My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Kau temui sendiri, aku tidak bisa membantu."


"Mas..!" seru Yulia dan berlutut didepan Yudha.


"Hei ..!" Yudha kaget, karena Yulia berlutut di depannya.


"Yulia, apa yang kau lakukan? berdiri, apa kau tidak memikirkan anak dalam kandunganmu itu?" Mama Yudha menarik tangan Yulia untuk berdiri.


"Aku tidak akan berdiri, sampai kalian mau mengabulkan permohonan ku." Yulia tetap kekeuh untuk berlutut.


"Berlututlah terus, aku tidak akan mau mengabulkan permohonan mu itu. Kau lakukan sendiri, berani berbuat. berani menanggung resiko akibat perbuatanmu itu." Lalu kemudian, Yudha keluar. Di depan pintu mau keluar, dia berpapasan dengan kedua orangtuanya Yulia.


"Permisi." hanya itu yang dikatakan oleh Yudha.


"Lia..!" Mama dan Papanya gegas masuk dan menghampiri Yulia yang sedang berlutut.


"Ada apa ini Jeng Susan?" tanya Mama Yulia.


"Tanya saja pada Yulia Jeng Darti, Permisi." Susan keluar.


Hanya tinggal Papa Yudha masih berada didalam ruangan.


"Yulia, mengenai permintaanmu pada Yudha itu sangat tidak mungkin, Yudha lakukan. Minta pengacara yang menghubungi Jeanny, maaf Pak Darmawan." Papa Yudha menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya, baru kemudian pergi keluar.


Begitu hanya tinggal kedua orangtuanya, Yulia langsung berdiri. Dan menghapus air matanya dengan kasar.


"Sialan! sia-sia saja aku berlutut dan mengeluarkan air mata, Yudha tidak merasa iba pada diriku." dalam benak Yulia.


"Lia, apa yang kau minta Yudha lakukan?" tanya Papanya.


"Minta agar Yudha menemui Jeanny, agar mencabut laporannya. Lia tidak tahan di sini, lihatlah! baru beberapa jam di dalam sana. Tubuh Lia sudah merah-merah dan gatal." Yulia menunjukkan kulit tangannya yang bintik-bintik merah .


"Biar nanti papa bincangkan, dengan pengacara. Semoga, mereka mau mencabut gugatannya," ucap Papa Yulia.


"Yulia, bila mereka tidak mau berdamai. Kau harus terima semua apa yang kau alami ini, ini semua karena perbuatanmu," kata Mamanya.


"Mama sepertinya senang melihat aku sengsara? bukannya Mama membantu memikirkan untuk aku keluar dari sini, sudahlah. Jika Mama dan Papa tidak bisa membantu." tutur Yulia dengan kasar pada Mama dan Papanya.


"Yulia, bukan Mama senang kau berada didalam sana! Mama hanya mengatakan, jika mereka tidak mau berdamai. Kau harus tabah menjalani ini semua..!" seru Mamanya dengan emosional.


Karena suasana makin tegang, antara sang istri dan putrinya, Papa Yulia menengahi keduanya.


"Yulia, kan sudah Papa katakan tadi. Papa akan bicarakan dengan kuasa hukum kita, semoga dia bisa membicarakan ini dengan pihak sana." tutur Papanya.


Yulia terdiam, kepalanya tertunduk.


Petugas polisi yang membawa Yulia keluar dari dalam sel, datang menghampiri Yulia.


"Waktu berkunjung sudah berakhir Bu," ujar polisi wanita tersebut.


"Sebentar Bu, Lia. Ini susu, dan ada roti, jika tidak ada napsu untuk makan. Minum susu dan makan roti ini." Mamanya memberikan bungkusan roti dan susu.


"Ini baju ganti." Mamanya memberikan paper bag kepada Yulia.


"Kami akan usahakan, agar kau bebas Lia," ucap sang Mama.


Di luar kantor polisi


Yudha dan kedua orangtuanya ingin keluar dari kantor polisi, langkah Yudha terhenti.


"Ada apa Yudha?" tanya Papanya.


Yudha tak menjawab, tatapan matanya fokus kesatu titik.


Mama dan Papa Yudha melihat kearah mata putranya, dan melihat Jeanny melangkah kearah pintu kantor polisi. Di mana, saat ini Yudha dan kedua orangtuanya berada.


"Jeanny." gumam Mama Yudha.


"Biasa saja Yudha, anggaplah. Jeanny adikmu, atau hanya sebatas teman yang sudah lama tidak saling bertemu," ucap Hendra, Papa Yudha.


Setelah, jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi. Baru Jeanny melihat keberadaan pria yang pernah mengisi hari-harinya.


"Jeanny." sapa Mama Yudha lebih dahulu.


"Tante, Om. Apa kabar?" balas Jeanny. Sembari menyalami kedua orangtuanya Yudha, tetapi. Yudha tidak, karena Yudha menghampiri Agra. Menyalami Boss-nya tempat bekerja, dan juga Albert.


"Tuan Barend." sapa Yudha pada Agra, seraya mengulurkan tangannya untuk menyalami Agra.


"Saya Yudha, Tuan." Yudha menyebutkan namanya, karena terlihat Agra tidak mengenalnya.


"Anda, karyawan Star kan?" Agra ingat-ingat lupa, dengan sosok Yudha.


"Iya Tuan, saya divisi bagian marketing," jawab Yudha.


"Maaf, saat belum begitu mengenal karyawan Star. Karena, saya baru mengambil alih perusahaan. Sehingga, belum mengenal karyawan satu persatu." jelaskan Agra.


"Jean, selamat atas pernikahanmu. Kita tidak berjodoh menjadi mertua dan menantu," ucap Mama Yudha.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Mama Yudha, Agra menatap Jeanny dan kemudian Yudha. Dan Agra melihat tatapan mata Yudha yang sangat lekat memandang Jeanny.


"Semoga, kau selalu bahagia Jean.," ucap Mama Yudha dengan suara yang terdengar sedih, kedua tangannya memegang kedua bahu Jeanny.


"Ma." tegur Papa Yudha, karena dia tidak ingin ada salah paham dengan suami Jeanny.


"Ma, sudahlah." Yudha memegang tangan Mamanya.


"Maaf Tuan, jangan perduli kan. Apa yang saya katakan, maklumlah. Orang tua, ada gadis yang baik. Langsung ingin di jadikan menantu," ujar Mama Yudha.


"Tapi, ternyata. Saya terlambat, Jeanny sudah menjadi menantu orang." sambung Mama Yudha kembali.


"Ayo, Ma." Yudha tidak ingin, semakin lama sang Mama akan bicara ngelantur. Karena belum ikhlas melepaskan Jeanny.


"Kami duluan Tuan Agra, Jeanny." Yudha menganggukkan kepalanya kepada Agra dan Jeanny.


"Jean, salam dengan Mama ya," ucap Mama Yudha.


"Kalau Om, salam dengan Papa ya. Sudah lama tidak bertemu di lapangan golf," ucap Papa Yudha.


"Iya Tante, Om. Papa sibuk dengan pekerjaannya, Om," ucap Jeanny.


"Ya, sudah. Kami balik dulu." tutur pada Yudha.


Agra meraih jemari tangan Jeanny, masuk kedalam kantor polisi. Apa yang dilakukan oleh Agra tadi, dilihat oleh Yudha.


"Dulu, jemari tangan kita yang saling bertautan. Kini, tanganmu tidak bisa aku genggam dengan erat lagi Jean." batin Yudha.


Tepukan dipundaknya, mengakhiri lamunan Yudha.


"Ayo kita pulang." titah Papanya.


"Papa duluan, Yudha akan kekantor dulu. Ada pekerjaan yang akan Yudha ambil," kata Yudha.


"Jangan belok kemana-mana," ujar Mamanya.


"Ya, Ma." Yudha melangkah menuju mobilnya terparkir, sedangkan kedua orangtuanya sudah masuk kedalam mobilnya dan mobilnya sudah melaju meninggalkan area kantor polisi.


"Mama tadi, untuk apa bicara begitu di depan suami Jeanny?" tanya Hendra, pada sang istri. Saat mobil dalam perjalanan pulang.


"Tiba-tiba, ada pikiran jahat didalam otak Mama ini, Pa. Jeanny dan suami bertengkar," ucap Susan.


"Astaghfirullah..Mama! buang pikiran kotor yang ada di dalam benak Mama itu, istighfar Ma..!" Hendra, tersentak. Mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri.


"Mama kesal Pa, lihat Jeanny bahagia. Sedangkan Yudha, sedih begitu."


"Putra kita juga salah Ma, kenapa dia mau dekat-dekat dengan Yulia. Beberapa kali Yulia datang ke rumah dulu, dia selalu menyambut baik. Seharusnya, dari awal. Putra kita itu tegas." tutur Hendra, Papa Yudha.


...*****...


To be continued