My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Canda membawa?



Happy reading 😍


...🌹🌹🌹🌹🌹...


"Sepertinya, Jeanny cocoknya dengan Agra. Walaupun dia sudah duda, tetapi tidak apa-apa. Duda karena kematian, bukan karena perceraian." B**atin Mama Jeanny.


"Ma, jangan dengarkan apa yang dikatakan laki-laki itu. Sumpah, Ma. Jeanny tidak ada hubungan dengannya." Jeanny mengacungkan dua jarinya.


"Saya duda Tante, putri saya berumur 5 tahun. Dan Jeanny, adalah gurunya di sekolah TK Internasional school, putri saya Lisa sangat menyukai Jeanny. Begitu juga sebaliknya." Tutur Agra seraya menatap wajah Jeanny dengan lekat.


"Kau sangat ingin menikah denganku kan, aku akan mewujudkan keinginanmu." Batin Agra.


"Ada apa dengan otak Papa Lisa itu, tatapannya itu sangat mencurigakan. Apa dia ingin mempermainkan ku , karena aku telah menendang ITU Nya." Suara hati Jeanny.


"Saya tidak mempermasalahkan status Nak Agra, asal baik kepada putri saya. Jeanny, saya menerima," Jawab Mama Jeanny.


"Ma..!?" Jeanny melotot menatap wajah Mamanya, dia tidak mengira dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya.


"Ada apa ?" Amira, Mama Jeanny menoleh kearah putrinya. Dengan bibir manyun, duduk disampingnya.


"Jeanny katakan sekali lagi ya, Ma. Mama dengarkan dengan jelas, Jeanny tidak ada hubungan dengan Pak Agra. Jeanny kenal dengan Lisa, ya. Jeanny akui, tapi hanya sebatas guru dengan murid selebihnya tidak ada." Tutur Jeanny panjang lebar kepada Mamanya.


Agra menarik sudut bibirnya dia puas melihat Jeanny kelabakan.


"Rasain Nona barbar." Batin Agra senang.


"Kenapa kau tidak mengakui hubungan kita Jeanny? selama ini, hubungan kita baik-baik saja. Apa salahku?" Tutur Agra dengan wajah memelas menatap Jeanny yang melotot menatapnya.


"Hah! hubungan? Pak Agra, apa anda sedang bermimpi? atau anda sedang mabuk?" geram Jeanny, kedua tangannya ingin mencakar wajah Agra yang santai didepannya.


"Jeanny..!" Tegur sang Mama, mendengar Jeanny mengeluarkan ucapan tak pantas kepada tamunya.


"Assalamualaikum." Terdengar suara mengucapkan salam dari luar, membuat Mama Jeanny tidak melanjutkan tegurannya pada Jeanny.


"Waalaikumusalam." jawab ketiganya secara bersamaan.


"Papa sudah pulang, kenapa tidak terdengar suara kendaraan masuk rumah?" Tanya Mama Amira.


"Mobil masih di luar tidak bisa masuk,"' Jawab Papa Jeanny.


"Maaf Om, itu mobil saya," Ujar Agra, yang mengetahui bahwa mobilnya telah menghalangi mobil Papa Jeanny untuk masuk ke dalam rumah.


"Oh... ada tamu." sapa Papa Jeanny, pada Agra.


Agra langsung berdiri dari duduknya, dan mendekati Papa Jeanny.


"Saya, Agra Om." Agra mengulurkan tangannya, Papa Jeanny. Andre menyambut uluran tangan tamunya tersebut.


"Silakan, saya bersihkan diri dulu." ujar Papa Jeanny, kemudian meninggalkan ruang tamu diikuti oleh Amira. Sang istri.


Sepeninggal Mama dan Papanya, Jeanny mendekati Agra yang duduk kembali. Setelah kedua orangtuanya Jeanny pergi.


Jeanny berdiri tegak, kedua tangannya berada dikedua sisi pinggangnya. Matanya menatap wajah Agra dengan melotot.


"Hey you..!" Telunjuk Jeanny terarah kepada Agra.


"Apa sayang?" Agra menjawab Jeanny dengan panggilan sayang, tapi dengan suara yang datar.


"Hoek..! aku ingin muntah mendengar kata sayangmu itu Tuan Agra Barend."


"Kau hamil? karena ciuman kita, kau bisa hamil? Wah..! ternyata aku hebat sekali." Agra pura-pura terkejut.


"Aku akan semakin gila, kalau hamil anakmu..!" Balas Jeanny.


"Akhirnya, kau hamil sayang," ucap Agra senang, karena telah berhasil membuat Jeanny semakin marah.


Degh.


Dua telinga yang sedang berjalan menuju ruang tamu, sontak kaget dan berhenti melangkah.


"Apa!? Pa, putri kita hamil..!"


Papa dan Mama Jeanny berdiri tidak jauh dari ruang tamu shock, mendengar apa yang dikatakan oleh Agra.


Agra dan Jeanny juga kaget, tidak menduga Papa dan Mamanya mendengar ucapan Agra yang bergurau.


"Mama..!" Panik terlihat dari raut wajah Jeanny, dia sudah dapat menduga. Mama dan Papanya tidak akan mengintrogasi dia dan Agra.


"Om..!" Agra berdiri dari duduknya, dia juga kaget. Tapi, ekspresi wajahnya tidak seperti Jeanny.


Papa dan Mamanya Jeanny mendekati Agra.


Dan.


Tangan Papa Jeanny langsung melayang menerpa pipi Agra.


"Ini, karena telah berani bermain-main dengan putriku," Ujar papa Jeanny, lalu kemudian duduk.


"Papa." Jeanny juga kaget, karena sang papa langsung melayangkan tangannya.Tanpa bertanya terlebih dahulu kebenaran yang didengarnya.


"Jeanny, Papa kecewa! sangat-sangat kecewa," ucap Papanya, tanpa melihat kearah Jeanny.


"Pa, tenang dulu. Kita selesaikan dengan kepala dingin ," kata Amira, pada sang suami.


"Nak Agra, duduklah." Titah Mama Jeanny pada Agra yang berdiri, sembari memegang pipinya yang menjadi korban Papa Jeanny.


"Sial! kenapa jadi begini? gara-gara ingin mengerjai gadis itu." Batin Agra.


"Apa karena Yudha menghamili wanita lain, kau membalasnya dengan...?" Papa Jeanny tidak melanjutkan ucapannya, dia menghela napas dengan kasar.


"Papa salah paham, Jeanny tidak hamil. Percayalah dengan Jeanny," kata Jeanny.


"Om.." Agra ingin berbicara, tapi. Papa Jeanny mengangkat tangannya, agar Agra tidak bicara.


"Papa tidak mau tahu, besok. Kau bawa keluargamu, kalian harus menikah secepatnya." Titah Papa Jeanny.


Dan...


Bugh...


Jeanny mendarat sempurna di atas karpet.


🌹🌹


Eva menghubungi kedua temannya, mereka berjanji di cafetaria atas permintaan Eva.


"Ada apa? kenapa kau hanya ingin bertemu dengan kami saja?" tanya Albert.


"Agra tidak tahu kan, dengan pertemuan kita ini?" tanya Eva.


"Tidak! kenapa Eva? apa pertemuan kita ini ada hubungannya dengan Agra?" tanya Michael.


"Iya, kalian pasti akan kaget dengan apa yang baru saja aku lihat," kata Eva


"Kau bertemu dengan siapa? apa pria yang membuat kau jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya Michael.


"Hah! kenapa tebakanmu bisa benar," Ujar Eva.


"Kau memanggil kami hanya untuk mendengarkan cerita cintamu?" tanya Albert.


"Kalian tahu, tadi aku di bandara bertemu dengan siapa?" tanya Eva pada kedua temannya.


"Cinta pada pandangan pertamamu!" tebak Michael.


"Selain itu," Ujar Eva.


"Mantanmu?" kali ini Albert yang menebak.


"Tidak ada hubungan denganku..!" ketus Eva.


"Katakan saja, tidak ada dalam bayangan kami. Siapa yang kau temui," kata Albert.


"Malika..!" seru Eva.


"What..!" seru Michael.


"Apa kau bertemu di neraka?" gurau Albert.


"Sial kau..!" Eva mendelik kan pada Albert.


"Serius? mungkin saja orang yang mirip," ujar Albert.


"Orang mirip, sering terjadi. Tapi, ini mirip sekali, mungkin saja kembarannya," kata Eva.


"Apa dia kembar?" tanya Michael kepada kedua temannya.


"Tanyakan pada Agra," kata Eva.


"Jangan! Agra tidak boleh tahu mengenai ini," ujar Albert.


"Jika Agra tahu, apa dia akan menganggap gadis yang aku lihat itu sebagai Malika?" Eva menatap wajah kedua temannya.


"Rahasiakan ini dulu dari Agra, kita selidiki dahulu. Mungkin saja, Malika belum meninggal," kata Albert.


"Eva, kau jaga mulutmu. Mulutmu itu sering lepas kontrol," kata Michael.


"Hehehe." tawa Eva.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...