
Selesai baca, tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏.
...***...
Yulia masih terbaring di atas ranjang, walaupun. Dia masih bisa berjalan kedalam kamar mandi, tetapi. Hanya itu aktifitas yang bisa dilakukannya. Untuk keluar dari dalam kamar, tidak bisa. Karena, Papa dan Mamanya mengunci pintu kamarnya, sehingga dia tidak bisa keluar.
Yulia sedang gerak gelisah dalam tidurnya, sepertinya. Yulia sedang bermimpi, entah apa yang masuk kedalam mimpinya. Sehingga dia gelisah.
Dan..
"Tidak..! aku tidak bersalah..!" pekik Yulia dalam tidurnya.
"Ma, Yulia! kenapa dia berteriak...?" Papanya yang sedang menikmati makan siangnya tersentak, saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar putrinya.
Darti, sang istri. Langsung berlari menuju kamar Yulia.
Dengan terburu-buru, Darti membuka pintu kamar putrinya.
"Ah..! Kenapa sulit sekali." saking gugupnya, tangannya gemetar membuka pintu kamar Yulia. Karena mendengar suara tangisan dari dalam kamar putrinya tersebut.
Darmawan datang kemudian, dan melihat sang istri yang belum bisa membuka pintu kamar Yulia karena panik.
"Tenang Ma." Darmawan, sang suami mengambil alih kunci dari tangan sang istri untuk membuka pintu kamar Yulia.
Pintu terbuka, Darti menerobos masuk kedalam kamar Yulia. Dan melihat Yulia duduk di ranjang dalam keadaan menangis.
"Lia." Darti memeluknya.
"Kenapa Nak? ada apa? apa ada yang sakit? kita ke rumah sakit ya?" pertanyaan beruntun keluar dari dalam mulutnya.
Beberapa hari ini, hanya kemarahan yang ditunjukkannya pada Yulia. Kini hilang, Darti memeluk Putrinya yang sedang menangis tersedu-sedu.
Darmawan, sang kepala keluarga. Berdiri, di sisi ranjang Yulia, terlihat kedua sudut bola matanya yang berembun.
"Ada apa Nak? kita ke rumah sakit ya. Apa perutnya sakit?" Darti mengulang pertanyaannya kembali.
Yulia melepaskan pelukannya, pada sang Mama.
"Yulia mimpi buruk Ma, Yulia..." Yulia tidak melanjutkan ucapannya.
"Mimpi? Papa kira perut Lia sakit?"
"Apa hanya mimpi, betul. Tidak ada yang sakit, katakan jika ada yang tidak nyaman dengan kandungannya. Ingat Lia, apa kata dokter. Nyawa taruhannya, jika tidak memperhatikan kondisi kehamilan." Darti, sang Mama mengingatkan Yulia, akan pesan dokter.
"Iya Ma, Lia hanya mimpi buruk saja," ujar Yulia.
"Lia, apa mau keluar. Papa sudah membeli kursi roda, agar Lia bisa keluar dari dalam kamar," kata Papanya.
"Kursi roda? untuk apa? Lia tidak lumpuh Papa! Lia tidak membutuhkan kursi roda." tolak Yulia untuk menggunakan kursi roda untuk keluar dari dalam kamarnya.
"Lia tidak lumpuh, Papa tahu Lia."
"Papa belikan kursi, karena Lia belum di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak." sambung Papanya.
Lia merebahkan tubuhnya, dan memunggungi Mama dan Papanya.
"Keluarlah, Lia mau istirahat." Lia mengibaskan tangannya, agar Papa dan Mamanya keluar dari dalam kamarnya.
Kedua orangtuanya saling pandang, dan akhirnya. Papa dan Mamanya Yulia keluar.
Begitu pintu tertutup, Lia memutar badannya menjadi telentang.
"Mimpiku seperti nyata, Andi. Apa dia tertangkap?"
"Aku hubungi dia."
Yulia menggapai ponsel, dan menghubungi nomor Andi.
Derrt
(Nomor yang anda hubungi, tidak dapat dihubungi. Tunggu beberapa saat lagi) suara operator yang menjawab panggilan Yulia.
"Di mana dia? apa dia sudah di makan cacing." gumam Yulia kesal.
Yulia mencoba sekali lagi, dan terangkat.
"Halo Andi.. halo Andi..!" seru Yulia memanggil nama Andi.
"Hah...! kenapa suara sapi yang terdengar? apa dia sudah menjadi sapi? atau ponselnya di makan?" Yulia semakin bingung.
"Halo Andi..!"
Tut..Tut..Tut ..
Sambungan telepon terputus.
"Sialan kau Andi, kau memutuskan sambungan teleponku..!"
Di dalam truk, Andi yang berusaha mengeluarkan ponselnya berhasil. Tetapi begitu ingin menjawab.
Tiba-tiba...
Air membasahi kepalanya yang jongkok diantara bokong sapi.
"Aaa...!" Andi terpaku, dia tak tahu apa harus dilakukannya. Bergerak, tidak mungkin. Karena, tubuhnya terhimpit diantara kaki-kaki sapi.
Tiba-tiba, truk berhenti tiba-tiba. Andi terdorong ke depan.
Dan
Nasib sial kembali menimpanya, terdorong dalam posisi duduk. Membuat kepalanya telungkup menimpa kotoran sapi, dan wajahnya kini memakai masker kotoran sapi yang berwarna hijau pekat.
"Hei! siapa kau ?" setelah truk kosong, pemilik truk melihat Andi yang kotor dengan kotoran sapi di sekujur tubuhnya.
Dengan langkah kaku, Andi berjalan untuk turun.
"Hei..Mas! bisu ya?" tanya pemilik truk.
"Pak, saya tidak bisu. Jika saya membuka mulut, taek sapi masuk kedalam mulut saya.." Andi loncat dari dalam truk dan kemudian memuntahkan isi lambungnya.
Hoek..Hoek..
Andi membungkuk, memuntahkan isi perutnya. Sedangkan pemilik truk menatapnya.
"Pak ada air, badan saya bau sekali?" tanya Andi.
"Itu, pancuran." pemilik truk menunjuk kearah kiri Andi.
Dengan cepat Andi menuju pancuran, dia mengeluarkan ponsel dan dompetnya. Baru kemudian menguyur tubuhnya dengan air pancuran.
Setelah kotoran sapi tidak tersisa lagi di tubuhnya, baru Andi bisa bernapas dengan normal. Tadi, dia menutup mulut dan hidungnya.
Andi membalikkan badannya, dan melihat pemilik truk masih berdiri menatapnya.
"Kenapa bapak itu menatapku terus? apa dia tahu aku melarikan diri dari kantor polisi?" dalam benak Andi.
"Pak, saya naik truk bapak. Karena saya baru kena rampok," kata Andi.
"Kena rampok?"
"Iya, Pak. Mobil saya di bawa kabur perampok, saya mau mengejar perampok itu. Makanya, saya naik truk bapak. Maaf, saya tidak permisi. Oh ya Pak, di mana kantor polisi? saya ingin mengadukan tentang perampokan yang menimpa saya."
"Di dekat sini tidak ada, tapi. 1 km dari sini ada, anda ganti baju saja. Di depan ada pasar yang menjual pakaian," ucap bapak pemilik truk.
"Terima kasih Pak, saya akan beli baju. Baru kekantor polisi."
Andi bergegas meninggalkan bapak pemilik truk.
"Selamat." gumam Andi.
"Satu sungai aku mandikan, bau sapi masih tinggal di badanku ini."
...***...
Jeanny duduk didalam mobil dengan wajah yang ditekuk, dia masih kesal dengan surat perjanjian yang dibuatnya.
Agra hanya tertawa dalam hatinya, karena melihat Jeanny yang mengedumel. Dengan mulut komat-kamit, tapi. Tidak mengeluarkan suara.
"Jean, mantra apa yang kau ucapkan? mulutmu komat-kamit terus?' goda Agra.
Jeanny menoleh menatap Agra.
"Mantra, untuk kembali ke masa aku tidak pernah bertemu denganmu. Puas!" selesai meluapkan kekesalannya, Jeanny memalingkan wajahnya. Menatap keluar jendela kaca mobil.
"Hahaha...!" Agra tertawa.
'Kau tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Jeanny.
"Ingat surat perjanjian, Abang.." titah Agra, agar Jeanny ingat dengan apa yang tertulis di surat perjanjian.
"Hih..! perjanjian yang merugikan diriku." gumam Jeanny.
"Kenapa dia tidak sedingin awal pertama bertemu, dulu. Tidak ada senyum di bibirnya, wajahnya seperti sedang mengunjungi orang meninggal." benak Jeanny.
Agra merasa ponselnya bergetar, kemudian Agra menghentikan mobilnya. Baru menjawab panggilan dari Albert.
Agra.
(Apa Bert?)
Albert.
(Agra, apa kau tidak sibuk?)
Agra
(Ada apa?)
Albert
(Aku menunggumu di rumah sakit) Albert menyebutkan nama rumah sakitnya.
Agra
(Siapa yang sakit?)
Albert
(Datang saja, aku tunggu)
Albert memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa yang sakit Bang?" tanya Jeanny yang mendengar percakapan keduanya.
"Tidak tahu, Albert tidak mengatakan. Tidak apa-apa kan, kita ke rumah sakit dulu. Baru pulang?" tanya Agra.
"Tidak apa-apa," sahut Jeanny.
...****...
To be continued