
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
"Agra, apa yang kami katakan mungkin saja. Kalau tidak dari masa lalu mu, mungkin saja dari orang yang punya dendam masa lalu dengan Om. Tante atau Oma," kata Albert.
"Kita harus menyelidiki itu semua," kata Michael.
"Apa kau berani bertanya kepada Oma?" tanya Agra pada Albert.
"Aku?" tanya Albert.
"Iya, kau yang bertanya pada Oma," kata Agra.
"Bagaimana jika kau saja, kan kau yang cucunya," kata Albert.
"Tapi kalian berdua yang mencurigai masa lalu Oma, Mama dan Papa yang datang meneror," kata Agra.
"Kami curiga, tapi yang bertanya kaulah Bro," kata Michael.
"Betul Bro, kau tanya sembari bergurau." timpal Albert.
"Hahahaha..!" tawa lebar keluar dari mulut Michael.
"Kenapa Ini orang? tertawa tiba-tiba ? apa dia kesurupan?" Albert melihat Michael tertawa tiba-tiba.
"Kesurupan jin," kata Agra.
"Woi.. Michael..!" Albert menimpuk Michael dengan kulit kacang yang sedang dipegangnya.
"Bushet.t! kau kira aku monyet." Michael kaget, kulit kacang tepat menerpa wajahnya. Dan ada yang masuk kedalam mulutnya yang sedang terbuka karena tertawa.
"Apa ada yang lucu?" tanya Albert.
"Kau menyuruh Agra bergurau? Sampai bebek berbulu domba, si Agra itu tidak bisa bergurau. Wajah tanpa ekspresi seperti itu di suruh bergurau," ujar Michael.
Agra menatap malas kepada kedua temannya tersebut, pikirannya masih pada tombaknya masih nyeri. Kini mendapatkan berita mengenai Amir, orang yang membantu peneror.
"Bert, apa kau tidak bisa menyelidiki dari teman-teman Oma, Papa dan Mama?" tanya Agra sembari memijat keningnya yang terasa pusing tiba-tiba.
"Bisa, tapi mungkin lama untuk mendapatkan hasil. Apalagi, kisah lama. kemungkinan, sudah lupa. Tapi, akan aku usahakan," kata Albert.
"Soal biaya, kau kirim semua totalnya kepadaku Bert. Jangan pada Papa," kata Agra.
"Beres Bro," sahut Agra.
🌹🌹
Sesosok tubuh berdiri didalam kegelapan malam, matanya yang tajam menatap rumah besar yang berdiri gagah didepannya.
Tubuh yang ditutupi oleh pakaian berwarna gelap, hanya terlihat dua bola mata yang tajam menatap objek yang sudah hampir lima belas menit menjadi tatapan matanya.
"Kalian semua harus binasa." suara yang lirih terdengar penuh dendam.
"Hei..! siapa di situ..!" suara petugas keamanan yang keliling, melihat orang berdiri didepan rumah keluarga Barend sangat mencurigakan.
Tubuh tersebut berlari dengan cepat, walaupun dari larinya terlihat kakinya tidak sempurna.
"Hei..! berhenti..!" petugas keamanan terus mengejar dan berteriak.
Tetapi, tiba-tiba. Tubuh yang dikejar, hilang di balik rimbunan bunga di taman perumahan.
"Ada apa Budi?" tanya rekannya yang mendapatkan laporan dari Budi, ada orang yang mencurigakan.
"Ada orang berada di depan rumah Tuan Abraham Barend, begitu saya mau samperin. Kabur," ucap rekannya yang mengejar.
"Ayo kita kejar, tidak mungkin hilang. Kalau lari melalui gerbang utama, pasti ketangkap."
"Lari ke arah taman Aing, tapi. Saya lihat, hilang tiba-tiba. Saya merinding Aing," ucap Budi seraya mengelus bulu kuduknya.
"Apa bukan manusia?" tanya Aing.
"Pakaiannya hitam dan panjang, terlihat dari larinya. Kakinya tidak sempurna." Tutur Budi.
"Laki apa perempuan?" tanya Aing.
"Tidak tahu, gelap. Lampu didepan rumah Tuan Abraham Barend mati, tadi waktu saya keliling pertama kali lampu itu masih hidup. Bisa saja itu pria nyamar menjadi wanita, kalau wanita. Larinya sangat kencang sekali, aku saja kalah." Tutur Budi.
"Budi, apa yang terjadi ini kita rahasiakan," kata Aing.
"Kenapa?" heran Budi dengan apa yang dikatakan oleh Aing.
"Apa kau mau di pecat menjadi petugas keamanan di perumahan ini, kau akan kehilangan pendapatan untuk keluargamu," ucap Aing.
"kenapa aku akan di pecat? apa salahku?" Budi masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Aing.
"Petugas keamanan bukan hanya aku, kau juga bisa di pecat. Penjaga gerbang juga bisa di pecat, kenapa bisa ada orang lolos masuk tanpa diketahui." Tutur Budi yang tidak ingin disalahkan padanya.
"Makanya, kita harus rahasiakan! jangan ada yang tahu, siapapun juga. Mulai besok, penjagaan kita perketat..!"
"Baiklah," sahut Budi.
"Apa kita tidak melihat orang yang lari ke taman itu." ujar Budi seraya menunjuk kearah taman didepan mereka berdiri.
"Besok saja, pagi-pagi sekali kita ke sini. Malam begini, aku merinding," kata Aing.
"Ayo, kita lanjutkan keliling." sambung Aing.
🌹🌹
Pagi-pagi sekali, Yulia sudah berada didepan pintu rumah Yudha. Setelah seharian semalam, Yudha tidak membalas pesannya. Dan di kantor Yudha selalu menghindarinya.
Yulia memukul pintu gerbang pintu rumah Yudha dengan keras.
"Siapa pagi-pagi begini datang bertamu?" Susan, Mama Yudha yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuk suaminya merasa heran.
"Siapa itu Ma? seperti orang yang tidak ada sopan santun saja. Gedor-gedor pintu, apa dikiranya kita ini tuli. Apa dia tidak lihat, ada bel ." ngedumel Papa Yudha, karena merasa terganggu waktu paginya.
"Apa Yudha Pa?" tanya Susan.
"Apa Yudha sudah tidak punya kunci rumah? apa dia sedang mabuk?" tanya Hendra, Papanya Yudha.
"Papa ini, anak kita itu tidak pernah mabuk ya. Hanya sekali saja, itu juga karena diberi minum menantu Dajjal itu." Amira masih kesal, jika mengingat apa yang terjadi pada putranya tersebut.
"Siapa itu..?" Hendra bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju ruang depan. Susan mengikuti dari belakang, ditangannya tergenggam pisau kecil. Karena tadi, Susan sedang memotong sayuran untuk campuran mie yang akan dimasaknya untuk sarapan pagi.
"Pa, hati-hati. Mungkin penjahat," ujar Susan.
"Penjahat pagi-pagi? berani sekali," ucap Hendra, Papa Yudha.
Tok...tok...
Pukulan keras terus terjadi.
"Huh.. kemana penghuninya ini? apa belum bangun?" gumam Yulia sembari memukul pintu besi rumah Yudha.
Pintu terbuka sedikit.
"Ya Tuhan..!" ucap Susan, saat melihat Yulia yang menggedor-gedor pintu rumahnya.
Hendra, hanya diam. Ingin marah, wanita yang melakukannya adalah sang menantu. Dia diam, biar sang istri yang menghadapi Yulia. Menantunya tersebut.
"Yulia! apa kau tidak melihat bel di situ? apa matamu itu sudah tidak bisa melihat?" Susan benar-benar kesal menatap wajah menantunya tersebut.
"Hai mama mertua, Papa mertua." sapa Yulia seraya melambaikan tangannya kepada Papa dan Mama Yudha.
"Kau..!" Papa Yudha tidak melanjutkan ucapannya, tangannya menutupi hidungnya. Begitu juga dengan sang istri. Keduanya mundur, menjauhi Yulia.
Bau minuman alkohol tercium dari tubuh Yulia.
"Pa, apa dia mabuk?" tanya Susan pada suaminya.
"Mana Papa tahu, dilihat dari tampangnya itu. Seperti tidak mandi berhari-hari, rambutnya itu seperti sarang tawon." balas Hendra, sang suami.
"Calon ibu seperti apa dia ini? hamil, minum-minuman beralkohol. Sampai mabuk, buat onar di rumah orang." gerutu Susan.
Sedangkan Yulia, yang sedang mereka bicarakan. Bersandar dengan mata terpejam di tembok.
"Hei Yulia, kenapa kau pagi-pagi buat onar di rumah orang?" tanya Susan.
"Mama mertua, aku mencari Papa anakku," ucap Yulia dengan mata yang setengah terbuka.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
GIVE AWAY DARI AUTHOR UNTUK PEMBACA SETIA LAPAK SERI LIN SHI.
UNTUK READER BERUNTUNG.
SUVENIR DAN PULSA😍😍
Dua pemberi vote teratas, akan mendapatkan suvenir.
Pemberi vote 3.4.5 akan mendapatkan pulsa 20 k.
Maaf baru bisa beri kepada 5 reader yang beruntung, semoga makin kedepannya akan bertambah reader yang beruntung 🙏🙏