My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Drama



Happy reading 😍


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Dengan langkah lebar, Agra masuk dan langsung tanpa basa-basi menarik telinga Jeanny. Saking kesalnya dengan apa yang dilakukan oleh Jeanny, menghilang tiba-tiba.


Sontak Jeanny kaget, karena telinganya tiba-tiba ditarik.


"Aduh..!" Jeanny menepiskan tangan yang menarik telinganya, dan mendongak menatap wajah orang yang telah berani menyentuh telinganya.


Mata Jeanny bulat sempurna, menatap sosok Agra yang berdiri menjulang disampingnya.


"Hehehe..! Bang Agra..!" Jeanny menyebut Agra, Abang. Sembari cengengesan.


Agra melotot menatap Jeanny seraya kedua tangannya berlipat didepan dadanya.


"Dia memanggilku Abang, dasar gadis nakal. Karena takut aku marah, dia memanggilku Abang." Agra duduk didepan Jeanny.


"Makan, Bang Agra." Jeanny menawarkan sayap ayam yang dipegangnya, yang tinggal tulang saja. Sedangkan daging sayap sudah menjadi penghuni sementara lambungnya.


"Kau yang makan saja, kenapa kau masuk ke restoran ini tanpa mengatakan padaku?" mata tajam Agra menunggu alasan apa yang akan dikatakannya.


"Aku lapar, perutku sudah memanggil-manggil untuk di isi," ucap Jeanny.


"Kenapa tidak bilang! jangan tiba-tiba menghilang." semprot Agra.


"Apa kau tidak bisa mengatakan, mau makan," ujar Agra.


"Hei..! Bung, bagaimana aku bisa katakan. Kakimu itu berjalan seperti melayang saja, aku masih didepan toko perhiasan. Kau itu sudah berada didepan eskalator, aku letih mengejar langkahmu. Aku lapar, pergi sana! jangan ganggu, selera makan ku akan hilang." Tutur Jeanny.


Jeanny melanjutkan makannya, sedangkan Agra menunggu sembari memainkan ponselnya.


"Jika kau sibuk, pergilah. Tinggalkan aku di sini, aku bisa pulang sendiri," ucap Jeanny.


"Apa kau tidak takut? orang yang menculikmu belum tertangkap. Bagaimana jika orang itu mengulangi perbuatannya?"


Jeanny menghentikan makannya, dan mendorong piring makannya menjauh dari hadapannya.


"Kenapa aku lupa, apa kata Mas Albert. Apa sudah ada kabar?" tanya Jeanny.


"Mas, Albert kau panggil Mas. Aku kau panggil Abang?" protes Agra.


"Kenapa? apa kau mau aku panggil Mas juga, aku manggil Abang hanya kepada orang terdekat saja. Apa kau tidak mau aku anggap sebagai orang terdekatku?"


"Baiklah, kau panggil aku Abang saja." Agra akhirnya mengizinkan Jeanny memanggilnya Abang.


"Cepat selesaikan makannya." titah Agra.


"Aku sudah selesai." Jeanny bangkit dan langsung meninggalkan Agra.


...****...


Kedua orangtuanya Yulia, masuk kedalam kamar tempat Yulia di rawat.


Bugh..


Pukulan keras menerpa tangan Yulia yang sedang tidur, sehingga matanya langsung terbuka.


"Mama, Papa..!"


Yulia melihat kedua orangtuanya berdiri di sisi ranjang, dengan menatapnya dengan tatapan mata marah.


"Kau betul-betul sudah tidak bisa berubah Yulia! apa yang kau lakukan? dengan siapa kau tidur Yulia..!?" tanya Mamanya Yulia.


"Ma, aku tidak tidur dengan siapapun." Yulia tidak mengakui tuduhan sang Mama.


"Kalau tidak dengan pria lain, apa kau lakukan dengan Yudha. Sampai- sampai anak dalam kandunganku bermasalah?"


"Ma, tenang dulu. Jangan ribut Ma, kita berada di rumah sakit," ucap sang suaminya, Darmawan.


"Tenang..tenang Papa katakan! anak ini sudah tidak bisa terselamatkan lagi, pergaulannya sudah membuat kita malu. Selama ini kita membiarkannya saja, apa yang dilakukannya di luar sana. Ini akibatnya, dia akan mencoreng nama kita Pa..!" Tutur Mama Yulia dengan berapi-api.


"Mama curiga, mungkin saja. Anak dalam kandunganmu itu bukan anak Yudha..!"


"Mama..!" Yulia kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mamanya.


"Ma, kita bicarakan di rumah saja. Jangan di sini." Darmawan, sang suami berusaha untuk menenangkan sang istri yang masih meluapkan kemarahannya pada Yulia yang menangis.


"Ma, Yulia anak kita satu-satunya," kata Papa Yulia.


"Anak kita satu-satunya, memang. Tapi, kita tidak bisa memanjakan terus menerus. Lihat, jika tadi tidak terselamatkan. Kita tidak akan punya anak lagi..!" sentak Darti, Mama Yulia.


Selesai meluapkan kekesalannya pada suami dan putrinya, Darti. Mama Yulia keluar dari kamar inap Yulia.


"Pa, Mama Kenapa?" tanya Yulia pada Papanya.


"Mama begitu takut, saat mendengar kau berada dalam kondisi hampir keguguran," kata Darmawan pada putrinya, Yulia.


"Maaf Pa, Yulia tidak hati-hati. Waktu itu, Yulia jatuh." Yulia kembali berbohong.


"Yulia, kau bohong. Dokter sudah mengatakan pada kami, penyebab kau hampir kehilangan anak dalam kandungan ." dalam benak Darmawan, Papa Yulia.


Sebelum menemui putrinya, Yulia. Mama dan Papa Yulia terlebih dahulu menemui dokter yang menangani Yulia.


Dokter mengatakan penyebab pendarahan yang terjadi pada Yulia, yaitu melakukan aktivitas seksual yang terlalu berlebih dalam keadaan hamil.


"Cinta kami yang terlalu besar padamu, membuat kau celaka." dalam benak Darmawan, Papa Yulia.


...****...


Jeanny masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam, dia langsung masuk.


"Dek, kenapa tuh wajah?" suara menyapanya dari ruang keluarga, membuat Jeanny menoleh ke asal suara.


"Abang! jangan ganggu ya. Hati ini lagi kesal.' gerutunya seraya menghempaskan tubuhnya di sofa yang diduduki a Jamie.


"Kenapa? kata Mama tadi mau pergi dengan Agra, apa dia menganiayamu?" tanya Jamie.


"Orang itu sangat menyebalkan Bang, dia super..super menyebalkan. Sudah jam berapa, dia tidak membawa Jean makan! apa dikiranya perut Jean ini tidak perlu diisi."


Jeanny menceritakan apa yang dilakukannya, agar Agra ilfel. Dan membatalkan niatnya untuk menikahinya.


"Dek, jangan lakukan lagi ya. Abang yakin, Agra itu jodoh yang cocok untukmu."


"Abang! dulu Abang ingin membantu Jean, agar tidak menikah dengannya. Sekarang, Kenapa Abang setuju?" tanya Jeanny.


"Karena Abang sadar, Arga bisa melindungi Jean. Waktu Jean kabur, dan Agra yang menolong. Itu satu petunjuk, bahwa Agra itu bisa menjadi pelindungmu." tutur Jamie.


"Abang setuju dengan Arga atau Agra?"


"Ah..nama Agra sangat sulit untuk di ucapkan," ucap Jamie seraya tertawa kecil.


"Beli apa tadi?" tanya Jamie.


"Cincin, Jean beli cincin yang paling mahal. Jean harap Agra marah Bang, tapi. Apa yang Jean inginkan tidak terjadi Bang, Agra tidak marah."


"Ini Bang ." Jeanny menunjukkan cincin yang dibelinya.


"Bagus Jean." puji Jamie.


"Jelas bagus Bang, harganya saja 150k. Gila kan Bang, cincin sekecil ini. seharga satu mobil," kata Jamie.


"Cara buatnya yang membuat cincin ini mahal, dan mata cincin ini. Pasti mahal, Jean."


"Pramuniaga juga mengatakan itu tadi Bang," kata Jeanny.


"Simpan sana Jean, nanti Abang khilaf. Abang bawa untuk di jual," Ujar Jamie.


"Nanti kita jual Bang, jika Jean cerai dengan Agra," ucap Jeanny.


Jemari Jamie menyelentik kening Jeanny.


"Aduh Abang..! kenapa suka sekali menyelentik kening Jeanny, enggak Abang Agra sama saja." Jeanny mengusap keningnya.


"Jangan sekali-kali lagi, keluar kata 'CERAI' dari dalam mulutmu Jean. Bergurau boleh, tapi kata 'CERAI' jangan jadi bahan gurauan." Tutur Jamie.


"Maaf Bang." Jeanny tahu, Abangnya. Jamie tidak suka dengan apa yang dikatakannya.


"Jangan ada kata perpisahan, ingat itu. Apapun yang terjadi, bertahanlah. Tapi jika tidak bisa dipertahankan dan hanya perpisahan yang membuat kedua pihak bahagia, Abang tidak bisa katakan apapun lagi."


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung...