My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏


...***...


Yulia mengumpat dalam kamarnya, satu hari ini dia sungguhi dengan postingan rekan-rekannya yang datang menghadiri resepsi pernikahan Agra Barend.


"Istrinya tidak ada apa-apa dibandingkan denganku." senyum smirk terukir disudut bibirnya.


"Aku lebih cantik, saat tubuh ini sudah kembali langsing. Aku akan mencari perhatianmu Tuan besar Agra, dan aku akan menjadi Nyonya besar." senyum senang terlukis di bibir merah Yulia. Walaupun, dia tidak kemana-mana. Yulia selalu menggoreskan warna merah menyala di bibir tipisnya.


"Sial..! sial..! kurang ajar kau Andi..! gara-gara kau, aku tidak bisa menghadiri pesta. Umpatan mengalir dari dalam mulut Yulia kepada sosok Andi yang telah membuatnya bed rest.


"Anak ini, sangat menyusahkan. Aku kira kau bisa membuat Yudha semakin dekat, ternyata tidak. Kehadiranmu tidak membawa keuntungan bagiku, kau pergi saja. Aku tidak membutuhkanmu lagi..!" seru Yulia seraya meremas-remass perutnya.


Ceklek..


Pintu terbuka.


"Ma, aku tidak mau minum susu lagi..!" seru Yulia.


"Papa tidak membawa susu." suara bariton yang terdengar.


"Papa." Yulia mengangkat kepalanya, saat mendengar suara Papanya.


Darmawan melangkah mendekati ranjang anak semata wayangnya, terlihat raut wajah penuh kekecewaan memandang putrinya tersebut.


"Kenapa kau menjadi seperti ini Nak, Papa tidak mengira. Kau tidak menginginkan bayimu itu." suara hati Papa Yulia.


Papa Yulia mendengar apa yang dikatakan Yulia pada bayinya tadi, karena Darmawan lama berdiri didepan pintu kamar Yulia. Sebelum masuk kedalam kamar Yulia, putrinya.


"Pa, izinkan Lia keluar dari kamar ini. Lia bosan, Pa." wajah Yulia sangat kusut, saat mohon pada Papanya agar diberikan izin untuk meninggalkan kamarnya.


"Tapi, dokter mengharuskan Lia untuk tetap berbaring di atas ranjang. Ingat Yulia, kandunganmu itu sangat rawan untuk keguguran," kata Papanya.


"Aku mengharapkan anak ini gugur, dia sangat menggangguku. Yudha juga tidak menginginkannya, untuk apa aku menanggung ini semua." suara batin Yulia yang sangat jahat.


"Papa tahu, kau tidak menginginkan bayimu. Pasti kau mengharapkan dia akan gugur kan Lia?" dalam benak Papa Yulia*.


"Yulia tidak apa-apa Pa, anak ini kuat," ucap Yulia.


"Tidak Lia, Papa tidak akan mengizinkanmu keluar. Tunggu dua Minggu lagi, baru Papa izinkan," ujar Papa Yulia.


"Papa dan Mama sama saja, mengurung Yulia di dalam kamar ini. Yulia bosan Pa..!" ucap Yulia dengan suara yang keras.


"Jaga suaramu, Yulia! Papa sudah cukup mentolerir sikap kekanak-kanakan mu selama ini. Sikap semaunya, selalu membantah ! betul kata Mama, kami terlalu memanjakan mu. Ini akibatnya, kau tidak..!" Darmawan, tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dadanya terasa sesak, dia langsung memutar tumitnya dan meninggalkan kamar Yulia yang termangu di atas ranjang. Karena mendapatkan kemarahan dari Papanya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya.


Prakk..


Darmawan menutup pintu kamar putrinya dengan keras, sehingga terdengar suara hantaman yang cukup membuat orang yang mendengarnya lari mendekat.


"Pa, ada apa?" Darti, Mama Yulia yang sedang berada di dapur saja mendengar suara dentuman suara pintu yang di tutup suaminya.


"Papa marah dengan anak kita, Ma," ujar Darmawan sembari mengusap dadanya.


"Istighfar, Pa. Tenang, jangan nanti Papa sakit. Sudah, jangan di pikirkan lagi. Apa yang mau dilakukannya, biarkan saja," ujar Darti, sang istri.


Darti, istri Darmawan. Menggandeng tangan suami untuk masuk kedalam kamar.


Keduanya duduk di sisi ranjang, Darti memeluk lengan sang suami. Dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Yulia sudah tidak bisa kita bawa ke jalan yang benar, Ma. Dia sudah terlalu jauh melangkah ke jalan yang salah." Darmawan sangat sedih, karena dia ikut bertanggung jawab membuat Yulia. Putrinya, seperti sekarang ini.


"Mama sangat merasa bersalah, Pa. Jika dulu tidak Mama turuti semua keinginannya, dan memberikan uang..uang kepadanya karena kita sayang kepadanya. Ternyata, ini akibatnya. Kasih sayang dengan memberikan uang yang berlebihan kepadanya, menjadi bumerang." tutur Mama Yulia.


Air mata Mama Yulia sudah tergenang di ujung bola matanya, tangannya mengusap air mata yang ingin meluncur melalui pipinya.


Darmawan mendengar suara isakan dari bibir istrinya, tangannya menepuk-nepuk tangan sang istri yang ada dalam genggaman tangannya.


"Sudah, Ma. Tangisan dan penyesalan kita sekarang ini sudah terlambat. Nasi sudah jadi bubur, mau kita apapun lagi tidak mungkin menjadi nasi lagi."


Keduanya saling menguatkan, untuk menghadapi apa yang akan terjadi kedepannya.


***


Malam berganti pagi, dua anak manusia yang baru saja dipersatukan dalam ikatan yang suci. Yaitu Agra dan Jeanny masih berada di atas ranjang.


Jeanny yang terlalu letih, satu harian semalam. Tidur dalam keadaan tidak beraturan, satu kelemahan Jeanny. Di saat tubuhnya letih, Jeanny tidur sangat lasak. Saat ini, kakinya sudah berada di atas dadanya Agra dan kepala sudah berada di sisi pembaringan.


"Ahh..!" Agra merasa terganggu tidurnya, saat merasa ada benda yang bergerak-gerak didekat wajahnya.


Tangan Agra meraih benda yang menganggu tidurnya, dengan perlahan-lahan matanya terbuka.


"Apa ini?" mata Agra yang belum terbuka sempurna, menelisik benda apa yang dipegangnya.


"Jari kaki?" mata Agra terbuka lebar, saat melihat kaki yang dipegangnya.


"Kaki manusia? tidak mungkin kakiku bisa sampai di dekat wajahku ini? ah.. mungkin kaki boneka Lisa." efek mabuk semalam membuat daya ingat Agra belum sempurna saat bangun di pagi hari, kepalanya masih terasa pusing. Sehingga, dia melupakan bahwa dia sudah menikah.


Agra menekan keras kaki yang dipegangnya, yang dikiranya kaki boneka.


Terdengar lenguhan kecil, membuat Agra kaget. Dengan spontan melepaskan kaki yang dipegangnya. Dan mengangkat kepalanya, untuk melihat kearah asal lenguhan.


Agra melihat, di balik bantal dan guling yang berserakan. Ada tubuh yang sedang tertidur pulas.


"Wanita!? Agra langsung bangkit dan duduk. Kaki yang berada di atas tubuhnya didorongnya menjauhinya.


"Siapa dia? shitt..! apa aku telah meniduri perempuan malam? sialan mereka berdua, mereka telah menjebak ku..!" Agra memijat keningnya yang pusing karena pengaruh minuman keras masih terasa, apalagi saat dia bangkit tiba-tiba. Pusing di kepalanya semakin meningkat.


"Semoga perempuan ini tidak menuntut untuk aku nikahi, tapi. Sepertinya, aku tidak melakukan apapun padanya. Dia masih berpakaian lengkap, aku masih memakai celanaa dalamm." gumam Agra.


"Siapa dia, dari pakaian yang dikenakannya. Dia tidak seperti wanita penghibur, mana ada wanita penghibur tidur dengan memakai piyama karakter kartun bebek begini?"


Agra penasaran dengan perempuan yang tidur bersamanya, Agra menggeser tubuhnya sedikit untuk melihat wajah yang berada di bawah selimut yang melilit tubuh Jeanny.


Tangan Agra menarik selimut yang menutupi wajah Jeanny.


Dan..


"Dia..!?"


...***...


To be continued..


🌹🌹🌹GIVE Away sebentar lagi akan berakhir..ayo Vote.. Vote.. yang mau suvenir dari Author 🙏🙏🌹🌹