
...Cerita hanya rekaan semata...
...**...
Agra dan Jeanny tiba dilantai yang mereka tuju, yaitu. Lantai, ruang kerja khusus petinggi perusahaan.
"Abang ini!" Jeanny memukul lengan Agra, setelah lift berhenti dilantai ruang kerjanya. Dan Agra melepaskan bibirnya dari bibir Jeanny.
"Kenapa lagi Nyonya?" tanya Agra, sembari mengusap bibirnya yang berwarna pink. Kena lipstik Jeanny.
"Abang itu main cium saja, tidak lihat tempat! Apa Abang lupa, lift tadi tembus pandang. Apa yang kita lakukan tadi pasti menjadi tontonan orang."
"Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan tadi, Abang mencium bibir istriku sendiri. Bukan bibir istrinya orang."
"Tidak salah, memang. Tapi, jika dilakukan di tempat pribadi. Tadi itu bukan tempat pribadi." Tutur Jeanny.
"Lift tadi tempat pribadi, lift tadi khusus untuk para petinggi kantor. Hanya Papa, Abang dan Jerry yang punya akses untuk masuk kedalam lift." Agra tetap kekeuh, tidak merasa salah dengan apa yang dilakukannya dalam lift.
"Tapi kita ini tinggal di negara yang memegang adat ketimuran Bang, Abang jangan lupa. Apa yang kita lakukan didalam lift tadi tidak lazim dilakukan, apapun namanya. Walaupun Kita sudah menjadi pasangan suami istri." tutur Jeanny panjang lebar.
"Baiklah, sudah ceramahnya ustadzah?"
"Aku bilang serius, Abang bercanda."
"Abang serius, ayo nyonya." Agra membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar, dan mempersilakan Jeanny untuk masuk.
"Wow..!" Jeanny begitu terkagum, saat pertama melihat design interior ruang kerja Agra.
"Pasti Abang betah berlama-lama didalam ruangan ini, dari sini terlihat warna biru langit. Cat ruangan ini juga bernuansa biru dan putih, seperti sedang memandang lautan."
"Ih..!" Jeanny langsung mengelus kedua sisi lengannya, saat mengatakan laut. Dia teringat apa yang dialaminya saat terakhir menginap di resort.
"Kenapa?" Agra melihat Jeanny mengelus lengan dan kuduknya.
"Setiap mengingat laut, langsung ingat dengan Mbak Lira. Kasihan Mbak Lira, menjadi arwah penasaran."
"Kita do'akan, semoga rohnya diterima di sisi Tuhan," kata Agra.
"Ternyata, hal-hal gaib ada ya." gumam Jeanny.
"Ada, di sini juga ada." celetuk Agra.
"Abang..!" Jeanny sontak menubruk badan Agra yang ada didepannya, kedua tangannya melingkar di tubuh Agra.
Tawa Agra pecah, melihat Jeanny memeluknya dari belakang.
"Maaf, Abang hanya bergurau." Agra menarik Jeanny dan membawanya menuju sofa.
"Abang ini, suka sekali ngerjain." kesal Jeanny.
"Duduklah." Agra menyuruh Jeanny untuk duduk, sedangkan dia melangkah menuju kursi tempat dia beraktifitas menyelesaikan pekerjaannya.
Jeanny duduk di sofa, tangannya meraih majalah kontruksi. Membukanya, tapi. Tidak ada yang minat untuk di bacanya.
Tok..tok..
Pintu ruang kerja Agra terbuka, dan Jerry masuk.
"Tuan, Pak Yudha sudah datang." beritahu Jerry.
Jeanny mengangkat kepalanya, saat mendengar Jerry menyebutkan nama Yudha.
"Mas Yudha." gumam Jeanny dalam hati.
"Suruh masuk." titah Agra. Sudut ekor matanya melirik Jeanny yang sedang membaca majalah.
"Aku ingin lihat, bagaimana saat kau bertemu dengan mantanmu itu." dalam benak Agra.
"Kenapa Mas Yudha di panggil Agra, saat aku ada di sini? semoga Mas Yudha tidak di pecat didepan mataku, walaupun aku tidak ada perasaan lagi padanya.Tapi, aku tidak ingin melihat dia di pecat." batin Jeanny.
Yudha masuk, matanya langsung melihat Jeanny. Langkahnya terhenti sesaat. Dengan cepat Yudha menarik pandangan matanya dari sosok wanita yang sudah tidak bisa dimilikinya lagi. Bukan hanya di miliki, di pandang saja. Yudha sudah tidak boleh lakukan, karena Jeanny sudah menjadi milik orang nomor satu ditempat dia mencari nafkah. Tidak ada celah untuk dia masuk, untuk mendapatkan Jeanny.
Mata Agra, terus mengikuti Yudha. Sejak Yudha melangkahkan kaki memasuki ruangannya.
Yudha menatap Jeanny, tidak lepas dari dari pandangan mata Agra.
"Selamat pagi Tuan." Yudha menganggukkan kepalanya.
"Pagi Pak Yudha, silakan duduk."
Yudha menarik kursi yang ada didepan meja Agra, lalu duduk. Matanya terus menatap wajah Boss-nya, Agra Barend. Sudut ekor matanya, curi-curi pandang menatap wanita yang masih mengisi hati dan pikirannya.
Agra tahu, apa yang dilakukan oleh Yudha. Tetapi, Agra sedikit senang. Karena, dia melihat Jeanny tidak terpengaruh dengan kedatangan Yudha. Jeanny terus membaca majalah yang dipegangnya.
Sebenarnya, Agra membawa Jeanny kekantor. Adalah untuk mencari tahu, bagaimana hubungan Jeanny dengan Yudha. Agra tidak ingin, Jeanny seperti Malika. Yang diam-diam dibelakangnya menjalin hubungan dengan sang mantan kembali.
Kelihatan dari luar, Jeanny tidak terpengaruh dengan keberadaan Yudha. Tapi, yang sebenarnya. Jeanny tidak tenang, bukan karena dia ada perasaan lagi pada Yudha. Dia sudah menganggap, Dia tidak ada jodoh dengan Agra. Dan Jeanny tidak ingin ada keributan lagi. Dia sudah menutup buku, mengenai masa lalunya dengan Yudha. Dan, akan membuka buku baru dengan Agra. Suaminya.
Jeanny duduk dengan perasaan yang cemas, karena. Dia takut, akan ada pertengkaran pada kedua laki-laki yang sekarang ada dalam hidupnya dan laki-laki dari masa lalunya tersebut. Mata Jeanny menatap majalah yang dipegangnya, telinganya fokus mendengar apa yang dibincangkan oleh Agra dan Yudha.
"Pak Yudha pasti heran, kenapa saya memanggil Pak Yudha?" Agra membuka suaranya.
Deg..
Jantung Yudha berdebar, saling berkejaran detaknya.
"Apa Tuan Agra sudah tahu, aku mantan kekasih Jeanny? semoga, hubungan kami dulu yang hampir menikah. Tidak membuat hubungan rumah tangga Jeanny dan Tuan Agra bermasalah." dalam benak Yudha.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan saya Tuan?" tanya Yudha.
"Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, sayang. Kemarilah." Agra memanggil Jeanny.
Jeanny tersentak, saat mendengar Agra memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Jeanny.
"Sini."
Jeanny bangkit dari sofa, dan melangkah mendekati Agra duduk dengan ragu-ragu. Jeanny bingung, untuk apa Agra menyuruhnya ikut bergabung dalam perbincangan dengan Yudha.
Jeanny berdiri di samping kursi tempat Agra duduk.
"Sini." Agra menarik tubuh Jeanny, dan mendarat di atas pangkuan Agra.
Jeanny kaget, begitu juga Yudha. Tidak mengira, Agra melakukan itu didepannya.
"Abang..!" seru Jeanny, dan ingin bangkit dari pangkuan paha Agra.
"Diamlah, duduk dengan tenang. Jangan bergerak-gerak, nanti ada yang bangun." bisik Agra ditelinga Jeanny .
Blush..
Pipi Jeanny bersemburat merah, mendengar ucapan Agra yang mesum.
"Tidak usah malu, hanya Pak Yudha. Tidak apa-apa kan Pak Yudha, saya memangku istri saya didepan anda. Tidak mungkin saya membiarkan istri saya berdiri di sisi saya, seperti seorang bodyguard." tutur Agra.
"Tidak apa-apa Tuan, santai saja Nyonya." tutur Yudha dengan perasaan yang bergemuruh, saat menyebut Jeanny dengan sebutan Nyonya.
"Bang, aku duduk di sofa saja." Jeanny berusaha untuk berdiri dari pangkuan Agra.
"Tidak, di sini saja. Pak Yudha juga tidak keberatan."
Agra melingkarkan tangannya di perut Jeanny, sehingga. Jeanny tidak bisa meloloskan diri.
"Saya memanggil anda Pak Yudha, karena....
To be continued