My Daughter'S Teacher

My Daughter'S Teacher
MDT



...Happy reading...


...***...


Agra duduk didalam ruang kerja, matanya fokus menatap layar laptopnya. File-file pekerjaan yang dikirim oleh Jerry membuat dia langsung menuju ruang kerjanya, tanpa terlebih dahulu membersihkan badan. Setelah menempuh perjalanan dua jam dari resort.


Derrt..


Agra meraih ponselnya, dan melihat. Nama Albert tertera .


Agra


(Kau ! aku akan menghajar mu!) tanpa mengatakan hello ataupun salam, Agra langsung mengumpat Albert.


Albert


(kenapa kau marah-marah? pulang liburan, kau marah-marah?)


Agra


(Liburan? kau pergi ke sana! gara-gara resort rekomendasi darimu itu, Jeanny hampir celaka..!)


Agar menceritakan apa yang dialami Jeanny di resort.


Albert


(Maaf, Bro. Aku tidak tahu, aku juga mendapatkan rekomendasi dari klien yang aku bantu)


Agra


(Sekali lagi, kau mau merekomendasikan tempat. Kau selidiki dahulu, atau kau yang mencoba. Baru kau rekomendasikan pada orang)


Albert


(Hehehe) tawa Albert.


Agra


(Ada apa?)


Albert


( Bisa kita bertemu, sekarang?)


Agar


(Di mana?)


Albert mengatakan tempat pertemuan, pada Agra.


Agra


(Baiklah)


Agra memutuskan sambungan teleponnya, lalu meraih kunci mobil dan keluar dari ruang kerjanya.


"Jangan ikut, jaga nyonya saja..!" titah Agra pada pengawal.


Agra masuk kedalam mobilnya, begitu gerbang terbuka. Mobil Agra langsung melaju kencang.


"Sepertinya, kita kerja untuk menjaga rumah. Semalam, Tuan pergi. Kita juga di suruh di rumah," ucap bodyguard yang tinggi besar dan kepala plontos.


"Mungkin Tuan Agra tidak terbiasa diikuti oleh pengawal." timpal rekannya yang lain.


"Tapi, kita dititahkan oleh Boss Albert untuk menjaganya. Jika kita tidak mengikutinya, bagaimana jika ada sesuatu yang menimpa Tuan Agra. Kita akan kena masalah oleh Boss Albert."


"Doakan saja, semoga. Tuan Agra di jauhkan dari marabahaya, kita dititahkan Tuan Agra untuk menjaga istrinya. Kita fokus menjaganya."


Dalam kamar, setelah beristirahat sejenak. Jeanny bangun dan turun dari ranjang.


"Apa yang harus aku lakukan? bosan, Lisa tidak ada. Apa aku ke rumah Mama saja, aku sudah lama tidak mengunjungi Mama dan Papa. Dan semoga, Bang Jamie tidak terbang." gumam Jeanny.


Jeanny berjalan menuju jendela besar kamar Lisa, matanya melihat kearah gerbang dan melihat bodyguard yang duduk didepan pagar dan ada yang duduk didalam pagar.


"Sampai kapan aku harus mendapatkan pengawalan ketat? seperti artis saja, artis juga tidak sampai segitunya. Jika aku ketempat Mama, mereka pasti akan mengikuti ku. Betapa senangnya, jika bisa menghilang."


"Hei! Bi Salmi mau kemana? kenapa dia kearah sana?" Jeanny melihat Bi Salmi membawa keranjang belanja.


"Ada pintu?" Jeanny melihat Bi Salmi membuka pintu gerbang kecil yang berada di dekat pohon bunga yang cukup rimbun.


"Ternyata, ada pintu rahasia. Kalau dari situ aku keluar, para penjaga tidak akan tahu. Dan mereka tidak akan mengikuti ku."


Jeanny mengambil bajunya dan mandi dengan cepat, setelah selesai berdandan seadanya. Jeanny menyambar tas sandang kecil yang selalu dibawanya.


Dengan langkah cepat, Jeanny berjalan keluar dari pintu samping. Dia berjalan menuju pintu, tempat Bi Salmi tadi keluar.


Dengan hati-hati, Jeanny membuka pintu tersebut.


Dan


"Nona Jeanny, mau kemana?" Bi Salmi kaget melihat keberadaan Jeanny di pintu khusus untuk para pekerja keluar masuk kedalam rumah.


"Bibik, mengangetkan saya saja." Jeanny memegang dadanya yang berdebar.


"Nona mau kemana?" Bi Salmi kembali mengulang pertanyaannya.


"Oh..ya Bi, saya mau ketempat Mama," kata Jeanny.


"Tuan tahu Non?" tanya Bi Salmi.


"Sudah Bi." bohong Jeanny, yang mengira Agra masih berada didalam ruang kerjanya.


"Hati-hati Non, apa Nona tidak di antar sopir?"


"Kalau di antar sopir, bodyguard akan ikut Bi. Aku mau nyantai, tanpa diikuti oleh para pria berbadan kekar, Bi. Sudah ya Bi." Jeanny lalu berjalan cepat menuju jalan raya yang tidak jauh dari tempatnya dia keluar tadi.


*


*


Yulia merintih, karena tiba-tiba perutnya terasa keram.


"Aduh..!" Yulia berjalan dengan pelan menuju terali, dan mencari keberadaan polisi.


"Bu..!" panggil Yulia, saat melihat ada polisi wanita yang sedang berjalan menuju selnya.


"Ada apa?" polisi wanita tersebut mendekati sel Yulia.


"Perut saya sakit." Yulia merintih dan memegang perutnya.


"Kau tidak bohong?" tanya polisi dan mengamati wajah Yulia yang terlihat pucat.


"Duduk dulu, saya akan mengambil kunci." titah polisi kepada Yulia.


Yulia menuruti perintah polisi wanita itu, dan duduk dengan bersandar di terali besi penjara.


Polisi wanita kembali bersama dengan dua orang polisi pria.


Dengan cekatan, polisi membuka pintu dan berlutut memeriksa keadaan Yulia.


"Apa yang anda keluhkan?" tanya polisi pada Yulia.


"Sakit Pak, perut saya terasa keram." suara Yulia terdengar pelan, bibirnya mengetat menahan sakit.


"Darah..!" seorang polisi melihat darah di kaki Yulia yang sudah terlihat mengering.


"Sejak kapan ibu merasakan sakit?"


"Sejak tadi malam," sahut Yulia dengan mata yang terpejam.


"Kenapa tidak laporkan! apa ibu tidak sayang dengan anak yang ibu kandung? atau yang sebenarnya, ibu memang berniat ingin menggugurkan kandungan ibu..!" polisi pria yang memeriksa Yulia sangat marah.


"Cepat, angkat dia..!" titah polisi yang marah tersebut kepada anak buahnya yang berada dibelakangnya.


Lima belas menit kemudian, Yulia sudah berada di rumah sakit polisi. Dan sedang ditangani oleh dokter spesialis kandungan.


Kedua orangtuanya dan pengacara Yulia datang, begitu mendapatkan kabar. Mengenai keadaan Yulia.


Yudha dan kedua orangtuanya juga datang, karena polisi membutuhkan tandatangannya. Untuk mengambil tindakan medis yang harus dilakukan pada kandungan Yulia.


Yudha keluar dari ruangan dokter yang menangani Yulia, dan langsung duduk di samping Mamanya.


"Apa kata dokter Yudha?" tanya Mama Yulia.


"Dokter akan mengeluarkan baby-nya," jawab Yudha.


"Mengeluarkan! maksudnya, Yulia tidak akan kehilangan anak itu?" Mama Yulia kaget, mendengar apa yang dikatakan oleh Yudha.


"Apa kau menyetujuinya?" tanya Papa Yulia pada Yudha.


"Dokter mengatakan, baby-nya tidak berkembang. Jika di pertahankan, juga akan membahayakan kandungan dan jiwa sang ibu." tutur Yudha.


"Itu yang kau mau kan Yudha! kau akan meninggalkan putriku! setelah anak itu tidak ada, kau akan menceraikan putriku! kau akan kembali pada kekasihmu itu..!" serang Mama Yulia.


"Jeng Darti, tutup mulutmu! anak yang ada dalam kandungan Yulia itu tidak berkembang. Bukan karena salah Yudha, putrimu itu tidak cocok menjadi seorang ibu. Sedang hamil, datang ke rumah orang dalam keadaan mabuk. Itu baru sekali, yang saya lihat..!" balas Susan, yang tidak terima dengan perkataan Mama Yulia.


"Bapak dan ibu harus introspeksi diri, sudah menjaga putrinya dengan baik apa tidak? jangan main menyalahkan putra saya saja..!" sambung Mama Yudha kembali.


"Sudah Ma, duduk. Malu, kita berada di rumah sakit." Papa Yulia menarik sang istri untuk duduk kembali.


Papa Yudha juga begitu, Menarik sang istri untuk duduk.


...***...


To be continued