My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Akhirnya, Jeanny menggendong Maura. Begitu juga sebaliknya, Bagas menggendong Lisa. Tawa keempatnya, dalam foto. Tidak terlihat pada wajah Agra yang berdiri tidak jauh dari tempat Jeanny dan Lisa mengambil gambar.


Karena sudah lama Jeanny dan Lisa pergi. Agra mencari keduanya.


Tiba ditempat, Jeanny dan Lisa berada. Mata Agra tajam menatap keduanya, melihat putrinya di gendong pria yang tidak dikenalnya dan istrinya sendiri menggendong anak yang sebaya dengan Lisa. Putrinya.


"Ternyata, mereka bersenang-senang di sini! aku ditinggalkan sendirian di gazebo, dikerumuni lalat." Agra kesal, melihat Jeanny dan Lisa tertawa gembira, tanpa melibatkan dirinya.


"Terima kasih Pak." Bagas menghampiri pria yang membantunya mengambil gambar.


"Semoga keluarga kalian selalu bahagia." pria tersebut menepuk pundak Bagas.


"Amin, Terima kasih Pak, semoga keluarga bapak juga selalu dalam lindungan Allah SWT." balas Bagas.


"Amin," sahut pasangan suami istri tersebut.


"Terima kasih Pak," ucap Jeanny pada pasangan suami istri tersebut.


"Terima kasih kakek, Nenek," ucap Lisa dan Maura secara bersamaan.


"Baik-baik cucu Nenek dan kakek, semoga kita akan bertemu lagi." pasangan suami istri tersebut melambaikan tangannya, dan kemudian berlalu.


Jeanny yang melihat Agra berdiri dipojokkan, membungkukkan badannya dan berbisik pada Lisa. Mata Lisa melihat kearah Papanya.


"Papa..!" seru Lisa seraya berlari menuju Agra berada.


"Senang ya, bersenang-senang di sini. Papa ditinggalkan sendirian?" Agra melirik Jeanny yang cuek dengan kedatangannya.


"Senang Pa, lihat burung. Banyak sekali," ucap Lisa yang tidak ngeh, bahwa Papanya sedang kesal.


"Apa itu suami Jeanny, kelihatannya. Dia kesal." dalam benak Bagas.


"Ayo Pa, Lisa kenalkan dengan teman Lisa dan Papanya." Lisa menarik tangan Agra.


"Ini teman Lisa di sekolah Pa, Maura dan Papa Bagas."


Maura mengulurkan tangannya, Agra menyambut uluran tangan kecil teman putrinya tersebut. Walaupun kesal, tapi. Agra tidak menunjukkannya pada si kecil Maura.


"Saya Bagas, Pak. Papa Maura." Bagas mengulurkan tangannya, dan Agra menyambut uluran tangan Papa teman Lisa.


"Agra, Papa Lisa. Dan Suami Jeanny." Agra menekankan suaranya, saat menyebut sebagai suami Jeanny.


Jeanny melihat wajah Agra sekilas, saat menyebut dirinya sebagai istrinya.


"Istrinya! tadi. Bilang aku terlarut dalam peran sebagai istrinya, dasar pria bunglon. Tidak punya pendirian." dalam benak Jeanny.


"Om, sekarang. Miss Jeanny sudah menjadi Mama Maura," kata Maura seraya memegang jemari tangan Agra.


"Iya Papa, Lisa juga tadi menyuruh Papa Bagas untuk menikah dengan Mama. Biar jadi Mama Maura, seperti Papa menikah dengan Mama. Dan, sekarang. Mama sudah menjadi Mama Lisa, tidak Miss Jeanny lagi," ucap Lisa dengan lancar, keluar dari dalam mulutnya.


Dia tidak tahu, ada dua orang dewasa yang mendengar perkataannya dengan jantung yang tidak karuan. Takut, ada yang salah paham.


"Hah..!" Agra tersentak, mendengar ucapan putrinya.


"Maaf Pak Agra, ucapan anak kecil. Jangan diambil hati." Bagas takut, Agra akan marah kepada putrinya.


Agra menatap wajah Jeanny, yang diam saja duduk.


"Apa Mama mau mendengarkan permintaan Lisa?" tanya Agra.


"Tidak," jawab Lisa sembari menggelengkan kepalanya.


"Tapi, Mama mengizinkan Maura menjadi Mama Maura. Sekarang, Maura tidak manggil Miss Jeanny lagi. Maura manggil Mama, seperti Lisa, iya kan Maura?" tanya Lisa pada Maura.


"Iya, sekarang. Maura punya Mama lagi, tidak hanya Papa, saja" ujar Maura dengan gembira.


"Ternyata, pria ini seorang duda. Dia menggunakan anaknya untuk menggaet wanita untuk menjadi istrinya. Sudah berapa banyak wanita yang menjadi korbannya, awas kau! jika berani-beraninya menggoda istriku." batin Agra yang geram melihat Bagas.


Jika tidak ada anak-anak didekatnya, Agra sebenarnya ingin melayangkan pukulannya yang sudah sejak tadi mengeras.


"Sabar Agra, jangan di sini. Ada tempatnya, kau beri pelajaran istrimu itu." suara hati Agra.


Bagas menjadi serba salah, kedua bocah cilik terlalu bersemangat. Mereka tidak melihat raut wajah Agra yang merah. Bagas melihatnya.


"Tempat yang indah untuk mengambil gambar," kata Agra sambil berjalan menuju Jeanny duduk. Lalu kemudian, Agra meletakkan bokongnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Indah Pa, lihat di sana Pa. Banyak burung bangau," ujar Lisa.


"Iya, tadi kita ambil gambar. Bangau warna pink tidak ada," ucap Lisa.


"Bagaimana jika kita ambil gambar sekarang, tadi Papa tidak ikut," ucap Agra tiba-tiba.


Jeanny langsung menoleh menatap Agra, matanya memicing. Sepertinya, dia curiga dengan perubahan Agra tiba-tiba.


"Ayo Pa, cepat! sebelum bangau warna pink pergi." Lisa sangat bersemangat.


"Ayo sayang." Agra menarik Jeanny untuk berdiri, dan merangkulnya dengan cukup erat.


"Tadi sudah banyak mengambil gambar, Abang saja dengan anak-anak." tolak Jeanny untuk foto bersama dengan Agra.


"Suami yang sebenarnya tadi tidak ikut mengambil gambar, kau mengambil gambar dengan calon suami yang dikatakan Lisa. Sekarang, kau mengambil gambar dengan suami yang sebenarnya. Ayo Nyonya." bisik Agra.


"Ternyata, Abang terlalu larut dengan peran sebagai suamiku." Jeanny membalikkan apa yang dikatakan Agra tadi kepada.


Agra semakin memeluk erat tubuh Jeanny, sehingga. Tubuh Jeanny menempel ke tubuh Agra.


"Pak Bagas, tolong ambilkan gambar saya dengan istri dan anak-anak." Agra minta tolong pada Bagas, dan menyodorkan ponselnya pada Bagas.


"Iya Pak." Bagas mengambil ponsel Agra.


"Ayo anak-anak, kita ambil gambar." Agra memanggil Lisa dan Maura.


Agra tidak membuang kesempatan, dia terus menyuruh Bagas mengambil gambar dia berdua dengan Jeanny, Lisa dan juga Maura.


Tiba-tiba


Agra mengangkat Jeanny, ala bridal style.


"Abang..!" seru Jeanny kaget, karena tiba-tiba tubuhnya melayang dan berakhir didalam gendongan Agra.


"Diam, jika tidak ingin berakhir di bawah." ancam Agra.


Lisa dan Maura tertawa, sembari bertepuk tangan dengan gembira. Melihat Jeanny di gendong oleh Agra.


"Anak-anak, izinkan Papa foto berdua dengan Mama Jeanny ya," ujar Agra pada Lisa dan Maura.


"Oke Papa," jawab Lisa.


"Tolong Pak Bagas."


"Baik Pak Agra." Bagas mengambil gambar Jeanny dalam gendongan Agra.


Cup..


"Abang..!" Jeanny tersentak, saat tiba-tiba Agra mendaratkan bibirnya di pipi Jeanny.


Agra tak bergeming, bibirnya menempel lama di pipi Jeanny. Matanya menyorot tajam menatap wajah Jeanny.


Jeanny terdiam, mendapatkan tatapan tajam mata Jeanny


Agra menempelkan bibirnya di pipi Jeanny dengan lama, dan baru menurunkan Jeanny.


"Pria mesum, tidak mengenal tempat. Main sosor saja." batin Jeanny ngedumel.


Agra tidak perduli dengan kekesalan Jeanny.


"Terima kasih," ucap Agra, saat menerima ponselnya yang diberikan oleh Bagas.


"Maura, ayo kita pulang," ucap Bagas pada sang keponakan.


"Maura masih mau bermain dengan Lisa." Maura menolak, saat diajak pulang Bagas.


"Maura, jangan nakal. Kita tidak akan pergi main lagi, jika Maura tidak nurut kata," ucap Bagas pada keponakannya.


Jeanny menghampiri Maura, dan jongkok didepan Maura.


"Maura, dengar kata Papa Bagas ya. Nanti kita main lagi." bujuk Jeanny, agar Maura mau dibawa pulang.


Akhirnya, Maura mau dibawa pulang Bagas. Setelah di janjikan akan main dengan Lisa dan Jeanny pada hari Minggu.


Agra pura-pura tidak mendengar dengan apa yang terjadi, dia fokus melihat gambarnya bersama Jeanny didalam ponselnya. Yang sebenarnya, telinganya terbuka lebar mendengar apa yang mereka perbincangkan.


"Jangan harap aku mengizinkan istriku pergi bersama dengan duda itu, alasan anak..cih..." batin Agra.


...****...


To be continued