
...Happy reading 😍...
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
"Tidak Pak, sekarang saja. Tunggu besok. Saya takut tombak saya akan mati total, tidak bisa ditombak kan lagi," kata Agra seraya baring di atas ranjang pasien.
"Buka pak." Titah dokter Samuel.
"Buka!" Agra kaget, karena di suruh buka celana. Sedangkan suster masih ada didekatnya. Dengan pandangan mata menatap Agra di atas brankar.
"Iya Pak, bagaimana saya mau periksa. Jika saya tidak melihat tombak yang bapak katakan sakit," kata dokter Samuel.
"Didepan suster?" Agra menunjuk suster yang berdiri di ujung brankar.
Dokter Samuel melihat kearah yang ditunjuk oleh Agra.
"Suster Maria, apa kau sudah sudah bosan melihat tombak suamimu? sehingga kau begitu ingin melihat tombak Pak Agra?" Tanya dokter Samuel.
"Hah! maaf Dok, hehehe.." suster Maria menarik tirai untuk menutup tempat periksa dokter Samuel.
"Apa dia tidak akan mengintai Dok?" Agra masih was-was, suster yang bernama Maria tersebut mengintai dari sela-sela tirai.
"Tidak Pak Agra, jangan khawatir. Jika dia berani mengintai, saya akan beri SP padanya," Tutur dokter Samuel.
Setelah mendapatkan jaminan dari dokter Samuel, akhirnya. Agra menurunkan celananya.
"Maaf Dok, saya tidak pakai dalaman. Sakit Dok, jika terjepit," kata Agra.
"Tidak apa-apa Pak, pasien saya yang mengalami seperti yang terjadi pada Pak Agra. Mereka datang dengan memakai sarung."
"Banyak pasien seperti yang saya alami pak?" Tanya Agra.
"Banyak Pak, penyebabnya karena kena tendang wanita," sahut dokter Samuel seraya memeriksa tombak Agra yang luluh lunglai, tidur tidak bertenaga.
"Bagaimana Dok, apa tombak saya masih bisa berfungsi?" Agra khawatir, tombaknya tidak bisa melakukan penjajahan ke goa Belanda lagi. Walaupun keinginan untuk menikah sepenuh hati, Agra tidak ingin tombaknya tumpul.
"Tidak ada yang mengkhawatirkan Pak, hanya sedikit merah. Besok juga sudah akan normal kembali," jawab dokter Samuel.
"Tapi, kenapa saya elus dia tetap rebahan Dok ?" Tatapan mata Agra fokus dengan tombaknya yang lunglai.
"Masih ngambek dia Pak, karena bapak tidak bisa menjaganya dengan benar. Sehingga dia ngambek, seperti gadis Pak. Jika bapak tidak menjaganya dan menyayanginya, mereka akan ngambek Pak. Ada sampai minta putus, karena merasa tidak di perhatikan. Begitu juga dengan tombak bapak." Tutur dokter Samuel sembari mengeluarkan guyonannya, agar sang pasien tidak khawatir dengan asetnya yang sedang down.
"Semoga ini saya tidak putus ya Dok," ujar Agra.
"Sudah Pak Agra, naikkan lagi celananya. Nanti ada yang ngintai." gurau dokter Samuel.
"Dokter..!" terdengar seruan dari balik tirai.
Agra spontan menaikkan celananya dengan terburu-buru, sehingga tombaknya terasa nyeri.
"Aduh..!" ringis Agra.
Agra turun dari brankar dan berjalan pelan menuju meja dokter.
"Tidak ada yang perlu di cemaskan Pak, makan obat pereda nyeri. Besok sudah bisa normal lagi dan tidak akan berdenyut," kata dokter Samuel sembari menuliskan resep obat untuk Agra.
"Terima kasih dok," ucap Agra.
"Sekali lagi, harap berhati-hati dalam berolahraga ya Pak. Jangan sampai fatal, untung ini tidak fatal. Ada pasien saya, sudah setahun belum sembuh juga."
"Begitu parah Dok," kata Agra.
"Iya Pak, bukan karena olahraga. Tapi karena ditendang kekasihnya Pak, karena pasien saya ini suka tebar pesona. Heh..koq saya cerita aib pasien saya," ujar dokter Samuel sembari tertawa.
Degh..
"Untung aku tidak seperti pasien dokter Samuel." dalam benak Agra.
Suster Maria juga tertawa, mendengar gurauan dokter Samuel.
Pulang dari rumah sakit, Agra menghubungi Jerry. Karena dia merasa tidak nyaman untuk mengemudi.
"Tuan kenapa?" tanya Jerry, saat menunggu Agra didepan lobby rumah sakit.
"Tidak perlu kau tahu, ini kunci mobil. Saya tunggu di depan." Agra meninggalkan Jerry yang masih mode terpaku, karena jalan Agra yang aneh menurutnya.
"Apa Tuan Agra baru sunat?" gumam Jerry.
"Jerry, cepat..!" teriak Agra, saat melihat sang sekretaris masih berdiri menatap kearahnya.
"Ya.. Tuan."
"Antar ke apartemen." Titah Agra.
"Tidak pulang Tuan?"
"Aku bilang apartemen ya apartemen! kenapa kau harus tanya lagi!" Agra benar-benar sensitif, karena itu masih sering berdenyut.
"*Tuan Agra lagi PMS." batin Jerry.
Jeanny mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun jalanan lengang.
Tiba-tiba...
Mobilnya berjalan tersendat-sendat, dan akhirnya. Mobilnya yang baru keluar dari bengkel benar-benar berhenti dengan mengeluarkan asap dari kap mobil.
"Terbakar..!?"
Jeanny panik, dan dengan cepat keluar dari dalam mobilnya. Dan berlari menjauhi mobilnya yang berasap.
"Kenapa mobilnya Mbak?" seorang pria muda yang seumuran dengan Jeanny berhenti, saat melihat mobil Jeanny mengeluarkan asap.
"Tidak tahu Pak, keluar asap. Apa terbakar ya Pak?" Jeanny menoleh kearah pria tersebut.
"Sepertinya tidak Mbak? mungkin ada yang korsleting saja," ujar pria tersebut.
Pria tersebut mendekati mobil Jeanny, dan berusaha membuka kap mobil yang panas.
"Hati-hati Pak, mungkin bisa meledak. Seperti yang ada di berita di televisi," kata Jeanny.
"Ya mbak, saya akan hati-hati," ujar pria tersebut.
Setelah kap mobil terbuka, asap mengepul keluar.
Pria tersebut mundur kebelakang dengan terbatuk-batuk.
"Uhuk..uhuk..!"
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Jeanny.
"Tidak Mbak, batuk karena tercium bau asap," jawab pria yang menolong Jeanny.
"Tidak terbakar ya Pak?" tanya Jeanny.
"Tidak Mbak."
"Syukurlah," ucap Jeanny senang.
"Harus bawa bengkel ini Mbak."
"Malam begini, bengkel mana yang buka?" bingung Jeanny.
"Saya ada kenal pemilik bengkel, jika Mbak percaya dengan saya biar saya panggil untuk membawa ke bengkelnya," kata pria tersebut pada Jeanny.
"Jauh Pak bengkelnya?"
"Tidak Mbak, sekitar 15 menit dari sini. Bagaimana Mbak, biar saya hubungi. Atau mbak mau hubungi orang rumah dulu" Tutur pria tersebut.
"Telepon rumah siapa yang bisa bantu? Abang masih di luar, Papa pergi ke rumah Nenek. Mama, sama saja dengan ku. Tidak mengerti mesin mobil, Bismillah saja. Semoga orang ini bukan spesialis pencuri mobil, kalau dilihat dari tampangnya. Dia tidak seperti penjahat." benak Jeanny yang bimbang.
"Mbak, bagaimana ?"
"Baiklah Pak."
Kemudian, pria tersebut menghubungi seseorang. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, montir datang dengan membawa mobil derek.
"Neng, mobil saya bawa ya. Biar periksa di bengkel, ini kartu nama saya." Bapak tersebut menyerahkan kartu namanya kepada Jeanny.
"Terima kasih Pak, mau malam begini datang dipanggil." Tutur Jeanny.
"Bengkel saya 24 jam Neng, ini belum malam Neng. Baru jam 7, ada yang manggil jam 1 malam Neng," ucap bapak tersebut.
"Saya bawa mobilnya ya Neng."
"Silakan Pak,"jawab Jeanny.
"Terima kasih ya Pak, sudah bantu," ucap Jeanny pada pria yang menolong memanggil montir.
"Hanya bantu manggil montir saja Mbak."
"Itu juga terima kasih Pak, diantara mobil yang melintas. Hanya bapak yang berhenti," ucap Jeanny.
"Mbak, jangan panggil bapak. Saya masih muda, baru 25 tahun. Panggil saja saya Andi."
"Saya juga jangan panggil Mbak, panggil saja Jeanny."
"Andi, salam kenal." Andi mengulurkan tangannya.
Jeanny menyambut uluran tangan Andi.
"Salam kenal, Jeanny."
Apakah Yudha dan Agra mendapatkan saingan? Andi saingan atau...???🤭🤣🙏
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...