My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...**...


"Oma tidak mau tahu, Lisa. Cucu Oma, Lisa tetap berada di keluarga Barend..!" perkataan tegas yang keluar dari dalam mulut Oma, membuat Agra dan Jeanny menarik napas dengan lega.


Ketakutan Agra mendapatkan penolakan dari Oma, tidak terjadi.


Jeanny langsung berdiri dan beranjak mendekati Oma dan langsung memeluk Oma Gracia.


"Terima kasih Oma, Jeanny takut. Oma menyuruh kami untuk memberikan Lisa kepada ayah biologisnya," ucap Jeanny.


Alma menangis, dia lega. Mama mertuanya, ingin tetap Lisa bersama dengan keluarga Barend.


"Oma tidak sejahat yang ada dalam pikiran kalian, Oma tidak akan memberikan Lisa kepada orang yang datang-datang main klaim. Kita tidak tahu, bagaimana orang itu. Lisa sudah bersama dengan kita sejak dia berusia satu tahun, walaupun dalam darahnya tidak mengalir darah Barend. Tapi, dia sudah bersama kita selama lima tahun. Oma tidak ingin kehilangannya, Agra. Kau harus lakukan apapun untuk mempertahankan Lisa, Oma tidak ingin kehilangannya." tutur Oma Gracia.


Oma Gracia ingat, saat umur Lisa satu tahun. Malika meninggal, baru mereka menemui Lisa. Karena mereka tidak ingin melihat istri Agra, Malika.


"Tidak usah khawatir Oma, Lisa itu secara hukum. Anak Agra, dia tidak akan bisa mengambilnya. Walaupun dia ayah kandungnya," kata Agra untuk menenangkan Oma Gracia yang khawatir kehilangan Lisa.


"Uang bisa membuat yang mungkin menjadi tidak mungkin, Agra. Kau jangan merasa menang, hanya mengantongi surat kartu keluarga," kata Abraham pada Agra.


"Iya, Bang. Bagaimana jika Abang konsultasikan dengan Mas Albert, dia kan seorang pengacara," kata Jeanny.


"Betul, Agra. Jangan lengah." timpal Alma.


"Jika ada si Celaka itu di depan Oma, sudah Oma remas wajahnya. Kau itu Agra, terlalu dibutakan oleh cinta. Apa yang diberinya padamu, sehingga kau menutupi penipuannya sekian tahun. Apa yang Oma curigai dulu, mungkin saja. Kau itu sudah kena pelet oleh wanita itu, Maharani itu ratu pelet. Mantan suaminya bertebaran di semua sudut kota," kata Gracia.


"Oma, siapa si Celaka?" tanya Jeanny.


"Siapa lagi, mantan istri suami Jean itu." Oma mengerucutkan bibirnya menunjuk Agra.


"Hahaha.. Oma, ada-ada saja." tawa Jeanny dan lain pecah, menertawakan Agra yang hanya diam.


"Maaf, Agra ngaku salah. Agra malu, saat mengetahui Agra sudah dikelabui oleh Malika," kata Agra.


"Karena itu kau diam, jika laki-laki itu tidak datang. Kau akan membawa rahasia ini sampai ajal menjemput?" tanya Oma.


"Iya Oma." Agra menganggukkan kepalanya.


Bantal kursi yang ada di atas pangkuan Oma Gracia mendarat sempurna menerpa tubuh Agra.


"Oma." Agra kaget.


"Kau itu Agra, umur saja yang sudah tua. Tapi, pikiranmu seperti anak remaja...! kau dulu tidak ingin menikah lagi, kau ingin memutuskan keturunan keluarga Barend." gerutu Oma Gracia yang teramat kesal dengan sikap Agra yang labil menurut Oma Gracia.


"Ma, sudahlah. Bagaimana juga sudah terjadi, Agra tidak akan mengulanginya kembali," ucap Abraham.


"Jika kau mengulangi lagi kesalahanmu itu, awas kau Agra..! Jeanny, kau harus extra menjaganya. Tubuhnya saja besar, tapi. Otaknya labil, baru melihat tubuh mulus dan lekukan di mana-mana. Otaknya tidak berfungsi lagi." tutur Oma Gracia.


Hari ini, Agra benar-benar habis dibantai oleh Omanya. Dia hanya bisa diam, karena merasa apa yang dikatakan oleh Omanya benar. Dulu, semua ucapan Malika begitu membuatnya melupakan keluarganya. Karena, tutur kata Malika yang lembut membuat Agra jatuh cinta dengan sang sekretaris.


*


*


Benny sedang duduk bersama dengan Erica, setelah Erica datang ke apartemen. Karena telepon Erica diabaikan oleh Benny, Erica datang untuk membicarakan apa yang dikatakan oleh Agra.


"Apa yang ingin kau katakan? aku tidak akan mendengar. Jika kau hanya menyuruh aku untuk membatalkan niatku untuk mengambil Lisa," kata Benny.


"Aku datang untuk mengatakan, bahwa. Tuan Barend mengizinkan kau untuk menemui Lisa...."


"Sungguh!"


Benny memotong ucapan Erica, saat mendengar Agra mengizinkannya untuk menemui Lisa.


"Tunggu dulu, Ben. Kau jangan potong dulu ucapanku, tunggu sampai aku selesai bicara. Oke.."


"Ada apa lagi?" tanya Benny dengan tidak sabar.


"Tuan Agra mengizinkanmu untuk menemui Lisa, bukan sebagai ayah kandung. Tapi, sebagai sahabat Mamanya. Malika.."


"Apa..! tidak mau, aku ingin Lisa tahu. Aku ini ayah kandungnya, bukan orang yang selama ini dikenalnya..!"


To be continued