My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


"Kalian bawa aku kemana? Agra kemana?" Mikaela menolak di bawa keluar dari rumah sakit, karena Mikaela menunggu kedatangan Agra.


"Diamlah Nona..!, kami membawa anda ke tempat yang aman. Apa anda ingin mendapat masalah dengan Maharani? Nyonya Maharani sedang mencari-cari anda, Nona. Karena anda telah mengkhianatinya,” kata Albert.


"Tidak mungkin, mana mungkin Maharani berani denganku. Semua kebusukannya berada di tanganku, dia tidak akan berani mengusikku. Jika dia berani, akan aku berikan bukti-bukti kejahatannya kepada polisi."


"Bukti apa yang kau miliki?" tanya Albert.


"Aku akan berikan padamu, tapi. Kau harus membantu aku untuk bertemu dengan Agra." Mikaela mengharapkan imbalan, jika dia memberikan bukti kejahatan Maharani.


Albert menertawai Mikaela.


"Kau mengajukan penawaran yang tidak akan aku penuhi, Nona. Kau harus tahu, aku tidak suka Agra berhubungan dengan saudaramu itu. Apalagi denganmu, sudah cukup Agra tertipu wajah saudaramu yang pura-pura innocent." tawa mengejek terdengar dari mulut Albert.


"Marco, cepat bawa dia..!" titah Albert kepada anak buahnya, Marco.


"Baik Boss." Marco mendorong kursi roda Mikaela, dan membawanya menuju ruang basement rumah sakit.


Sampai di basement, Dani sudah menunggu.


"Cepat Nona." titah Dani, karena Mikaela tidak berdiri dari kursi roda yang membawanya menuju basement.


"Aku tidak mau! bagaimana jika kalian melepaskan ku, aku akan membuat kalian kaya mendadak." Mikaela berusaha untuk membujuk anak buah Albert, agar melepaskannya. Dengan imbalan uang.


"Untuk apa kaya mendadak Nona, jika hidup tidak tenang. Cepat Nona, kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Anak buah Maharani sudah menuju ke sini..!" Marco menarik tangan Mikaela dengan paksa, lalu mendorong tubuh Mikaela masuk kedalam mobil .


"Aduh! pelan-pelan, aku ini manusia. Bukan barang yang bisa kau campakkan masuk kedalam mobil..!" gerutu Mikaela, karena kepalanya kepentok pintu mobil.


"Zacky, cepat jalan! kami akan mengecoh anak buah Maharani." titah Marco pada sopir yang akan membawa Mikaela ditempat yang aman.


Satu mobil keluar dengan cepat dari basement, lalu mobil kedua dan ketiga. Ketiga mobil berpencar. Sehingga, anak buah Maharani bingung, karena ketiga mobil memiliki warna dan model yang sama.


"Co, mobil kita diikuti," kata Dani, saat melihat dari kaca spion mobil.


"Aku tahu, tenang saja. Jalankan saja mobil dengan tenang," kata Marco.


Marco mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


"Zacky, apa kau diikuti?" tanya Marco melalui sambungan telepon.


"Aman, kami sudah mendekati titik aman." balas Zacky.


"Kau awasi perempuan itu, dia banyak akalnya." ingatkan Marco pada Zacky.


"Anak kemarin sore, tidak akan bisa mengakali seorang Zacky.


Marco memutuskan sambungan teleponnya.


"Dani, jalankan mobil menuju Mall. Kita belanja." titah Marco.


"Hehehe! biar mereka bosan mengikuti kita." Dani tertawa, membayangkan anak buah Maharani mengikuti mereka.


"Dikiranya, kita tidak tahu. Mereka menyuap perawat untuk memata-matai kita."


"Apa yang dilakukan dr Jhon kepada perawat itu, ya?" tanya Dani pada Marco.


"Mungkin, dia sudah menjadi perawat untuk hewan komodo," jawab Marco.


"Mungkin saat sekarang ini, dia sedang menggosok gigi komodo."


***


"Alma, Jeanny dan Agra kapan kembali?" tanya Obut yang sedang mengeluarkan baju-bajunya dari dalam walk on closet.


"Semoga mereka semakin dekat, ya. Mama kesal dengan Agra, sepertinya dia belum bisa menerima Jeanny sebagai istrinya."


"Dengan seiring berjalannya waktu, Agra akan bisa mencintai Jeanny Ma. Jeanny seorang gadis yang periang, dia cepat dekat dengan siapapun juga. Agra, pasti akan jatuh cinta dengan Jeanny. Apalagi, dia tahu. Kejahatan Malika." tutur Alma.


"Kalau sudah dibutakan oleh cinta, kejahatan seorang istri. Sudah hilang semua." Gracia menghela napasnya, dan duduk di dekat Alma.


"Semoga, masalah yang ada dalam keluarga kita belakangan ini. Mendekatkan mereka berdua." sambung Gracia.


"Ma, kenapa bajunya dikeluarkan?"


"Baju itu sudah kekecilan, mau di sumbangkan saja. Apa tidak apa-apa, menyumbangkan pakaian bekas kita pakai?" tanya Gracia pada Alma.


"Tidak apa-apa Ma, asal pakaiannya masih layak pakai."


"Bajumu, tidak ada mau di sumbangkan?" tanya Gracia pada Alma.


"Nanti Alma cari dulu, sepertinya banyak. Kapan rencana Mama mau menyumbangkan pakaiannya?" tanya Alma.


"Oma Ketty yang akan mengambil ke rumah."


"Tante Tina sudah kembali, Alma dengar dia memenangkan diri ke rumah anaknya?" tanya Alma.


"Sudah, suami tidak ada akhlak. Sudah tua, masih juga main hati..!" omel Gracia, saat mengingat keluarga teman baiknya tersebut. Yang hampir tenggelam, karena kehadiran pihak ketiga. Untung, sang suami belum terjebak terlalu jauh. Sehingga, pernikahan yang sudah hampir setengah abad terselamatkan.


"Om Arman, puber kedua Ma." gurau Alma.


"Bukan kedua, tapi keempat. sudah bau tanah, masih sok-sokan tergiur daun muda." balas Gracia, yang kesal. Jika diingatkan dengan ketidaksetian seorang lelaki dengan pasangannya, selalu marah.


Di resort


Agra merebahkan tubuhnya di samping Jeanny, dia tidak memejamkan matanya. Karena takut, Jeanny terbangun dan berteriak.


Agra memiringkan tubuhnya menghadap Jeanny, jemarinya terulur dan menyentuh bibir Jeanny yang terbuka.


"Melihat kau tidur, kau begitu manis. Tapi, begitu mata terbuka. Wajah manismu hilang tertutup dengan tingkah semaumu." gumam Agra.


"Sepertinya seru.." tiba-tiba, melintas didalam otak Agra. Ide jahil yang akan membuat Jeanny marah-marah.


Agra mengambil ponselnya, lalu mengarahkan ponsel tersebut ke badan Jeanny. Agra menurunkan selimut yang menutupi tubuh Jeanny sampai area dada, dan sedikit lagi. Gundukan daging yang ada di area dada Jeanny hampir terlihat.


Agra mengambil gambarnya dengan camera selfie, dia menjulurkan lidahnya. Dan dibelakangnya, Jeanny tidur dengan mulut terbuka lebar.


Tidak sampai disitu saja, Agra juga mengambil gambar dirinya. Saat sedang mencium mulut Jeanny yang terbuka, tangannya berada di atas dada Jeanny yang hampir terekspos.


Agra tertawa puas dalam hatinya, saat melihat hasil gambar yang ada dalam galeri ponselnya.


Agra betul-betul mengeluarkan kejahilannya, entah kenapa. Agra merasa, setiap berhadapan dengan Jeanny. Agra selalu ingin menjahili Jeanny. Melihat Jeanny marah, Agra terasa terhibur. Berbeda, saat dia bersama dengan Malika dulu. Agra merasa hidupnya monoton, kerja..kerja..kerja yang selalu ada didalam otaknya setiap waktu.


"Kenapa hidupku serasa penuh warna sejak kau datang? apa karena kau masih muda dan bertingkah sesuka hatimu, membuat hatiku ini terhibur." gumam Agra seraya mengelus pipi dan bibir Jeanny.


"Apakah aku sudah jatuh cinta padamu? apakah ini namanya jatuh cinta? nyaman dengan keberadaannya, walaupun. Tingkahmu, terkadang mengesalkan." Agra mengangkat badannya sedikit, dan bertumpu pada siku tangannya.


Agra kembali mengambil ponselnya, dan merekam. Saat dia mencium kening, pipi. Dan yang terakhir bibir Jeanny yang terbuka, dan sedikit melu-mat bibir Jeanny yang terbuka tersebut. Yang tadi hanya ingin sedikit, lidah Agra masuk menerobos rongga mulut Jeanny yang terbuka.


Tiba-tiba..


Agra melepaskan bibirnya dari bibir Jeanny, dan menarik tubuhnya yang tiba-tiba bergairah saat menyentuh bibir Jeanny.


"Aku sudah gila..!" Agra meremas rambutnya, karena hampir kebablasan.


...****...


To be continued