
...Happy reading...
...***...
Agra mencium Jeanny dengan perlahan-lahan, tanpa ragu mendapatkan penolakan. Jeanny dapat merasakan sensasi yang mengalir kedalam dirinya. Jemari Agra menyentuh apa yang dapat di sentuhnya. Sedangkan bibirnya, menyesap titik sensitif yang ada ditubuh Jeanny.
Tubuh Jeanny langsung bereaksi, saat titik sensitifnya disentuh oleh bibir dan jemarinya.
Lenguhan keluar dari dalam mulut Jeanny tanpa disadarinya, membuat Agra semakin agresif menyesap dan meraba-raba tubuh Jeanny yang menggeliat di bawah Kungkungan tubuh kekar Agra.
Tubuh Jeanny menerima sentuhan Agra, karena. Agra melakukannya dengan penuh kelembutan, sehingga. Tubuh Jeanny terbuai dengan sentuhan yang baru pertama di rasakannya.
Tangan dan bibir Agra menelusuri tubuh Jeanny dengan penuh kelembutan, sehingga. Jeanny tidak sadar, kini. Tubuhnya sudah polos, begitu juga dengan tubuh Agra. Entah kapan jemari terampil Agra beraksi meloloskan benang yang ada ditubuh Jeanny.
Dinginnya kasur ranjang membuat Jeanny sedikit sadar, tetapi. Bibir dan tangan Agra yang bergerilya meraba dan membelainya, membuat kesadaran Jeanny kembali hilang. Lidah Agra menerobos rongga mulut Jeanny membuat seorang gadis yang baru saja merasakan sensasi yang diberikan Agra melenguh panjang dan lirih.
Agra terus menjelajah ke setiap titik sensitif yang ada ditubuh Jeanny, sedangkan Jeanny hanya pasrah.
"Belai ini sayang." bisik Agra, disela-sela kecupannya yang bertubi-tubi didaratkan nya pada badan Jeanny yang mulai basah karena keringat.
Tangan Agra membawa jemari tangan Jeanny untuk membelai tubuh sensitifnya yang mengeras dan mengacung sempurna, seperti saat Jeanny mengabsen muridnya. Dan muridnya mengacungkan tangan menjawab panggilan Jeanny 😝.
Suhu dingin AC, tidak membuat kedua tubuh yang polos dingin. Tubuh keduanya basah karena peluh mengalir.
Jeanny terus menggelinjang, dan meliukkan tubuhnya. Dia tidak sadar, saat tubuh kekar Agra sudah berada diposisi yang strategis untuk mulai menyatukan kedua tubuh.
Bibir dan lidah Agra terus membelai dan membelit lidah Jeanny, sehingga. Jeanny lupa dengan rasa sakit yang diberikan Agra saat pertama sekali melakukan explorer kedalam area sensitif Jeanny, karena keahlian Agra. Rasa sakit saat penyatuan, tidak dialami oleh Jeanny.
"Ah..!" pekik Jeanny sesaat, saat merasakan ada benda tumpul yang menerobos masuk inti pertahanannya. Tetapi, Agra langsung menghentikan pekikan Jeanny dengan melu-mat bibir Jeanny dengan penuh kelembutan. Sehingga rasa sakit tergantikan dengan rasa nikmat yang diberikan oleh Agra untuk pertama kalinya.
Agra menaikkan, menurunkan tubuhnya dengan lambat.. lambat.. lambat. Baru kemudian, tempo permainan mulai cepat. Dengan dibantu gerakan kasur ranjang berisi air, goyangan Agra tidak membutuhkan tenaganya.
"Argh..!" geraman Agra, saat melakukan pelepasan. Begitu juga dengan Jeanny, jemari tangannya mencakar punggung Agra.
Agra jatuh menerpa tubuh Jeanny, suasana kamar hening. Tidak terdengar suara lenguhan yang saling bersautan tadi, yang ada hanya suara napas yang terengah-engah.
Agra mengangkat wajahnya yang nempel didekat ceruk leher Jeanny, matanya menatap gadis yang kini sudah sempurna menjadi seorang wanita dewasa.
"Sayang." bisik Agra, saat melihat mata Jeanny terpejam.
"Sayang." Agra mengulang kembali memanggil Jeanny.
"Jangan malu, buka matanya sayang." suara lembut Agra membuat dada Jeanny berdesir.
"Ayo, buka matanya. Apa mau Abang lakukan seperti yang baru saja kita lakukan?" tanya Agra dengan nada menggoda, membuat pipi Jeanny merona merah.
Jeanny membuka matanya, dengan malu-malu menatap wajah Agra yang tepat didepan matanya.
"Apa sakit?" tanya Agra.
Jeanny menggelengkan kepalanya.
"Apa Jeanny tidak perawan lagi? kenapa tidak sakit, seperti yang sering Jeanny dengar orang-orang ceritakan?" terlintas didalam pikirannya, dia tidak perawan.
Agra tertawa, mendengar perkataan Jeanny.
"Pikiran dari mana? Abang tadi saja menerobosnya sulit sekali, sampai-sampai Abang tadi mau minta bantuan pelatih sepakbola Indonesia Shin Tae-yong. Untuk melatih jebol gawang dulu." tutur Agra dengan bergurau.
"Hih..!" Jeanny memukul dada Agra.
"Bang, apa bisa Abang menarik keluar?" tanya Jeanny dengan raut wajah yang malu, saat berkata.
"Menarik apa?" Agra tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeanny.
"Tuh..!" Jeanny mengerucutkan bibirnya, menunjuk kearah bawah tubuh keduanya.
Agra melihat kearah bibir Jeanny terarah.
"Sepertinya, dia masih nyaman didalam sarangnya. Dia sudah lama tidak tidur nyaman didalam sarang," ucap Agra ambigu.
"Abang..!" Jeanny mencubit dada Agra kesal.
"Harap maklum, empat tahun dia mati suri. Sekarang, dia masih nyaman. Biar dia istirahat didalam ya..?" Agra menaik-turunkan alisnya.
"Paha Jeanny sakit."
Agra menurunkan paha Jeanny dan memijatnya dengan lembut.
"Abang, tidak usah dipijat. Nanti ITU Abang minta tambah lagi," ujar Jeanny, saat melihat benda kesayangan sang suami masih tegak seperti tiang listrik PLN.
Tawa Agra memenuhi kamar.
"Hanya mijat, tidak minta yang lain. Tapi, jika khilaf. Maafkan saja ya." tawa kecil tercetak dibibir Agra.
Sekarang, bibir Agra lebih sering mengeluarkan senyum dan tawa. Beda dengan dahulu, hanya ada wajah kusut dan datar. Kehadiran Jeanny membawa perubahan yang cukup besar pada kepribadian Agra.
"Lihat, ini bukti. Abang jebol gadis perawan." Agra menunjuk darah disekitar area sensitifnya dan di area sensitif Jeanny.
"Hih.. Abang.." Jeanny menepis tangan Agra yang membelai lembah mulus Jeanny yang terawat.
Jeanny meraih selimut yang teronggok diujung kakinya, dan menutup seluruh tubuhnya. Hanya tersisa leher sampai kepalanya.
Tangan iseng Agra masuk kedalam selimut, dan merayap seperti ular.
Dan
Tangannya berada tempat di atas perut Jeanny.
"Abang..!" pekik Jeanny seraya mencubit tangan Agra yang iseng tersebut.
"Hahaha! maaf..maaf, tangan ini sangat nakal. Abang tidak bisa menahannya untuk tetap diam, lihatlah. Dia ingin merayap lagi." Agra menjalankan dua jarinya di atas selimut yang menutupi tubuh Jeanny yang masih polos.
"Awas ya, Jeanny patahkan jari Abang itu." ancam Jeanny.
"Baiklah, Abang akan disiplinkan jari ini dulu." Agra melipatkan tangannya di dada.
"Bang, pakai selimut..!" titah Jeanny, yang risih melihat Agra telentang dengan tangan di atas dada dalam keadaan polos.
"Gerah pakai selimut, biasakan melihat Abang polos tanpa sehelai benang. Karena, Abang biasa tidur dalam keadaan tanpa busana." tutur Agra dengan mata terpejam.
"Tidur tanpa busana membuat tubuh rileks." Agra memutar balik badannya menghadap Jeanny yang telentang.
"Tidurlah." Agra menarik tubuh Jeanny untuk merapat kepadanya.
Kini keduanya saling bertatapan, dan tidak lama kemudian. Terdengar suara napas yang teratur.
*
*
Albert mondar-mandir didalam apartemennya, setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya yang menjaga Mikaela. Dia terus menghubungi Agra, tetapi pesannya hanya dibaca. Tidak di balas oleh Agra.
"Kemana Agra, semoga Mikaela tidak menemui Agra. Dasa penjaga tidak becus, sepertinya. Aku sudah harus mengevaluasi pekerjaan mereka." gumam Albert.
Ting tong..
Bel apartemen Albert berdentang.
Albert bergegas menuju pintu, karena berharap. Agra yang datang.
Begitu pintu terbuka, yang muncul Eva dengan wajah yang sembab.
Tanpa dipersilakan masuk, Eva langsung menerobos masuk dan kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa dan mengambil bantalan kursi. Lalu menutup wajahnya.
"Kenapa wajahmu seperti tiga hari tidak terpejam?"
"Aku patah hati," sahut Eva.
"Hahaha! setiap bertemu denganmu, kau selalu patah hati. Jadiannya kapan? patah terus..!" ledek Albert.
Eva menurunkan bantalan kursi yang menutupi wajahnya, dan melirik Albert kesal.
"Sialan! mana Michael?" tanya Eva.
"Pulang, kenapa? apa kau rindu ribut dengannya? kalau aku katakan ya, daripada kau mengejar laki-laki yang tidak jelas. Michael kejar."
...****...
To be continued