
Jangan lupa untuk menekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...****...
"Dia bukan Malika..!" ucap Agra begitu tiba di luar kamar.
"Hah..!" mata Albert bulat sempurna.
"Yes..! aku sudah yakin, dia bukan Malika..!" seru Michael dengan gembira.
"Dari mana kau tahu?" tanya Albert.
"Kau tadi balas memeluknya, dan aku mengira. Itu Malika." sambung Albert.
"Dengan cara memeluknya, kau sudah. Bahwa dia bukan Malika?" tanya Michael.
"Ada tiga yang membuktikan, dia bukan Malika," kata Agra dengan wajah yang serius.
"Aku memeluknya, untuk membuktikan kecurigaan pertama. Pertama, Malika tidak pernah memanggilku 'Mas'. kedua, Malika ada tanda luka di leher belakang. Perempuan tadi tidak ada, dan ketiga. Malika ada tanda di lengan atasnya, perempuan tadi tidak ada." Agra menuturkan, tanda-tanda yang ada pada Malika yang tidak dipunyai oleh Mikaela.
"Tandanya, dia Mikaela," kata Albert.
Agra menganggukkan kepalanya.
Albert mengeluarkan tanda indentitas Mikaela yang ditemukan di dalam tas Mikaela.
"Ini." Albert memberikan kartu identitas Mikaela pada Agra.
"Warganegara Belanda, dia pasti masih ada hubungannya dengan Malika. Tetapi, kenapa Malika tidak pernah menyebutkan dia mempunyai saudara kembar?" Agra memberikan kembali pada Albert kartu identitas Mikaela.
"Agra, mungkin. Mikaela ini ada hubungan dengan teror yang kau terima belakangan hari ini," kata Michael.
" Apa mungkin?" tanya Agra.
"Mungkin, coba. Kenapa dia menyamar menjadi Malika?" tanya Albert.
"Terus, apa yang akan kau lakukan Agra? kita buka penyamarannya?" tanya Michael.
"Kita ikuti permainannya, apa motif dia menyamar menjadi Malika," kata Agra.
"Bert, kau beri pengamanan. Tapi jangan terlalu terlihat, mungkin. Dia tidak bermain sendiri," kata Agra.
"Baik, aku akan menghubungi anak buahku. Untuk menambah orang." Albert mengeluarkan ponselnya, dan sedikit menjauh dari depan kamar inap Mikaela.
"Gara-gara, gadis penipu. Kau terpaksa meninggalkan istrimu," kata Michael.
"Shitt..!" umpat Agra, karena melupakan Jeanny.
"Ada apa?" tanya Michael mendengar Agra mengumpat.
"Aku lupa, Jeanny aku tinggalkan di kantin," kata Agra.
"Apa!? kau melupakan istrimu? Kau sungguh sungguh-sungguh keterlaluan, Agra..!" Michael menggelengkan kepalanya, menatap Agra yang
Agra mengeluarkan ponselnya, ingin menghubungi Jeanny. Tetapi, Agra melihat pesan yang dikirim oleh Jeanny. Agra membaca pesan dari Jeanny.
Jeanny
(Aku pulang, selamat bertemu dengan istrimu. Selamat bernostalgia)
Agra mengambil kertas perjanjian dalam saku jasnya, dan menulis sesuatu didalam kertas perjanjian itu.
"Berani kau meninggalkanku," ujar Agra setelah selesai menambah satu point dalam perjanjian yang dibuat oleh Jeanny, dan menyimpannya kembali kedalam saku jasnya.
"Jeanny, meninggalkanmu? jika aku juga sebagai istrimu, pasti aku akan melakukan apa yang dilakukan Jeanny sekarang ini. Pergi yang jauh, dan tidak bisa kau temukan lagi," ujar Michael.
"Tutup mulutmu..!" umpat Agra pada Michael.
Agra menghubungi nomor Jeanny, tetapi. Panggilan Agra tidak diangkat oleh Jeanny.
"Ada apa?" Albert kembali, setelah selesai berbicara dengan anak buahnya. Dan mendengar Agra mengumpat.
"Agra, ditinggalkan istrinya." Michael tertawa.
"Jeanny, dia menunggu di kantin," kata Albert pada Agra.
"Dia pulang," ujar Michael.
"Dia sudah berjanji padaku, dia menunggu di kantin," kata Albert.
"Tidak! dia mengirimkan pesan, dia pergi," kata Agra yang terus mencoba untuk menghubungi Jeanny.
"Sialan kau Jeanny..!" seru Agra, saking kesal. Karena telepon tidak diangkat oleh Jeanny.
Michael dan Albert tertawa kecil, melihat seorang Agra marah. Karena teleponnya tidak diindahkan oleh seorang wanita untuk pertama kalinya, biasanya. Agra yang tidak memperdulikan panggilan seorang wanita yang masuk kedalam ponselnya, kini. Agra yang diabaikan.
Agra mengeluarkan surat perjanjian dalam saku jasnya, dan memberikan pada Michael.
"Pegang." titah Agra.
"Apa ini?" Michael bingung, dengan kertas yang diberikan oleh Agra.
"Pegang lebih tinggi, di depan wajah..!" Agra tidak menjawab pertanyaan Michael.
Dia menyuruh Michael memegang didepan wajahnya, dan Agra mengambil gambar.
"Kertas apa itu Agra?" kini Albert yang bertanya.
Agra tidak menanggapi pertanyaan Albert dan Michael.
"Berikan." Albert mengambil kertas tersebut dan membacanya, Albert tersenyum membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
"Ada apa Bert?" tanya Michael.
"Baca sendiri," ujar Albert seraya menyerahkan surat perjanjian yang ditulis oleh Jeanny.
Sedangkan Agra sibuk dengan ponselnya.
Dert..
Ponsel Agra bergetar, Agra mengangkatnya. Dan terdengar suara dari seberang telepon, suara orang marah-marah.
Jeanny
(Mana ada perjanjian tidak boleh meninggalkan suami? kau menambahkan point itu)
Ucap Jeanny dari seberang telepon.
Agra
(Bukannya kau yang menyuruh aku boleh menambahkan sepuluh point dalam perjanjian. Tadi, aku baru menambahkan dua point. Ada delapan point lagi. Dan sekarang kembali kerumah sakit, jika tidak. Aku akan..)
Agra tidak melanjutkan ucapannya, karena melihat kedua temannya menatapnya.
Jeanny
(Agra...! kau menyebalkan..!")
Jeanny berteriak mengumpat Agra, sehingga Agra menjauhkan telepon dari gendang telinganya.
Agra
(Aku tunggu, dalam 15 menit. Harus sudah sampai di rumah sakit)
Titah Agra dari sambungan telepon.
Tut .Tut .Tut..
Jeanny langsung memutuskan sambungan telepon.
Bibir Agra tersenyum, membayangkan Jeanny ngamuk dan mengumpat dirinya.
Michael dan Albert heran melihat Agra tersenyum, karena sudah lama tidak melihat Agra tersenyum.
"Bert, sepertinya. Ada teman kita sedang jatuh cinta."
"Iya, lihatlah. Dia tersenyum sendiri." balas Albert.
"Siapa jatuh cinta?" tanya Agra pada Albert dan Michael.
"Siapa lagi? sudah pasti Tuan Agra Barend, aku lihat. Jeanny sudah berhasil mencairkan es batu didalam hatimu itu," kata Albert.
"Siapa bilang aku jatuh cinta? cintaku sudah mati, dengan meninggalnya Malika," ucap Agra dengan raut wajah yang muram.
"Aku akan membalas wanita yang telah berani menyamar menjadi Malika..!" geram Agra, mengingat perempuan yang mirip dengan Malika yang ada didalam kamar.
Matanya tajam melihat pintu kamar, di mana, sang penyamar sedang terbaring.
"Agra, apa mungkin wanita itu saudara Malika. Dan dia marah, karena mengira kau yang menyebabkan kecelakaan yang menyebabkan Malika meninggal," kata Albert.
"Bisa jadi Agra." timpal Michael.
"Kecelakaan itu, aku tidak bersama dengan Malika. Bagaimana bisa dia dendam dan ingin membalas ku? di sini, aku yang paling merasa kehilangan. Aku kehilangan istri dan putriku kehilangan Mamanya.
"Mungkin dia salah paham," kata Michael.
"Aku merasa, bukan itu motifnya. Pasti ada hal yang lain, membuat dia menyamar menjadi Malika.
Jeanny yang datang tanpa disadari kedatangannya oleh Agra, langsung melayangkan kakinya menendang tulang kering kaki Agra.
Michael dan Albert melihat, tapi. Kalah cepat dengan kaki Jeanny.
"Aduh..! Jeanny, kau istri durhaka..!" seru Agra sembari memegang kakinya yang sakit.
"Biar! aku istri durhaka. Abang itu suami dzolim..!" balas Jeanny.
"Hus..! ini di rumah sakit, selesaikan masalah kalian di rumah. Dan, diselesaikan di atas ranjang lebih bagus," kata Michael dengan bergurau.
"Diam...!!" ucap Agra dan Jeanny secara bersamaan.
"Hups..!' Michael menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kalian berdua ini sangat cocok," ujar Albert.
...****...
To be continued