My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Pelajaran 2



Happy reading 😍


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


"Kalau pria itu brengsek, kenapa Jeanny mau masuk kedalam mobilnya? Mungkin saja mereka ingin menikah secara diam-diam." tutur Agra.


"Sialan kau Argra..!" seru Jamie.


"Kekasih Jeanny sudah menikah! dia mengkhianati Jeanny..! Agra..!! cepat..kau selamatkan adikku..!" titah Jamie, yang kali ini menyebut nama Agra dengan benar.


"Baiklah," sahut Agra melalui sambungan telepon.


"Hei! Agra, awas ya! jika Jeanny kena apa-apa, karena kau kau terlambat menolongnya." terdengar suara Jamie yang kesal.


Agra mematikan sambungan teleponnya, dan mengirimkan posisinya saat ini kepada Jamie. dan kemudian keluar dari dalam mobilnya.


Jamie yang sedang menuju ke lokasi yang dikirim oleh Agra tadi memajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, bunyi klakson terus dibunyikannya. Sehingga umpatan dari orang yang merasa terganggu ditujukan kepada Jamie. Tapi dia tidak perduli, karena dia ingin cepat sampai ditempat yang di Sherlock oleh Agra tadi.


"Yudha! Awas kau, jika adikku sampai terluka," ucap Jamie dengan geram.


"Berani-beraninya, dia menculik Jeanny. Apa dia sudah bosan hidup..!" ucap Jamie dengan penuh dengan perasaan yang marah kepada Yudha.


Agra melangkah dengan sangat hati-hati, tangannya memegang kenop pintu.


Dan.


"Pintunya tidak terkunci." Gumam Agra.


Agra membuka pintu depan perlahan-lahan, dan kemudian. Agra masuk kedalam rumah, dan melihat pria yang membawa Jeanny berdiri di dekat sofa. Dan terlihat Jeanny terbaring di atas sofa.


Agra mengeluarkan ponselnya dan berdiri dibelakang tubuh pria yang tidak menyadari kedatangannya, karena pria tersebut terlalu larut memandang Jeanny.


Agra mengarahkan ponselnya kepada pria tersebut, dan merekam apa yang dilakukannya.


"Sangat cantik." Gumam pria tersebut seraya memainkan jemari tangannya di pipi Jeanny tidur karena pengaruh obat tidur yang di campurkan dengan air mineral yang di minum Jeanny.


"Dasar pria kurang ajar, bersenang-senanglah. Sebentar lagi kau akan tidur di lantai bui yang dingin." Suara hati Agra.


"Sayang sekali, kau tidak bisa aku nikmati. Tetapi, tidak apa-apa kan. Kita bermain-main sebentar," ucap pria tersebut.


Pria tersebut lalu duduk di sofa, dan membungkukkan badannya.


"Bibirmu sangat menggoda, bolehkan aku mencicipi bibirmu ini Nona manis," Ujar Andi dan sedikit demi sedikit kepalanya mendekati wajah Jeanny.


Dan...


Bugh...


Pukulan keras menerpa tengkuknya, Andi jatuh ke lantai sembari berteriak kesakitan dan memegangi tengkuknya.


"Aduh..!" Teriak Andi.


Andi telungkup dilantai, kepalanya yang terasa pusing menoleh ke arah Agra.


"Siapa kau?" Andi berusaha berdiri, dengan berpegang dengan sisi sofa Andi berdiri.


"Berdiri!" Titah Agra yang berdiri tegak didepan Andi yang masih berusaha untuk berdiri.


"Kurang ajar! Kenapa kau bisa masuk? Kau menggangguku saja." Andi mengelus tengkuknya yang sakit.


"Cepat berdiri brengsek! berani-beraninya kau menculik seorang gadis dan membuatnya pingsan..!"


"Oh..kau juga berminat dengan gadis ini, bagaimana jika kita berbagi. Kau duluan yang menikmatinya, atau aku?" Andi berdiri, tangan terus memijat tengkuknya yang terasa berdenyut.


Bugh...


Tendangan kaki Agra mengenai perut Andi, sehingga Andi jatuh terduduk. Karena tidak siap mendapatkan serangan mendadak Agra.


"Kau..!" Andi yang kesal, sekuat tenaga berdiri dan balik menyerang Agra.


Terjadi perkelahian antar keduanya, saling pukul terjadi. Tubuh Andi masih bertenaga membalas pukulan tangan Agra, sesekali tangan dan kakinya membalas Agra.


"Kuat sekali tenaganya." batin Agra, karena Andi masih mampu melawannya.


Karena terdesak, Andi mengangkat kursi dan melemparkannya kepada Agra. Karena lemparan kursi, Agra tidak melihat Andi mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


"Ahh..!" Agra memegang pelipisnya yang terasa nyeri, dan melihat tangannya yang memegang pelipisnya berdarah.


"Sialan! dia berhasil meloloskan diri..!"


Agra beranjak mendekati Jeanny yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Dasar, gadis bar-bar! menyusahkan saja, jika tidak karena keinginan Oma untuk aku menikah. Aku tidak akan mau menikah dengan gadis bar-bar yang menyusahkan begini." gerutu Agra.(menyusahkan, awas bucin BangπŸ˜„)


"Jeanny, bangun. Sudah pagi..!" seru Agra seraya menggoyangkannya lengan Jeanny. (Lembut dikit Napa Bang)πŸ˜„


Jeanny tak bergeming, matanya masih terpejam. Napasnya teratur, menandakan dia larut dalam tidurnya. Efek obat tidur yang di minumnya sangat kuat, sehingga Jeanny tidak terganggu Agra menggoyang tubuhnya dan menepuk-nepuk pipinya.


Ketika Agra sibuk membuat Jeanny bangun, pintu rumah terbuka dengan keras dengan kedatangan Albert dan Michael.


"Agra..!" keduanya berlari menuju Agra berada.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Agra.


"Jalan macet Bro, ini malam Minggu. Banyak orang keluar," kata Albert.


"Siapa gadis ini Bro, dan kenapa wajahmu itu?" Michael melihat wajah Agra lebam di pipinya.


"Apa kalian ada bawa air?" tanya Agra.


"Tidak ada, kenapa tidak cari di rumah ini saja. Apa rumah ini tidak ada airnya," ujar Michael.


Albert mengitari pandangan matanya, mencari air yang diinginkan oleh Agra. Tetapi matanya tidak melihat apa yang di carinya.


"Tidak ada apa-apa di rumah ini, Ada apa sebenarnya Agra? siapa gadis itu?" tanya Albert.


"Gadis yang cantik, kenapa dia? apa dia pingsan?" Michael membungkukkan badannya dan meletakkan jemarinya didepan hidung Jeanny.


"Hei! apa yang kau lakukan!" Agra menepiskan tangan Michael yang berada didekat hidung Jeanny.


Michael dan Albert saling bertukar pandangan, kedua memikirkan Agra yang terlalu melindungi gadis yang tidak diketahui oleh Albert dan Michael.


"Bro, siapa gadis ini?" Michael menatap wajah Agra dengan lekat.


"Gadis ini mau di lecehkan tadi, dan aku mengenalnya. Dia guru Lisa." tutur Agra.


"Guru? hanya guru?" Michael menaruh curiga dengan Agra, karena Agra sangat posesif melindungi gadis yang tidak dikenal oleh Albert dan Michael.


"Sepertinya, ada yang jatuh cinta." goda Albert.


"Jangan berkata apapun yang tidak benar!" Agra melotot menatap kedua temannya.


"Baiklah, hari ini kau bebas. Besok, kau harus menceritakannya, kau hutang penjelasan." tutur Albert.


"Siapa yang melecehkannya? apa kau mengenali orang itu?" tanya Michael.


"Aku tidak mengenali pria itu, tapi menurut Abangnya. Mungkin itu manta kekasihnya," kata Agra.


"Pria gila mana yang mau meninggalkan gadis sesempurna ini, aku saja mau dengannya," kata Michael.


"Jaga matamu," kata Agra pada Michael.


Michael tertawa, dia semakin yakin. Ada sesuatu antara Agra dengan gadis yang ditolongnya.


"Agra, angkat saja. Bawa ke rumah sakit." titah Albert.


"Apa kau bisa mengangkatnya? kelihatannya, badanmu seperti habis kena pukul. Aku bisa menggantikan mu." Michael menawarkan diri untuk mengangkat Jeanny.


"Aku masih mampu...!" ucap Agra dengan ketus.


Michael dan Albert tertawa, melihat wajah Agra yang terlihat kesal.


Agra menghubungi Jamie, karena Jeanny sudah selamat. Dan Agra akan mengantarkannya pulang.


"Apa dia guru?" Michael tidak percaya Jeanny seorang guru.


"Iya, kenapa?" tanya Agra seraya mengangkat Jeanny.


"Dia masih terlalu muda," ucap Michael.


"Dan cantik." sambung Albert.


"Dia mulut kalian, jika tidak ingin aku beri lem tikus..!"


Agra membawa Jeanny keluar dari dalam rumah yang sudah berantakan akibat perkelahian antara Agra dan Andi tadi.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung...