My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...****...


Agra membuka pintu dan melihat Jerry, datang dengan membawa koper dan paper bag isi makanan yang di pesan Agra.


"Ini Tuan." Jerry berdiri dibibir pintu, karena dia tahu. Agra tidak ingin dia masuk.


"Terima kasih, apa tiket untuk Oma dan Lisa sudah kau pesan?" tanya Agra.


"Sudah Tuan, nyonya Alma juga kan Tuan?" tanya Jerry takut salah, karena dia memesan tiga tiket penerbangan menuju Eropa.


"Ya, Papa akan menyusul dua hari kemudian dan kau pesan tiket untuk Papa juga. Ingat, jangan ada yang tahu. Kemana tujuan mereka pergi."


"Baik Tuan ." Jerry pergi, lalu kemudian Agra menutup pintu apartemen. Dan bergegas menarik koper masuk kedalam kamar kembali.


Pandangan Agra melihat ranjang, dan tidak melihat keberadaan Jeanny.


"Sudah dibilang jangan kemana-mana, masih juga tidak nurut " omel Agra.


Agra mendengar suara gemericik air dalam kamar, Agra bergerak menuju kamar mandi dan memegang kenop pintu. Agra memutar kenop pintu, tapi tidak terbuka.


"Sial! dia menguncinya."


Tok..tok..


"Jean..!" panggil Agra, dibarengi dengan ketukan di pintu.


Tok..tok .


"Sayang, buka pintunya.." panggil Agra.


"Jangan ganggu, Abang kan sudah mandi," ucap Jeanny dari dalam kamar mandi.


"Tidak ada larangan untuk mandi kembali, ayolah. Buka pintunya, please..!" mohon Agra dengan suara selembut mungkin.


"Hih.. kenapa suaraku seperti memelas begini?" Agra juga jijik mendengar suaranya memohon kepada Jeanny agar dibukakan pintu kamar mandinya.


Akhirnya, setelah tidak berhasil membuat Jeanny membuka pintu kamar mandi. Agra menyerah, dia keluar dari dalam kamar.


*


*


Maharani di makamkan oleh anak buahnya dibelakang rumah pribadi Maharani.


Tidak ada sorot mata sedih, di mata para anak buah yang sudah lama bekerja dengan Maharani.


Satu persatu anak buah Maharani melemparkan batu kedalam liang lahat Maharani, suara batu menerpa peti mati.


pletak..Pletuk..Suara batu menerpa peti mati Maharani.


Setelah selesai acara pemakaman, semua satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan Maharani yang terakhir.


"Setelah ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang anak buah Maharani pada Jabrik.


"Pulanglah, bekerja yang benar. Jangan lakukan pekerjaan yang melanggar hukum, ini. Jabrik memberikan amplop kepada semua rekan kerjanya.


"Apa ini?" tanya rekannya pada jabrik.


"Gaji kalian," jawab Jabrik.


"Gaji! kami masih mendapatkan gaji? apa kau ada uang?" tawa senang terlihat dari para rekannya kerja Jabrik.


"Aku ambil dari Bank, uang Maharani Dia tidak membutuhkan uang lagi," kata Jabrik.


"Son, ini milikmu." Jabrik memberikan amplop kepada Samson yang duduk diam, tanpa perduli dengan apa yang sedang diperbincangkan oleh para rekan kerjanya.


Samson mengambilnya dan memasukkan amplop tersebut kedalam saku jaketnya.


"Sekarang, kita berpisah di sini. Dan, jauhi pekerjaan seperti yang sekarang kita lakukan. Uang itu, pakailah untuk membuka usaha." Jabrik berdiri menatap satu persatu wajah teman-temannya.


Satu persatu saling berpelukan, dan mulai membubarkan diri. Kini, tinggal Jabrik dan Samson.


"Aku tahu, kau yang melenyapkannya." Jabrik membuka suaranya.


Samson menunduk, lalu mengangkat kepalanya. Memandang.


"Kau sudah membalaskan dendam ayahmu, apa kau sudah bahagia?" tanya Jabrik.


"Belum, karena aku belum sempat mengatakan padanya. Aku, anaknya. Yang ditinggalkannya sebatang kara. Anak, yang ayahnya direnggutnya didepan matanya. Anak kecil yang terpaksa berjuang sendiri, untuk tumbuh besar..!" Samson meluapkan emosinya, yang selama ini tersimpan rapat.


Tidak ada yang tahu, hubungan antara Samson dan Maharani. Hanya Jabrik, itu juga karena. Tanpa sengaja, Jabrik melihat gambar satu keluarga. Yaitu Maharani dengan seorang pria dan anak kecil.


Maharani melenyapkan sang suami, dan membawa lari harta sang suami. Meninggalkan sang putra yang saat itu baru berusia 5 tahun, bersama dengan pelayan.


Axel Subroto, walaupun masih berumur 5 tahun saat itu. Tapi, dia ingat semua dengan apa yang terjadi didepan matanya. Apalagi, pelayan setia ayahnya. Selalu menceritakan, masa lalu keluarganya. Sehingga, Axel tidak pernah lupa dengan kekejaman Maharani. Ibunya.


"Kenapa tidak kau beritahu pada Maharani, saat mengetahui siapa aku?" tanya Samson pada Jabrik.


"Aku bekerja, bukan untuk mencampuri masalah pribadi nyonya Maharani. Itu urusan kalian berdua, sekarang. Apa rencanamu terhadap rumah ini? apa kau akan tinggal di sini?" tanya Jabrik.


"Tidak! aku akan kembali. Aku tidak ingin tinggal bersama dengannya, walaupun itu hanya makam. Kau, aku serahkan rumah dan tanah ini kepadamu. Lakukan, apa yang ingin kau lakukan pada tanah dan rumah ini. Aku tidak ingin menyentuh harta wanita, uang ini. Berikan kepada panti asuhan, suruh mereka mendoakan wanita itu. Agar arwahnya tidak gentayangan." Samson mengeluarkan amplop yang diberikan Jabrik, dan memberikannya kembali kepada Jabrik.


Setelah memberikan amplop kepada Jabrik, Samson bangkit dari duduknya. Berjalan menuju halaman belakang, dia berjalan menuju makam Maharani. Wanita yang telah membawanya ke dunia, dan juga wanita yang telah membuat dia kehilangan sosok ayah di waktu.


Samson berdiri, didepan makam yang masih basah.


"Aku sangat membencimu! sebenarnya, aku tidak ingin menghabisi mu secepat ini. Aku ingin melihat dirimu minta maaf di makam ayahku, tapi. Kau semakin tidak terkendali, kau semakin ingin melenyapkan orang yang tidak kau sukai. Lebih baik aku melenyapkan mu, sekarang juga. Semoga, ayahku memaafkan mu." Samson/Axel melihat bunga jengger ayam, memetiknya dan meletakkannya di atas pusara wanita yang telah melahirkannya tersebut. Lalu kemudian, Samson/ Axel pergi meninggalkan makam yang masih basah tersebut.


Sebelum masuk kedalam mobilnya, Samson menjabat tangan Jabrik.


"Terima kasih, kau tidak membocorkan identitasku padanya. Aku pergi, jaga dirimu baik-baik." Samson/Axel memutar tumitnya dan melangkah masuk kedalam mobilnya.


"Aku menunggumu di sini, My brother..!" seru Jabrik, tapi. My brother, hanya diucapkannya dalam hati.


Samson mengeluarkan tangannya, dan melambaikan tangan pada Jabrik.


*


*


Marco bergegas menemui Albert di apartemen, dan memberikan surat kepada Albert.


"Boss, ada surat sampai di kantor," kata Marco dan menyodorkan amplop yang dipegangnya kepada Albert.


"Tidak ada nama pengirimnya." gumam Albert.


"Siapa yang mengirimkannya?" tanya Albert pada Marco.


"Diletakkan di kaca depan mobil, Boss," jawab Marco.


Albert membuka amplop dan isinya gambar Maharani dan saat pemakaman Maharani.


"Apa betul ini?" Albert bertanya pada Michael.


"Apa isinya?" tanya Michael.


"Maharani meninggal," jawab Albert.


"Marco, kau selidiki." titah Albert pada Marco yang masih berdiri menunggu perintah dari Albert.


"Baik." Marco meninggalkan apartemen Albert.


"Meninggal! karena apa? apa tidak ada surat didalam, selain gambar itu?" tanya Michael.


Albert mengeluarkan semua isi dalam amplop, dan ada selembar surat.


Albert membacanya.


To Tuan Albert Wijaya.


Permusuhan antara Nyonya Maharani dengan nyonya Gracia sudah berakhir, nyonya Maharani sudah meninggal. Saya kirimkan gambar nyonya Maharani meninggal, sampaikan pada Tuan Agra Barend. Kami tidak akan menggangu keluarganya, karena kami tidak ada sangkut paut dengan nyonya Maharani. Kami hanya anak buah.


"Siapa yang mengirim surat ini? tulisannya juga sangat jelek," ujar Michael yang juga membaca surat yang ditujukan kepada Albert.


"Mungkin ini hanya lelucon, begitu Agra lengah. Dia menyerang," kata Michael.


"Aku harus menemui Agra," kata Albert.


"Besok saja, kau telepon saja, dia tidak angkat. Mungkin dia lagi berada di atas ranjang, jangan ganggu." Michael mencegah Albert yang ingin menemui Agra.


*


*


Di apartemen, Agra dan Jeanny sedang menikmati makan malam. Keduanya saling diam, sejak Jeanny keluar dari dalam kamar mandi. Agra mendiamkannya.


"Kenapa dia diam saja? wajah seperti bokong monyet, merah dan mengkerut." batin Jeanny.🤔😄


...***...


to be continued