
...Happy reading...
...***...
Sebelum meninggalkan resort, Agra membawa Jeanny untuk bertemu dengan Pak Kadir. Untuk mengucapkan terima kasih, kalau tidak karena pertolongan Pak Kadir. Mungkin saja, Jeanny sudah hilang ditengah laut.
"Pak, apa betul Mbak Lira itu sudah." Jeanny menunjuk kearah langit.
"Iya Bu, Mbak Lira sudah pergi dua tahun yang lalu."
Pak Kadir menceritakan apa yang sudah di ceritakannya pada Agra tadi, kepada Jeanny.
Mata Jeanny tidak berkedip, mendengar cerita Pak Kadir.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Kadir, Jeanny menggeser duduknya kearah Agra. Tangannya melingkar ditangan Agra, karena takut mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Kadir.
"Kenapa, takut." goda Agra, karena duduk Jeanny sudah nempel ke tubuhnya.
"Tidak," sahut Jeanny.
"Kalau tidak takut, kenapa duduknya sampai mepet begini?" tanya Agra.
"Pak, apa Mbak itu tidak mengikuti saya?" tanya Jeanny.
"Tidak Bu."
"Alhamdulillah," ucap syukur Jeanny.
"Pak, satu lagi. Apa Mbak Lira merasa saya saingannya?" Jeanny ingin bertanya mengenai perawan yang di ceritakan oleh Agra tadi.
"Saingan dalam hal apa?" Pak Kadir tidak ngeh dengan pertanyaan Jeanny.
"Itu Pak, bagaimana ya bilangannya. Bang, tanyakan mengenai perawan itu." Jeanny berbisik pada Agra.
"Itu tidak perlu ditanyakan." balas Agra dengan berbisik kepada Jeanny.
"Apa ada yang ingin ibu dan bapak tanyakan?" Pak Kadir melihat tamunya, Agra dan Jeanny saling berbagi pandangan dan berbisik.
"Tidak ada Pak, saya dan istri hanya membahas masalah yang tidak penting. Sekarang, kami permisi Pak." Agra berdiri, dan mengulurkan tangannya kepada Pak Kadir.
"Sekali lagi, saya minta maaf pada bapak dan ibu. Karena tidak nyaman selama menginap di resort ini, semoga bapak dan ibu mau mengunjungi tempat ini lagi. Mungkin, untuk menguji nyali." gurau Pak Kadir.
Agra tertawa, dan melirik Jeanny yang manyun mendengar gurauan Pak Kadir.
*
*
"Goblok..!"
Plak..!
plak..!
Tamparan keras menerpa dua wajah anak buah Maharani.
Jabrik, memegang pipinya. Karena, dia juga telah mendapatkan cap lima jari, hadiah tangan Maharani.
Maharani marah, karena. Jabrik tidak becus mengurus anak buahnya, sehingga mereka kehilangan jejak Mikaela.
"Kau! sepertinya, kau sudah tua. Sehingga, urusan semudah itu saja, tidak bisa kau tangani. Aku tidak mau tahu, target kita selanjutnya. Tangkap, bawa ke sini..!" perintah Maharani dengan suara yang keras.
"Baik Nyonya." Jabrik dan anak buahnya yang mendapatkan hadiah lima jari tangan Maharani bergegas keluar dari dalam kamar penginapan.
"Tidak ada yang sesuai dengan rencana, aku sudah muak..! bertahun-tahun aku sudah merencanakan ini semua, kenapa tidak berhasil. Menghancurkan keluarga sepupuku saja aku bisa dalam sekejap mata, semua sudah binasa, hanya tertinggal Mikaela. Ternyata, Mikaela seorang yang tangguh..!" Maharani mengambil tongkatnya yang selalu dibawanya didalam genggaman tangannya, walaupun tubuhnya masih kokoh. Tetapi, tongkat besi itu sudah bertahun-tahun menemaninya.
"Aku bosan ikut dengannya." rekan Jabrik yang mengemudikan mobil, membuka keheningan didalam mobil.
Jabrik menoleh kearah rekannya tersebut.
"Apa ada rencanamu untuk meninggalkan Nyonya Maharani?" tanya Jabrik.
"Kenapa kau diam saja? katakan..!" tanya Jabrik dengan suara yang keras, kepada temannya tersebut.
"Mungkin, aku letih. Aku bukan robot, otakku ini sudah tidak bisa memikirkan tentang kejahatan lagi." rekannya yang bernama Samson, karena badannya yang besar. Dia dipanggil Samson, tetapi. Namanya yang sebenarnya, tida ada yang tahu.
"Kau tidak akan bisa keluar, apa kau lupa dengan Edi. Dia keluar, keesokan harinya. Mayatnya diketemukan di dalam rumah kontrakannya, dia bunuh diri dianggap polisi. Itu, Nyonya Maharani yang turun langsung mendiamkan anak buahnya yang ingin resign. Nyonya tidak akan mengizinkan, kita keluar dengan masih bernapas. Aku katakan padamu, agar kau tidak memikirkan apa yang baru saja kau katakan." tutur Jabrik.
"Hah..! kau tahu, apa yang terjadi pada Edi? apa kau juga terlibat dengan kematian Edi?" Samson sangat kaget, mendengar apa yang baru saja di ceritakan oleh Jabrik.
"Aku tidak terlibat, aku mengikuti nyonya Maharani. Pada malam, sebelum. Edi diketemukan tewas, aku melihat Nyonya Maharani keluar dari rumah. Biasanya, Nyonya Maharani tidak pernah pergi dengan secara sembunyi-sembunyi. Malam itu, Nyonya pergi. Aku melihat, Nyonya Maharani pergi dengan menumpang taxi. Lalu, aku mengikutinya. Dan taxi yang membawa Nyonya Maharani, menuju ke rumah Edi. Aku mengikutinya, dan melihat Nyonya berbincang-bincang dengan Edi. Aku tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan, lalu nyonya pulang. Dan aku masuk kedalam rumah Edi, untuk menanyakan. Kenapa nyonya mendatanginya, tapi. Aku melihat, Edi sudah tidak bernyawa duduk di kursi." Jabrik menuturkan kejadian yang menimpa mantan rekannya tersebut.
"Kita tidak bisa keluar dari cengkeraman Nyonya Maharani?" Samson memijat keningnya, pusing tiba-tiba menghampiri kepalanya.
"Bisa," sahut Jabrik.
"Tadi kau bilang tidak bisa, sekarang kau bilang bisa. Kata yang jelas Brik..! aku potong rambut Jabrik mu itu, biar kau tidak dipanggil Jabrik lagi." Samson kesal.
"Kau kirim Nyonya Maharani ke.." jemari Jabrik menunjuk kearah atas.
"Gila kau..!" semprot Samson, karena. Jabrik menyuruh Samson melenyapkan Maharani.
"Hanya itu cara kau bisa terbebas darinya, walaupun dia wanita tua. Tapi, otak dan kekuatannya masih ada. Hanya dengan cara dia melenyapkan Edi, kau bisa melenyapkannya."
Samson diam, apa yang dikatakan oleh Jabrik terus berada dalam otaknya.
***
Mobil Agra tiba di rumahnya, dia langsung pulang. Tidak menjemput Lisa, karena. Lisa sedang pergi dengan temannya, Maura.
"Kita tidak menjemput Lisa?" tanya Jeanny, begitu terbangun. Sudah berada didalam pekarangan rumah.
"Kata Mama belum pulang," jawab Agra.
"Oh iya, Lisa pergi dengan Maura. Ahh!! gara-gara pergi ke resort, aku tidak ikut dengannya." Jeanny sedikit kesal.
"Kenapa? kau sudah rindu dengan Papanya anak itu?"
"Papa siapa? Lisa? Papa Lisa kan Abang? atau, Abang bukan Papa Lisa?" perkataan Jeanny membuat jemari Agra mengetuk kening Jeanny.
"Aduh..! Abang ini, bisa-bisa aku akan bodo..!" Jeanny mengusap keningnya.
"Kau kira aku mandul? kau juga bisa aku buat hamil dalam satu malam..!"
Agra membuka pintu mobil dan lalu keluar, tanpa memperdulikan omelan yang keluar dari mulut Jeanny.
"Hamil dalam satu malam, apa dikiranya hamil itu seperti cerita Roro Jonggrang? betul-betul pria yang aneh."
"Kenapa dia suka sekali menganiaya aku." Jeanny masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar Lisa, karena sejak menempati rumah. Jeanny belum pernah tidur sekamar dengan Agra, dia selalu berada didalam kamarnya Lisa.
Bajunya juga berada didalam kamar Lisa, dan masih berada dalam koper.
"Akhirnya, aku bisa tidur dengan tenang. Tanpa takut ada pria mesum itu mengganggu." gumam Jeanny dalam benaknya.
...***...
To be continued