
Happy reading 😍
🌹🌹🌹
Agra berjalan menuju salah satu restoran yang ada di hotel, tempat dia meeting dengan kliennya. Agra mencari keberadaan Papanya, setelah melihat keberadaan papanya, Agra melangkah menuju tempat Papanya duduk.
"Maaf Pa, lama. kliennya sangat rewel," ujar Agra.
"Tuan Suseno, orang yang sangat teliti dalam hal kerjasama dan kontrak. Dia takut, menjalin kerjasama. Jika akan merugikan perusahaannya, apalagi. Dia belum begitu mengenalmu," ucap Papa Agra, Abraham Barend.
"Ada apa Agra, kenapa kita harus bicara di sini. Kenapa tidak di rumah saja, apa kau ingin mengatakan sesuatu. Atau ingin mengenalkan seorang gadis kepada Papa, untuk kau nikahi sebagai mama sambung untuk Lisa?" tanya Abraham Barend, Papa Agra.
"Tidak ada hubungannya dengan seorang gadis Pa, Agra tidak akan menikah lagi. Papa sekarang sudah seperti Mama dan Oma, selalu menikah saja yang dikatakan," ucap Agra.
"Agra, Lisa itu membutuhkan seorang Mama. Kau itu masih muda, baru 30 tahun. Apa kau mau sendiri selamanya?"
"Agra mengajak Papa bertemu di sini, bukan untuk membahas pernikahan. Ada yang lebih penting dari pada soal pernikahan Pa."
"kalau tidak ada hubungannya dengan seorang wanita, ada masalah apa? sehingga kita harus berbicara di sini, merahasiakan pembicaraan kita dari orang rumah..?" tanya Papa Agra.
Agra mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan gambar kotak bingkisan yang diterimanya dua hari belakangan ini.
"Apa ini? siapa yang melakukannya?" Abraham Barend cukup kaget, saat melihat gambar yang ditunjukkan Agra kepadanya.
"Agra juga tidak tahu, apa ada orang yang patut kita curigai Pa?" tanya Agra pada Papanya.
"Kita tidak ada musuh, apa ini ada hubungannya dengan anak cabang perusahaan kita yang berada di Malaysia?" Abraham teringat dengan cabang perusahaan yang ada di negara tetangga, yang mengalami kerugian. Akibat pemimpin keuangan yang bermain, membuat perusahaan PT star mengalami kerugian yang sangat besar.
"Mungkin saja Pa, tapi. Apa mereka tidak dipenjara kan? apa Papa tidak melaporkan kasus tersebut kepada pihak polisi?" tanya Agra.
"Papa tidak melakukannya, karena Papa kasihan kepada Pak Malik. Jika dia masuk penjara, bagaimana dengan keluarganya. Pak Malik sudah juga tua, itu salah satu pertimbangan Papa tidak melaporkan Pak Malik kepada polisi."
"Papa begitu baik kepada Pak Malik, dan tidak melaporkan perbuatannya pada polisi. Apa mungkin dia yang melakukan teror ini?" tanya Agra.
"Papa tidak yakin Pak Malik yang melakukan teror ini, karena Pak Malik sedang sakit," kata Papa Agra.
"Kalau begitu, apa Pak Malik kita buang dari daftar orang yang patut kita curigai?" tanya Agra.
"Jangan, Pak Malik tetap kita masukkan dalam daftar list yang patut kita curigai," ucap Papa Agra.
"Apa mungkin saingan bisnis kita Pa?"
"Pikiran Papa buntu, Papa tidak tahu saingan bisnis yang mana yang melakukan ini semua karena. Selama ini, Papa menjalin hubungan baik dengan para rekan bisnis dan saingan bisnis juga."
"Mungkin saja, ini bukan perbuatan saingan bisnis. Waktu kau di Belanda, apakah ada teman yang merasa sakit hati denganmu Agra?" tanya Papanya.
"Tidak ada apa," sahut Agra.
"Mungkin ini ada hubungannya dengan istrimu, Malika. Apakah kau masih menjalin hubungan baik dengan orang tua Malika?"
"Mama Malika sudah meninggal 2 tahun yang lalu Pa, sedangkan Malika adalah anak satu-satunya. Saudaranya yang lain, Agra tidak mengenalnya. Malika mengatakan, dia tidak mengenal saudara yang lain. Dia tinggal berdua dengan mamanya."
"Papa Malika?" tanya Papanya.
"Papa Malika meninggal, saat dia masih berumur beberapa bulan," jawab Agra.
"Apa Papa curiga, teror ini ada hubungannya dengan Malika?"
"Mungkin saja, karena Papa yakin. Perusahaan kita tidak ada musuh, jika ini menyangkut perusahaan. Sudah pasti, orang itu akan menyabotase pekerjaan kita. Ini, teror ditujukan kepadamu. Tandanya, orang yang meneror ini menaruh kebencian yang mendalam padamu," kata Papa Agra.
"Agra yakin, ini tidak ada hubungannya dengan Malika."
"Lagipula, Malika sudah lama meninggal. Sudah 4 tahun, kenapa baru sekarang ada yang meneror? jika ini ada hubungannya dengan Malika? jangan karena Papa tidak menyukai Malika, Papa mengatakan teror ini ada hubungannya dengan Malika." suara Agra sedikit keras, karena Papanya menuduh. Masa lalu Malika yang meneror.
"Papa tidak menuduh Agra, Tapi semua kemungkinan patut kita jadikan petunjuk," kata Papa Agra.
"Kau tidak mengenal Malika dengan dekat, hanya beberapa bulan menjadi sekretaris mu. Kau sudah jatuh cinta dan langsung menikahinya."
"Sudahlah Pa." Agra berdiri, dan berjalan meninggalkan Papanya.
"Semoga kau tidak kecewa, jika mengetahui mengenai istrimu itu." gumam Papa Agra.
*
*
Semua murid jenny dan Amelia sudah meninggalkan ruangan kelas, hanya tinggal satu murid saja yang berada di dalam kelas yaitu Lisa.
"Lisa siapa yang menjemput?" tanya Amelia.
"Cari uang uang! di mana Papanya cari uang? Miss Amelia boleh ikut, Miss butuh uang ini," ucap Amelia sembari duduk di samping Lisa.
"Boleh," sahut Lisa.
"Apa Miss jeanny mau ikut cari uang juga?" tanya Lisa.
"Apa?" Jeanny yang sedang sibuk membenahi buku-buku yang berserakan, tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Lisa.
"Apa Miss Jeanny mau ikut mencari uang? Miss Amelia mau ikut mencari uang bersama Papa Lisa," kata Lisa.
"Di mana cari uangnya?" tanya Jeanny.
"Di tempat Papa Lisa kerja," sahut Lisa.
"Tempat Papa Lisa kerja banyak uang? seru itu, kita bisa banyak uang. Bisa beli apa saja," ujar Jeanny.
Perbincangan mereka berhenti, saat mendengar suara memanggil nama Lisa. Bahwa Lisa sudah di jemput.
"Ayo, Miss Jeanny antar."
Jeanny membawa tas Lisa, dan mengandeng tangannya meninggalkan ruang kelas.
"Sampai besok Lisa," ucap Amelia.
"Bye..bye Miss Amelia," ujar Lisa.
"Bye... bye." Amelia balas melambaikan tangannya.
Sampai diruang tunggu penjemput para murid menunggu, Lisa melepaskan pegangan tangan Jeanny. Dan berlari dengan gembira, saat melihat keberadaan kedua Omanya.
"Oma, Obut...!" seru Lisa berlari menubruk tubuh Obut, memeluk tubuh Obut dengan senang.
"Obut rindu." Obut Lisa memeluk Lisa dengan erat.
"Baru tiga jam tidak bertemu, sudah rindu?" tanya Alma, Oma Lisa.
"Iya, Lisa rindu dengan Oma dengan Obut dengan Papa dan juga Opa..!" seru Lisa sembari merentangkan kedua tangannya.
"Cucu baik Obut," ujar Gracia pada sang cucu.
Jeanny tersenyum melihat keakraban Lisa dengan kedua-duanya.
"Selamat siang tante." sapa jenny pada ke-dua Oma Lisa.
"Siang Miss Jeanny, apa kabar?" Obut dan Oma Lisa membalas sapaan Jeanny secara bersamaan.
"Baik tante, tante bagaimana, sehatkan?" Jeanny balas bertanya kepada kedua Oma Lisa.
"kami sehat, hanya badan yang sedikit pegal-pegal. Maklum badan tua," jawab Obut Lisa.
Tiba-tiba.
Obut Lisa memegangi kepalanya, dan berucap dengan suara yang lirih.
"Pusing," ucap Obut Lisa.
"Mama." Alma panik, melihat sang mertua mengeluh pusing.
"Obut..!" Lisa seketika mengeluarkan air mata.
"Kenapa Tante?" Jeanny juga kaget, karena tiba-tiba Obut mengeluh pusing dan lemas.
Oma Lisa, Alma memegangi mertuanya. Agar tidak jatuh.
"Tante, kita harus ke rumah sakit," ujar Jeanny.
"Rumah sakit?" bingung Gracia.😄
*
*
*
...Bersambung...