My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Tekan tombol like, Vote dan komentar jika berkenan 🙏.


...***...


"Pura-pura saja itu, biar kita merasa kasihan kepadanya. Lihat saja, sebentar lagi dia sudah bisa berjalan kemana-mana. Dia juga sudah bisa memaki kita, dan juga dia bisa mungkin memukul kepala kita. Sehingga kita pingsan, dan dia bisa melarikan diri," kata Dani kepada Marco tanpa membuka matanya.


"Dan, sepertinya dia benar-benar sakit loh.. Dan coba kita lihat ke dalam, jangan sampai dia mati di sini," kata Marco.


"Kau saja, aku ngantuk. Apa kau takut dengan seorang wanita," ujar Dani seraya merentangkan kakinya ke atas meja yang ada didepannya.


"Dasar pemalas! makan gaji buta, tidur terus. Apa kau mau jadi babi bunting, lihat badanmu itu sudah ngalahin kuda Nil..!" seru Marco seraya melangkahkan kakinya menuju pintu tempat Mikaela dikurung.


"Ngomel terus Co, aku tak tidur dulu." balas Dani.


Pria yang bernama Marco membuka pintu, dan melangkah mendekati Mikaela dengan pelan dan waspada.


Setelah dekat, Marco menekan lengan Mikaela dengan stik yang dibawanya.


"Nona.. Nona! hei Nona..!" Marco makin menekan lengan Mikaela, tapi Mikaela tidak berteriak kesakitan akibat stik menekan lengannya.


"Mati! apa dia mati..!" Gumam Marco.


Marco makin mendekati Mikaela dan menjulurkan kepalanya melihat wajah Mikaela yang meringkuk kesamping, membelakangi Marco.


Marco meraba titik nadi Mikaela, lalu merasakan napas Mikaela dengan jari tangannya.


"Lemah, Dani..!" pekik Marco memanggil rekannya yang bernama Dani.


Mendengar teriakkan Marco, Dani terlonjak kaget, kursi yang menjadi tempatnya duduk sembari tidur jatuh kebelakang.


"Aduh..! Marco ini, aku lagi mau mimpi enak-enak. Langsung bubar mimpiku." gumam Dani seraya mengelus belakang kepalanya yang kejedot dinding.


"Dan..! ayo kita ke rumah sakit." titah Marco yang berdiri dibibir pintu.


"Kenapa?" tanya Dani.


"Gadis itu pingsan, dan dari hidungnya keluar darah." beritahu Marco.


"Apa Boss Albert tidak akan marah?" tanya Dani.


"Boss yang memerintahkan kita untuk membawanya ke rumah sakit," kata Marco.


"Kau angkat, biar aku yang menyiapkan mobil.


Mobil yang membawa Mikaela sampai dibelakang rumah sakit, karena Albert mentitahkan kedua anak buahnya untuk masuk melalui belakang rumah sakit. Dan Albert dan Michael sudah menunggu di sana. Marco mengeluarkan Mikaela dan meletakkannya ke atas brankar.


Seraya melangkah mengikuti brankar, Albert mengintrogasi kedua anak buahnya.


"Apa kalian menyiksanya?" tanya Albert curiga kepada kedua anak buahnya yang menjaga Mikaela.


"Tidak Boss, kami masuk kedalam ruangan gadis itu juga tidak. Saya hanya melihat dan mendengar suara rintihannya sebentar melalui kaca Boss, lalu tidak lagi. Saya curiga, baru saya masuk dan melihat hidungnya berdarah dan dia pingsan." tutur Marco.


Mikaela langsung ditangani oleh dokter yang dikenal oleh Albert, yang bekerja di rumah sakit.


"Bert, apa asap yang dihirupnya yang membuat dia begitu?" tanya Michael dengan berbisik.


"Dani, asap yang membuatnya pingsan tidak berbahaya kan?" tanya Albert kepada Dani yang bertugas membuat Mikaela pingsan saat di hotel.


"Aman Boss, dia menghirup asap itu tidak sampai seperkian detik," jawab Dani.


"Sepertinya, dia begitu tidak karena asap," kata Albert.


"Boss, tadi gadis itu meringkuk sembari memegangi kepalanya. Mungkin dia mengalami sakit kepala Boss." beritahu Marco.


"Mungkin dia sedang kondisi tidak sehat," kata Michael.


"Mungkin." timpal Albert.


Tidak lama didalam IGD, Mikaela dibawa keluar.


Albert dan Michael berdiri.


"Bagaimana suster? mau dibawa kemana?" tanya Albert.


"Dokter menyarankan untuk melakukan CT scan Pak, karena pasien tadi sempat tersadar dan kini pingsan kembali. Dan pasien mengeluhkan sakit kepala, bapak temui dokter didalam." kemudian suster mendorong brankar, di mana Mikaela terbaring.


"Kita kemana?" tanya Michael.


"Kita temui dokter, kalian berdua. Ikuti brankar itu" titah Albert pada kedua anak buahnya.


"Baik Boss," sahut Marco.


Albert dan Michael masuk kedalam IGD, untuk menemui dokter yang menangani Mikaela.


"Bagaimana kondisi gadis itu, Jhon ?" tanya Albert begitu berada didepan sang dokter.


"Apa gadis itu sakit parah?" tanya Michael.


Dokter yang dipanggil Albert dengan nama Jhon mengangkat kepalanya, dan memicingkan matanya menatap Albert dan Michael.


"Ada apa?" Albert heran melihat cara Dokter Jhon menatapnya dan Michael.


"Duduk." titah dokter Jhon pada Albert dan Michael.


"Apa hubungan kalian dengan gadis itu?" tanya dokter Jhon.


Albert dan Michael saling pandang, kemudian mengalihkan pandangannya menatap wajah sang dokter.


"Apa gadis itu hamil? oh ..no! aku tidak ingin menjadi tersangka, telah menghamili gadis itu." dalam benak Michael.


"Jhon, apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya Albert.


"Apa dia hamil?" tanya Michael.


"Apa gadis itu hamil?" Albert mengulangi pertanyaan Michael.


"Tidak!" jawab Jhon.


Albert dan Michael mengusap dadanya, merasa lega. Karena apa yang ada dalam pikirannya mereka tidak terbukti.


"Jhon, katakan. Kenapa gadis itu harus dilakukan CT scan?" tanya Albert.


"Siapa nama gadis itu? kenapa kalian menyebutnya gadis itu? apa namanya, gadis?" tanya dokter Jhon.


"Bukan, aku akan ceritakan," kata Albert.


Albert menceritakan tentang Mikaela, dan sesekali Michael menimpali menceritakan tersebut Mikaela.


"Mirip dengan istri Agra?" dokter Jhon juga mengenal Agra,  tetapi tidak sedekat dia mengenal Albert dan Michael.


"Kalian curiga, pasien ini berkaitan dengan teror yang diterima Agra belakangan hari ini?" tanya Dokter Jhon.


"Iya," sahut Albert.


"Kita tunggu hasil dari CT scan, karena aku melihat ada luka bekas operasi dikepalainya," kata dokter Jhon.


"Luka bekas operasi?" tanya Michael.


"Iya, dia tadi mengeluhkan sakit kepala," kata dokter Jhon.


"Apa dia pernah kecelakaan?" tanya Albert.


"Aku tidak tahu, yang aku lihat ada bekas operasi besar di kepalanya," jawab dokter Jhon.


"Apa dia Malika?" ucapan Michael membuat Albert menatapnya.


"Apa dia tidak meninggal dalam kecelakaan, dan dia datang kembali? untuk mengacaukan kehidupan Agra kembali." tutur Albert.


"Gadis yang sangat cantik begitu, kenapa kalian mengatakan seolah-olah gadis itu sangat berbahaya?" dokter Jhon heran mendengar Albert dan Michael menuturkan gadis yang baru menjadi pasiennya, sepertinya sosok yang sangat berbahaya.


"Kau tidak tahu, bagaimana gadis itu menghancurkan keharmonisan Agra dengan keluarganya menjadi renggang. Bertahun-tahun Agra memutuskan tali komunikasi dengan Papa, Mama dan Omanya." tutur Albert.


"Setelah istrinya meninggal, tali komunikasi antara Agra dan keluarganya terjalin kembali." Michael menyambung cerita Albert.


"Hah..! aku tidak tahu ceritanya begitu, karena aku tidak terlalu akrab dengan Agra. Tidak seperti kalian," kata Jhon.


"Apa perlu kita katakan pada Agra?" tanya Michael.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Michael, hening. Yang terdengar hanya suara pasien yang berada dalam IGD yang merintih kesakitan.


***


Yulia mengumpat dalam kamarnya, satu hari ini dia sungguhi dengan postingan rekan-rekannya yang datang menghadiri resepsi pernikahan Agra Barend.


"Sial..! sial..! kurang ajar kau Andi..! gara-gara kau, aku tidak bisa menghadiri pesta.


"Istrinya tidak ada apa-apa dibandingkan denganku." senyum smirk terukir disudut bibirnya.


...***...


To be continued