
Selalu menekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...Happy reading...
...***...
"Kita kemana ini?" tanya Jeanny, karena jalan yang dilaluinya tidak menuju rumah Agra.
"Pulang," sahut Agra.
"Tapi, ini jalan tidak menuju ke rumah?"
"Siapa yang mengatakan kita pulang ke rumah orang tua, kita sudah menikah. Kita tinggal di rumah sendiri," kata Agra.
"Rumah sendiri? maksudnya, kita tinggal bertiga saja. Aku, Abang dan Lisa?" tanya Jeanny.
Agra tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Bang, ceritakan mengenai wanita yang ada di rumah sakit. Kenapa Abang katakan, dia bukan istri Abang. Malika, Apa Abang sudah pastikan dia bukan istri Abang yang hidup kembali."
"Sudah di pastikan, dia bukan Malika. Malika tidak pernah memanggilku 'MAS' dan wanita tadi tidak ada bekas tanda luka, satu di lengan atas dan tengkuknya. Dan, hati ini tidak bisa dibohongi. Tidak ada getaran didalam sini, pada saat aku memeluknya," kata Agra.
"Siapa dia?" gumam Jeanny.
"Apa?" Agra tidak mendengar gumaman Jeanny.
"Wanita itu, siapa dia?" tanya Jeanny.
"Itu yang akan diselidiki oleh Albert," sahut Agra.
Mobil mulai jalan lambat, saat sampai didepan rumah yang sudah pernah didatangi oleh Jeanny.
"Ini, rumah itu," ujar Jeanny.
"Iya, rumah ini tempat kita tinggal. Mulai hari ini," kata Agra.
Gerbang terbuka, dan terlihat beberapa mobil sudah terparkir dipekarangan dan sebagian ada didalam garasi. Jeanny juga melihat mobil Papa dan Abangnya, Jamie.
"Mobil Papa dan Abang, mereka di sini juga?" tanya Jeanny pada Agra.
"Iya, mereka mengadakan garden party di rumah baru kita. Ayo turun." titah Agra.
Agra turun, diikuti oleh Jeanny. Agra tidak masuk kedalam rumah, tetapi menuju halaman samping dan menuju taman belakang.
"itu dia pengantin barunya..!" seru Jamie yang melihat kedatangan Jeanny dan Agra.
"Kenapa kalian lama sekali, kami kira kalian masih betah berkurang didalam apartemen." ledek Oma Gracia.
"Mama..!" Lisa langsung berlari, melihat kedatangan Jeanny dan Agra.
Jeanny jongkok, mensejajarkan tubuhnya untuk memeluk putri sambungnya tersebut.
"Kenapa Mama lama datang?" tanya Lisa.
"Maaf ya, Mama tadi ada urusan mendadak," kata Jeanny.
"Hanya Mama yang diberikan pelukan? Papa," ujar Agra pada Lisa.
Lisa tertawa, dan kemudian melepaskan pelukannya pada Jeanny. Dan, beralih memeluk Papanya.
"Ayo Pa, Lisa tadi bakar sate." Lisa menarik tangan Agra.
Sedangkan, Jeanny bergabung dengan para wanita.
"Pengantin baru, wajahnya. Cerah sekali." goda Oma Gracia.
"Jelas cerah, sudah ada yang meluk saat takut ada petir." Mama Jeanny ikut menggoda putrinya.
"Ih.. Mama!" Jeanny memanyunkan bibirnya.
"Jean, ini rumah kalian sejak hari ini. Sampai maut memisahkan kalian," ucap Alma, yang datang membawa sepiring sate yang sudah dibakar.
"Besar sekali Ma," kata Jeanny seraya mengitari pandangan melihat halaman belakang yang begitu luas, dan banyak ditumbuhi pohon buah-buahan.
"Tidak besar, jika nanti kalian mempunyai anak yang banyak. Rumah ini akan kelihatan kecil," kata Alma, Mama Agra.
'Iya, kalian itu harus mempunyai lima orang anak atau lebih. Biar ramai." timpal Oma Gracia.
Wajah Jeanny langsung merona merah, saat Oma mengingatkan dirinya untuk memiliki anak yang banyak.
Amira, Mama Jeanny tertawa.
Ting..Ting...
"Perhatian.. perhatian semua..!" Jamie memukul gelas, untuk menarik perhatian orang.
"Mari kita bersulang, angkat minuman masing-masing untuk merayakan. Merayakan apa ya, Pa ?" Jamie bertanya pada Papanya.
"Ahh..kau Jamie, ngajak bersulang. Tapi tidak tahu untuk apa." ledek Papanya.
"Untuk merayakan pernikahan Agra dan Jeanny, agar mereka bahagia selalu di rumah yang baru ini." timpal Papa Agra.
"Benar Om, saya lupa Om. Maklumlah Om, tidak pernah di suruh bicara didepan umum. Saya hanya bicara diruang kecil, itu juga di atas udara.," kata Jamie dengan tertawa.
"Agra, ayo bicara. Kenapa dari tadi kau diam saja, apa kau kurang cepat untuk kami pulang. Biar kau bisa berduaan dengan istrimu?" goda Oma Gracia.
"Apa yang harus Agra bicarakan ?" tanya Agra dengan ekspresi wajah bingung.
"Bicara apa saja, asal jangan bicara bisnis," ujar Papanya dengan tertawa, karena melihat Agra bingung untuk bicara apa.
"Berdiri Agra." titah sang Oma.
Agra berdiri.
"Harus bicara apa? bicara dengan klien tidak sesulit ini." batin Agra.
"Jean, dampingi Agra." titah Papanya.
"Apa harus?" tanya Jeanny.
"Harus, kalian pasangan pengantin baru. Harus selalu bersama" ujar Mamanya.
Jeanny berdiri dari duduknya, dan melangkah menuju ke tempat Agra berdiri.
"Jean, kau yang bicara." bisik Agra.
"Abang yang bicara, kenapa Jeanny?" balas Jeanny dengan suara yang keras, sehingga semua mendengar. Dan semua tertawa.
"Kau kan guru, sudah biasa bicara didepan orang," kata Agra.
"Nggak! Abang yang bicara." Jeanny tetap kekeuh tidak mau menggantikan Agra untuk berbicara didepan keluarga.
Akhirnya, Agra bicara. Tetapi Agra hanya mengatakan.
"Terima kasih, sudah datang ke rumah kami." ujar Agra, lalu. Duduk.
"Hah! hanya itu," ujar Jeanny.
Semua tertawa, terbahak-bahak. Menertawakan Agra yang bicara yang sangat singkat.
Agra menggaruk tengkuknya, dan melotot melihat Jeanny yang juga menertawakannya.
**
Setelah semua pulang, hanya tersisa keluarga. Agra berinisiatif untuk menceritakan tentang orang yang mirip dengan Malika. Dan meminta, agar keluarganya untuk tidak pulang.
"Ada apa Agra, kenapa kau menahan kami? Apa ada yang ingin kau katakan pada kami?" Tanya Abraham, Papanya.
"Jangan kau katakan, Oma akan mendapatkan cucu," ujar Oma Gracia seraya bergurau.
"Oma! Agra baru menikah satu hari, tidak secepat itu untuk membuat Jeanny hamil."
"Ada apa? Katakan, Oma sudah tidak sabar," ucap Oma Gracia.
"Tunggu Jeanny Oma," kata Agra.
Jeanny ikut bergabung diruang keluarga, setelah Lisa tidur. Walaupun ada Bi Anah, tetapi. Lisa minta agar Jeanny yang menemaninya tidur.
Jeanny mengambil tempat duduk di samping Mama mertuanya.
Agra mulai menceritakan, mengenai teror yang diterimanya dan kemunculan wanita yang mirip dengan Malika.
Oma Gracia sampai sesak napas, mendengar kemunculan wanita yang mirip dengan Malika.
"Oma, minum Oma," ujar Jeanny.
Oma Gracia menolak minum yang diberikan oleh Jeanny.
"Ma, tenang dulu. Kita dengarkan apa cerita Agra," kata Abraham, putra Gracia.
"Agra, Oma tidak akan memaafkan mu. Jika kau sampai tergoda dengan wanita yang mirip Malika, sampai Oma menghembuskan napas. Oma tidak akan ridho, kau kembali kepada wanita yang bernama Malika. istrimu, hanya Jeanny..!"
Agra berdiri dan mendekati Oma Gracia, dan berlutut didepan Omanya. Agra meraih tangan Omanya dan menggenggamnya.
"Oma, maafkan Agra. Karena telah menyakiti hati Oma, dia bukan Malika Oma. Malika sudah tiada, maafkan dia Oma," ucap Agra dengan menatap wajah sang Oma.
...***...
To be continued