
Tekan tombol like ya kakak-kakak reader 🙏
...***...
"Kita sudah menikah!" tegaskan Agra.
"Aku tidak amnesia, aku sudah menikah denganmu Tuan..! tapi itu tidak membuat kita tidur satu ranjang, aku tidak ingin kita satu ranjang..!"
"Tidak ada pisah ranjang, kita harus tidur bersama..!" Agra menolak keinginan Jeanny untuk tidur bersama.
"Tidak mau, aku tidak mau tidur denganmu! kita tidak saling cinta, aku tidak bisa tidur dengan laki-laki yang tidak aku cintai," ujar Jeanny.
"Tidak ada pisah ranjang, camkan itu..!" Agra turun dari ranjang, dan masuk kedalam kamar mandi.
"Tidak mau! aku tidak ingin tidur denganmu..!"
"Kemana celanaku, kenapa kancing bajuku terbuka semua? apa yang dilakukannya padaku?" Jeanny berdiri di atas ranjang dengan selimut melilit tubuhnya.
"Tidak ada yang aneh," ujar Jeanny, saat dia berjalan turun dari atas ranjang dan tidak merasakan ada yang aneh dirasakannya pada area sensitifnya.
"Kenapa aku tidak tahu, saat dia membuka kancing piyama dan celana tidurku?"
"Tidak mungkin aku membukanya sendiri, tadi malam aku sangat lelah. Sehingga tidak tahu apa yang dilakukannya, apa di sini ada CCTV." sembari mencari celana tidurnya, mata Jeanny jelalatan mencari CCTV dalam kamar.
"Tidak mungkin ada CCTV dalam kamar." gumam Jeanny.
Jeanny mengambil celananya dan langsung memakainya dengan tergesa-gesa, takut Agra keluar dari dalam kamar mandi.
Dalam kamar mandi Agra tertawa, mengingat Jeanny panik tadi. Dia merasa puas telah mengerjai gadis itu.
"Sepertinya, hari-hariku semakin penuh warna." gumam Agra.
Agra membuka keseluruhan bajunya, dan berdiri di bawa shower untuk memulai ritual mandinya.
...***...
Brak..
Beberapa polisi dengan berpakaian lengkap, mendobrak resort tempat persembunyian Andi.
Andi yang sedang tidur, kaget. Karena, polisi langsung menodongkan senjata Laras panjang dan pistol kearahnya.
"Jangan bergerak..!" titah polisi pada Andi yang tidur telentang.
"Iya..iya Pak, jangan tembak Pak. Saya tidak akan melawan..!" seru Andi seraya mengangkat kedua tangannya.
"Pak, saya tidak penjahat Pak. Saya bukan juga penebar teror Pak, kenapa saya dilakukan seperti penjahat kelas kakap, Pak..!"
"Bangkit, tangan di atas kepala..!" seru polisi pada Andi.
"Ya...ya... Pak, tolong Pak. Moncong senjatanya janganlah di arahkan kepada saya Pak, saya takut..!" seru Andi dengan suara yang bergetar.
Andi berdiri dengan badan gemetar, dan tanpa di sadari nya karena rasa takut dengan polisi yang mengelilinginya dengan senjata mengarah padanya. Andi merasakan air seninya meluncur tanpa dapat dibendungnya.
"Pak..!" suara Andi lirih menatap polisi didepannya.
"Ada apa?" tanya polisi dengan tatapan mata yang tajam memandang Andi.
"Celana saya basah Pak," ucap Andi dengan malu-malu.
Beberapa pasang mata milik polisi yang berada dalam kamar, yang sedang mencari barang bukti kejahatan Andi. Melihat kearah celana Andi, dan tertawa. Karena melihat celana Andi yang berwarna abu-abu, terlihat basah.
"Ganti sana, jangan nanti kau membuat bau mobil polisi." titah polisi, dan memerintahkan seorang polisi untuk mengikutinya.
"Awasi dia, jangan nanti melarikan diri." ingatkan polisi pada polisi yang mengawal Andi yang ingin mengganti celananya.
"Pak, apa bapak mau ikut saya kedalam juga? Saya tidak akan lari Pak. Lihatlah, tidak ada celah untuk saya melarikan diri dari dalam kamar mandi," kata Andi.
"Cepat! saya akan tunggu di depan pintu, saya beri waktu 5 menit," ucap polisi.
"Hah..! 5 menit, buka celana saja lebih dari 5 menit Pak."
"4 menit," ucap polisi.
"Lah..! makin turun, baiklah Pak 5 menit.' Akhirnya, Andi mengalah.
Dalam kamar mandi, Andi berpikir cepat. Dia melihat kearah plafon kamar mandi.
"Otakku pintar." Andi tertawa.
Dengan cepat, Andi naik ke atas closed untuk menjadi pijakan dan kemudian membuka plafon yang sudah usang. Dengan hati-hati, Andi naik. Untung, lubang plafon cukup untuk badannya.
Andi keluar melalui atap resort, dan loncat ke halaman belakang resort.
Pelarian Andi terlihat oleh polisi dari jendela.
"Pak, tersangka melarikan diri..!" teriak polisi yang melihatnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya, polisi yang menjaga Andi didepan kamar mandi, membuka pintu kamar mandi dan tidak melihat keberadaan Andi.
"Sialan..! dia melarikan diri dari plafon."
"Kejar, jangan sampai lolos."
Semua polisi mengejar Andi yang melarikan diri ke belakang resort.
"Hubungi kantor, kirim bantuan." titah pemimpin dalam penangkapan Andi.
"Aku di tipu orang itu, sialan dia." umpat kesal, polisi yang menjaga Andi didepan toilet.
Rekannya yang mendengar umpatan polisi tersebut, menepuk pundaknya.
"Jangan berkecil hati, itu sering kita alami. Polisi juga manusia, bisa kena tipu," ujar rekannya.
"Ayo, kita kejar dia. Pasti dia belum jauh, didepan sana ada jalan besar. Jangan sampai dia numpang mobil orang lewat."
Andi sudah berada dalam truk yang mengangkut sapi, saat truk berhenti. Andi naik, dan bersembunyi di antara tubuh sapi.
"Ahh! bau sekali." Andi menutup hidungnya.
Andi meraba saku celananya, dan menarik napas lega. Karena ponsel dan dompetnya ada dalam kantong celananya.
Sejak dalam persembunyian, Andi selalu waspada. Dia tidak pernah mengeluarkan dompet dan ponselnya. Karena, jika kejadian seperti yang baru saja dialaminya. Dia lari, aman. Karena dompet dan ponselnya ada bersamanya.
"Aku harus menghubungi Yulia, apa mungkin dia sudah tertangkap. Karena itu polisi mencari keberadaan ku, atau Jeanny yang melaporkan ku? pertanyaan berseliweran didalam benak Andi.
"Semoga Yulia tidak tertangkap, aku hubungi saja dia." Andi berusaha untuk mengeluarkan ponselnya, tapi karena truk yang bergoyang. Dan, wajahnya terkena kibasan ekor sapi dan tendangan kaki sapi. Membuat Andi tidak bisa melakukannya.
"Ah..! sapi kurang ajar, aku masak sop buntut nanti ekor mu ini." kesal Andi yang terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghubungi Yulia. Gara-gara ekor sapi selalu mengibas kearah wajahnya.
...****...
Albert dan Michael memeriksa tas yang diantarkan oleh Dani, anak buahnya.
Albert mengeluarkan semua isi tas Mikaela, dan melihat banyak sekali bungkusan obat yang sudah habis dan yang masih utuh.
"Obat, dia sakit." Michael mengambil satu strip obat yang masih utuh.
"Atau dia sales obat-obatan?" sambung Michael.
"Malika!? dia Malika?" Albert memegang kartu pengenal yang ada didalam tas, bersamaan dengan obat-obatan.
"Apa!? dia Malika?" Michael merampas kartu nama yang di pegang oleh Albert.
"Kenapa seperti ini!?" Albert berdiri, dan meremas rambutnya. Dia tidak menyangka, Malika masih hidup.
"Tidak mungkin, dia bukan Malika...!" Michael membuka tas, dan mencari sesuatu yang mendukung pikirannya. Bahwa gadis yang berada di rumah sakit bukan Malika.
"Bert, ini apa?" Michael menemukan satu kartu indentitas atas nama Mikaela, dari dalam saku tas.
"Apa?" tanya Albert.
"Kartu identitas atas nama Mikaela." Michael membaca nama Mikaela pada kartu identitas yang dipegangnya.
...*****...
To be continued