
...Happy reading...
...***...
Jeanny duduk dengan bertopang dagu di sofa, televisi yang ada didepannya yang sedang menayangkan acara tidak diperhatikannya. Pikirannya berkelana jauh.
Setelah mengantarkannya pulang, Agra pergi kembali. Setelah, mendapatkan pesan dari Albert. Dan tinggal Jeanny sendiri di apartemen yang tergolong luas, untuk ditempati hanya berdua dengan Agra.
"Ahh! bosan, bisa-bisa aku cepat keriput. Jika begini terus, sampai bertahun-tahun." gumam Jeanny.
"Apa aku suruh saja Valerie dan Bella datang? aku tidak diizinkan keluar, tapi. Aku kan tidak dilarang untuk menerima tamu? aku hubungi saja mereka."
Jeanny mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi kedua temannya melalui pesan chatting.
Tidak membutuhkan waktu lama, kedua temannya sudah berada di apartemennya.
"Kenapa kalian bisa datang bersamaan?" Jeanny memicingkan matanya menatap kedua temannya tersebut.
"Hehe..saat kau kirim pesan, kami lagi berada di Mall dekat apartemen ini," jawab Bella.
"Kalian bersenang-senang, tanpa mengikutsertakan aku ya? kalian sudah melupakan aku...!" wajah Jeanny merenggut, dua tangannya saling melipat di dada.
"Maaf nyonya, kami bukan melupakanmu. Kami ingat, kau pasti tidak sebebas dulu. Kau kan sudah punya suami," kata Valerie.
"Benar apa yang dikatakan Valerie, Jean. Kau itu sudah punya suami, apa kau mau dipanggul lagi oleh suamimu. Seperti kita terakhir bertemu, untung saja kau tidak viral." Bella menimpali ucapan Valerie.
"Iyalah.. karena aku sudah punya suami, kalian tidak mau berteman denganku lagi. Kalian tahu, aku bosan. Pagi, aku ikut kekantor. Sekarang, aku ditinggal sendirian." Jeanny menunjukkan raut wajah yang sedih.
"Sudah, nggak usah lebay. Bagus kau dibawa suami, daripada ditinggalkan terus. Suami sibuk di mana, kau tidak tahu," kata Valerie.
"Jean, apa kau tidak kerja lagi?" tanya Bella.
"Aku belum tahu, Abang menyuruh aku untuk stay di rumah ngurus keluarga."
"Abang.. so sweet.." goda Bella.
"A..a..abang....!" Valerie menyebut kata Abang dengan mendayu-dayu.
"Ih..jijay mendengar kau menyebut Abang seperti itu!" Bella bergidik, mendengar suara Valerie.
"Kenapa?" tanya Valerie.
"Suaramu seperti minta dipuaskan di atas ranjang," ujar Bella.
"Jean, apa kau minta sama suamimu. Suaramu seperti aku tadi?" tanya Valerie.
"Ih..! kalian semakin ngaco saja, nikah sana. Biar tahu." balas Jeanny.
"Belum ada yang mau, teman-teman suamimu sepertinya bisa Jean. Kenalin," ucap Bella.
"Siapa, mas Albert. Atau Mas Michael?" tanya Jeanny.
"Keduanya, kami dua. Pas kan, kita bisa hangout bersama-sama," kata Valerie.
"Tidak bisa, mereka sudah dewasa. Kalian, masih bocil," kata Jeanny.
"Bocil..! kau itu lebih muda dari kami, Nyonya. Kami sudah 23 tahun..! kau itu baru 22 tahun, muda perasaan tua..!" ledek Bella.
"Kalian kenalan sendiri, aku tidak mau. Hei.. kalian bawa apa? aku lapar." Jeanny mengusap perutnya.
"Kenapa perutmu? apa kau ngidam?" tanya Valerie sembari melihat kearah perut Jeanny.
"Ngidam Mbah mu! baru dijebol masa ngidam. Apa kalian kira benih suamiku, benih ajaib." omel Jeanny.
"Wow..sudah jadi mantan perawan..!" ledek Bella.
"Katanya tidak cinta! di jebol, mau saja. Nyonya." Valerie ikut meledek Jeanny.
Jeanny tersenyum malu-malu.
"Habisnya, enak.." ucapan asal Jeanny, membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.
*
*
"Agra, Maharani betul sudah meninggal. Menurut sumber terpercaya, dia meninggal karena di racun," kata Albert.
"Di racun!? siapa yang melakukannya? apa musuhnya?" tanya Agra.
"Tidak! orang terdekatnya." Albert menceritakan apa yang dikatakan oleh anak buahnya, kepadanya.
"Gila! Maharani sangat dibenci anak buahnya, sehingga nekat untuk meracuninya. Untung berhasil, bagaimana jika tidak berhasil," ucap Michael.
"Apa tahu, di mana dia saat ini?" tanya Agra.
"Untuk apa kau tahu di mana dia? ingat Agra, ada Jeanny. Kau jangan bermain api." Albert mengingatkan Agra.
"Betul kata Albert, kau. lupakan semua yang berhubungan dengan Malika, apa yang terjadi pada Malika. Bukan kesalahanmu. Sudah takdirnya, meninggal didalam kecelakaan itu." timpal Michael.
"Karena, Maharani sudah tidak ada. Apa kau masih membutuhkan bodyguard?" tanya Albert.
"Aku butuh untuk Jeanny dan Lisa."
"Aku akan menarik sebagian, dua akan terus bersamamu."
"Sekarang, kita sudah bisa nyantai. Aku akan mencari calon istri, aku tidak mau kalah dari Agra. Dia sudah dua, aku. Nyenggol saja belum," ujar Michael.
"Pergi ikut arisan Tante Nisa, kau pasti akan mendapatkan jodoh," ujar Albert.
"Maksudmu, aku menikah dengan teman arisan mamaku..? sudah menopause istriku," kata Michael.
"Anak gadis teman arisan Tante Nisa, bukan nyokap nya Bro..!" celetuk Agra.
"Malas di jodohkan, aku mau cari sendiri. Agra, apa Jeanny tidak ada saudara?" tanya Michael.
"Ada, Jamie. Kau sudah kenalkan..?"
"Kalau itu, pedang laga pedang. Aku mau yang punya landasan."
"Semakin lama di sini, otakku makin eror. Aku balik, Jeanny sendiri di apartemen." Agra pergi meninggalkan apartemen Albert.
"Agra tidak bisa dibawa hangout lagi," kata Michael.
"Aku juga mau tidur, kau tidak pulang?" Albert merebahkan tubuhnya di sofa.
"Hei . Bert, ini baru jam 7. Masih siang, keluar yok." ajak Michael.
"Aku ngantuk, sudah berapa lama aku tidak tidur dengan tenang. Kasus terus menemaniku," kata Albert dengan mata terpejam.
"Salah sendiri, kenapa mau jadi pengacara. Kalau bekerja seperti aku , hanya menghitung uang masuk dan uang keluar." balas Michael.
"Menghitung uang orang, pekerjaan yang sangat menyebalkan." balas Albert.
*
*
Di atas ranjang, Agra menganggu Jeanny yang sedang fokus main game di ponselnya. Selama ini, Jeanny tidak pernah main game di ponsel. Karena ajaran dari kedua temannya, saat Bella dan Valerie datang tadi. Jeanny menjadi kecanduan.
"Abang..!" Jeanny menepiskan tangan Agra yang memegang jarinya, yang sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Nah.. kalahkan..!" Jeanny menghempaskan ponselnya, karena permainan gamenya. Game over, karena pandangan matanya dihalangi tangan Agra.
"Kenapa salah Abang? kalau tidak pandai main game jangan ikut-ikutan. Siapa yang mengajari main game di ponsel? jangan sampai Lisa ikut-ikutan main game di ponsel," kata Agra.
"Lisa tidak ada ponsel, bagaimana bisa main game."
"Lihat Mamanya main game, Lisa minta ponsel nantinya," kata Agra.
"Abang mau belikan?" tanya Jeanny.
"Daripada nangis, belikan saja."
"Hih.. Abang, anak nangis. Jangan langsung dibelikan, beri pengertian dulu. Beritahu, efek dari punya ponsel belum waktunya," kata Jeanny sembari membetulkan letak bantal, dan meletakkan kepalanya.
"Tidak ada salahnya, beri gadget pada anak," kata Agra.
"Tidak salah Bang, jika anak itu sudah cukup dewasa untuk mengunakan gadget. Lisa, baru 5 tahun. Untuk apa, biar Lisa itu main yang sesuai dengan umurnya. Main di luar," kata Jeanny.
"Main di luar, main tanah ?" Agra memiringkan tubuhnya, menghadap kearah Jeanny.
"Iya, kenapa? aku dulu main di luar dengan Bang Jamie."
"Tidak boleh! nanti Lisa kena kuman," kata Agra.
"Anak-anak dikampung main tanah, mereka sehat-sehat saja. Mereka pintar-pintar, aku juga sehat. Dulu, masih kecil suka dengan Bang Jamie main di selokan." tutur Jeanny.
"Beda dulu dan sekarang, sekarang ini. Selokan itu sudah tercemar. Anak Agra Barend tidak boleh terkena penyakit kulit."
'Kena penyakit kulit, bawa ke dokter kulit. Gitu saja repot, apa gunanya dokter spesialis kulit." balas Jeanny.
"Mulai membantah suami ya." Agra menggelitik perut Jeanny, sehingga Jeanny tertawa kegelian.
To be continued