My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Minggat



Happy reading 😍


...🍁🍁🍁🍁...


Jamie melihat keberadaan Papanya dihalaman belakang.


"Itu Papa, mungkin saja Papa sudah berubah pikiran." gumam Jamie.


Jamie melangkah mendekati papanya yang duduk di halaman belakang.


"Apa Papa sudah mengurus surat-surat pernikahan Jeanny ?" Tanya Jamie langsung, begitu dia berada di dekat Papanya duduk.


Papa mendongak menatap wajah Jamie yang berdiri disampingnya.


"Duduk dulu." Titah sang Papa.


Jamie menarik kursi dan meletakkan bokongnya di kursi yang baru ditariknya.


"Papa tadi pergi ke KUA kan?" Tanya Jamie.


"Papa hanya menanyakan syarat-syarat pernikahan," kata Andre, Papanya Jamie.


"Sudah pasti Papa menikahkan Jeanny dengan laki-laki itu? Apa Papa tidak bisa merubah keputusan Papa itu lagi?" tanya Jamie yang berharap, sang Papa merubah keputusannya.


"Apapun keputusan yang sudah Papa putuskan, dan yang sudah keluar dari mulut Papa ini. Tidak mungkin Papa anulir lagi." tegaskan Papa Jamie.


Jamie diam, Jamie tahu. Bahwa apapun yang dikatakannya, tidak akan merubah keputusan yang sudah diambil oleh Papanya tersebut.


"Apa aku katakan saja, mengenai Yudha yang bekerja di perusahaan Agra." dalam benak Jamie.(tumben ingat Bang 🤔)


"Ada apa? Apa yang ada dalam pikiranmu Jam?" Papa Jamie melihat kening anaknya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Papa harap, kau jangan menggagalkan rencana pernikahan Jeanny. Papa mengambil keputusan ini bukan karena Agra itu pria yang mapan dari segi finansial, tapi perasaan Papa ini mengatakan. Jeanny bisa bahagia dengannya." Tutur Papanya.


"Aku Katakan saja kepada Papa." suara hati Jamie.


"Pa, ada yang ingin Jamie katakan," kata Jamie.


Setelah mengambil keputusan untuk mengatakan mengenai Yudha yang bekerja di perusahaan Agra.


"Apa? Apa kau ingin menikah juga? Karena tidak ingin dilangkahi oleh Jeanny?" Tebak sang Papa, karena terlihat dari raut wajah Jamie yang serius.


"Bukan Pa, Jamie belum memikirkan pernikahan. Dan Jamie tidak masalah jika dilangkahi oleh Jeanny," kata Jamie.


"Lalu apa?" Tanya Papanya.


Jamie menceritakan tentang kunjungannya ke perusahaan Agra, dan tentang pertemuannya dengan Yudha.


"Dia bekerja di sana?" Tanya Papanya.


"Iya Pa, dan istrinya juga bekerja di sana," kata Jamie.


"Kenapa kebetulan begitu." Gumam Andre, Papa Jamie.


"Menarik kan Pa, orang yang telah menyakiti Jeanny. Berada dalam satu tempat, dan Jeanny akan menjadi istri pemilik perusahaan tempat keduanya bekerja," kata Jamie dengan perasaan yang senang,


"Apa Jeanny tahu, Yudha bekerja di perusahaan Agra?" tanya Papa pada Jamie.


"Jamie tidak tahu mengenai hal itu Pa, apa kita tanyakan saja pada Jeanny?"


Andre, Papa Jamie diam. Keningnya mengkerut.


"Bagaimana Pa?" Jamie tidak sabar, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Papanya.


"Jangan, biar Jeanny tahu sendiri," ujar Papanya.


"Semoga keputusan kita untuk merahasiakannya, tidak membuat Jeanny marah. Dan, masalah Yudha yang bekerja di perusahaan Arga. Apa kita diamkan juga pada Arga," kata Jamie.


"Arga? siapa Arga?" tanya Papanya, pada Jamie.


"Ah..nama yang sulit, Agra Pa. Jamie sering keliru menyebut namanya." Jamie tertawa.


"Kau ini, suka mengganti nama orang." Papanya juga tertawa.


"Masalah itu, biarkan Jeanny yang bercerita kepada Agra," ucap Papanya.


"Jamie sebenarnya senang Pa, rasain itu Yudha. Jeanny akan menjadi istri pemilik perusahaan tempat dia bekerja." Jamie tertawa.


"Hus..! jangan begitu," ujar Papanya.


"Bagaimana raut wajah kedua orang itu, saat mengetahui pernikahan Jeanny dengan Boss tempat mereka bekerja," ucap Jamie.


Dalam kamar.


Jeanny mondar-mandir dalam kamarnya, giginya terus mengigit kuku jari tangannya. Kebiasaan Jeanny, jika dia banyak pikiran dan gugup. Kuku tangannya selalu menjadi korban.


"Apa yang harus aku lakukan? aku belum mau menikah, apalagi dengan pria yang baru aku kenal." gumam Jeanny.


Tok..tok..


Terdengar ketukan di pintu kamarnya, dan suara kenop pintu yang ingin dibuka dari luar. Tapi karena Jeanny mengunci pintu kamarnya, orang dari luar tidak akan bisa masuk kedalam kamarnya.


"Jeanny, ayo makan. Dari siang, Jean belum makan apapun juga. Jangan siksa diri Jean," ujar sang Mama dari balik pintu kamarnya, karena Jeanny mengunci pintu kamarnya.


"Jean!..Jean..!" Amira mengetuk pintu kamar putrinya, Jeanny.


Pintu terbuka, Jeanny membuka pintu kamarnya.


"Ya Allah! Jeanny, kenapa wajahmu begitu kucel. APa kau mau puasa mandi dan makan?"


Jeanny tidak menanggapi perkataan Mamanya, tubuhnya bersandar di daun pintu.


"Ayo, kita makan." Amira menarik Jeanny keluar dari dalam kamar.


"Ma, Jean tidak mau makan..!" Jeanny.


"Tidak ada bantahan." Amira menarik tangan Jeanny, walaupun Jeanny tetap berusaha.


"Duduk..!" titah Amira, Mamanya.


Jeanny duduk, matanya menatap piring yang ada dihadapannya. Tidak sedikitpun matanya melirik kearah Papa dan Jamie yang duduk disampingnya.


Biasanya di meja makan penuh dengan drama antara Jamie dan Jeanny, kini. Meja makan sunyi senyap.


"Makan, kenapa diam saja?" Amira datang dengan membawa buah-buahan yang sudah dipotong-potong.


Jeanny berdiri.


"Jean, duduk..!" titah Amira, Mamanya.


"Jean tidak lapar Ma." Jeanny langsung berlari meninggalkan meja makan, masuk kedalam kamarnya.


"Jean..!" teriak Jamie.


"Sudah, biarkan saja. Ayo kita makan, tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang sudah tersedia di atas meja makan." tutur Papa.


Dalam kamar.


"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak boleh menyerah. Aku kabur saja, tapi kemana ? tempat Nenek, tidak mungkin. Itu tempat pertama di cari, pergi saja dulu. Nanti pikirkan, kemana kaki ini akan melangkah. Pertama-tama aku harus mengambil mobil di bengkel, jam segini bengkel pasti masih buka."


Jeanny mengeluarkan tas ransel dan memasukkan beberapa bajunya, lalu dengan cepat Jeanny keluar dari dalam kamar. Dengan mengendap-endap, Jeanny keluar dari dalam rumahnya tanpa ada yang tahu. Karena Papa, Mama dan Jamie masih berada di ruang makan.


Setelah sampai di luar rumah, Jeanny baru dapat bernapas dengan lega.


"Akhirnya, aku bisa keluar. Aku tidak akan kembali, jika pernikahan itu tidak dibatalkan." gumam Jeanny.


Jeanny berjalan cepat, menjauh dari rumahnya. Karena takut, kaburnya diketahui oleh keluarganya.


Jeanny terus menggerutu sembari melangkah, dia tidak menyadari ada mobil yang berpapasan dengannya.


"Mau kemana cewek bar-bar itu?" Agra menghentikan mobilnya, dan melihat dari kaca spion.


"Sepertinya, dia ingin kabur?"


Agra membatalkan niatnya, yang ingin ke rumah Jeanny. Untuk menyampaikan pesan Oma Gracia.


"Aku ikuti saja dulu dia, aku tidak akan membiarkan kau kabur Nona bar-bar.'


Agra memutar balik arah mobilnya, dan mengikuti Jeanny yang berdiri di tepi jalan.


"Nunggu apa dia?" Agra terus memantau Jeanny dari kejauhan.


Agra melihat ada mobil jenis sedan berhenti didepan Jeanny.


"Siapa itu, apa taxi?" Agra mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar mobil tersebut.


Mobil yang berhenti didepan Jeanny, membuka kaca mobilnya dan menyapa Jeanny.


"Hai Jean." sapa pria tersebut.


Jeanny menoleh kearah orang yang memanggilnya, karena gelap dia tidak mengetahui siapa yang menyapanya.


"Jeanny, aku Andi." pria yang didalam mobil menyebutkan namanya.


"Oh.. Andi." Jeanny ingat dengan orang yang menolongnya.


"Kau mau kemana?" tanya Andi dari dalam mobilnya.


"Mau ke bengkel, apa bengkel masih buka malam begini?" tanya Jeanny.


"Baru jam 7, masih buka. Dia tinggal di bengkel," kata Andi.


"Ayo, aku antar." Andi menawarkan diri untuk mengantarkan Jeanny.


"Apa tidak merepotkan?" Jeanny sungkan untuk merepotkan Andi.


"Tidak apa-apa, aku juga mau keluar. Ayo," ucap Andi.


"Baiklah, terima kasih."


Jeanny masuk kedalam mobil Andi, sedangkan Agra masih terus memantau Jeanny yang masuk kedalam mobil.


"Mau kemana dia? orang yang didalam mobil, laki-laki apa wanita? kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu? tapi apa? apa di rumah ?"


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung...