
Happy reading 😍
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
"Kalau tidak ada masalah dengan keluarga Barend, kenapa kau mengancaman kepada keluarga Barend?" tanya Michael.
Amir tidak menjawab, hingga membuat anak buah Albert melayangkan pukulan kembali ke bagian kakinya.
"Aaarhg..! cukup Tuan, akan saya katakan. Saya dibayar untuk melakukan itu Tuan," ucap Amir.
Agra bangkit dari duduknya, dan jongkok didepan Amir. Kemudian, jemari Agra mencengkram wajah Amir dengan keras. Sehingga Amir menjerit kesakitan.
"Ampun Tuan..!" pekik Amir.
"Katakan! siapa yang sudah memerintahkan mu untuk menganggu keluargaku?" tanya Agra dengan wajah yang terlihat memerah karena marah.
"Anda siapa? kenapa ikut campur?" Amir bukan menjawab pertanyaan Agra, dia balas bertanya pada Agra kenapa ikut campur dengan masalah orang yang tidak ada hubungannya dengannya.
"Lepaskan aku Tuan, aku akan memberi Anda uang. Orang yang membayarku banyak uang, dan dia sanggup menggelontorkan uang untuk menghancurkan keluarga Barend." Amir berusaha untuk mempengaruhi Agra, karena dia mengira orang yang berada didepannya hanyalah orang suruhan seperti dirinya.
"Kau ingin membawaku untuk menjadi orang brengsek sepertimu...! demi uang sanggup melakukan kejahatan?" cengkraman jemari Agra semakin kuat mencengkram wajah Amir, sehingga membuat Amir meringis menahan sakit.
"Aku mengajakmu untuk mendapatkan uang cepat, kau bodoh! jika tidak mau." Amir tetap ingin mempengaruhi Agra, walaupun wajahnya terasa sakit akibat tangan Agra.
"Oh ya! kau ingin mendapatkan uang dengan cara cepat, dan tidak halal Bro?" tanya Michael.
"Kalau perut lapar, aku tidak perduli dengan halal dan tidak halal..!" seru Amir.
"Kami tidak sepertimu, jangan banyak bacot! katakan, siapa yang telah menyuruh untuk melakukan itu semua? katakan...!" seru Albert didepan wajah Amir, sehingga Amir terkejut. Karena suara lengkingan suara Albert tiba-tiba menerpa gendang telinganya, dan muncratan air ludah Albert mengenai wajahnya.
"Buka penutup mataku! baru aku menjawab apa yang kalian tanyakan." Amir belum menyerah, dia terus berusaha untuk bernegosiasi. Agar orang yang menangkapnya bisa melepaskannya.
"Sudah mau mati, kau masih berani menawar, cepat katakan..!" ucap Albert.
"Tenang Bro, biarkan saja apa yang mau dikatakannya. Kita kasih kesempatan dia untuk berkata-kata, sebentar lagi dia tidak akan ada waktu untuk berkata-kata. Oh ya, apakah kau ingin mengucapkan kata perpisahan untuk istri dan anakmu di rumah? mungkin saja kau pulang nanti sudah berada di dalam peti mati." ancam Michael
"kalian berani membunuhku! apa kalian tidak takut? aku ini jawara dari Gunung Manapa!"
"Kami tidak perduli Kau berasal dari mana, dari gunung Ciremai atau dari gunung Krakatau. Jawab saja apa yang kami tanyakan tadi, jangan banyak bacot. Kami sudah cukup sabar menghadapimu, sekarang. Kami tidak akan memberimu peluang untuk bicara lagi katakan..!" seru Albert.
Bug...
Kaki Albert melayang menendang perut Amir, kesabarannya sudah habis.
"Ampun...!" mohon Amir.
"Kau tidak ingin hidup lagi, baiklah. Kau ingin menjanda kan istrimu ya? Hei..kalian, apa kalian ingin menikah dengan istri pria ini. Jika pria ini nanti mati?" tanya Michael.
"Kami sudah punya istri Tuan, tapi untuk menjadi simpanan. bolehlah..!" jawab seorang pria anak buah Albert, sembari tertawa ngekeh dengan suara seraknya.
"Gila! kalian sudah gila! jangan ganggu anak dan istriku, mereka tidak bersalah," ucap Amir yang mulai khawatir, karena anak dan istrinya dilibatkan dengan masalah yang dihadapinya.
"Kau bisa mengatakan jangan ganggu Anak dan istrimu, tapi kau mengganggu kehidupan keluarga Barend dengan cara meneror," ucap Agra.
"Bukan mau ku," sahut Amir yang sudah mulai lunak, karena takut anak dan istrinya di ganggu.
"Katakan! jangan mengulur-ulur waktu, tidak akan ada orang yang akan datang untuk menolong. Hanya dirimu sendiri yang bisa menyelamatkan dirimu keluar dari tempat ini, jika kau tahu dimana kau saat ini berada. Kau pasti sudah kencing di celana." Michael berusaha untuk membuat Amir takut.
"Baiklah, jangan siksa aku lagi. Tolong, jangan ganggu istri dan anakku. Mereka tidak tahu apa-apa." Amir sudah lunak, karena takut dengan keselamatan keluarganya.
"Katakan siapa yang membayar mu?" tanya Agra.
"Kau masih ingin bermain-main dengan kami?" Albert geram, karena perkataan Amir yang tidak mengenal orang yang membayarnya.
"Betul Tuan, saya tidak mengenal orang itu," ucap Amir yang tidak mengakui tidak mengenal orang yang telah membayarnya.
"Kau bohong!" seru Agra.
"Betul Tuan, saya tidak bohong. Orang itu menemui saya, saat saya masih bekerja sebagai sekuriti di perusahaan PT Star Barend. Orang itu mengajak saya berbincang-bincang, dan mengiming-imingi saya akan memberikan saya imbalan yang cukup banyak. Dan tanpa pikir panjang, saya menyanggupi permintaannya. Karena saya berpikir, saya hanya disuruh untuk menulis kata-kata ancaman di perusahaan." cerita Amir panjang lebar.
"Kau jangan bohong," kata Albert.
"Saya tidak berbohong Tuan, wanita itu hanya menyuruh saya menakut-nakuti dengan menulis kata-kata ancaman," kata Amir.
"Wanita!? orang itu wanita?" tanya Agra kaget, karena tidak mengira. Orang yang meneror seorang wanita.
"Iya Tuan, dia seorang wanita," sahut Amir.
"Bagaimana rupanya? apa dia muda, setengah baya atau orang tua?" selidik Albert.
"Saya tidak tahu Tuan," jawab Amir.
"Sepertinya, kau harus mendapatkan perawatan medis. Biar mulutmu itu tidak hanya menjawab dengan perkataan tidak "TAHU" saja," kata Agra kesal, dengan jawaban Amir yang keluar dari mulutnya.
""Apa yang saya katakan benar Tuan, karena saya tidak pernah melihat wajahnya. Dia memakai busana tertutup, wanita itu memakai cadar," ucap Amir.
"Memakai cadar?" tanya Michael.
"Iya Tuan, saya tidak bohong. Percayalah, jika anda tidak percaya. Saya akan memperlihatkan gambar wanita itu, karena saya pernah mengambil gambar wanita tersebut dengan secara diam-diam," ucap Amir.
"Mana gambar wanita itu, kau jangan berusaha untuk menipu kami. Tunjukkan." titah Albert.
"Ada di ponsel saya Tuan," ujar Amir.
"Mana ponselmu, jangan katakan hilang," ujar Michael.
"Ada didalam saku celana saya Tuan," jawab Amir.
Albert memerintahkan anak buahnya untuk mengambil ponsel Amir dari dalam saku celananya.
Lalu kemudian, anak buah Albert memberikan ponsel tersebut kepada Albert.
Albert membuka ponsel Amir dengan mudah, karena Amir tidak mengunci ponselnya tersebut.
"Dimana kau menyimpan gambar wanita itu?" tanya Albert.
Amir mengatakan di file apa dia menyimpan gambar wanita tersebut.
"Lihat." Albert menunjukkan gambar punggung wanita yang memakai baju panjang, dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Damn..!" Umpat Agra kesal, karena rupa wanita tersebut tidak terlihat sama sekali.
"Siapa wanita ini?" gumam Agra, keningnya berkerut.
"Kau tidak ada petunjuk, siapa orang yang menaruh dendam dengan keluarga Barend. Apa Om, Tante. Atau mungkin Oma Gracia, mungkin ada yang membenci mereka?" tanya Michael.
...Agra menggelengkan kepalanya....
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...