar dari dalam rumah sakit. Dan masuk kedalam mobilnya, lalu mobilnya meluncur meninggalkan area rumah sakit.


"Selamat tinggal Yulia," ujar Andi, dan mobilnya semakin jauh dari rumah sakit.


Dalam IGD, dokter berusaha untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada Yulia.


"Suster, kita butuh golongan darah B." titah dokter yang menangani Yulia.


"Baik Dok." suster bergegas lari keluar dari dalam IGD, dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa kantung darah.


"Apa suami pasien ada di luar?" tanya dokter pada suster yang membantunya menangani Yulia.


"Ada Dok," jawab suster.


"Panggil." titah dokter pada suster.


Suster keluar dari IGD, tak lama kemudian kembali masuk kedalam IGD.


"Dok, suaminya yang mengantar pasien tadi tidak ada diluar." beritahu suster pada dokter.


"Pergi! apa orang yang mengantarkannya suaminya? apa suster tanya?" tanya dokter.


"Maaf Dok, saya tidak tanyakan. Karena terlihat dari wajahnya yang sangat khawatir melihat pasien ini," ucap suster.


"Apa dikatakannya nama dan alamatnya?" tanya dokter.


"Tidak Dok, setelah mengantar sang pasien. Saya menyuruhnya menunggu di luar, saya tidak tahu dia akan meninggalkan pasien." tutur suster yang berinteraksi dengan Andi.


"Hubungi polisi, kita harus tahu identitas wanita ini..!" titah dokter pada suster.


"Baik Dok," jawab suster.


Terdengar suara lirih Yulia, untuk menghentikan suster untuk menghubungi polisi.


"Kamu harus menghubungi suami anda Nyonya, karena kehamilan anda ini berisiko keguguran." Beritahu dokter pada Yulia.


"Suami saya kerja ditempat yang sangat jauh Dok, tidak bisa dihubungi. Tolong, selamatkan bayi saya Dok," ucap Yulia dengan suara yang lirih dan kemudian kembali pingsan.


"Suster, lakukan transfusi darahnya." titah dokter pada suster yang mengambil kantung darah untuk transfusi bagi Yulia.


Pintu IGD terbuka, dan seorang suster masuk dengan membawa tas.


"Maaf Dok, saya ingin memberikan tas milik Nyonya itu. Tadi ada pria yang menitipkan di resepsionis.."


"Coba periksa, cari alamatnya." titah dokter.


Seorang suster memeriksa tas Yulia dan mendapatkan kartu tanda penduduk, dan ponsel Yulia.


"Dok, ini ada kartu tanda penduduk dan ponsel juga."


"Hubungi keluarganya." titah dokter.


"Baik Dok." suster keluar dari ruang IGD untuk menghubungi keluarga Yulia.


🍁🍁🍁


"Bagaimana Pak, kapan bisa kita lakukan pernikahan Agra dan Jeanny?" tanya Oma pada Papa Jeanny.


"Hah! pernikahan? kedatangan mereka untuk membahas pernikahan? bukannya hanya untuk silahturahmi saja, untuk saling kena." suara hati Jeanny.


"Kalau saya terserah saja Bu," ucap Papa Jeanny.


"Pak Andre, panggil saja saya Oma. Saya sudah tua, kalau cicit saya manggil Obut," ucap Oma Gracia.


"Obut? apa artinya?" tanya Amira.


"Obut itu, Oma buyut," jawab Obut dengan tertawa.


"Ini Obut Lisa," ujar Lisa yang duduk dipangkuan Jeanny.


"Obut Lisa, kalau ini. Panggil Oma ya," ujar Amira pada Lisa.


"Oma Lisa ada banyak sekali..!" seru Lisa gembira.


Semua tertawa melihat Lisa yang gembira, dan tidak mau jauh dari Jeanny.


Setelah diambil keputusan, pernikahan diadakan dua Minggu lagi.


"Dua Minggu!" Jeanny sontak kaget, mendengar pernikahannya diadakan dua Minggu lagi.


"Kenapa? apa terlalu lama?" tanya Agra dengan wajah yang sulit ditebak, apa yang dipikirkannya saat ini.


"Kalau begitu, seminggu lagi. Deal, tidak ada bantahan." sambung Agra.


"Apa!? kenapa tambah dekat harinya? Kenapa tidak besok saja," ujar Jeanny kesal, karena Agra makin memajukan hari pernikahan mereka.


"Baiklah, besok saja Om. Biar nanti urusan semua masalah pernikahan saya yang mengurusnya," kata Agra.


"Dasar pria gila." kesal Jeanny.


"Agra, kenapa kau buru-buru ingin menikah cepat? seperti rencana awal tadi, dua Minggu lagi," ujar Abraham Barend.


Abraham menengahi debat kusir yang tidak jelas antara Agra dan Jeanny.


"Semua urusan, kita serahkan pada wedding organizer saja," ujar Alma.


"Iya, biar kita tidak repot mengurusnya." Amira menimpali ucapan calon besannya.


"Akhirnya, Jeanny akan menjadi cucu mantu ku," ucap Oma dengan gembira.


"Dia akan menjadi Mama Lisa, tapi bukan istriku. Cintaku hanya milik Malika." suara hati Agra.


"Aku bukan istrinya, aku hanya Mama bagi Lisa. Hatiku ini belum bisa menerima cinta yang lain, walaupun Yudha telah mengkhianati aku. Tapi, hati ini masih terukir namanya." dalam benak Jeanny.


"Semoga pernikahan Jeanny terlaksana, aku tidak ingin Jeanny mengalami kegagalan lagi." batin Amira, Mama Jeanny.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...Bersambung*...