
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹...
"Bibir Yudha dan bibir duda, rasanya seperti di cium kuda Nil," ucap Jeanny ketus.
"Aku belum pernah di cium kuda Nil, apa kau pernah?" tanya Bella dengan tertawa , melihat Jeanny kesal.
"Aaarhg..! jangan ingatkan aku dengan yang namanya ciuman..!" pekik Jeanny kesal.
Jeanny mengambil bantal, dan menutup wajahnya.
"Jean, antara Yudha dan si duda. Mana yang lebih hot ciumannya?" tanya Bella.
"Kau mau tahu?" Jeanny duduk bersila di atas ranjang.
"Iya, mana yang lebih hot? Mas duda atau Mas Yudha, cara kedua memainkan lidahnya di bibirmu?" tanya Bella seraya memperagakan dengan memonyongkan bibirnya dan menjulurkan lidahnya.
Bug.
Bantal mendarat ke tubuh Bella.
"Huh..kau pelit sekali, aku kan ingin tahu rasa ciuman bibir duda dan bibir perjaka," ujar Bella seraya mengerutkan bibirnya dan bergerak kiri dan kanan.
"Jijik aku lihat bibirmu itu." kesal Bella.
"Bibir duda tidak jijik kan? pasti tadi kau membalas lummatan bibirnya dengan bergairah, iya kan?" ledek Bella.
"Kenapa otakmu mesum? siapa yang mengajarimu?" Jeanny melotot menatap Bella yang senyum-senyum tidak jelas.
"Dari baca novel, dan lihat drama Korea yang romantis," sahut Bella.
"Jauhi baca novel mesum, nanti otakmu terkontaminasi," ujar Jeanny.
Jeanny turun dari ranjang, dan mengambil tasnya.
"Kau mau kemana?" tanya Bella.
"Pulang, lama-lama di rumahmu. Otakku ikut mesum," jawab Jeanny.
"Jean, jangan ingat ciumannya saat tidur malam ya." goda Bella.
"Bushet..!" umpat Jeanny dari bibir pintu kamar Bella.
🌹🌹
Dalam kamar Agra uring-uringan karena merasa daerah sensitifnya yang ditendang oleh jeanny masih terasa sakit dan berdenyut.
"Damn..! Sakit sekali, dasar gadis kurang ajar. Bisa-bisanya dia menendang barang berharga ku, awas kau! aku akan memberi pelajaran kepadamu. Dasar gadis bodoh..!" umpatan terus meluncur dari dalam mulut Agra.
Biasanya Agra tidak pernah mengumpat, kini. Mulutnya lancar mengumpat, karena kesal dengan perbuatan Jeanny yang menendang bola bekel dan pedangnya.
"Apa dia tidak tahu, benda keramat ini jika kena tendang akan fatal bagi kaum pria. Aku hanya menciumnya, dia menendang ku, tidak setimpal."
"Sakit sekali, apa aku harus ke dokter? apa kata dokter nanti bila aku tunjukkan bagian tubuhku yang sakit ini. Pasti dokter akan mengira, aku telah melakukan pelecehan pada gadis."
Agra merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, dia membuka resleting celananya. Karena saat terbaring, terasa aset berharganya terjepit dan terasa sakit.
"Aku harus ke dokter, tidak bisa didiamkan seperti ini. Apa aku ketempat Fandi saja, ah... tidak! jika Fandi tahu, semua pasti tahu apa yang aku alami. Mulut Fandi itu bocor kasar."
"Ke rumah sakit lain saja, aku tidak tahan lagi. Kalau tidak ke rumah sakit, bagaimana jika bengkak nanti? ah.. gara-gara gadis bar-bar itu, pasti tidak akan ada pria yang mau dengannya. Orangnya kasar." Agra ngedumel terus, karena merasakan denyutan di area sensitifnya. Sehingga, Agra menjadi sensi.
Agra bangkit dan mengganti celananya dengan celana karet yang longgar, agar aset berharganya tidak terjepit.
Agra keluar dari dalam kamarnya dengan mengendap-endap, dia takut penghuni rumah akan melihat cara jalannya yang aneh. Dan sudah dapat dibayangkan, Oma dan Mamanya pasti akan bertanya apa yang terjadi padanya. Dan tidak akan berhenti bertanya, jika belum tahu penyebabnya.
Sampai didekat mobilnya, Pak Dudung yang sedang membersihkan mobil menatap heran. Melihat Agra berjalan seperti habis di sunat.
"Den, kenapa?" tanya Pak Dudung.
"Tidak apa-apa Pak, paha saya tiba-tiba tumbuh bisul. Dan saya ingin ke dokter."
"Ohh! apa perlu saya antar Den?" tanya Pak Dudung.
"Tidak usah Pak, saya masih bisa bawa mobil," ujar Agra.
Agra masuk kedalam mobilnya.
"Hati-hati Den," ucap Pak Dudung.
Agra hanya menganggukkan kepalanya dari dalam mobil.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Agra terus merasa tidak nyaman. Karena kondisi pahanya yang harus sedikit merapat, membuat pedang dan bola bekelnya tidak berhenti berdenyut.
"Seharusnya aku terima saja tawaran Pak Dudung tadi, begitu sakit duduk di bangku kemudi ini. Paha tidak bisa dibuka lebar-lebar, ah..! aku membenci gadis itu." umpat Agra.
"Kenapa juga aku sampai menciumnya, bibirnya yang komat-kamit mengomel yang membuat aku tidak tahan ingin menyentuhnya. Aku telah bersalah padamu Malika." Agra menyesali apa yang dikatakannya, yaitu mencium Jeanny. Karena telah mengkhianati cinta istrinya.
Setengah jam kemudian, Agra sudah berada didepan praktek dokter yang akan mengobati asetnya yang terus berdenyut. Yaitu dokter spesialis Urologi, itu juga setelah Agra browser di internet. Karena dia bingung harus ke dokter apa, akhirnya. Agra memilih untuk mengunjungi spesialis kulit dan kelamin.
Agra memakai topi dan kacamata hitam, takut ada orang yang mengenalinya. Untung, praktek dokter spesialis kulit dan kelamin sepi pasien. Sehingga, Agra tidak perlu mengantri.
"Apa keluhannya Pak?" tanya dokter yang terlihat masih terlihat muda.
Agra ragu untuk mengatakannya, matanya melirik sekilas kearah suster yang berdiri di samping meja praktek dokter Samuel.
Dokter Samuel tahu, Agra malu dengan suster yang ada dalam ruangannya.
"Katakan saja Pak, jangan khawatir. Apa yang terjadi didalam ruangan ini, tidak akan keluar dari dalam sini. Jika keluar, pemecatan akan terjadi, ya kan suster?" dokter Samuel melihat kearah suster.
"Ya, Pak. Jangan khawatir, apa yang terjadi pada bapak tidak akan ada yang tahu. Rahasia pasien terjaga di rumah sakit ini Pak," ucap suster.
"Begini Pak, saya mengalami insiden saat sedang melakukan olahraga. Ini saya kena tendang," ucap Agra.
"Ujung tombak saya." sambung Agra.
"Ujung tombak?" dokter Samuel bingung dengan ucapan Agra.
"Dok." suster membisikkan sesuatu ke telinga dokter Samuel.
"Hoh.. hehehe..! bapak, ada-ada saja. Saya bingung dengan ujung tombak yang bapak katakan," ucap dokter Samuel sambil tertawa kecil.
"Silakan baring Pak, biar saya periksa." titah dokter Samuel pada Agra.
"Sekarang Pak?" tanya Agra.
"Iya Pak, apa bapak mau tunggu sampai besok baru di periksa," ucap dokter Samuel.
"Tidak Pak, sekarang saja. Tunggu besok. Saya takut tombak saya akan mati total, tidak bisa ditombak kan lagi," kata Agra seraya baring di atas ranjang pasien.
"Buka pak." titah dokter Samuel.
"Buka!" Agra kaget, karena di suruh buka celana. Sedangkan suster masih ada didekatnya.
"Iya Pak, bagaimana saya mau periksa. Jika saya tidak melihat tombak yang bapak katakan sakit," kata dokter Samuel.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...