
Tekan like like ya🙏
...***...
"Jean, lebih baik kau berendam dengan air hangat. Biar tubuhmu segar," ujar Valerie.
"Iya, tubuhku sepertinya ingin lepas satu persatu. Apalagi kakiku ini, betisnya sudah sangat kram," ucap Jeanny seraya bangkit dari rebahan dan duduk di sisi ranjang.
"Lisa tidur," ujar Jeanny, saat melihat melihat ke sampingnya.
"Sepertinya, dia juga sangat lelah," kata Bella.
"Mandi sana Jean, biar kami di sini menjaga Lisa. Dan pakai ini." Bella mengambil paper bag yang ada di dalam koper kecilnya, dan memberikannya pada Jeanny.
"Apa ini? jangan baju tidur jaring laba-laba lagi, aku tidak akan mau memakainya," kata Jeanny sembari sedikit melotot menatap Bella.
"Tidak, itu baju tidur sangat sopan. Kau pasti suka, sana mandi." Bella mendorong Jeanny untuk masuk kedalam kamar mandi.
Jeanny masuk kedalam kamar mandi, Bel kamar berbunyi.
"Siapa itu? apa suami Jeanny?" tanya Bella pada Valerie yang duduk di sofa.
"Dari pada saling tebak, buka saja," kata Valerie.
"Buka Val." titah Bella pada Valerie.
"Kau paling dekat dengan pintu kamar Bella, kau yang buka," ujar Valerie.
"Kau, pemalas." gerutu Bella sembari melangkah keluar dari dalam kamar, menuju pintu apartemen.
Ketika pintu terbuka lebar, terlihat Mama, Obut dan pengasuh Lisa.
"Tante, Oma." sapa Bella yang sudah mengenalnya.
"Mana Jeanny dan Lisa?" tanya Gracia.
"Jean sedang mandi Oma, Lisa tidur," jawab Bella.
"Biar saya bawa Lisa pulang ya, Nyah," ujar Bi Anah.
"Iya, Bi Anah. Selagi dia tidur, kalau bangun nanti sulit untuk dibawa pulang. Lisa pasti tidak ingin lepas dari Jeanny," kata Alma.
Bi Anah masuk kedalam kamar dan keluar mengendong Lisa, diikuti oleh Valerie.
"Apa Lisa mau di bawa pulang Tante?" tanya Valerie.
"Iya, nanti dia tidur di sini akan menganggu pengantin baru," ujar Gracia.
"Iya Oma, nanti pengantin baru tidak bisa unboxing," kata Bella sembari tertawa kecil.
"Apa itu unboxing?" tanya Gracia, Oma Agra.
"Malam pertama Oma," sahut Valerie.
Oma dan Tante Alma tertawa.
"Kalian juga pulang, Agra sebentar lagi naik," kata Gracia.
"Apa tidak apa-apa, kita pergi tidak bilang pada Jeanny, Oma ?" tanya Valerie.
"Tidak apa-apa, biar nanti Agra datang saat Jeanny mandi. Semoga, mereka akan mandi sama," ucap Gracia sambil tertawa.
"Oma, pintar juga." puji Valerie.
Akhirnya, semua meninggalkan kamar Jeanny tanpa mengatakan pada Jeanny. Hanya mengirim pesan melalui ponsel.
Begitu Jeanny keluar dari kamar dengan membawa baju jaring lama, kamar sudah kosong. Hanya ada dia bersama dengan baju jaring laba-laba pemberian Bella.
"Keduanya kabur, tapi. Lisa mana?" Jeanny tidak melihat Lisa yang tadi tidur di atas ranjang.
Jeanny melihat lampu ponselnya kelap-kelip, Jeanny mengambil ponselnya. Dan melihat pesan dari Bella,
(Jean, kami pulang ya. Lisa di jemput sama Tante Alma, dan Jean. Selamat pengantin baru ya, semoga kau tidak pingsan melihat dedek manja suamimu😝)
"Mereka meninggalkanku, dasar kau Bella. Baju apa yang kau berikan ini." Jeanny melempar baju pemberian Bella kesembarang arah.
Jeanny mengambil tasnya dan mengeluarkan piyama tidurnya bergambar kelinci, dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Tak lama dalam kamar mandi, Jeanny sudah memakai piyama tidurnya.
Jeanny merebahkan tubuhnya ditengah-tengah ranjang, dan tak lama kemudian Jeanny sudah masuk kedalam mimpi.
Larut malam, Agra berjalan terseok-seok dipapah oleh Albert dan Michael.
"Aku mau pulang." gumam Agra yang mabuk dibuat oleh Albert dan Michael.
"Iya, kau akan pulang. Istrimu sudah menunggumu," kata Albert.
"Istri?" Agra menoleh menatap Albert.
"Iya istri, istrimu Jeanny. Pasti sudah menunggumu dengan memakai lingerie paling hot," kata Michael sambil tertawa.
"Hot..! panas, terbakar..!" seru Agra.
"Hus..! jangan berisik, nanti orang marah," ujar Albert.
"Aku sudah lama tidak melihat Agra mabuk, terakhir melihatnya. Saat kelulusan universitas," ujar Michael.
"Ini kamarnya kan?" tanya Albert pada Michael.
"Lihat kunci kamarnya." Michael mencari-cari kunci kamar di dalam saku jas Agra.
"Ini." Michael menunjukkan kartu, dan melekatkannya pada pintu dan terbuka.
"Agra, masuk. Istrimu menunggu di dalam, jangan malu-malu. Langsung hajar, kami tunggu kabar baik darimu," ujar Michael.
"Hajar?" gumam Agra yang tidak sadar karena pengaruh minuman keras.
"Iya, hajar. Tapi hajar jangan pakai tangan, pakai tongkat sakti mu. Sudah sana masuk." Albert dan Michael mendorong tubuh Agra untuk masuk kedalam kamar, dan kemudian menutup pintu dari luar.
"Selamat bersenang-senang Agra." ujar Albert sebelum meninggalkan depan kamar Agra.
Agra terhuyung-huyung melangkah menuju kamar, Sesekali kakinya tersandung dan hampir terjatuh.
"Kenapa banyak sekali barang di sini?"
Agra membuka pintu kamar dan masuk kedalam kamar seraya membuka bajunya satu persatu, sehingga. Tubuhnya hanya tinggal boxer yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Ketika sampai didekat ranjang, matanya menatap Jeanny yang tidur ditengah-tengah ranjang. Agra merangkak naik dan mendorong tubuh Jeanny, agar dia dapat tidur.
"Ah.. kenapa dia berat sekali, siapa dia? kenapa dia tidur di ranjang ku? apa Lisa, putriku? tidak mungkin, Lisa masih kecil. Ah..aku ngantuk sekali." Agra merebahkan tubuhnya di samping Jeanny, tanpa mengunakan selimut. Karena selimut dikuasai oleh Jeanny.
"Dingin." gumam Agra.
Kemudian tubuhnya mendekati Jeanny, dan menarik selimut yang menutupi tubuh Jeanny. Akhirnya, keduanya memakai satu selimut.
...***...
Ditempat penyekapan Mikaela, Mikaela tersadar dari pingsannya.
"Ah...!" Mikaela memegangi kepalanya, yang sakit.
"Sakit..! Mana obatku." Tangannya mencari-cari tas yang selalu di bawanya, karena didalam tas tersebut berisi obat yang selalu dikonsumsinya jika sakit kepalanya menyerang tiba-tiba.
"Mana tas ku?" Mikaela tersadar, saat melihat di mana dia saat ini. Bukan di kamarnya.
"Tadi aku ingin pergi pesta, bajuku basah karena pria menyebalkan itu menumpahkan minuman ke bajuku. Dan aku, ingin mengeringkan bajuku yang basah? Lalu, Kenapa aku berada di sini?" Bingung Mikaela.
"Aku telah di culik! Maharani, ini pasti kerjaan Nenek lampir itu..!"
"Ah ..!!" Sakit kepalanya kembali menyerang.
"Sakit..!" Mikaela memegangi kepalanya sembari meringkuk di atas ranjang kecil, yang ada dalam ruangan tempat dia disekap.
Dari balik kaca, orang yang ditugaskan oleh Albert untuk menjaga Mikaela melihat Mikaela yang meringkuk dan terdengar sayup-sayup suara merintih kesakitan.
"Dan, kenapa gadis itu seperti kesakitan?" tanya pria yang bernama Marco pada Dani, yang duduk dengan terkantuk-kantuk.
"Pura-pura saja itu, biar kita merasa kasihan kepadanya. Lihat saja, sebentar lagi dia sudah bisa berjalan kemana-mana. Dia juga sudah bisa memaki kita, dan juga dia bisa mungkin memukul kepala kita. Sehingga kita pingsan, dan dia bisa melarikan diri," kata Dani kepada Marco tanpa membuka matanya.
...***...
To be continued