My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
Curiga



Happy reading 😍


🌹🌹🌹


"Apa yang akan dikatakan leluhur keluarga barend, keluarga Barend tidak mempunyai penerus lagi?"


Abraham barend meletakkan bokongnya di kursi depan IGD, kedua tangannya bersedekap didepan dada.


Alma turut duduk di samping Abraham Barend, suaminya. Dia menyandarkan tubuhnya kesadaran kursi. Kepalanya menoleh sedikit menatap wajah suaminya.


"Bagaimana Pa, apa yang mama katakan benar kan?"


"Tapi putra kita tidak mau menikah lagi Ma, apapun yang kita katakan. Dia tetap kekeuh tidak ingin menikah lagi," kata Abraham pada sang istri.


"Dia tidak ingin menikah lagi, tapi kita bisa membuatnya menikah lagi," kata Alma pada sang suami Abraham Barend.


"Bagaimana caranya? ingat Ma, jangan melakukan perbuatan yang akan merugikan gadis itu. Bagaimana jika gadis itu telah mempunyai kekasih? Mama jangan melakukan intrik seperti di dalam film yang memisahkan kedua pasangan kekasih..!" ujar Abraham dengan memandang istrinya dengan lekat.


"Papa mengatakannya ini kepada Mama yang mana? mama yang ini, apa Mama yang ada di dalam?" tanya Alma, jemarinya menunjuk dirinya dan kemudian menunjuk kearah IGD.


"Mama berdua, yang ini dan yang didalam."


Alma tertawa kecil sesaat.


Kemudian.


"Tenang Pa, gadis itu baru putus dengan kekasihnya. Dia di dikhianati oleh kekasihnya, tidak akan ada yang tersakiti di sini. Kita membantu gadis itu untuk melupakan kekasihnya," kata Alma.


"Ternyata, mama sudah menyelidiki semua mengenai gadis itu," ujar Abraham.


"kami tidak menyelidikinya Pa, Lisa yang pertama mengenal Jeanny. Lisa bertemu dengan Jeanny di taman dekat perumahan, Lisa memanggil Jeanny "Mama". Bukannya itu pertanda, bahwa Gusti Allah ingin mereka dekat. Melalui Lisa," kata Alma.


"Pada saat Jeanny bertemu dengan Lisa, di taman. Ternyata, dia baru saja putus dengan kekasihnya. Suatu kebetulan kan, dan Lisa juga menyukainya."


"Baiklah, Papa akan diam saja, Papa pura-pura tidak tahu saja.Dan, Papa tidak akan ikut campur. Jika nanti Agra marah, Papa tidak ingin berada diantara kalian. Selesaikan sendiri masalah yang Mama berdua lakukan."


"Terima kasih Papa," ucap Alma dengan gembira.


keduanya kembali masuk ke dalam IGD, dan masih melihat drama yang terjadi antara mamanya dengan dokter Fandi yang ingin memasang infus di tangan Gracia.


"Mama harus mau dipasang infus, biar mama cepat sembuh," ujar Abraham kepada Mamanya, yang ingin mengerjai sang Mama yang sempat membuatnya tidak tenang tadi.


"Abra! Mama tidak sakit, Mama tadi hanya pusing. Sekarang Mama, sudah sehat. Lihatlah. Disuruh lari keliling rumah sakit ini saja, Mama bisa. Kalau tidak percaya, ayo kita lomba," ujar Gracia.


"Kalau tidak mau di infus, kita suntik vitamin ya Bu," ucap Fandi sembari tersenyum kecil yang terlihat di bibirnya.


"Tidak..!" pekik Oma Gracia.


"Dan Fandi, jangan sok tidak kenal. Jeanny, kenalkan. Dokter ini cucu Oma, dia pura-pura tidak kenal dengan Omanya sendiri." beritahu Gracia pada Jeanny.


Saking kesalnya dengan Fandi, Oma Gracia membocorkan hubungannya dengan Fandi.


"Hahaha, maaf Oma," ujar Fandi.


"Oo.." mulut Jeanny membulat, matanya menatap wajah dokter Fandi.


"Ternyata, dokter cucu Oma." dalam benak Jeanny.


"Oma, kita infus ya?" Fandi kembali meminta agar Oma Gracia di infus.


"Tidak! Oma tidak sakit, tidak kekurangan gizi. Yang Oma butuhkan itu nambah cucu..!" seru Oma.


Oma Gracia ternyata, sangat takut dengan yang namanya jarum suntik. Sedari kecil, Oma Gracia lebih suka diberi makan obat sepahit apapun. Daripada di beri suntikan.


"Hahaha..!" tawa lebar dokter Fandi memenuhi ruang IGD, untung hanya ada Oma yang berada didalam ruang IGD.


"Mama! sudah Fandi, suntik saja Oma dengan vitamin." timpal Abraham.


"Anak dengan cucu durhaka, sana kalian." usir Gracia kesal dengan Fandi dan putranya Abraham.


Jeanny berdiri.


"Oma, Jeanny pulang dulu ya," ujar Jeanny pamit untuk pulang, karena dia merasa tidak dibutuhkan lagi.


"Pulang! jangan Jeanny, jangan pulang dulu. Tunggu sebentar lagi ya," ujar Oma Gracia.


"Mana Agra ini, kenapa belum datang juga?" pertanyaan dalam benak Oma Gracia.


"Ya Jeanny, tunggu sebentar lagi ya." timpal Alma membujuk Jeanny, agar mengurungkan niatnya untuk pulang.


"Baiklah, Jeanny akan menunggu Oma. Tapi ada syaratnya," ucap Jeanny.


"Syarat?" Oma Gracia menjadi tidak tenang, dia takut membayangkan syarat yang dikatakan Jeanny. Syarat yang tidak bisa dipenuhinya.


"Iya, syarat. Harus ada syaratnya Oma, Oma harus mau disuntik. Bagaimana Oma?" tanya Jeanny.


Abraham, dokter Fandi dan juga Alma tersenyum. Mendengar syarat dari Jeanny.


"Hah! suntik! kenapa nasibku sungguh sial! apa sang Gusti Allah tidak merestui apa yang ingin aku lakukan? tapi aku tidak melakukan kejahatan, aku hanya ingin mencarikan istri untuk cucuku." dalam benak Oma Gracia.


Karena Oma tetap diam, tidak menyanggupi permintaan Jeanny. Jeanny mengambil tasnya yang berada di atas nakas dan melangkah menuju pintu keluar.


Ketika Jeanny ingin beranjak keluar dari ruang IGD, pintu IGD terbuka. Dan, Agra masuk kedalam ruangan dengan cepat. Karena saking terburu-buru, dia sampai menabrak Jeanny yang ingin keluar.


"Aargh..!" pekik Jeanny yang sempoyongan terdorong kebelakang, karena badannya seperti menabrak tembok yang bergerak menghantam tubuhnya.


Agra juga kaget, karena terburu-buru. Dia hampir membuat tubuh orang yang ditabraknya terpelanting ke atas lantai.


Tangan Agra dengan sigap menarik tangan Jeanny, sehingga tubuh Jeanny menabrak badan Agra. Satu tangan Agra melingkar di pinggang Jeanny, dan tangan yang satu masih memegang tangan Jeanny.


Jeanny sontak kaget, karena bokongnya tadi hampir mendarat di atas lantai. Kini, badannya masuk kedalam pelukan pria yang menabraknya.


Jeanny mendongak menatap wajah laki-laki yang memeluknya, begitu juga dengan Agra. Beberapa detik pandangan keduanya saling bertautan, sampai terdengar suara orang yang bicara. Baru pelukan tangan Agra, lepas dari pinggang Jeanny.


"Papanya Lisa." dalam benak Jeanny.


"Guru Lisa? untuk apa dia di sini?" dalam benak Agra.


"Jeanny, kau tidak apa-apa?" tanya Alma.


Tangan Agra lepas dari pinggang Jeanny, begitu juga dengan tatapan matanya.


"Ih..! Alma, kenapa bicara. Momen berharga hilang kan, seharusnya tadi aku ambil gambar mereka berpelukan." suara hati Obut yang senang mendapatkan pemandangan yang langka menurutnya.


"Maaf, saya tidak melihat anda masuk," kata Jeanny.


Agra tidak menanggapi perkataan Jeanny, dia mendorong Jeanny yang berdiri didepannya kesamping. Agar tidak menghalangi jalannya.


Jeanny terpaku, dia kaget mendapatkan kelakuan tidak pantas dari Agra.


"Oma sakit apa?" tanya Agra dengan raut wajah yang cemas tercetak diwajahnya.


"Agra.. akhirnya, kau datang juga. Tadi Oma takut, tidak bisa melihatmu lagi..!" seru Oma dan mengulurkan tangannya ke arah Agra.


"Dasar Oma jago akting, takut tidak melihat Mas Agra menikah lagi. Oma tidak sakit, berpura-pura sakit. Teruslah Oma bersandiwara ." batin Fandi.


*


*


...Bersambung...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


🌹 Author akan memberikan Give away untuk para reader setia di lapak author receh🌹


Pantengin terus cerita ini ya, dengan cara kasih like di setiap Bab. tidak perlu waktu lama, tekan tombol like ya😍 πŸ™πŸ™