My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



Hai kakak-kakak reader, jangan lupa untuk menekan tombol like ya 😍


...Happy reading...


...***...


Yudha berada didalam ruang HRD, tekadnya sudah bulat. Ingin resign dari pekerjaannya sekarang ini.


*Flashback*


Dua pasang mata melihat Yudha dengan lekat, kedua sangat sedih. Melihat Yudha yang muram, tubuhnya terlihat semakin kurus.


"Yudha, Papa perhatikan. Tubuhmu semakin kurus, apa kau ingin menyiksa diri. Agar dikasihani oleh Jeanny?"


Yudha tetap menunduk, piring yang berisi sarapan paginya tetap penuh. Tidak ada isi piring tersebut yang masuk kedalam lambungnya, hanya kopi yang mendiami lambungnya di pagi hari ini.


"Yud! dengar apa yang dikatakan Papa?" tegur Mamanya dengan suara sedikit keras, karena sang putra hanya diam memandangi piringnya.


Yudha mengangkat kepalanya, dan menatap wajah kedua orangtuanya.


"Ada yang ingin Yudha katakan," kata Yudha membuka mulut, yang sedari tadi irit bicara.


"Ada apa?" tanya Papanya.


"Yudha sudah mengambil keputusan, Yudha akan resign," ucap Yudha.


"Resign!? kenapa? apa ada masalah di kantor?" Mamanya kaget, mendengar apa yang disampaikan oleh Yudha.


"Tidak ada masalah, tapi. Yudha tidak nyaman bekerja di sana."


"Tidak nyaman? pasti ada masalah, katakan. Apa Boss menyulitkan pekerjaan mu? atau Yulia membuatmu tidak nyaman lagi bekerja di sana?" tanya Papanya, pada Yudha.


"Salah satunya, apa Mama dan Papa tidak mendapatkan undangan?" tanya Yudha.


"Undangan? undangan siapa?" Mama Yudha balik bertanya pada putranya.


"Jeanny, dia sudah menikah beberapa hari yang lalu," ujar Yudha.


"Menikah! Jeanny menikah?" Mama Yudha tersentak, mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.


Yudha menganggukkan kepalanya.


"Secepat itu dia menikah, secepat itu juga dia melabuhkan cintanya kepada laki-laki lain." gumam Susan, Mama Yudha.


Ada perasaan tidak rela di hati Susan, saat mendengar Jeanny menikah. Karena, Susan. Sangat menyukai Jeanny, gadis yang baik dan selalu membuat putranya ceria.


Susan merasa, harapannya untuk Jeanny dan Yudha kembali bersama pupus sudah.


Hendra, Papa Yudha tahu perasaan tidak rela sang istri. Mengetahui Jeanny menikah, dia juga menyimpan harapan. Agar suatu waktu, Yudha dan Jeanny bisa bersatu lagi.


Harapan itu tidak akan kembali kembali, karena. Sang gadis sudah memilih pendamping.


"Siapa? dengan siapa dia menikah?" tanya Hendra, Papa Yudha.


"Dengan Boss tempat Yudha bekerja."


Ucapan Yudha membuat kedua orangtuanya mengerti, mengapa sang putra ingin resign dari pekerjaannya.


"Karena itu ingin resign dari pekerjaan?" tanya Papanya.


Yudha menganggukkan kepalanya.


"Apa tidak bisa dipikirkan lagi Yud?" tanya Mamanya.


"Ma, biarkan Yudha mengambil keputusan yang dianggapnya benar. Jika Yudha sudah tidak nyaman, tidak akan bagus bagi pekerjaannya nantinya."


"Yud, setelah tidak bekerja. Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Papanya.


"Yudha belum memikirkan, apa yang ingin Yudha lakukan kedepannya," kata Yudha.


"Pikirkan dengan tenang Yudha, jangan ada penyesalan nantinya," ujar mamanya.


"Yudha sudah memikirkannya Ma, Yudha mengambil keputusan ini sudah memikirkan dengan matang-matang. Jika, Yudha masih bekerja di sana. Hati Yudha tidak akan kuat, jika melihat kebersamaan mereka. Jeanny pasti akan sering mengunjungi perusahaan, Yudha tidak akan mampu. Yudha bisa gila nantinya." tutur Yudha.


"Papa mendukung keputusanmu, bagaimana jika kau meneruskan rencana mu yang batal dulu. Yudha."


"Rencana apa?" tanya Mama Yudha.


"Beberapa tahun dulu, Yudha ingin melanjutkan S2. Apa kau melupakan keinginanmu itu Yud?" Papa Yudha mengingatkan rencana sang putra dahulu, yang ingin melanjutkan sekolahnya. Karena mendapatkan pekerjaan, Yudha membatalkan rencana melanjutkan kuliahnya.


"Ya, jika uangmu tidak cukup untuk melanjutkan kuliah. Papa masih ada tabungan, itu bisa untuk membiayai sekolahmu," kata Papanya.


"Masalah uang, Yudha ada Pa. Uang tabungan menikah dengan Jeanny, masih utuh. Papa tidak perlu khawatir."


"Mama mendukungmu, jika kau ingin melanjutkan S2. Di luar negeri saja Yud, untuk mencari lingkungan baru," ujar Mama Yudha.


*Flashback end*


"Apa ini Pak Yudha?" tanya staf yang bekerja di bagian HRD.


"Jika orang datang ke sini untuk apa?" Yudha balas balik bertanya.


"Ingin mengajukan surat untuk resign," jawab staf yang mengenal Yudha cukup baik.


"Itu tahu, bapak pakai nanya." Yudha tertawa kecil.


"Tapi, kenapa Pak Yudha ingin resign? apa bapak mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan?"


"Tidak, saya ingin melanjutkan kuliah lagi," kata Yudha.


"Oh..,surat sudah saya terima ya Pak. Tunggu di proses, semoga diterima ya Pak. Bapak ini salah satu pegawai yang bagus, sulit rasanya melepaskan Pak Yudha."


"Semua pegawai di perusahaan ini bagus Pak, bukan hanya saya saja," balas Yudha.


Setelah memberikan surat resign, Yudha kembali menuju ruangannya.


Saat kembali kedalam ruangannya, Yudha sempat melirik kearah meja Yulia yang kosong.


"Baru jam segini, dia sudah tidak berada di ruangannya. Rugi perusahaan membayar gajinya." batin Yudha, saat tidak melihat keberadaan Yulia.


***


Agra dengan kedua temannya sedang membahas Maharani, yang sudah tidak berada di alamat yang diberikan oleh Mikaela.


"Orang itu sudah tidak dirumahnya, rumahnya dalam keadaan kosong. Sepertinya, kedatangan kita sudah bocor," kata Albert.


"Mungkin Mikaela yang membocorkannya," kata Michael.


"Pakai apa, telepon rumah sakit. Sudah aku tanyakan, tidak ada permintaan telepon dari kamar Mikaela. Untuk disambungkan keluar," kata Albert.


"Mungkin ada mata-mata."


Albert dan Michael menatap Agra.


"Betul apa yang dikatakan oleh Agra, mungkin. Ada mata-mata, Bert. Apa anak buahmu itu semua bisa di percaya?" tanya Michael.


"Anak buahku itu semua, orang yang sudah lama bekerja denganku. Tidak mungkin dia akan berkhianat."


"Mungkin saja, ada anak buah wanita itu yang mengikuti kau. Agra," kata Albert.


"Apa anak buahmu yang menjagaku, tidak mengatakan apapun padamu. Jika ada yang mengikuti ku?" tanya Agra pada Albert.


"Tidak ada laporan," kata Albert.


"Bert, kau harus selidik. Jangan ada sampai, anak buahmu yang bekerja dua kaki." ingatkan Michael pada Albert.


"Apa iya, ada orang-orang kepercayaan ku yang berkhianat.." batin Albert.


***


"Ma, kita mau kemana?" tanya Lisa.


"Kita mau mengambil mobil di bengkel," sahut Jeanny.


"Mobil Mama rusak?" tanya Lisa.


"Iya, mobilnya sudah harus masuk museum."


"Beli mobil baru Ma, kata Papa. Kalau mobil rusak, tidak usah dibetulkan. Beli baru saja." Lisa mengatakan apa yang dikatakan Agra.


"Kalau masih bisa di perbaiki, kita perbaiki saja. Jangan apa-apa rusak, ganti baru. Ajaran Papa itu jangan ditiru ya, jika masih bisa diperbaiki. Kita perbaiki, tapi. Jika harga memperbaikinya seharga beli baru, baru bisa kita pertimbangkan untuk membeli yang baru." tutur Jeanny.


Lisa hanya menganggukkan kepalanya, entah dia mengerti apa yang dikatakan oleh Jeanny. Yang pasti, Jeanny sudah mengajarkan Lisa untuk menyayangi barang sejak dini.


...****...


To be continued